Tips Mempertahankan Produktivitas Kerja Saat Hybrid Working | | HR NOTE Indonesia

Tips Mempertahankan Produktivitas Kerja Saat Hybrid Working

produktivitas kerja

Ada korelasi langsung antara produktivitas kerja dengan performa bisnis di perusahaan. Menghasilkan keuntungan bukan berarti bisnis yang dijalani sudah produktif.

Semenjak pandemi COVID-19 merebak, banyak perusahaan yang menerapkan sistem baru di mana perusahaan menerapkan sistem WFH dan WFO (hybrid working). Setelah dua tahun berjalan, sistem ini masih banyak digunakan oleh perusahaan.

Menurut laporan Global Workplace Report 2021, sebanyak 79% perusahaan besar di dunia percaya karyawan lebih suka bekerja di kantor dibandingkan di rumah.

Lebih tepatnya, laporan tersebut menyebutkan 38% karyawan suka bekerja dari kantor, 31% memilih bekerja di rumah, dan 31% lainnya bekerja secara hibrida.

Global Workplace Report 2021 juga menyebutkan, untuk menggenjot produktivitas perusahaan, mereka memanfaatkan teknologi yang dapat membantu dalam meningkatkan efisiensi.

Menurut wework.com, metode hybrid working akan membuat karyawan dapat memanfaatkan waktu mereka dengan lebih baik. Mereka juga akan lebih fokus pada tugas tanpa gangguan dari lingkungan kantor.

Hal ini banyak memberikan dampak positif untuk produktivitas. Namun, benarkah demikian?

Hybrid Work Mengancam Produktivitas Kerja, Mitos atau Fakta?

Data Prodoscore menunjukkan bahwa jika seorang karyawan sangat produktif di kantor, maka mereka juga akan produktif di rumah.

Namun, jika seorang karyawan bermalas-malasan di kantor, maka mereka akan melakukan hal yang sama di rumah.

Setelah mengevaluasi lebih dari 105 juta titik data dari 30.000 pengguna Prodoscore yang berbasis di AS, mereka menemukan peningkatan produktivitas sebesar 5% selama masa pandemi.

Penelitian dari Owl Labs menemukan bahwa karyawan yang bekerja secara jarak jauh atau hybrid, 22% lebih bahagia daripada bekerja di kantor.

Selain itu, pekerja jarak jauh juga mengalami lebih sedikit stres, lebih fokus, dan lebih produktif daripada saat mereka bekerja di kantor.

Bekerja dari rumah memberikan keseimbangan work-life balance yang lebih baik dan bermanfaat bagi kesejahteraan fisik dan mental karyawan.

Selain itu, studi dari Ergotron mengambil sampel dari 1.000 pekerja dan menemukan bahwa pekerja menjadi lebih terbiasa dengan lingkungan kantor hybrid dan jarak jauh semenjak COVID-19.

Sebanyak 56% karyawan menyebutkan adanya peningkatan kesehatan mental, work-life balance, dan banyak aktivitas fisik yang dirasakan saat bekerja dengan sistem hybrid.

Data lain dari Future of Work Studi 2021 Accenture menunjukkan umpan balik yang positif dari sistem kerja hibrida ini.

Dari 9.326 pekerja yang disurvei, 83% menyatakan mereka memilih sistem kerja hibrida yang memungkinkan mereka bekerja dari jarak jauh setidaknya 25% dari waktu bekerja.

Dari banyaknya data ini membuktikan bahwa hybrid working dapat meningkatkan produktivitas karena:

  • Sistem kerja hibrida lebih efisien
  • Sebagian besar karyawan dengan sistem ini mengaitkan produktivitas mereka dengan jadwal yang fleksibel
  • Adanya laporan peningkatan work-life balance, lebih sedikit waktu yang dihabiskan untuk perjalanan, lebih hemat, dan kemampuan untuk bekerja dari mana saja.

Namun, tidak ada sistem atau model kerja yang benar-benar sempurna. Tantangan terbesar dari kerja hybrid biasanya meliputi:

  • Memiliki alat yang tepat agar efektif dalam bekerja
  • Merasa kurang terhubung dengan budaya organisasi
  • Kolaborasi dan hubungan dengan rekan/tim terganggu
  • Proses kerja yang juga ikut terganggu
  • Memerlukan koordinasi rapat dan jadwal yang lebih ekstensif
Tantangan utama pekerjaan hybrid jauh lebih umum daripada keunggulan utama. Hal ini menunjukkan bahwa keuntungan terbesar dari pekerjaan hybrid secara substansial melebihi tantangan terbesarnya.

Tips Menjaga Produktivitas Kerja saat Hybrid Work

Perjelas cara komunikasi dan ekspektasi manajemen

Langkah nomor satu untuk meningkatkan produktivitas adalah dengan melakukan komunikasi yang jelas.

Tim membutuhkan kejelasan seputar peran dan tanggung jawab, yang akan mengurangi kebingungan dan merampingkan manajemen proyek.

Siapkan juga kebijakan kerja hybrid untuk menjawab pertanyaan dan kekhawatiran mereka. Pastikan semua orang dapat memahami apa yang diharapkan perusahaan.

