Remote Hiring: Strategi dan Menghindari Bias | | HR NOTE Indonesia

Remote Hiring: Strategi dan Menghindari Bias

remote hiring

Remote hiring menjadi hal wajar, karena teknologi memberdayakan karyawan jarak jauh. Kondisi itu berkaitan erat dengan pandemi COVID-19 yang mendorong perusahaan mengadopsi teknologi.

Menurut Gartner, sekitar 74 persen atau hampir tiga dari empat perusahaan secara permanen memindahkan sistem kerja mereka menjadi jarak jauh. Contohnya, implementasi remote hiring.

Namun, remote hiring tidak semudah bayangan Anda. Dibutuhkan trial and error juga berbagai strategi-strategi yang tersedia dan bisa diterapkan.

Strategi Jalankan Remote Hiring

Remote hiring merupakan proses perusahaan untuk mempekerjakan karyawan baru yang dilakukan dari jarak jauh. 

Selintas, proses ini mudah tetapi praktiknya tidak demikian. Perusahaan-melalui tim perekrut maupun talent acquisition-wajib memiliki strategi remote hiring.

Di samping itu, perusahaan ingin memperluas pencarian kandidat terbaik sesuai kebutuhan. Sebuah studi menyatakan, 78 persen manajer HR mengatakan bahwa sebagian besar keterampilan akan menjadi lebih spesifik dalam 10 tahun ke depan.

#1 Tulis job description dengan jelas

Menulis job description dengan jelas adalah salah satu langkah remote hiring. Perekrut harus memahami posisi dan keterampilan yang dibutuhkan oleh perusahaan.

Jika Anda kurang paham, tanyakan kepada user tentang soft skill dan hard skill, penggunaan keterampilan dalam pekerjaan, hingga kualifikasi kandidat.

#2 Miliki persona karyawan ideal

Buat persona karyawan ideal untuk perusahaan Anda. Diskusikan kepada tim tentang bagaimana karyawan merasa cocok, melaksanakan tugas, dan berkontribusi kepada perusahaan.

Tetapkan parameter untuk kualifikasi pendidikan, pengalaman kerja, keterampilan, kepribadian yang dibutuhkan, dan sebagainya.

#3 Tunjukkan budaya perusahaan

Perusahaan yang melakukan remote hiring harus menunjukkan budaya perusahaan kepada kandidat. Hal ini bisa ditempuh dengan:

  • Employer branding.
  • Menjaga komunikasi dua arah.
  • Menerapkan transparansi proses hiring.

#4 Pilih job portal tepat

Banyak job portal di luar sana. Bahkan tak sedikit yang menawarkan fasilitas tanpa biaya dengan syarat tertentu.

Sebagai perekrut, Anda dan tim perlu memilih job portal tepat untuk memenuhi tujuan bisnis.

Hendra Syah, Talent Acquisition Specialist di perusahaan rintisan, mengatakan bahwa perekrut atau talent acquisition harus memahami fitur-fitur job portal. Karena masing-masing portal memiliki plus dan minus. 

Misalnya, posisi sales di luar Jakarta tidak dapat dijangkau oleh job portal A yang sangat terkenal, tetapi job portal B yang tidak terlalu populer dapat menjangkaunya.

#5 Hubungi dan nilai kandidat

Ketika ada kandidat, segera hubungi dan tentukan jadwal interview kerja tahap pertama. Ajukan pertanyaan seputar pengalaman, keterampilan kerja, motivasi mencari pekerjaan baru, dan harapan terhadap perusahaan barunya kelak.

Jika lolos, komunikasikan kepada user untuk memberikannya skill test dan interview tahap selanjutnya.

Ingat, pemberian skill test harus sesuai dengan peran dan tanggung jawab pekerjaan. Kemudian nilai semua hasilnya secara obyektif dan berikan jawaban kepada kandidat.

#6 Komunikasi dan transparansi

Selama proses hiring, bangun komunikasi dua arah dan transparansi kepada kandidat. Beritahu kandidat tentang jadwal interview, pemberian tes, user, dan hasilnya.

Jika ia memenuhi kriteria yang dibutuhkan perusahaan, informasikan bahwa ia diterima. Jika tidak, segera hubungi dan berikan umpan balik kepada kandidat.

Kandidat adalah pelanggan perusahaan yang bisa memberikan testimonial tentang proses hiring di media sosial. Jika Anda tidak transparan akan memengaruhi reputasi perusahaan, begitu juga sebaliknya.

