Dampak Proses Rekrutmen Yang Buruk Bagi Perusahaan | | HR NOTE Indonesia

Dampak Proses Rekrutmen Yang Buruk Bagi Perusahaan

proses rekrutmen yang buruk

Proses rekrutmen yang buruk menurunkan produktivitas kerja dan memakan biaya penerimaan karyawan baru yang tidak sedikit.

Dalam sebuah penelitian, 34 persen CFO mengatakan bahwa tidak hanya karyawan yang bekerja tidak baik yang membuat perusahaan kehilangan produktivitas. Namun, manajer juga menghabiskan 17 persen waktu mereka untuk mengawasi karyawan yang tidak memiliki kinerja baik.

Menurut CareerBuilder, hampir tiga perempat perusahaan yang melakukan perekrutan yang buruk melaporkan rata-rata membuang biaya USD14.900 dan 74 persen pengusaha menyatakan mereka mempekerjakan orang yang salah untuk pekerjaan itu.

Bahkan penelitian yang dilakukan oleh Gallup memperkirakan karyawan yang buruk merugikan bisnis USD450 miliar hingga USD550 miliar.

Apa Itu Proses Rekrutmen Yang Buruk?

Tak ada kandidat yang menginginkan proses rekrutmen yang buruk.

Proses rekrutmen yang buruk merupakan kondisi di mana perusahaan memiliki komunikasi tidak efektif, tidak mempunyai arahan selama interview kerja, serta menetapkan penerimaan kandidat tidak objektif.

Jika perusahaan tanpa sadar melakukannya, maka kandidat terbaik ogah melanjutkan proses rekrutmen atau tidak mau menerima offering letter. Bukan tak mungkin, kandidat akan menceritakan pengalamannya ke orang terdekat, sehingga memengaruhi reputasi perusahaan.

Penelitian yang dilakukan oleh CV Library menunjukkan bahwa ada 79 persen pencari kerja tidak ingin bekerja sama pada aspek tertentu dari lowongan.

Maka dari itu, penting bagi perusahaan untuk menginvestasikan waktu dan upaya dalam menerapkan rekrutmen yang baik.

10 Alasan Proses Rekrutmen Menemui Kegagalan

Ada beberapa alasan mengapa proses rekrutmen mengalami kegagalan, yaitu:

#1 Tidak menetapkan tujuan

Saat melakukan proses rekrutmen, perusahaan tidak menetapkan tujuan perekrutan. Misalnya, mereka tidak menetapkan tujuan rekrutmen, tidak memiliki target yang ingin dicapai, atau tidak melihat hasil perekrutan.

Maka, tim perekrut perlu menetapkan tujuan dan target sebelum memulai proses rekrutmen. Jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Anda dan tim dapat melacak masalah dan memperbaikinya.

#2 Tidak menentukan target 

Ketika sebuah posisi kosong, perekrut melewatkan beberapa langkah dan sesegera mungkin mencari penggantinya.

Hal ini menyebabkan perusahaan memiliki sedikit waktu untuk menentukan kualitas kandidat yang ingin mengisi posisi tersebut. Sebaiknya, Anda memastikan kepada user tentang job description yang harus dibuat sesuai peran (keterampilan dan tanggung jawab) dan pilih job portal yang sesuai kebutuhan.

#3 Komunikasi tidak efektif

Masalah umum yang membuat proses rekrutmen yang buruk adalah komunikasi perekrut yang tidak efektif

Jika perekrut tidak bisa menciptakan rasa nyaman kepada kandidat ketika sesi interview kerja, akibatnya ia kurang bisa menggali informasi lebih dalam dari kandidat. Untuk menghindari hal itu, bangun komunikasi lebih intens, menentukan parameter kandidat, sampai menyiapkan pertanyaan wawancara.

#4 Proses interview lama

Konsep wawancara sudah ada sejak 1921 ketika Thomas Edison mengembangkan tes tertulis untuk menilai pengetahuan para kandidat. 

100 tahun kemudian, perusahaan masih belum bisa menerapkan praktik terbaik dalam interview kerja.

Sebut saja proses interview lama dan berkali-kali tanpa tujuan yang jelas, durasi interview bertambah karena user terlambat, dan tak informasi memadai setelah interview berlangsung. Hal itu membuat candidate experience negatif dan ia meninggalkan proses rekrutmen.

Sebaiknya, user dan perekrut menjalankan interview berdasarkan keterampilan dan skill test.

#5 Gagal melihat keunggulan kandidat

Banyak kandidat yang cerdas, sehingga mereka akan mencari tempat kerja terbaik. Jika tidak melihat manfaat dari peran dan perusahaan, ia tak akan melamar bekerja di tempat itu.

Sebagai perekrut, sebaiknya Anda mampu melihat keunggulan kandidat. Identifikasi pula kelemahan, tantangan yang dialami, serta tujuan mereka.

#5 Integrasi yang tidak efektif

Integrasi yang efektif dapat memberikan kontribusi signifikan untuk meningkatkan retensi karyawan baru. Tak hanya itu, hal ini mampu meningkatkan kontribusi pribadi dari karyawan baru. Hal ini berlaku sebaliknya.

