Mengidentifikasi Kandidat Fraud Dalam Rekrutmen | | HR NOTE Indonesia

Mengidentifikasi Kandidat Fraud Dalam Rekrutmen

kandidat fraud

Ada kalanya, perekrut harus menghadapi kandidat fraud dalam proses rekrutmen. Meskipun Anda telah mempersiapkan rekrutmen sebaik-baiknya.

Ironisnya, kasus kandidat fraud dapat terjadi kapan dan di mana saja. Baik di industri teknologi, keuangan, hingga kreatif.

Sementara itu, perusahaan masih berada di tengah talent war. Perekrut berlomba-lomba menarik kandidat dengan berbagai strategi karena bisnis sedang mengembalikan kinerja setelah melalui badan pandemi COVID-19 selama dua tahun ini.

Memang, menemukan kandidat tepat berdasarkan kebutuhan perusahaan tidak mudah. Terlebih jika Anda harus menyelesaikan kandidat fraud

Namun, kondisi tersebut bisa dihindari atau diselesaikan dengan kepala dingin.

Apa Itu Kandidat Fraud?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, mari membahas tentang apa itu fraud terlebih dahulu.

Berdasarkan Merriam-Webster, fraud adalah penyimpangan kebenaran yang disengaja untuk membujuk pihak lain guna meninggalkan sesuatu yang berharga. 

Definisi lain, fraud adalah tindakan menipu. Contohnya, seseorang menggunakan resume pihak lain–memiliki kualifikasi yang disebutkan oleh job ads–untuk melamar pekerjaan.

Jika perekrut menghubungi kandidat dan memanggilnya untuk interview kerja, berarti ia sedang menghadapi kandidat fraud

Seperti namanya, kandidat fraud merupakan penipuan yang dilakukan oleh kandidat dalam proses rekrutmen. 

Bentuk tipuannya beraneka macam, mulai dari melebih-lebihkan keterampilan di resume, mencatut riwayat pekerjaan orang lain, memalsukan ijazah, kandidat yang muncul saat interview berbeda dari resume, dan lainnya. 

Kandidat melakukan hal itu sebagai jalan pintas. Karena ia ingin resumenya lolos penyaringan dan dipanggil untuk interview kerja. Dalam proses rekrutmen, tindakan kandidat tidak bisa dibenarkan. 

Namun, jika perusahaan sampai menerima kandidat yang melakukan penipuan sebagai karyawan baru, maka perusahaan berkontribusi dalam menciptakan peluang fraud.

Mengenal Kasus Kandidat Fraud 

Jika belum pernah menjumpai kandidat fraud, Anda perlu strategi mengantisipasinya dalam proses rekrutmen. Setidaknya, Anda mengenali apa saja kasus kandidat fraud.

Proxy candidate

Proxy candidate ialah bentuk aktivitas penipuan yang dilakukan oleh beberapa kandidat untuk mendapatkan pekerjaan. Praktik ini terjadi ketika perekrut menjalankan interview daring dan memberikan skill test, kandidat akan meminta orang lain (proxy candidate) untuk melakukannya.

Namun, ketika perekrut menerima proxy candidate sebagai karyawan baru karena keterampilan dan kualifikasi kerja memenuhi syarat, maka yang datang adalah kandidat asli. Proxy candidate bisa dibilang dengan istilah joki. 

Bantuan pihak lain

Tak sedikit, perekrut meminta kandidat untuk memenuhi tes secara daring untuk mempersingkat waktu rekrutmen. Kalau kandidat curang, ia meminta bantuan orang lain atau perangkat elektronik lain untuk mencari jawaban pertanyaan.

Resume palsu

Pemalsuan resume adalah salah satu bentuk penipuan tertua yang dilakukan oleh kandidat. Contohnya, kandidat memasukkan data dan prestasi palsu agar resume terlihat menarik. 

Bahkan applicant tracking system (ATS) kesulitan mengidentifikasi resume palsu. Namun, perekrut berpengalaman dan bermata elang mampu mengidentifikasi poin palsu pada resume.