Hal ini bertujuan agar kandidat menemukan kesuksesan dalam proses hiring selanjutnya sekaligus memberikan candidate experience positif. Anda pun bisa memproses kandidat berikutnya.

#7 Manfaatkan alat komunikasi

Dalam menjalankan strategi remote hiring, Anda pasti memerlukan alat komunikasi. Pilih alat komunikasi yang user friendly dan tidak membebani kandidat.

Selain itu, alat komunikasi seperti piranti lunak atau aplikasi memungkinkan semua karyawan bekerja sama, memberikan umpan balik, serta membuat keputusan berdasarkan data.

#8 Jalankan remote onboarding

Biasanya, remote hiring akan berujung dengan remote onboarding. Proses ini tidak mudah, tetapi Anda harus bekerja sesuai kepatuhan.

Tim HR wajib membuat kontrak kerja yang menyebutkan hak dan kewajiban karyawan dan perusahaan serta hal-hal terkait hubungan kerja. Dengan demikian, ia akan memahami tugas kerja dan menyesuaikan diri dengan peraturan perusahaan.

Hindari Bias Dalam Remote Hiring

Remote hiring dapat menimbulkan bias dari Anda kepada kandidat. Salah satunya, wawancara daring yang sangat tergantung dengan alat dan jaringan komunikasi.

Bias ini memengaruhi pengambilan keputusan proses hiring. Hasilnya bisa positif, tetapi juga negatif. Untuk menghindarinya, Anda perlu menerapkan:

Beda budaya beda cara kerja

Jika perusahaan terbuka untuk kandidat dari seluruh dunia, semua tim harus mengingat bahwa beda budaya, beda cara mereka bekerja. Masing-masing wilayah memiliki standar dan norma yang berbeda untuk melamar pekerjaan.

Misalnya, kandidat di beberapa negara memberikan informasi pribadi secara detail dalam resume, sedangkan negara lain tidak akan membagikan informasi dengan terperinci.

Dalam mengirimkan resume, perusahaan dapat mengajak kandidat untuk melamar dari situs perusahaan dengan mengisi formulir aplikasi.

Langkah ini membantu Anda menyaring resume dengan standar perusahaan serta membandingkan kandidat secara objektif.

Berikan kelonggaran saat telekonferensi

Interupsi atau koneksi internet bermasalah sering terjadi dalam telekonferensi wawancara. Hal itu sesuatu yang tidak selalu bisa dikontrol.

Jadi, berikan kelonggaran kepada kandidat jika ada suara anak berteriak, seseorang bertanya sesuatu, suara musik kencang, dan lainnya.

Hindari penghakiman terhadap kandidat

Beberapa orang memiliki rumah berantakan, rumah kecil, atau gaya interior yang tidak kekinian. Belum lagi, terdengar suara lain saat wwancara jarak jauh.

Kondisi itu, terkadang membuat memengaruhi persepsi Anda. Anda tergugah untuk menghakimi kandidat yang berpengaruh terhadap proses hiring.

Sebisa mungkin, jangan membuat asumsi tentang kandidat berdasarkan momen-momen tersebut.

Anda perlu membuat pedoman untuk diikuti oleh tim dalam menjalankan remote hiring. Upaya itu bermanfaat saat mengevaluasi kandidat.

Jika perekrut tidak dapat menilai atas apa yang dilakukan atau dikatakan oleh kandidat, maka penilaian itu tidak boleh dihitung atau dibagikan ke user. Ia harus mengulangi wawancara lagi dengan kandidat.

Evaluasi kandidat dalam berbagai konteks

Perekrut perlu mengevaluasi kandidat dalam berbagai konteks. Evaluasi interview, skill test, tes psikologi, hingga background checking. Ini adalah cara objektif untuk menghindari bias dalam penilaian.

Penutup

Sejak pandemi COVID-19, perusahaan harus mengadaptasi strategi remote hiring untuk mempertahankan bisnis sekaligus menerapkan budayanya. Ini sebagai upaya mereka untuk menyelaraskan antar karyawan guna mendukung perusahaan.

Selain itu, strategi remote hiring menunjukkan kepada kandidat bahwa perusahaan mempunyai fleksibilitas kerja dan membangun citra positif.

Anda juga bisa menggunakan jasa recruitment agency untuk membantu proses remote hiring menjadi lebih efisien.

Comment