10 Jenis Pertanyaan Wawancara yang Bisa Membuat HR Bermasalah | | HR NOTE Indonesia

10 Jenis Pertanyaan Wawancara yang Bisa Membuat HR Bermasalah

Dalam proses rekrutmen, HR akan mengadakan serangkaian tahapan. Salah satunya menjalankan wawancara.

Biasanya wawancara dilakukan dua hingga tiga kali dengan HR dan/atau user. HR dapat bertanya mengenai pengalaman kerja hingga keterampilan yang dikuasai oleh kandidat. Meski demikian, Anda perlu berhati-hati saat bertanya.

Pasalnya, ada beberapa pertanyaan sensitif seperti status hubungan, suku, agama, kepercayaan, hingga kondisi fisik. Jika Anda mempertanyakan hal tersebut berdasarkan kepo, Anda mempertaruhkan reputasi diri sendiri sekaligus perusahaan.

Bukan tak mungkin, Anda akan menghadapi masalah dan dicap tidak etis karena menyinggung perasaan kandidat.

Panduan Pertanyaan Wawancara

Sebelum menjalankan proses rekrutmen, tak ada salahnya untuk menyusun panduan pertanyaan wawancara. Anda dapat membuatnya bersama rekan se-tim dan komunikasikan pula dengan user.

Panduan pertanyaan wawancara merupakan daftar pertanyaan yang akan ditanyakan oleh HR dan/atau user kepada kandidat dalam interview kerja.

Tujuannya adalah untuk menguraikan topik yang ingin diketahui oleh HR dan user, hal-hal yang ingin ditanyakan seputar pekerjaan, hingga pertanyaan yang akan didiskusikan dengan kandidat. Dari hasil wawancara, HR dan user akan menilai dan menindaklanjutinya.

Di samping itu, panduan pertanyaan wawancara mengulas kinerja tim HR dalam proses rekrutmen. Misal apakah ada kandidat yang komplain mengenai pertanyaan wawancara atau bagaimana jawaban kandidat terhadap pertanyaan yang diajukan.

Pertanyaan wawancara harus fokus untuk memperoleh informasi sekaligus menilai keterampilan dan kualifikasi kandidat dan/atau kemampuan kandidat untuk menjalankan fungsi penting dari posisi tersebut. Membuat pertanyaan wawancara juga membantu tim HR dalam mendapatkan kandidat yang sesuai kriteria.

1. Status hubungan

Pada dasarnya, kinerja seseorang tak berhubungan terhadap status hubungan. Baik lajang maupun menikah, mereka berkesempatan menunjukkan performa terbaiknya.

Jika perusahaan tak mempermasalahkan status hubungan, Anda tak perlu mempertanyakan hal tersebut. Kecuali perusahaan ingin menghitung bujet total ketika merekrut kandidat baru.

“Tentang hubungan pernikahan, biasanya ditanyakan untuk memperkirakan budget total si kandidat dalam satu tahun, terutama berhubungan dengan fasilitas asuransi. Karena biasanya asuransi diberikan sepaket untuk family, jika pria. Dan wanita dihitung lajang, kecuali jika suami tidak memiliki asuransi dari kantornya. Overall, biasanya HR akan hitung-hitungan,” ujar Mayasari, HR Manager, kepada HR Note, Rabu (14/07/2021).

2. Kehamilan

Hati-hati sebelum bertanya tentang kehamilan. Pertanyaan tersebut sangat sensitif bagi kandidat

Meski demikian ada perusahaan yang tidak menerima bahwa karyawan baru yang sedang atau berencana hamil. Karena pekerjaan yang ditawarkan cukup berisiko bagi ibu hamil. Sebut saja pekerjaan yang bersinggungan dengan bahan kimia, farmasi, plastik, dan lainnya.

3. Anak

Bertanya mengenai jumlah anak dengan tujuan menghitung anggaran gaji dan tunjangan karyawan baru adalah hal wajar. Namun pertanyaan bisa menjadi masalah bagi kandidat yang sedang berupaya memperoleh keturunan maupun mereka yang memutuskan tidak memiliki anak.

Jika Anda tetap bertanya dan kandidat menjawab ‘belum memiliki anak’, Anda tak perlu bertanya alasannya, berapa lama usia pernikahan, maupun hal-hal yang berkaitan dengan kondisinya. Karena pertanyaan tersebut dapat menyinggung perasaannya dan bukan tak mungkin ia melaporkan Anda ke pimpinan perusahaan.

