Tanpa Gelar Sarjana: Fokus Rekrutmen Pada Keterampilan Kandidat | | HR NOTE Indonesia

Tanpa Gelar Sarjana: Fokus Rekrutmen Pada Keterampilan Kandidat

Mungkinkah perusahaan merekrut karyawan tanpa gelar sarjana? Kenapa tidak? Kondisi ini ada di sekitar kita, bahkan ditangkap oleh Michelle A. Badillo & Caroline Levich, penulis skenario The Bold Type.

The Bold Type merupakan serial drama dari Amerika Serikat yang menceritakan tiga karyawan (Jane, Sutton, dan Kat) yang bekerja di majalah gaya hidup, Scarlet. Serial tayang di Freeform dan Netflix.

Pada penayangan episode tiga musim kedua (E3/S2), The Bold Type memperlihatkan lihat bagaimana user merekrut kandidat yang tidak memiliki gelar sarjana. Serial menceritakan Kat sebagai Social Media Director mencari kandidat di media sosial, lalu ia tertarik dengan keterampilan Angie Flores.

Angie adalah pengguna media sosial yang memiliki banyak pengikut dan level keterlibatan media sosialnya sangat tinggi. Oleh karena ia adalah sosok tepat untuk menjadi Social Media Specialist, karena ia dianggap mampu meningkatkan keterlibatan pembaca kepada Scarlet.

Keinginan Kat terbentur kebijakan perusahaan. HR mengatakan bahwa Angie tak dapat bekerja di Scarlet karena ia tak memiliki gelar sarjana. Namun Kat mendapatkan persetujuan dari Jacqueline Carlyle, Editor in Chief Scarlet, dan mampu membuktikan keterampilan Angie di depan board of directors (BOD).

Akhirnya, BOD dan HR menerima Angie sebagai karyawan. Peristiwa tersebut membuat perusahaan mengubah kebijakan dalam persyaratan penerimaan karyawan.

Apakah Anda pernah mengalami situasi tersebut? Sebagai HR maupun tim leader, apa saja yang perlu diperhatikan jika ingin merekrut karyawan tanpa gelar?

Merekrut Karyawan Tanpa Gelar Sarjana

Bersama dengan keterampilan dan pengalaman, gelar akademis –diploma, sarjana, maupun magister– membuka jalan seseorang menuju dunia profesional. Namun banyak perusahaan merekrut karyawan yang memiliki gelar sarjana maupun lulusan SMA atau yang sederajat.

Di Indonesia, merekrut karyawan tanpa gelar sarjana sangat memungkinkan. Contohnya BUMN seperti PT Pegadaian dan PT Pelindo III yang membutuhkan karyawan lulusan SMA dan strata satu (S1) pada Maret 2021.

Biasanya, perusahaan yang tak melihat gelar akademis akan lebih fokus pada keterampilan karyawan. Namun perkembangan teknologi dan pandemi covid-19 juga berimbas pada pencarian kandidat. Seperti munculnya profesi baru bidang teknologi dengan keterampilan yang dapat dipelajari secara informal.

Efek perkembangan teknologi

Menurut World Economic Forum, lebih dari satu miliar pekerjaan atau hampir ⅓ dari semua pekerjaan di dunia kemungkinan besar akan berubah karena teknologi dalam dekade berikutnya.

Misalnya perusahaan XYZ memiliki aplikasi berbelanja, sehingga pelanggan dapat membeli bahan baku makanan dari jarak jauh, pembayaran juga dilakukan secara daring, sistem akan mencari kurir dan menyediakan pelacakan pengantaran kepada pelanggan.

Dari situasi ini, perusahaan tak perlu merekrut kasir dan kurir. Dampaknya biaya operasional perusahaan untuk tenaga kasir dan kurir bisa dialihkan untuk keamanan data atau pemeliharaan sistem. 

Jika demikian, apakah banyak pekerjaan yang hilang? Kemungkinan hilang memang ada, tetapi ada peluang profesi baru.

