Toxic Productivity: Tanda dan Langkah Menghadapinya | | HR NOTE Indonesia

Toxic Productivity: Tanda dan Langkah Menghadapinya

toxic productivity

Produktif bekerja itu hal baik. Namun, jangan sampai Anda terjebak dalam toxic productivity

Terjebak? 

Ya, bisa jadi Anda terjebak di dalam toxic productivity. Lingkungan kerja beserta hiruk pikuknya mendorong seseorang untuk bertindak cepat dan mengedepankan etos kerja.

Ironisnya, langkah tersebut diyakini sebagai produktivitas kerja. Tak sedikit karyawan yang memaksa diri mereka untuk bekerja lebih produktif. 

Bahkan saat tugas sudah selesai, Anda tak pernah puas dengan hasilnya dan ingin menyelesaikan tugas lain agar lebih baik lagi. Jika kondisinya demikian, kemungkinan Anda jatuh ke dalam perangkap toxic productivity.

Definisi Toxic Productivity

Toxic productivity merupakan kebutuhan obsesif untuk selalu produktif, tanpa memperhitungkan kesehatan, hubungan profesional, dan kehidupan personal.

Heather Monroe sebagai Direktur Pengembangan Program di Newport Institute, pun mengatakan hal yang kurang lebih sama. Menurutnya, toxic productivity adalah gagasan bahwa kita harus fokus hanya pada emosi dan aspek positif kehidupan. 

Keyakinan tersebut menguatkan bahwa seseorang jauh lebih bahagia jika mengabaikan emosi negatif dan bagian hidup yang tak berjalan dengan baik. Padahal, faktanya tidak demikian.

Pemikiran di atas, masih menurut Monroe, terlalu menyederhanakan otak manusia dan berpengaruh terhadap cara seseorang memproses emosi. Efeknya, membuat karyawan:

  • Menghentikan perjuangannya.
  • Menyembunyikan atau menyangkal perasaan.
  • Menyebabkan kecemasan.
  • Memicu stress dan depresi.

Alhasil, pemikiran tersebut merusak kesehatan mental karyawan. Karena karyawan terdorong untuk meningkatkan produktivitas terus menerus, meski tugasnya telah selesai.

Toxic Productivity ≠ Hustle Culture

Toxic productivity membuat seseorang merasa bersalah jika tidak bekerja. Bila lingkungannya banyak mengadopsi produktivitas beracun, bukan tak mungkin ia akan mencari kesibukan.

Apakah kondisi itu terdengar seperti hustle culture

Keduanya hampir mirip. Hanya saja, hustle culture merupakan budaya kerja keras sehingga mengorbankan siklus tidur dan kewarasan. 

Tak sedikit orang yang mengglorifikasi hustle culture sebagai jalan menuju kesuksesan. Elon Musk adalah model panutan dari budaya ini.

Menurut Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog, hustle culture ialah budaya yang memandang bahwa kerja keras sebagai aspek terpenting dalam kehidupan.

Sedangkan toxic productivity adalah pemikiran di mana seseorang harus mengembangkan diri terus-menerus.

Tanda Terjebak Toxic Productivity

Sering kali, seseorang tak sadar bahwa dirinya sedang terjebak toxic productivity

Salah satu penyebabnya adalah teman-teman di sekitarnya produktif bekerja. Meski terkadang, mereka melakukannya tanpa perencanaan, pemikiran, dan analisis pekerjaan.

Simone Milasas, pelatih bisnis dan penulis Joy of Business, mengatakan ketika toxic productivity memimpin hidup Anda, maka Anda fokus menilai diri sendiri belum melakukan apa pun, daripada melihat pekerjaan yang telah tercapai. 

Sebagai HR, sebaiknya, Anda dan tim tidak terjebak bias toxic productivity. Alih-alih menerapkan work-life balance, Anda malah terjerumus menghasilkan tindakan beracun dan berakhir pada burnout.

Lalu, bagaimana mengenali anggota tim atau karyawan terjebak toxic productivity?

Bekerja tiada henti

Pandemi COVID-19 mendorong seseorang untuk menerapkan toxic productivity tanpa sadar.

Pasalnya, rutinitas berangkat ke kantor dan duduk berdampingan dengan rekan kerja tiba-tiba berhenti. Semua karyawan–tergantung industri–harus bekerja dari rumah.

Kathryn Esquer, psikolog dan pendiri Teletherapist Network, mengatakan saat itu semua orang merasakan ketidakpastian yang akut dan memiliki waktu luang yang belum pernah ada sebelumnya.

Jadi, tak sedikit karyawan yang tidak berhenti bekerja, walau jam kerja telah berakhir. Padahal mereka bisa memanfaatkan waktu untuk beristirahat dan memulihkan diri dari hiruk-pikuk tugas.

Kelelahan kerja

Adalah hal wajar jika karyawan merasa kelelahan pasca jam kerja usai. 

Namun, kelelahan kerja akibat toxic productivity bisa memengaruhi fisik dan mental. Tanda-tandanya seperti mudah marah, tidak bisa menerima kritik, tidak fokus jika diajak berdiskusi, dan lainnya.

“Apa pekerjaan selanjutnya?”

Jika seseorang kerap mengatakan pertanyaan di atas, Anda perlu memperhatikannya lebih lanjut. 

Kemungkinan, ia sudah menyelesaikan pekerjaan sebelumnya dan beban kerja masih terkendali atau ia merasa bersalah jika tidak membantu pekerjaan rekannya. Jika ia tergolong yang kedua, itu artinya ia sedang masuk perangkap toxic productivity.

