Candidate Ghosting: Penyebab & Cara Mengantisipasinya | | HR NOTE Indonesia

Candidate Ghosting: Penyebab & Cara Mengantisipasinya

candidate ghosting

Pernahkah Anda mengalami candidate ghosting? Apakah Anda sering menghadapi kondisi tersebut?

Memang, candidate ghosting itu menyebalkan. Mereka tidak memberikan kabar apa pun kepada Anda. Padahal Anda perlu konfirmasi dari yang bersangkutan untuk proses rekrutmen selanjutnya.

Survei Indeed pada 2019-2021 menunjukkan sebesar 83 persen pemberi kerja mengalami candidate ghosting. Sebesar 84 persen kandidat tidak muncul untuk interview kerja dan 64 persen kandidat berhenti berkomunikasi tanpa penjelasan.

Alhasil, candidate ghosting berpengaruh terhadap proses rekrutmen, tetapi tim perekrut dapat mengantisipasinya.

Apa Itu Candidate Ghosting?

Seperti namanya, candidate ghosting adalah seorang calon yang menghantui. Dalam dunia kerja, calon mengacu pada kandidat.

Candidate ghosting merupakan kondisi di mana kandidat yang menghentikan komunikasi dengan perusahaan selama proses perekrutan

Kandidat akan menghilang begitu saja tanpa memberikan penjelasan atau alasan apa pun kepada perusahaan, dalam hal ini diwakili oleh tim HR atau perekrut. Candidate ghosting telah menjadi masalah umum di kalangan perekrut. 

Ada berbagai hal yang menyebabkan kandidat yang melakukan ghosting, di antaranya:

  • Proses perekrutan terlalu lama.
  • Komunikasi perekrut tidak efektif.
  • Harapan kandidat tidak sama dengan perusahaan.
  • Kandidat menerima tawaran yang lebih baik dari perusahaan lain atau sedang mempertimbangkan lebih dari satu tawaran.

Mengapa Terjadi Candidate Ghosting?

Dulu, ghosting hanya dikenal dalam masalah percintaan. Nyatanya, ghosting juga terjadi di dunia profesional. 

Mengapa perekrut menghadapi hal ini?

Terlepas dari penyebab candidate ghosting di atas, ada satu alasan mendasar kandidat meninggalkan Anda tanpa kabar, yaitu perusahaan Anda bukan pilihan utama mereka. 

Namun, akar masalah candidate ghosting berasal dari perusahaan. Pendiri Core Matters Ryan Englin mengatakan bahwa hampir 70 persen kandidat yang melamar pekerjaan tidak pernah mendapat kabar dari perekrut.

Seluruh generasi pekerja, lanjut Englin, telah dikondisikan bahwa perekrut tidak memedulikan kandidat. 

Mereka percaya perekrut tidak akan memberikan info rekrutmen lebih lanjut. Terlebih jika mereka tidak lolos ke tahap selanjutnya. Dampaknya, kandidat tak ragu meng-ghosting perekrut. 

Adapun contoh candidate ghosting yang kerap dijumpai oleh perekrut adalah:

Tak ada kabar sebelum interview 

Ghosting kandidat terjadi ketika perekrut dan dirinya telah menyepakati jadwal interview, tetapi pada hari H, ia tidak hadir. 

Bahkan ia tidak menghubungi perekrut kalau tidak bisa datang ke sesi wawancara. Ia tidak merespon waktu perekrut menghubunginya. 

Selain wawancara, kandidat tak memberikan kabar atau tanggapan, setelah perekrut memberikan skill test kepadanya. 

Tak ada respon setelah interview

Setelah interview kerja tahap pertama, perekrut akan menghubungi kandidat untuk memastikan proses berjalan lancar. 

Biasanya, perekrut akan menjadwalkan interview berikutnya dengan user. Namun, kandidat tidak merespons perekrut. Baik melalui email, telepon, maupun pesan instan.

Batal sebelum hari pertama kerja

Candidate ghosting juga berlaku pada penerimaan kandidat sebagai karyawan baru.

Saat perusahaan menerima kandidat dan telah menentukan hari pertama kerja, tetapi yang terjadi adalah ia tidak datang. Bahkan tidak memberikan konfirmasi ke perekrut.

Hanya bekerja beberapa hari

Ada karyawan yang bekerja beberapa hari atau baru saja menyelesaikan onboarding, lalu ia tidak pernah datang ke kantor lagi. Selamanya. Keadaan ini tak hanya membuat pemimpin tim pening, tetapi perekrut pun ikut pusing.

HR Pun Bisa Melakukan Ghosting

Jujur, perekrut pun pernah melakukan ghosting kepada kandidat atau employer ghosting

Masih berdasarkan Indeed, sebanyak 46 persen reponden–dari sisi perusahaan–percaya bahwa perusahaan lebih sering melakukan ghosting ke kandidat dibanding sebelumnya.

Sedangkan, 27 persen perusahaan mengatakan pihaknya tidak meng-ghosting pencari kerja dalam setahun terakhir. 

Hal itu menandakan bahwa ghosting telah menjadi praktik umum dalam proses rekrutmen. Meski dampaknya menciptakan candidate experience buruk dan berpengaruh terhadap reputasi perusahaan.

