Employer Branding: Tantangan yang Harus Dilalui

Membentuk employer branding adalah salah satu cara untuk dapat menarik perhatian tenaga kerja berkualitas. Bayangkan betapa mudahnya pekerjaan tim perekrut jika tidak perlu susah-susah lagi mencari kandidat yang sesuai dengan kebutuhan; justru sebaliknya, mereka yang akan mengantri mengharapkan panggilan kerja dari perusahaan.

Jika perusahaan Anda belum membentuk employer brand, mari simak ulasan dan tips berikut sebagai langkah pertama Anda.

Konsep Employer Branding

Employer branding adalah salah satu metode yang digunakan pelaku usaha untuk menarik perhatian tenaga kerja agar mau bergabung dengan mereka. Istilah tersebut bermula sejak 1990 awal dan telah diadopsi di berbagai manajemen secara global. Employer branding merupakan aksi untuk membentuk image perusahaan sebagai tempat yang sempurna untuk bekerja, dimana image tersebut akan diturunkan kepada stakeholders internal, maupun eksternal.

Starbucks misalnya, memiliki employer brand seperti ini:

Selain menganggap karyawannya sebagai partner hingga membuat karyawannya memiliki rasa bangga, Starbucks memiliki akun Instagram dan Twitter khusus yang berisi informasi karir dan kehidupan karyawannya. Di akun tersebut, Starbucks memperlihatkan kepada dunia bagaimana mereka memperlakukan karyawan mereka. Mereka memberikan selamat kepada barista mereka yang baru lulus, memberikan apresiasi kepada karyawannya yang merupakan pasangan dari personel militer, dsb. Tentu, hampir semua posting-annya bernuansa happy and positive, namun hal itu tetap berhasil menciptakan image bagus kepada merek kopi nomor satu di dunia. 

Kapan Saya Harus Bentuk Employer Branding?

Anda mungkin saat ini sedang mempertimbangkan untuk mulai membangun employer brand milik Anda sendiri, dan bertanya-tanya apakah ada waktu tertentu untuk melakukannya?

Jawabannya, tentu saja tidak. Anda bisa melakukannya kapan pun, bahkan sekarang. Bisa dikatakan, sekarang adalah waktu yang baik untuk membangun employer brand perusahaan Anda.

Kondisi Covid-19, Pandemi Dunia yang Melumpuhkan Berbagai Sektor

Sejak awal tahun 2020, virus Covid-19 telah menyerang berbagai negara yang diawali dari RRC, hingga akhirnya menyebar di seluruh dunia. Indonesia termasuk salah satu negara yang terdampak, bukan hanya dari jumlah kasus penderita yang positif, namun juga dampak pada sektor ekonomi yang cukup membuat negara ini babak belur. Jutaan orang telah kehilangan lapangan pekerjaan.

Saat ini, sebagai tindak lanjut, pemerintah mulai menggodok konsep New Normal, dimana masyarakat diminta untuk tetap melanjutkan aktivitas ekonomi secara bertahap dengan tetap berpegang pada protokol kesehatan yang berlaku.

Menanggapi kebijakan tersebut, muncullah harapan baru bagi mereka yang telah kehilangan pekerjaan maupun yang terpaksa menutup usahanya karena dampak virus Covid-19. Artinya, dalam waktu dekat, akan tersedia kembali jutaan tenaga kerja yang membutuhkan pekerjaan.

Pun demikian, virus yang masih belum ditemukan obatnya ini masih mengancam setiap sudut dunia. Gelombang kedua bisa saja terjadi, dan pelaku usaha harus melakukan persiapan untuk menghadapinya. Dari puluhan hal yang harus disiapkan, melakukan employer branding di saat pandemi bukanlah hal yang buruk untuk dilakukan.

Employer Branding Di masa Pandemi, Yes or No?

Langsung saja saya bagikan kisah Airbnb yang diwakili oleh co-founder dan CEO-nya, Brian Chesky.

Sebagaimana kita tahu, bahwa industri pariwisata terkena dampak besar dari virus Corona. Menurunnya jumlah pengunjung wisata di seluruh dunia berdampak kepada jalannya bisnis Airbnb sehingga terpaksa dilakukan lay off hingga 25% pekerja. 

Darimana employer branding-nya?

CEO Brian mengirimkan catatan ini kepada seluruh karyawannya ketika mengumumkan berita lay off tersebut.

Beliau melakukannya secara transparan dan terbuka dengan menjelaskan alasan manajemen mengambil keputusan itu. Melalui catatannya, terlihat juga CEO Brian mengungkapkan bahwa bukan orang-orangnya yang dieliminasi, tetapi posisi dari orang-orang tersebut. Dan terakhir, Brian menyampaikan bagaimana Airbnb akan tetap men-support mereka yang tidak bergabung dengan tim sebagai ganti dari keputusan lay off tersebut.

