10 Cara Memenangkan Hati Gen Z Dalam Rekrutmen | | HR NOTE Indonesia

10 Cara Memenangkan Hati Gen Z Dalam Rekrutmen

gen z

Generation Z (Gen Z) memprioritaskan diri untuk bekerja dengan gaji yang tinggi. Apakah benar demikian?

CareerBuilder telah menyurvei kepada pemimpin talent acquisition dan job marketplace pada 2022

Pada tahun yang sama, survei Deloitte menemukan bahwa 40 persen Gen Z kemungkinan besar akan meninggalkan pekerjaan mereka dalam dua tahun ke depan dan gaji menjadi alasan utama. Bahkan sepertiga dari mereka akan resign meski belum memiliki pekerjaan pengganti.

Jika hal itu terjadi, maka tantangan tim HR, khususnya perekrut, adalah memenangkan hati Gen Z. Tak hanya untuk bergabung ke dalam perusahaan Anda, tetapi mempertahankan mereka yang memiliki keterampilan mumpuni.

Siapa Gen Z?

Generation Z atau biasa disebut Gen Z merupakan orang-orang yang lahir mulai 1997 hingga 2021. Siswa maupun mahasiswa saat ini termasuk Gen Z yang terkenal dengan digital native.

Robert Neuhauser, Global Head of Talent and Leadership di Siemens, mengatakan bahwa generasi saat ini berbeda karena hidup di ruang digital. 

Hal itu memengaruhi pandangan Gen Z ketika harus mencari pekerjaan. Ya, mereka memilih berjumpa dengan perekrut secara virtual dibanding tatap muka.

Gen Z cenderung memilih bekerja di perusahaan dengan nilai yang sesuai diri mereka, perusahaan yang peduli terhadap masalah sosial dan lingkungan, serta perusahaan yang mendorong keragaman dan kesetaraan.

Apa yang Dikhawatirkan oleh Gen Z?

gen z

Ahli bedah umum dari Amerika Serikat Vivek Murthy mengeluarkan nasihat mengatasi krisis kesehatan mental kaum muda yang diperparah oleh pandemi COVID-19.

Anak muda tersebut mengacu pada siswa sekolah menengah hingga karyawan yang baru memasuki dunia kerja. Kelompok Gen Z itu melaporkan tingkat kecemasan, depresi, dan kesulitan lebih tinggi daripada kelompok usia lainnya.

Di sisi lain, tak semua Gen Z mencari pertolongan atas kondisinya. Karena ada kelompok yang sulit menjangkau layanan kesehatan mental secara finansial, birokrasi, dan diskriminasi. 

Maka, tak sedikit Gen Z yang mencari layanan melalui perawatan darurat, media sosial, dan alat digital

Langkah pertama mereka dalam mengelola kesehatan mental adalah mengunjungi TikTok atau Reddit untuk mendapatkan saran dari pengguna lain, mengikuti terapis di Instagram, atau mengunduh aplikasi yang relevan.

Itu hanya satu hal secara umum. Dalam ranah pekerjaan, setidaknya, mereka mengkhawatirkan empat hal. 

Work-life balance

Dunia digital sangat memudahkan pekerjaan manusia. Tak terkecuali Gen Z yang lahir dan hidup sebagai digital native.

Gen Z tak hanya menghadapi tantangan di kehidupan nyata, tetapi juga dunia maya. Misalnya, media sosial memberikan tekanan secara fisik, mental, dan emosional ke generasi ini. 

Tak heran, mereka tidak mau sembarangan memilih pekerjaan. Karena mereka khawatir perusahaan–tempat mereka bekerja–tidak menerapkan work-life balance

Mia Jones (23), penulis dari California, memimpikan tempat kerja yang modern, transparan, dan entrepreneurial. Karena ia menghargai work-life balance, kesehatan mental, dan fleksibilitas bekerja.