Alasan terjadi employer ghosting antara lain:

Mendapatkan kandidat 

Perusahaan yang telah mendapatkan kandidat sesuai kriteria akan menutup proses rekrutmen. Namun, mereka tidak memberi tahu kepada kandidat lain bahwa mereka tidak lolos.

Tidak memenuhi syarat

Sering kali, perekrut yang sudah mewawancarai kandidat tetapi ternyata ia tidak memenuhi persyaratan. Jadi, perekrut bisa saja meng-ghosting kandidat. 

Ia tidak memberikan kabar bahwa kandidat tidak lolos ke tahap selanjutnya. Hal itu menyebabkan kandidat bertanya-tanya mengenai nasib kariernya.

Untuk lebih memahami kebutuhan kandidat, perusahaan dapat menggunakan jasa recruitment agency yang terpercaya.

Sebut saja, Reeracoen Indonesia, yang berpengalaman menjembatani kebutuhan perusahaan terhadap kandidat dan memiliki tenaga profesional di bidang sumber daya manusia.

Melebihi anggaran

Ketika kandidat meminta gaji melebihi anggaran perusahaan, maka ada kemungkinan perekrut akan bernegosiasi. Sebaliknya, jika kandidat tak ingin bernegosiasi soal gaji, perekrut akan meninggalkan kandidat begitu saja.

Kecuali kandidat memiliki semua kualifikasi yang dibutuhkan, tak menutup kemungkinan perusahaan menerimanya meski harus menambah anggaran.

Tidak memiliki rencana rekrutmen

Penyebab employer ghosting adalah perusahaan tidak memiliki rencana rekrutmen yang jelas atau tidak membuat manpower planning. Tanpa hal itu, kegiatan bisnis kurang atau tidak efektif. 

Kalaupun perusahaan memiliki manpower planning, tetapi komunikasi internal bermasalah, maka ada kemungkinan perekrut meng-ghosting kandidat.

Cara Mengantisipasi Candidate Ghosting

Baik candidate ghosting maupun employer ghosting, keduanya menghabiskan energi, waktu, dan uang. Alih-alih ingin menyokong bisnis, ghosting justru membuat kegiatan bisnis tidak efektif.

Untuk meminimalisir per-ghosting-an, Anda dapat menciptakan candidate experience positif

Perekrut dapat memberikan informasi yang jelas tentang tenggat waktu dan tujuan proses rekrutmen sejak awal. Dengan begitu, Anda mengelola ekspektasi kandidat. Berikut cara mengantisipasi candidate ghosting

Komunikasi dua arah

Englin menjelaskan, komunikasi adalah kunci untuk menciptakan candidate experience yang luar biasa. 

Artinya, Anda perlu mengedepankan komunikasi dua arah dengan kandidat. Misal, balas pertanyaan kandidat tentang proses rekrutmen, informasikan siapa saja user pada interview kerja, dan sarankan kandidat dalam kondisi prima saat interview dan tes psikologi.

Transparansi

Mengutamakan transparansi akan mendapatkan simpati dari orang lain.

Transparansi juga menciptakan lingkungan profesional. Contohnya, katakan jika kandidat tidak lolos serta berikan hal-hal yang perlu diperbaiki untuk kariernya di masa mendatang.

Evaluasi perekrut dan kandidat 

Mengingat ghosting bisa terjadi dari dua arah, maka evaluasi kinerja tim perekrut dan kandidat. Caranya:

  • Ketahui siapa yang bertanggung jawab terhadap rekrutmen 

Sebut saja, Si A yang menjalankan rekrutmen untuk posisi B2B Sales Specialist. Jika kandidat melakukan ghosting, maka cari tahu penyebabnya dari kedua sisi. Temukan cara mencegah candidate ghosting dan meningkatkan moral tim perekrut.

  • Catat siapa yang meng-ghosting

Anda perlu mencatat siapa yang meng-ghosting atau tak datang di interview kerja ke dalam database perusahaan. Jika suatu saat, mereka melamar pekerjaan di perusahaan Anda lagi, pertimbangkan untuk melanjutkan ke tahap selanjutnya.

Perbarui kebijakan perusahaan

Anda juga perlu mengevaluasi kebijakan perusahaan mengenai proses rekrutmen. Pahami dan nilai setiap poin dalam kebijakan.

Mulai dari apakah kebijakan sudah sesuai dengan kondisi terkini, apakah sudah selaras dengan budaya perusahaan, apakah masih sulit merekrut kandidat terbaik, apakah kebijakan telah memenuhi kebutuhan karyawannya, hingga perlukan memperbarui kebijakan.

Penutup 

Candidate ghosting dalam proses rekrutmen sangat menguras emosi dan terkadang membuat frustrasi. 

Rebecca Siciliano, Managing Director di Tiger Recruitment, menyarankan kepada perekrut untuk mempersingkat proses rekrutmen. Jika Anda telah menemukan kandidat yang sesuai kriteria, segera ajukan penawaran.

Bahkan ketika kandidat menerima tawaran Anda dan telah menentukan hari pertama kerja, masih ada kemungkinan ia pergi tanpa kabar. Untuk mengantisipasi hal itu, tingkatkan komunikasi dengan kandidat. 

Caranya, uraikan kepada yang bersangkutan tentang program learning and development bagi karyawan, cara perusahaan memberikan jalur karier karyawan, transparansi kompensasi dan benefit, hingga penyelarasan budaya perusahaan terhadap kegiatan bisnis.

Comment