4. Suku dan/atau kebangsaan

Pada sebagian orang, nama mengindikasikan daerah asal atau suku. HR (yang berasal dari wilayah yang sama dengan kandidat) akan bertanya tentang asal kandidat. Namun pertanyaan tersebut hanya untuk mencairkan suasana. Bukan pertanyaan ofensif atau stereotip.

Bila perusahaan merekrut tenaga asing yang sudah tinggal di Indonesia, maka sebaiknya Anda bertanya tentang izin tinggal, visa kerja, dan dokumen terkait.

5. Agama

Sama seperti tentang status hubungan, jika perusahaan tak mempermasalahkan agama kandidat, Anda tak perlu menanyakannya.

Namun yang perlu HR pertimbangkan adalah apakah peraturan atau kualifikasi pekerjaan bertentangan dengan agama atau keyakinan mereka. Misalnya:

  • “Hari kerja kami dari Senin hingga Sabtu, apakah Anda keberatan bekerja pada hari tersebut?”
  • “Pekerjaan di sini memberlakukan sistem shifting, jadi bisa saja Anda masuk pada Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional, apakah Anda sanggup melakukannya?”
  • Jika tempat kerja Anda yayasan pendidikan atau sosial yang berafiliasi pada salah satu agama, sebaiknya tulis persyaratan agama dalam informasi lowongan.

“Pertanyaan tentang agama, sebenarnya lebih ke balance kerja, secara kantor kita buka tiap hari. Jadi libur keagamaan harus ada yang piket. Kalau bisa balance, jadi mereka bisa libur pas hari raya mereka. Itu kan lebih baik, tapi bukan pertanyaan utama juga sih,” kata Sheila, Service Desk Manager, yang bertindak sebagai user dalam proses rekrutmen.

6. Penampilan fisik

Anda akan menghadapi masalah dan dicap ofensif, jika bertanya dan/atau mengomentari penampilan fisik kandidat. Seperti bentuk badan, cara berpakaian, cara berbicara atau berjalan, dan pertanyaan seputar penampilan fisik lainnya.

Di sisi lain, bila Anda mengunggah lowongan kerja, sebaiknya informasikan dengan detail mengenai pekerjaan dan kualifikasi kandidat. Jika tidak, hal itu bisa menyinggung pihak lain dan berpengaruh pada persepsi pelamar terhadap perusahaan.

“Saya difabel daksa. Ada suatu momen yang saya tidak bisa lupakan, pertanyaan HRD ke saya kurang sopan. Saat itu saya bawa santai, jika teman difabel lain di posisi saya, mungkin mereka sakit hati. Jika perusahaan buka loker, jelaskan detail pekerjaan seperti apa. Itu lebih bagus, karena pelamar akan tahu tugas-tugasnya seperti apa. Jangan input kata-kata ‘sehat jasmani dan rohani’. Karena itu menyinggung teman-teman disabilitas,” ucap Wini Rahmadhani, Administrasi Umum.

7. Pandangan politik

Apapun pandangan politik kandidat, mereka berhak mendapatkan pekerjaan selama kualifikasinya memenuhi syarat. Yang perlu diperhatikan HR adalah perilakunya di media sosial.

Biasanya, warganet bisa menumpahkan perasaan, pemikiran, hingga mempertunjukkan perilakunya di media sosial. Dari unggahan kandidat, Anda bisa menilai bagaimana pandangan politik mereka dan apakah perilakunya di media sosial bertentangan dengan kebijakan perusahaan.

8. Kondisi keuangan

HR tak perlu bertanya mengenai kondisi keuangan, termasuk utang yang dimiliki oleh kandidat. Karena pertanyaan tersebut tak berhubungan dengan pekerjaan.

9. Kebiasaan

Kebiasaan seperti nongkrong, traveling, bahkan merokok dan nge-vlog, itu urusan pribadi seseorang. Namun, misalnya perusahaan tidak mengizinkan karyawan merokok dan minum alkohol di ruang kerja maupun area gedung, Anda bisa memberitahukan mengenai peraturan tersebut.