Bagaimana Cara Mengidentifikasi Kandidat Fraud?

Joseph Musa, Direktur Divisi Cloud & Digital Transformation Staffing di Focus GTS, menceritakan kandidat fraud sangat umum terjadi di industri teknologi. Salah satu anggota timnya pernah mengalami hal tersebut.

Kala itu, karyawannya melakukan proses rekrutmen untuk seorang kandidat IT. Akhirnya, kandidat diterima untuk bekerja di perusahaan klien. 

Hari pertama bekerja, karyawan baru IT justru dipecat oleh klien. Karena klien meyakini bahwa karyawan itu bukan seseorang yang ia ajak bicara di telepon.

Awalnya, Musa berasumsi hal itu adalah kesalahan. Namun, saat ia mengunggah cerita serta foto kandidat IT di LinkedIn–yang kemudian dihapus oleh LinkedIn–banyak orang pernah mengalami penipuan yang dilakukan oleh kandidat.

Menghadapi kandidat fraud itu menyakitkan. Anda seperti dikhianati oleh seseorang yang telah Anda percayai. Bila mengalami kondisi itu, Musa menyarankan perekrut untuk:

Interview bersama tim

Jika tertarik dengan resume kandidat, ajak ia untuk mengikuti interview bersama satu atau dua anggota tim Anda

Berikan kesempatan kepada anggota tim untuk bertanya kepada kandidat. Misalnya, bertanya tentang keterampilan tertentu untuk menunjang pekerjaan atau pengalaman kerja di perusahaan sebelumnya.

Dari perbincangan mereka, Anda dapat menilai kesenjangan keterampilan atau kemungkinan muncul kandidat fraud.

Cek identitas kandidat

Jika user atau klien telah setuju untuk menerimanya, lakukan pengecekan administrasi.

Misalnya, seperti cek eKTP, lihat foto kartu apakah sesuai dengan orang yang Anda interview, dan cocokkan eKTP dengan kartu BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan serta resume kandidat.

Hati-hati, Jika Kandidat Pernah Fraud Seperti Ini

staf hrd

CEO Berkshire Hathaway Warren Buffett mengatakan bahwa integritas adalah hal yang paling penting. Tanpa integritas karyawan, perusahaan akan berakhir dengan pencuri cerdik dan bergerak cepat

Di luar kemampuan mengidentifikasi kandidat fraud, bagaimana jika user meminta tolong kepada perekrut untuk memproses kandidat yang ternyata pernah melakukan fraud di tempat kerja sebelumnya?

Tak masalah jika ingin memprosesnya, tetapi katakan kepada user tentang kasus kandidat fraud sebelumnya. Hati-hati, jika kandidat pernah hal ini:

Mencuri uang dan inventaris

Karyawan yang tidak memiliki rasa tanggung jawab dalam memelihara aset perusahaan akan dengan mudah mencuri. Baik mencuri uang, menaikkan biaya pembelian barang, atau mencuri barang inventaris.

Jika Anda mengetahui bahwa kandidat pernah mencuri di perusahaan lama, tetapi tindakannya tidak diproses secara hukum, segera beritahu user. Bila hal itu terjadi di perusahaan Anda, perusahaan akan menanggung kerugian.

Melanggar hukum

Saat ini, tak sedikit perusahaan yang melakukan background checking kepada kandidat. Hal itu untuk mengetahui ia pernah melanggar hukum atau tidak. Anda juga dapat mengecek pihak terkait mengenai peran kandidat dalam kasus tersebut.

Melanggar kode etik perusahaan

Anda perlu mempertimbangan seseorang yang pernah melanggar kode etik perusahaan. Misalnya, membocorkan data, memalsukan informasi perusahaan, atau memberitahukan rahasia organisasi ke publik.