Forum Jobs of Tomorrow melaporkan bahwa akan ada gelombang cepat datang di bidang ekonomi data dan AI serta pekerjaan baru dalam rekayasa, komputasi awan, dan pengembangan produk. Pekerjaan tersebut membutuhkan individu dengan keterampilan relevan dan keterampilan itu dapat dipelajari oleh mereka yang tidak memiliki gelar sarjana.

Laporan juga menemukan profesi baru yang muncul mencerminkan interaksi manusia berkelanjutan dalam ekonomi baru adalah hal penting, sehingga menimbulkan permintaan yang lebih besar.

Pandemi covid-19

Pandemi covid-19 juga memengaruhi perekrutan kandidat sehingga menyebabkan pengangguran. Di AS, misalnya, data dari Februari-Mei menujukkan ada 6% pekerja dengan gelar sarjana yang menganggur (dari 55,9% menjadi 59,4%) dan 21% pekerja tanpa ijazah sekolah menengah tidak memiliki pekerjaan (dari 6,9% menjadi 8,7%).

Meski demikian orang dengan gelar sarjana atau pendidikan tinggi lebih mungkin memiliki pilihan untuk bekerja jarak jauh, dibandingkan dengan lulusan sekolah menengah yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi.

Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan seperti EY, Google, dan IBM telah menganut perekrutan dari alternatif talent pool. Beberapa perusahaan lain berinvestasi dalam pembelajaran berkelanjutan untuk karyawannya.

Ketika pandemi, Infosys –perusahaan konsultan IT– mengumpulkan konsorsium mitra pada platform gratis. Tujuannya untuk memberikan pelatihan kerja serta peluang magang bagi pencari kerja. Selain itu, platform menghubungkan kandidat dengan perusahaan yang menawarkan workstreams dan jalur karier baru.

Fokus Rekrutmen Berdasarkan Keterampilan

Ravi Kumar S, Presiden Infosys, dan Steve George, Global CIO Ernst & Young, menuliskan bahwa masa depan pekerjaan akan melihat keterampilan kerja secara holistik. Dalam hal keterampilan, perusahaan mencari lebih dari sekadar keterampilan berorientasi tugas atau teknis.

Perusahaan menginginkan kandidat yang memperhatikan detail, keterampilan pemecahan masalah yang kreatif, pola pikir kolaboratif, serta kemampuan untuk menghadapi ambiguitas dan kompleksitas. 

“Sesungguhnya lulusan sarjana dan non sarjana tidak ada bedanya. Tergantung skill, personality, dan pengalaman kandidat,” ujar Gito SabataFounder Buff Indonesia, kepada HR Note, Rabu (10/06/2021).

Sedangkan Ridho Nugroho, M.Ikom, Head of Fashion Beauty GRID Network, mengikuti aturan manajemen perusahaan dalam perekrutan karyawan, yaitu harus memiliki gelar sarjana.

Setelah itu, ia melihat apakah kandidat memiliki attitude positif atau tidak. Baginya, melatih attitude seseorang cukup sulit, tetapi tidak dengan keterampilan maupun kecerdasan.

“Sebenarnya gelar akademis enggak menjadi jaminan si kandidat bisa bekerja  dengan baik, tapi di luar gelar akademis, saya selalu memilih tim dengan kriteria attitude, kooperatif, komunikatif, plus kandidat punya real passionate terhadap jobdesc dan mau belajar,” jelas Ridho.

Gito juga tak fokus pada gelar akademis karyawan. Sebagai leader, ia dapat merekrut karyawan tanpa gelar sarjana, hanya saja ia terkendala dengan kebijakan perusahaan mengenai gaji karyawan.