10. Jenis kelamin

Bertanya mengenai jenis kelamin dan/atau orientasi seksual membuat diri Anda dalam masalah. Misal kandidat (laki-laki) memiliki sindrom klinefelter, sehingga penampilannya memiliki karakteristik seperti perempuan.

Sebaiknya jangan tanyakan hal tersebut. Jika tetap bertanya karena kepo, Anda bisa menyinggung perasaan mereka. Karena Anda tak tahu bagaimana ia melalui pengobatan, terapi, maupun menghadapi omongan negatif yang menguras fisik dan mentalnya.

Menyusun Pertanyaan Wawancara

Bagaimana mengajukan pertanyaan wawancara tanpa menyinggung? Di bawah, terdapat tipe-tipe pertanyaan dan contohnya yang dapat membantu HR dalam menilai kandidat.

Keterampilan interpersonal

  • “Bisakah Anda jelaskan pengalaman menjadi manager marketing dan bagaimana mengatur kerja tim?”
  • “Bagaimana Anda menyelesaikan masalah jika ada anggota tim berselisih?”
  • “Jelaskan pengalaman Anda bekerja dengan informasi yang sangat rahasia dan bagaimana cara Anda meminta karyawan menjaga informasi itu agar tidak bocor?”
  • “Bagaimana Anda memberitahu atasan bahwa informasinya kurang akurat dan menyampaikan pendapat bahwa Anda tidak setuju terhadap idenya?”
  • “Menurut pengalaman Anda, bagaimana caranya agar tim bekerja efektif dan apa yang Anda butuhkan dari anggota tim?
  • Metode apa yang Anda gunakan untuk membuat keputusan dan kapan merasa paling sulit untuk membuat keputusan?

Keterampilan profesional

  • “Bisakah Anda ceritakan tugas-tugas sebagai digital marketing di perusahaan sebelumnya?”
  • “Bagaimana proses Anda dalam melakukan riset dan memanfaatkan data-data untuk mempersiapkan promo?”
  • “Apa saja strategi yang Anda dalam jalankan campaign marketing untuk produk baru?”
  • “Pernahkah KPI campaign Anda tidak mencapai target? Lalu apa yang dilakukan?”
  • “Menurut Anda, bagaimana channel digital sebagai media promosi saat ini?”
  • “Tools apa saja yang Anda gunakan dalam menyampaikan konten dan bagaimana mengukur hasilnya?”

Creative thinking

  • “Hal kreatif apa yang pernah Anda lakukan pada proyek atau perusahaan terakhir?”
  • “Dengan cara apa Anda mengekspresikan kepribadian Anda di tempat kerja?”
  • “Ceritakan bagaimana Anda menemukan solusi untuk menghadapi tantangan dalam pekerjaan?”
  • “Jelaskan ketika Anda harus berpikir “out of the box” dan bagaimana mengeksekusinya dalam sebuah proyek?”

Behavioral

  • “Jika atasan meminta bantuan Anda untuk menyelesaikan masalah di luar kemampuan atau keterampilan Anda, apa yang akan Anda lakukan?”
  • “Jelaskan saat Anda melakukan tugas di luar tanggung jawab. Apa tugasnya dan bagaimana hasilnya?”
  • “Bagaimana Anda tahu ketika Anda sedang stress? Apa yang Anda lakukan untuk menghilangkan stress?”
  • “Bagaimana reaksi Anda jika keputusan atasan tidak adil bagi Anda dan tim?”

Leadership

  • “Bagaimana Anda menggambarkan pimpinan yang ideal?”
  • “Bagaimana Anda memotivasi dan mengenali kemampuan karyawan?”
  • “Bagaimana Anda melatih karyawan yang memiliki masalah kinerja?”
  • “Bagaimana Anda menggambarkan gaya kepemimpinan diri sendiri? Direktif, mendelegasi, atau melatih? Apa alasannya?”

Penutup

Wawancara adalah salah satu proses penting dalam rekrutmen. Oleh karena itu persiapkan pertanyaan wawancara yang fokus pada keterampilan, kemampuan, dan pengalaman kandidat.

Jangan tersinggung, jika kandidat tidak nyaman atau merasa pertanyaan Anda tidak etis. Karena mereka berhak menolak untuk menjawabnya. Kondisi tersebut bisa Anda dijadikan ulasan bersama tim dan memeriksa kembali panduan pertanyaan interview.

Comment