Lihat bagaimana catatan yang dikeluarkan Brian menunjukkan transparansi, kejujuran, dan apresiasi yang besar terhadap timnya. 

Lalu, bagaimana semua terhubung dengan employer branding?

Kelak, ketika semua kembali berjalan normal dan Anda melakukan interview dengan kandidat, mungkin kandidat tersebut akan bertanya kepada Anda, bagaimana Anda memperlakukan karyawan Anda saat pandemi Covid-19 berlangsung?

Tindakan CEO Brian Chesky memberikan kesan mendalam bagi karyawan Airbnb, baik yang masih stay maupun yang tidak. Meskipun bukan dalam situasi yang menyenangkan, Airbnb mampu menciptakan sebuah image bijak di dalam komunitasnya.

Giliran Anda yang perlu mempersiapkan jawaban dari pertanyaan yang mungkin saja datang dari kandidat Anda kelak.

Bagaimana Membentuk Employer Branding?

Identifikasi

Tentu saja, identifikasi adalah hal pertama yang harus Anda lakukan sebelum memikirkan mau membangun employer branding seperti apa untuk perusahaan Anda.

Identifikasi karakter perusahaan Anda, visi, misi, dan nilai perusahaan. Apa yang paling Anda tonjolkan dari sebuah organisasi.

Tidak perlu berpikir terlalu kreatif, Anda hanya perlu apa adanya, namun berkomitmen erat dengan apa yang Anda miliki.

Rencana Strategis

Setelah yakin dengan brand yang akan Anda jalankan, rancang rencana strategis untuk memastikan brand Anda telah meresap ke dalam organisasi Anda.

Ingat, bahwa mendapatkan hati stakeholder internal adalah goal pertama dari sebuah employer branding. Untuk mewujudkannya, lakukan berbagai kampanye di dalam lingkungan internal bisa menjadi solusi.

Storytelling

Inilah salah satu kunci keberhasilan sebuah employer branding.

Ketika Anda membuat sebuah employer branding, berbeda ketika Anda membuat suatu produk atau jasa, yang keunggulannya cukup disebarkan melalui tulisan di media ataupun di televisi. Employer branding tidak akan berhasil hanya dengan MENULISKAN brand Anda di halaman website atau media sosial Anda. Employer branding membutuhkan dorongan psikologis yang kuat dan storytelling dapat menjadi media yang paling cocok untuk memberikan efek tersebut.

Orang lain akan bertanya kepada karyawan Anda, bahkan kepada mantan karyawan Anda tentang bagaimana bekerja di perusahaan Anda. Semua tergantung bagaimana Anda membuat strategi penyampaian di dalam internal Anda. 

Perlakuan Terhadap Gen Z

Karena saat ini Gen Z sudah mulai terjun ke dunia profesional, kita juga harus menyesuaikan employer branding terhadap karakter market yang akan berkembang mulai sekarang.

Gen Z adalah mereka yang lahir setelah tahun 1994. Hasil temuan Karir.com, golongan ini merupakan golongan yang sangat condong terhadap penggunaan teknologi. Mereka lebih tertarik bergabung dengan perusahaan yang terkenal memberikan dampak positif bagi masyarakat, bahkan banyak yang berambisi untuk membangun startup-nya sendiri.

Perusahaan besar seperti Coca Cola Amatil Indonesia, XL Axiata, hingga Sun Life Financial bahkan menghadapi tantangan dalam merekrut Gen Z.

Metode-metode lama seperti undangan interview melalui e-mail, telepon, atau Whatsapp, sering kali tidak digubris atau dijawab ‘iya iya’ saja. Mereka harus memikirkan cara agar kandidat dapat melihat betapa uniknya perusahaan mereka, salah satunya dengan membuat attachment video company profile, membuat gamification sebagai metode rekrutmen, menunjukkan kontribusi sosial, dsb.

Kesimpulan

Employer branding bukan hanya sekadar kegiatan untuk menggembar-gemborkan keunggulan perusahaan. Prosesnya pun bisa panjang dan mungkin akan memakan waktu sampai Anda merasakan hasilnya. Membentuk citra baik perusahaan tentunya membawa kebaikan untuk perusahaan itu sendiri, dan yakinlah kebaikan itu dapat dirasakan manfaatnya oleh anggota Anda, bahkan sampai ke customer Anda.

Employer branding juga tidak selalu berupa sepenggal gambaran mengenai situasi bahagia di sebuah perusahaan. Employer branding adalah cerminan dari sebuah perusahaan, bagaimana sebuah perusahaan memperlakukan organisasinya dan menjadikannya sebuah tempat kerja sebagai identitas dan kebanggaan, hingga orang lain ingin bekerja dengan kita. Konsep ini adalah tantangan yang harus dilalui demi terciptanya identitas perusahaan yang lebih matang, yang nantinya akan bermanfaat besar dalam melakukan talent acquisiton.