“HR sesungguhnya sangat terbuka untuk menerima lulusan tanpa gelar sarjana, tetapi mereka menerapkan perbedaan standard salary. Saya mempertahankan dia untuk memiliki salary yang tidak berbeda dengan siapapun yang ada di posisi tersebut, karena skillset dan pengalaman yang dimiliki sudah melampaui banyak sarjana. Saya juga menyebutkan bahwa dia adalah salah satu elemen terpenting di project yang akan dijalankan di divisi kami,” ucapnya.

Akhirnya HR menyetujui memberikan standar gaji kepada karyawan tersebut, setelah Gito bernegosiasi dengan Grup CEO.

Hal yang Perlu Diperhatikan Ketika Merekrut Karyawan Tanpa Gelar Sarjana

Hal yang harus diperhatikan oleh perusahaan ketika merekrut karyawan tanpa gelar sarjana adalah tidak mencantumkan gelar akademis dalam persyaratan lowongan kerja.

Alternatif lain, Anda dapat menulis ‘minimal pendidikan SMA’ atau ‘diutamakan yang berpengalaman’ disertai keterampilan yang dibutuhkan oleh posisi tersebut. Hal lain yang harus diperhatikan adalah:

Mengecek portofolio dan CV

Cek portofolio dan CV kandidat, apakah sudah sesuai kriteria atau tidak. Misal keterampilan, pengalaman kerja, dan portofolio. HR dan user juga bisa melakukan background check ke tempat kerja kandidat sebelumnya.

Memberikan skill test

Meski kandidat telah menyertakan portofolio, Anda dapat memberikannya skill test. Tujuannya untuk menilai kualitas dan meningkatkan objektivitas dalam memilih kandidat.

Memeriksa akun media sosial

Saat ini, banyak HR yang memeriksa akun media sosial kandidat dalam proses perekrutan. Menurut Harvard Business Review, 79% HR menolak kandidat karena konten media sosial mereka.

Cek apakah kandidat pernah melakukan ujaran kebencian, komentar yang tidak mencerminkan toleransi, gambar yang menunjukkan perilaku tidak bertanggung jawab atau ilegal, mengunggah hal-hal negatif tentang perusahaan sebelumnya, dan lainnya.

Perusahaan memiliki strategi pengembangan keterampilan

Saat menghapus persyaratan gelar sarjana, perusahaan harus memiliki strategi pengembangan keterampilan karyawan. Misal training, reskilling, maupun upskilling. Hal ini bisa digunakan untuk promosi staf ke jenjang lebih tinggi.

25 Pekerjaan yang Tak Perlu Gelar Sarjana

SkillPointe, platform yang menghubungkan pencari kerja dan perusahaan, merilis SkillPointe Job Score Report 2021. Laporan mencatat terdapat 25 pekerjaan yang tak memerlukan gelar sarjana. Pekerjaan di bidang konstruksi, teknologi, kesehatan, dan layanan publik paling banyak mendominasi.

Survei juga mencatat bahwa profesi software developer memiliki gaji tertinggi, pengemudi truk adalah pekerjaan yang paling banyak tersedia, dan information security analyst menjadi pekerjaan yang terus tumbuh ke depannya.

Berikut ini 25 pekerjaan tanpa gelar sarjana: software developer, system analyst, electrician, police officer, truck driver, carpenter, plumber, IT support specialist, nurse (licensed), certified nursing assistant, auto mechanic, teacher assistant, medical assistant, industrial machinery mechanic, network administrator, heavy equipment operator, training and development specialist, paralegal and legal assistant, social services assistant, welder, dentist hygienist, machinist, HVAC technician, dan laboratory technician.

Penutup

Dengan perkembangan teknologi yang membutuhkan keterampilan khusus, sangat memungkinkan bagi user untuk merekrut kandidat tanpa gelar sarjana. Terlebih jika ia memiliki keterampilan mumpuni dan mendukung operasional bisnis.

Di sisi lain, perusahaan memberikan pengembangan keterampilan kepada karyawan tanpa gelar. Namun pilih program pengembangan yang dapat menunjang karier dan bisnis secara berkelanjutan.

Comment