Tingkatkan Produktivitas Karyawan Di Tengah Isu Resesi | | HR NOTE Indonesia

Tingkatkan Produktivitas Karyawan Di Tengah Isu Resesi

produktivitas karyawan

Secara tak langsung, berita tentang resesi dari pengamat ekonomi dan pengambil kebijakan memengaruhi produktivitas karyawan.

Sejak pandemi, kondisi ekonomi global tidak stabil. Hal itu berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Meski demikian, tak sedikit perusahaan yang mengejar pencapaian bisnis mulai akhir 2021 hingga saat ini.

Di sisi lain, ada ancaman resesi pada 2023. Jika resesi terjadi, pelaku bisnis berancang-ancang menyelamatkan perusahaan, seperti memangkas biaya operasional atau melakukan PHK karyawan.

Meski kondisi itu belum terjadi–dan jangan sampai terjadi–tetapi menyumbangkan kecemasan pada karyawan. Yang terjadi adalah kecemasan dapat menurunkan produktivitas karyawan.

Kalau Anda melihat produktivitas karyawan menurun, segera ambil tindakan yang suportif.

Langkah Mendorong Produktivitas Karyawan Di Tengah Isu Resesi

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan perekonomian dunia penuh dengan ketidakpastian saat ini. Namun, pihaknya sudah menyiapkan langkah untuk menghadapi kondisi itu.

Ketidakpastian, lanjut Perry, disebabkan oleh beberapa fenomena. Sebut saja penurunan pertumbuhan ekonomi global hingga risiko resesi di Amerika Serikat (AS) dan Eropa.

Selain itu, Achievers Workforce Institute (AWI) mensurvei lebih dari 5.000 karyawan dan pemimpin HR di seluruh dunia.

Hasilnya, tiga perempat pemimpin HR khawatir dengan bayang-bayang penurunan ekonomi. Demikian pula, hanya seperempat karyawan yang merasa perusahaannya mampu mengelola tantangan tidak terduga.

AWI menyarankan perusahaan agar menerapkan program baru demi meningkatkan ketahanan, retensi, dan produktivitas karyawan.

Jika langkah tersebut dijalankan dengan baik, perusahaan akan tetap tangguh dalam menghadapi perubahan, termasuk merespons resesi. Berikut ini saran dari AWI:

#1 Dorong persahabatan di tempat kerja

Persahabatan atau hubungan yang kuat di tempat kerja antar karyawan mendorong produktivitas. Ini adalah salah satu prediktor ketahanan terbaik.

Bagaimana dengan perusahaan yang menerapkan sistem kerja hibrida? Pemimpin harus menggunakan alat komunikasi serta project management tool untuk menghubungkan semua karyawan.

Peran pemimpin sangat penting dalam menciptakan keterhubungan antar karyawan di luar tugas kerja. Ia–dibantu manajer dan tim HR–perlu mendorong karyawan untuk menemukan sahabat dengan pemikiran sama di lingkup perusahaan.

Perusahaan yang mendukung mereka mendukung hubungan di tempat kerja menghasilkan ketahanan internal tiga kali lebih tinggi, dibandingkan yang tidak melakukannya. 

#2 Dukung middle leader

Middle leader adalah pemimpin yang memiliki anggota tim dan juga mempunyai kewajiban kepada pemimpin di atasnya. 

Seperti namanya, ia berada di tengah antara atasan dan bawahan. Middle leader–pemimpin tim, supervisor, manajer–dapat menginspirasi, mendukung, dan mengembangkan karyawan. 

Namun, ia masih membutuhkan bimbingan dari pemimpin lain. Ia perlu membangun keterampilan leadership sekaligus mengembangkan wawasannya.

Dr. Natalie Baumgartner, Chief Workforce Scientist & Director AWI, menjelaskan line manager adalah landasan produktivitas karyawan di tempat kerja.

Manajer tidak perlu menunggu anggota timnya memiliki kecemasan, tidak terlibat, atau burnout terhadap pekerjaan. Jika tanda-tanda itu muncul, ia akan melakukan one-on-one meeting.

Ia harus membantu karyawan melewati masalah dan memantaunya secara berkala. Karena sejak pandemi COVID-19 hingga isu resesi, banyak karyawan yang berjuang mengelola persoalan fisik, mental, hingga keuangan.

#3 Berikan employee recognition

Saat pandemi, tak sedikit perusahaan yang merampingkan karyawan dan memberikan mereka tanggung jawab lebih banyak dari sebelumnya. Kondisi itu membuat mereka kelelahan.

Mereka pun memahami kondisi perusahaan. Namun, mereka menginginkan perusahaan memberikan employee recognition atas kontribusi mereka. 

Misalnya, ucapan terima kasih, pengakuan eksekusi tugas berjalan baik, apresiasi kualitas dan kuantitas semakin baik, dan lainnya. Lakukan employee recognition secara berkala, seperti seminggu atau sebulan sekali.