Buat jadwal untuk mengatur kegiatan harian

Saat bekerja secara hybrid, Anda akan tergoda untuk bangun lebih siang karena tidak perlu buru-buru berangkat menuju kantor. Namun, hal ini tentu akan membuat jadwal Anda berantakan.

Untuk meningkatkan produktivitas, cobalah untuk membuat jadwal yang konsisten dan dedikasikan waktu yang biasa digunakan untuk perjalanan ke kantor untuk melakukan hal yang dapat memicu kebahagiaan.

Memanfaatkan teknologi

Teknologi dapat memperkuat komunikasi, mempromosikan berbagi informasi, dan mendukung manajer dan tim untuk tetap mengikuti inisiatif.

Teknologi juga dapat membantu meminimalkan kesenjangan antara tim WFO dan tim remote working.

Banyak platform performance management yang menawarkan integrasi untuk tetap terhubung di semua platform komunikasi.

Sesuaikan dengan kebudayaan perusahaan

Budaya perusahaan sangat penting dan harus diterapkan pada setiap karyawan. Lalu, bagaimana jika perusahaan beralih ke sistem hybrid work?

Budaya perusahaan mencerminkan nilai-nilai inti perusahaan, sehingga manajer harus fokus pada esensi tersebut untuk menjaga tim tetap terlibat dan selaras walau tidak berada di tempat yang sama.

Tujuan utamanya adalah agar semua orang bekerja sama untuk mencapai tujuan yang sama dan membuat pekerjaan hybrid menjadi pengalaman yang positif bagi semua orang.

Mendukung kesehatan mental

Pengalaman kerja jarak jauh setiap orang itu unik, dengan aspek positif dan negatif yang berbeda.

Beberapa pekerja jarak jauh mungkin memiliki kantor pribadinya sendiri, sementara yang lain mungkin berurusan dengan pasangan yang bekerja dari rumah, anak-anak yang bersekolah dari jarak jauh, atau situasi menantang lainnya.

Mendukung kesehatan mental tim Anda adalah upaya penting bagi seorang manajer. Sehingga manajer harus menjelaskan kepada tim mereka bahwa mereka tersedia untuk menyediakan ruang dan dukungan untuk pekerjaan.

Keypoint untuk menjaga produktivitas kerja saat hybrid working
1. Berikan pilihan kepada karyawan untuk WFO atau remote, dengan mempertimbangkan potensi dan produktivitasnya.
2. Budaya transparansi dan saling percaya penting dalam mengelola hybrid work, ini akan mengurangi kemungkinan micromanagement.
3. Budayakan ‘people first’ karena disrupsi pandemi masih berdampak buruk bagi sebagian orang, sehingga empati dan sisi kemanusiaan perlu diutamakan.
4. Menjaga alur komunikasi
5. Memiliki mental agile agar siap menghadapi perubahan kapan saja

Contoh Praktik Hybrid Work yang Efektif dan Produktif

Dari perusahaan rintisan hingga perusahaan besar, organisasi menciptakan sistem kerja hybrid mereka sendiri. Berikut ini adalah contoh praktik hybrid work yang efektif dan produktif.

Hubspot

Hubspot menawarkan karyawannya memilih satu dari tiga opsi untuk kerja hybrid, yaitu:

  • Di kantor: Karyawan yang memilih opsi ini akan memiliki ruang kerja khusus dan diharuskan berada di kantor selama tiga hari seminggu.
  • Fleksibel: Dalam opsi ini, karyawan diharuskan berada di kantor selama dua hari atau kurang dalam seminggu. Mereka akan diberikan ruang kerja sementara dalam opsi ini.
  • Bekerja dari Rumah: Merupakan pilihan bagi karyawan yang bekerja dari rumah dan akan diberikan infrastruktur yang diperlukan untuk menyiapkan ruang kerja jarak jauh.

Slack

Slack adalah organisasi yang mendorong karyawan untuk bekerja remote secara permanen.

Jadi, ketika kantor dibuka kembali, karyawan diberikan preferensi dalam memilih lokasi berdasarkan komitmen mereka.

Selain itu, mereka telah merancang perekrutan mereka untuk memasukkan lebih banyak karyawan jarak jauh.

Slack juga menawarkan opsi kembali ke kantor kepada karyawan yang tidak ingin bekerja dari rumah.

Gravity Payments

Gravity Payments adalah salah satu organisasi paling progresif yang tidak percaya pada pendekatan top-down.

Mereka memiliki tim yang terdiri dari sekitar 200 karyawan, dan setiap orang diberi kebebasan untuk memilih bagaimana mereka ingin bekerja selama tidak mempengaruhi hasil bisnis.

Penutup

Biarlah sistem model kerja hybrid tetap ada. Sebelum pandemi, banyak perusahaan sudah mencoba model kerja hybrid.

Namun, setelah pandemi, semakin banyak perusahaan yang memilih model kerja hybrid karena kantor diizinkan untuk beroperasi dengan kapasitas penuh.

Jika bisnis Anda tidak yakin mengadopsi model kerja hybrid ini, maka Anda harus kembali memikirkan manfaat yang akan diberikan kepada karyawan Anda.

Misalnya dengan menawarkan kebebasan dan fleksibilitas untuk memungkinkan karyawan bekerja dari mana saja akan membantu meningkatkan produktivitas kerja mereka dan mendorong keseimbangan kehidupan kerja yang sehat.

Comment