Membuat reputasi perusahaan buruk

Tindakan fraud juga termasuk membuat reputasi perusahaan buruk. Misalnya, postingan seorang karyawan di media sosial tentang suatu hal bisa memengaruhi pandangan konsumen terhadap perusahaan. Jika hal ini terjadi di perusahaan terbuka, maka harga saham perusahaan Anda akan anjlok.

Bagaimana Mencegah Kandidat Fraud?

Colin Tankard, Managing Director Digital Pathways, menceritakan bahwa seorang temannya pernah merekrut beberapa SAP developer untuk perusahaan rintisan yang sedang berkembang.

Saat karyawan baru dikirim ke kantor di Belanda untuk melakukan instalasi SAP, mereka tidak mengetahui apa-apa. Hal ini menandakan bahwa kandidat melebih-lebihkan pengalaman kerja dan perekrut tidak mengecek kebenaran resume.

Perekrut bisa menganggap memalsukan resume adalah level terkecil dari kandidat fraud. Karena perusahaan bisa melepaskannya pasca masa percobaan. Namun, itu bukan solusi untuk jangka panjang.

Kondisi tersebut tidak bisa diabaikan. Pasalnya, hal itu berpengaruh terhadap perusahaan secara keseluruhan. Untuk mencegah kandidat fraud, Anda perlu melakukan:

#1 Interview

Perekrut wajib menjalankan interview kerja. Meskipun kandidat yang Anda hadapi adalah orang memiliki persyaratan sesuai job description, tetapi lakukan beberapa kali interview.

Anda bisa melakukan interview awal melalui telepon, lalu interview daring bersama user dengan menghidupkan kamera. Ajukan pertanyaan seputar keterampilan, pengalaman, tantangan pekerjaan, hingga studi kasus. Setelah itu, berikan skill test dan nilai hasilnya.

#2 Background checking

Memang, background checking memerlukan waktu yang tidak sebentar. Namun, bertujuan membuat keputusan perekrutan lebih baik sekaligus mengidentifikasi potensi masalah pada masa mendatang.

Background checking meliputi memverifikasi resume, ijazah, referensi kerja, kondisi kesehatan, cek media sosial, dan lainnya. Bagi Tankard, perekrut perlu memeriksa detail latar belakang kandidat dengan menghubungi organisasi dan orang-orang yang terlibat.

#3 Skor kredit

Tak sedikit perusahaan menjalankan skor kredit dan criminal checking. Tujuannya, bukan untuk memberikan fasilitas pinjaman karyawan.

Namun, mencari tahu latar belakang calon karyawan sebelum bertugas menyelesaikan pekerjaannya, terutama yang berhubungan dengan keuangan. Pengecekan skor kredit juga tergantung posisi dan industrinya.

#4 Memantau jaringan

Biasanya, perekrut memiliki jaringan profesi. Mereka akan berjejaring lintas industri dan wilayah.

Misalnya, Kandidat A melamar pekerjaan di perusahaan Anda, PT Sejahtera. Saat ini, ia bekerja di perusahaan PT ABCD. Jika Anda menganggap ada ketidaksesuaian antara resume dan pernyataan kandidat, konfirmasi hal tersebut ke tim HR di PT ABCD.

#5 Whistle-blower 

Whistle-blower dianggap sebagai pengadu, meski sangat dibutuhkan oleh perusahaan.

Dalam whistle-blower, perusahaan mempersilakan seseorang untuk melaporkan pelanggaran secara anonim, termasuk pelaporan kandidat fraud

Sebagian besar laporan dapat diselesaikan dengan penjelasan dari tim HR. Namun, beberapa laporan adalah indikator aktivitas berbahaya dan memerlukan penyelidikan lebih lanjut. 

Penutup

Setiap organisasi perlu upaya untuk mencegah kandidat fraud dalam proses rekrutmen. Anda dapat menerapkan semua cara di atas atau pilih yang sesuai dengan industri serta kesiapan tim. 

Tentunya, pencegahan fraud tak hanya berhenti di proses rekrutmen. Perusahaan juga harus waspada terhadap potensi risiko keamanan internal di masa mendatang.

Comment