Tim HR dapat mengintegrasikan hal-hal sederhana bagi karyawan baru, seperti fokus pada pembelajaran jangka panjang, mentoring dan coaching, serta menjelaskan ekspektasi kinerja.

#6 Gagal mempertimbangkan rekrutmen internal

Kandidat terbaik bisa jadi ada di depan mata Anda. Tak ada salahnya bagi perusahaan untuk melakukan rekrutmen internalHal ini bisa memotong biaya dan waktu rekrutmen.

Selain itu, merekrut karyawan yang sudah bekerja lebih mudah karena mereka sudah terbiasa dengan proses, nilai, dan misi perusahaan serta melindungi informasi penting perusahaan

#7 Bias rekrutmen

Proses rekrutmen menemui kegagalan dapat disebabkan oleh bias. Terkadang, perekrut terjebak bias ketika menghadapi kandidat yang memiliki latar belakang, kelas sosial, etnis, usia, atau jenis kelamin berbeda dari dirinya. 

Menerima kandidat dari karakteristik apa pun akan memiliki kumpulan bakat yang lebih besar sekaligus meningkatkan peluang perusahaan untuk memiliki karyawan baru terbaik di bidangnya.

#8 Menolak kandidat overqualified

Menolak kandidat overqualified? Apa alasannya?

Jika alasan Anda karena takut mereka akan cepat bosan dan meninggalkan perusahaan, coba siapkan tugas yang menantang baginya. Karena seseorang yang sangat berpengalaman dan berbakat memiliki keterampilan dan kemampuan untuk mengembangkan tim. 

#9 Menunggu kandidat sempurna

Tak ada yang sempurna di dunia. Bahkan seorang kandidat hebat di pekerjaannya sekalipun.

Jadi, hati-hati jika menunggu kemunculan kandidat sempurna.

Hal itu membuat tim semakin lama mendapatkan bala bantuan dan membahayakan produktivitas. Sebaiknya, pilih seseorang yang memenuhi sebagian besar persyaratan utama dan memiliki soft skill untuk membantu mengembangkan tujuan perusahaan.

#10 Berharap terlalu banyak dari karyawan baru

Jangan berharap karyawan baru akan menghasilkan kinerja yang sangat memuaskan bagi perusahaan.

Biasanya, karyawan baru membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk terintegrasi ke dalam tim dan mulai menghasilkan hasil signifikan. Ia juga membutuhkan adaptasi pekerjaan dan lingkungan kerja yang baru.

Dampak Proses Rekrutmen Yang Buruk Bagi Perusahaan

sikap empati

Keputusan perekrutan yang buruk akan menghabiskan uang perusahaan dengan cara yang bahkan tidak terpikirkan.

Berikut ini adalah dampak proses rekrutmen yang buruk bagi perusahaan:

#1 Produktivitas turun

Merekrut karyawan yang berujung hanya beberapa bulan atau minggu kerja, lalu mengundurkan diri akan menurunkan produktivitas karyawan lain.

Karyawan resign cepat menyebabkan perusahaan menghadapi perlambatan dalam mencapai tujuan. Bayangkan, jika perusahaan kekurangan tenaga kerja, target tidak tercapai, dan klien pun tidak puas dengan pelayanan yang diberikan.

#2 Kehilangan klien

Jika masalah di atas tidak diselesaikan, maka jangan heran kalau klien tidak mau lagi menggunakan produk atau jasa perusahaan.

Bahkan jika tim Anda mampu menyelesaikan pekerjaan tepat waktu pun, tetapi kinerja mereka tidak berkualitas karena pergantian personel, klien tetap akan pergi.

#3 Merusak reputasi perusahaan

Proses rekrutmen yang buruk merusak reputasi perusahaan. Bukan tak mungkin kandidat menuliskan pengalaman-interview kerja dan skill test yang membuatnya tidak nyaman-di media sosial atau blog.

Selain mendapat reputasi negatif, perusahaan juga kesulitan memperoleh kandidat terbaik.

#4 Biaya rekrutmen

Proses rekrutmen buruk menguras tenaga dan biaya. Perusahaan akan terus-menerus mencari kandidat dan tim perekrut akan sibuk menyortir resume serta mewawancarai kandidat. 

Namun, apakah proses tersebut sudah ada perbaikan dibanding sebelumnya? Jika belum ada, rekrutmen pun akan berjalan sia-sia.

#5 Biaya hukum

Hati-hati, rekrutmen yang buruk dapat mendatangkan malapetaka. Jika user atau perekrut bersikap diskriminatif kepada kandidat dan ia tidak menerima perlakuan itu, maka ia bisa menuntut perusahaan ke meja hijau.

Hal ini tak hanya berimbas pada reputasi perusahaan saja, tetapi juga biaya hukum yang harus dikeluarkan.

Penutup

Tim HR bersama perekrut perlu memiliki strategi rekrutmen yang tepat dan sesuai dengan tujuan perusahaan.

Strategi tersebut memungkinkan perusahaan memperoleh kandidat yang sesuai kebutuhan serta menghindari dari proses rekrutmen yang buruk.

Comment