Kesempatan untuk tumbuh dan berkembang

Sebuah survei menemukan 40 persen  Gen Z memiliki tujuan karier yang membuat mereka merasa stabil dan aman.

Jika mereka beranggapan perusahaan tidak mampu memenuhi hal itu, mereka khawatir tidak memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara profesional maupun personal. Mereka ingin perusahaan memberikan program learning and development dan mempunyai jalur karier karyawan.

Gaji dan tunjangan

Kekhawatiran lainnya adalah mereka tidak menerima gaji dan tunjangan yang memadai

Karena saat mereka memasuki dunia kerja, kondisi bisnis sedang tidak menentu, ditambah lagi inflasi cukup tinggi, dan tidak sebanding dengan kenaikan gaji. Padahal mereka sangat menginginkan gaji tinggi dengan tunjangan berupa cuti berbayar hingga menyediakan perlindungan kesehatan yang baik.

Isu sosial dan lingkungan

Kathleen Gerson, profesor sosiologi, seni, dan sains New York University, menjelaskan Gen Z sangat sadar terhadap keadilan sosial, gerakan lingkungan, serta cara kerja baru yang mengguncang status quo.

Saat mereka memasuki pasar kerja yang tumbuh kurang stabil, mereka tak ragu untuk mengundurkan diri, meski belum ada pekerjaan pengganti. Mereka juga berani mengeluarkan pendapat dan menuntut perubahan di tempat.

Beth Kennedy, agen pemasaran di New York City, menceritakan pengalamannya bekerja dengan Gen Z. Menurutnya, Gen Z tegas dalam menetapkan batasan kehidupan kerja, pekerja keras, dan berani bersuara.

10 Cara Memenangkan Hati Gen Z di Rekrutmen

gen z

Di AS, keberadaan Gen Z menjadi generasi paling beragam dalam sejarah bangsa pada 2020. Generasi ini memiliki perspektif unik tentang karier dan kesuksesan.

Oleh karena itu, perusahaan mengadopsi pendekatan sesuai pola pikir Gen Z. Langkah itu untuk memenangkan hati sekaligus mempertahankan generasi yang terkenal tech savvy.

Siemens, misalnya. Mereka telah mengubah proses rekrutmen untuk mengikuti jejak digital Gen Z dengan mendekati kandidat–memiliki kriteria yang dibutuhkan oleh perusahaan–melalui media sosial.

Bagaimana dengan cara lain untuk memenangkan hati Gen Z?

#1 Fleksibilitas

Menurut Lauren Smith, Vice President of Talent Acquisition Research Gartner Inc. di Stamford, Gen Z lebih suka bekerja dari rumah atau di mana pun yang nyaman dan fasih menggunakan teknologi digital.

Untuk memikat Gen Z, perusahaan perlu menawarkan fleksibilitas kerja seperti work from anywhere. Misalnya bekerja di kamar tidur, ruang kerja, cafe, atau kursi santai di pantai.

#2 Peer coaching

Ada kalanya, peer coaching adalah cara tepat mempertahankan karyawan Gen Z. Karena teman sebaya lebih efektif mendorong rekan kerja untuk meningkatkan kinerjanya. 

Hal itu diamini oleh Smith. Menurutnya, karyawan Gen Z lebih mendengarkan coaching teman sebaya dibanding supervisor.

#3 Mentoring 

Matt Thomas, Director of Talent Acquisition di Inspire Brands, Atlanta, menguraikan bahwa mentoring ialah salah satu kunci untuk menarik dan mempertahankan Gen Z di perusahaan.

Thomas memadukan dan mencocokkan generasi yang berbeda dalam satu tim di program mentoring. Jadi, satu tim memiliki anggota dari generasi berbeda untuk mendiskusikan pengalaman dan tujuan karir mereka.

#4 Teamwork

Memenangkan hati Gen Z dapat dilakukan dengan membentuk teamwork. Selama pandemi, karyawan bekerja dari rumah atau hibrida dan itu membuat mereka merasa terasing.