Apa dampak toxic productivity?

Seperti yang telah dibahas di atas, toxic productivity berdampak pada fisik dan mental. 

Tak sedikit karyawan yang memaksakan diri untuk bekerja lebih lama, sehingga tidak memiliki waktu luang buat bersantai. Perilaku beracun seperti itu membuat:

  • Fisik lelah.
  • Energi terkuras.
  • Sering sakit.
  • Merasa bersalah.
  • Menutupi rasa sedih.
  • Tidak memiliki harga diri.
  • Hubungan personal terganggu.
  • Burnout

Apa Yang Harus Dilakukan Jika Berada Dalam Toxic Productivity?

tantangan rekrutmen

HR Consultant Laurie Ruettimann menjelaskan sangat sedikit pemimpin di luar sana yang peduli jika karyawan telah bekerja keras sepanjang waktu.

Pemimpin akan kagum dan terkesan dengan pencapaian dan hasil kerja karyawan. Mereka tidak peduli berapa jam waktu yang dibutuhkan oleh karyawan untuk menyelesaikannya. Mereka hanya ingin pekerjaan yang bagus.

Keterangan Ruettimann tersebut memperkuat bahwa karyawan harus produktif, tetapi tidak terperangkap dalam toxic productivity. Itu bukan bagian dari key performance indicator

Bahkan perilaku selalu ingin mengerjakan ini itu justru dapat menurunkan kualitas kinerja. Jika Anda melihat hal tersebut pada rekan setim atau karyawan lain, bantu mereka untuk:

#1 Ambil jeda

Bila Anda melihat ada rekan kerja kerap uring-uringan, maka sarankan ia untuk mengambil jeda

Dorong ia untuk berada di taman kantor atau sedikit jalan kaki sekitar kantor. Sarankan pula agar ia tidak bekerja di akhir pekan.

Intinya, ia tak perlu melakukan apa pun atau sengaja tidak produktif. Kondisi itu akan membantunya untuk lebih fokus dan sadar bahwa ia perlu mengisi energi dengan berjeda.

#2 Lakukan self-care

Menurut konsultan tenaga kerja dan penulis Lynn Taylor, waktu yang luar biasa membutuhkan usaha yang luar biasa. Salah satunya, memiliki waktu untuk self-care

Karena tubuh dan pikiran berada dalam kondisi waspada selama bekerja. Maka Anda perlu memelihara dan memperlakukannya dengan baik. 

Prioritaskan diri seperti Anda memprioritaskan tugas atau proyek di kantor. Misalnya, tonton film di bioskop, nikmati makanan favorit, atau lakukan kegiatan yang ingin dilakukan.

#3 Latih emotional intelligence

Jika Anda menjumpai karyawan yang terjebak di lingkungan toxic productivity, ajak berdiskusi seputar emotional intelligence. Namun, Anda tak perlu menyebutkan topiknya. 

Mulai saja membicarakan pekerjaan yang telah ia lakukan, menghargai prestasi kerjanya, mengakui ada keinginan untuk campur tangan, berbagi perasaan yang muncul, apa yang ia butuhkan di balik perasaan tersebut, dan lainnya.

#3 Professional detachment 

Menurut Ruettimann, seseorang perlu melakukan professional detachment. Ini adalah pemahaman bahwa peran seseorang di tempat kerja bukanlah inti dari identitasnya. 

Ide awal dari professional detachment adalah Anda dapat menjadi orang produktif dan berkomitmen tanpa mengorbankan seluruh hidup dan harga diri berputar untuk pekerjaan. 

Dengan kata lain, Anda bukanlah pekerjaan Anda. Karier hanya salah satu bagian dari hidup Anda. Jika Anda melampaui dari sesuatu di tempat kerja, itu tidak mencerminkan nilai Anda sebagai pribadi.

#4 Klasifikasi pekerjaan

Dorong karyawan untuk membuat klasifikasi pekerjaan. Hal ini berguna untuk menghindari kelelahan kerja dan bekerja terburu-buru.

Cara yang bisa Anda usulkan adalah mengklasifikasikan pekerjaan menjadi:

  1. Urgent and important
  2. Not urgent but important
  3. Urgent but not important
  4. Neither urgent nor important

Nomor pertama adalah pekerjaan yang harus diprioritaskan. Setelah pekerjaan nomor satu selesai, mulai mengerjakan tuga nomor dua. Jika jam kerja masih tersisa, cicil tugas di nomor tiga dan empat. Jika tidak, stop.

#5 Buat batasan waktu

Dukung anggota tim dan karyawan lain untuk memiliki work-life balance dengan membuat batasan waktu kerja ke pribadi

Ini adalah langkah penting dalam menciptakan lingkungan kerja sehat. Ketika Anda di rumah, nikmatilah waktu untuk diri sendiri dan keluarga. 

Katakan jam kerja Anda ke teman-teman. Jika mereka mengirimkan email atau pesan di luar jam kerja, Anda akan membalasnya keesokan hari atau lambat merespons.

Jadi, saat kembali bekerja, Anda telah mengisi ulang energi dan lebih segar.

Penutup

Bekerja produktif itu baik, tetapi jangan sampai pekerjaan menjadi toxic productivity. Anda memiliki kendali atas diri sendiri untuk mengelola produktivitas kerja yang sehat. 

Oleh karena itu, Anda perlu mengisi daya ulang energi untuk kesehatan fisik dan mental sekaligus menghindari burnout. Alhasil, Anda mempunyai kehidupan personal maupun profesional yang baik.

Comment