Dengan kehadiran teamwork, karyawan bertemu secara berkala melalui telekonferensi dan pemimpin tim memperhatikan anggotanya. Jadi, mereka merasa menjadi bagian tim.

#5 Diversity

Gen Z sangat peduli dengan diversity, termasuk di tempat kerja. 

Perusahaan yang ingin menarik kandidat Gen Z, tunjukkan budaya perusahaan yang memiliki nilai-nilai keragaman. Misalnya keragaman karyawan dari suku, kewarganegaraan, disiplin ilmu, tanpa memandang fisik, perbedaan politik, dan lainnya.

#6 Program pengembangan

Gen Z sangat mencari program pengembangan–seperti learning and development–di tempat kerja.

Program ini berpeluang mengembangkan keterampilan baru dan memiliki kemajuan dalam posisi kerja karyawan Gen Z

Itu adalah peluang yang harus dimanfaatkan oleh perusahaan. Karena perusahaan bisa menarik maupun mempertahankan sekaligus menguji tanggung jawab di luar peran mereka saat ini.

#7 Pertumbuhan karier

Gen Z menuntut transparansi tentang pertumbuhan karier karyawan. Jika perusahaan menyediakan hal itu, Anda bisa fokus untuk merekrut mereka.

Menurut Thomas, Gen Z tidak terlalu peduli dengan jabatan, tetapi peluang untuk berkembang. Karena resesi, inflasi, dan pandemi COVID-19 berdampak pada kehidupan mereka. Jadi, mereka menginginkan keamanan pertumbuhan karier.

#8 Work-life balance

Hannah Bartle, Field Marketing Coordinator di Arby’s, mengatakan work-life balance sangat penting bagi Gen Z. Karena perusahaan harus memahami bahwa karyawan adalah manusia.

Sejak ia bekerja di Arby’s, sang pemimpin telah memberinya waktu istirahat untuk janji dengan dokter dan keadaan darurat lainnya. Pemimpin juga kerap mengingatkan karyawan untuk menyeimbangkan kehidupan kerja dan kehidupan nyata.

Langkah Arby’s sejalan dengan laporan Global Talent Trends 2022 mencatat sebanyak 66 persen Gen Z ingin perusahaan lebih banyak berinvestasi dalam kesehatan mental dan kebugaran.

#9 Job rotation 

Gen Z menikmati job rotation di awal karier mereka di tempat kerja. Ini adalah langkah mengidentifikasi keterampilan dan karier yang ingin mereka kejar.

Misalnya, akuntan di Inspire Brands akan berada di posisi akuntansi divisi waralaba enam bulan, lalu enam bulan kemudian untuk akuntansi divisi brand advertising, dan enam bulan untuk akuntansi perusahaan. 

#10 Kesadaran sosial

Seperti yang telah dijelaskan di atas, Gen Z memperhatikan terhadap isu sosial. Sebut saja kesetaraan di tempat kerja dan masalah lingkungan.

Perusahaan yang memiliki kesadaran sosial akan memikat hati Gen Z bergabung menjadi karyawan. Mereka juga melihat langkah CSR yang telah dilakukan oleh perusahaan.

Penutup

Tak sedikit perusahaan yang menyadari bahwa–selain gaji dan lokasi–karyawan Gen Z mempertimbangkan keragaman, kesetaraan, su lingkungan, hingga tata kelola perusahaan dalam menerima pekerjaan. 

Bagi Anda yang tengah merekrut kandidat Gen Z, ada baiknya untuk menampilkan nilai atau budaya perusahaan di media sosial serta official website

Anda dapat mengunggah konten yang menerjemahkan budaya ke dalam fungsi bisnis sehari-hari,  bagaimana memprioritaskan nilai, investasi yang sedang dilakukan, dan lainnya.

Comment