Employee recognition bukan sekadar memberikan pengakuan berdasarkan kinerja karyawan. Langkah ini juga bisa meningkatkan produktivitas mereka.

#4 Umpan balik dari karyawan

Akhir 2022 adalah langkah yang tepat untuk tim HR mengirimkan survei ke karyawan. Tujuannya, tim lebih memahami kebutuhan karyawan.

Dalam survei, tanyakan tentang kinerja, keresahan, kebutuhan, rencana karier ke depan, cara mereka menghadapi perubahan. Hasil survei dapat ditindaklanjuti oleh manajer demi perbaikan tim.

Survei juga memberikan umpan balik bagi manajemen untuk mengubah kebijakan serta membuat rencana strategi bisnis yang jelas.

Usaha tersebut membuat karyawan merasa didengarkan oleh perusahaan. Mereka akan memiliki sense of ownership kepada perusahaan dan cenderung melipatgandakan produktivitas.

#5 Tawarkan fleksibilitas kerja dan tunjangan

Ketidakpastian ekonomi membuat perusahaan merampingkan operasional bisnis. Agar perampingan itu tidak memengaruhi produktivitas karyawan, tawarkan fleksibilitas kerja dan tunjangan spesifik.

Fleksibilitas kerja–WFO dan WFH–memastikan karyawan mengontrol pekerjaan dan memenuhi target. Tawarkan pula tunjangan spesifik yang sesuai situasi terkini dan kebutuhan karyawan.

#6 Penggunaan teknologi 

Mengingat karyawan memiliki penambahan tanggung jawab kerja, gunakan teknologi untuk mengautomasi pekerjaan mereka. Jika tidak, perusahaan dapat membuat karyawan burnout.

Penggunaan piranti lunak atau aplikasi dapat merampingkan proses kerja yang sifatnya berulang. Biasanya, pekerjaan ini ada pada tim HR, seperti administrasi karyawan dan proses rekrutmen.

Meningkatkan Produktivitas Karyawan Dari Elon Musk & Google

Beberapa minggu lalu, warganet membicarakan isi email Elon Musk yang bocor ke media sosial.

Musk menulis email kepada karyawan Tesla, Space X, dan Twitter tentang produktivitas–yang terkenal hustle culture–serta petunjuk bagaimana menerapkannya. 

Petunjuk Musk ini dapat Anda jadikan insight dalam meningkatkan produktivitas karyawan.

Elon Musk

Hindari pertemuan besar

Pertama, Musk menuliskan untuk, “Avoid large meetings.” Menurutnya, pertemuan besar menghabiskan waktu dan energi yang berharga. 

Hindari pertemuan besar yang tidak mendukung debat, orang lebih berhati-hati daripada terbuka, dan tidak ada cukup waktu bagi setiap orang untuk berkontribusi. 

Jadi, Musk tidak merekomendasikan menjadwalkan rapat besar, kecuali Anda yakin rapat tersebut memberikan nilai bagi semua orang.

Tinggalkan rapat jika Anda tidak berkontribusi

Musk menyarankan untuk meninggalkan rapat jika Anda tidak berkontribusi.

Ia menuliskan, “If a meeting doesn’t require your input, value, and decisions, your presence is useless” dan menambahkan bahwa tidak sopan meninggalkan rapat, tetapi membuang waktu orang lain juga tidak sopan.

Lupakan rantai komando

Pernyataan selanjutnya adalah, “Forget the chain of command.”

Di sini, Musk mendorong karyawan untuk berkomunikasi dengan rekan kerja secara langsung, bukan melalui supervisor atau manajer. 

Baginya, siapa yang berkomunikasi dengan cepat akan membuat keputusan cepat pula. Keputusan cepat berbanding lurus dengan keunggulan kompetitif.

Be clear, not clever

Be clear, not clever” adalah “perintah” Musk untuk karyawan agar menghindari kata-kata yang tidak masuk akal dan jargon teknis. Hal itu memperlambat komunikasi.

Pendiri Musk Foundation ini karyawan menggunakan kalimat ringkas, to the point, dan mudah dipahami. Tak perlu terdengar pintar, cukup bersikap efisien.

Kurangi pertemuan 

Masih mengenai pertemuan. Petunjuk kelima adalah, “Ditch frequent meetings.”

Musk menganjurkan karyawan untuk menggunakan waktu rapat sebagai media kolaborasi, “menyerang” masalah secara langsung, dan menyelesaikan masalah mendesak. Ketika masalah selesai, Anda tidak sering melakukan pertemuan.

Musk menambahkan bahwa Anda dapat mengirim teks dan email atau berkomunikasi melalui Discord atau Slack. Jadi, Anda tidak mengganggu alur kerja tim.

Gunakan akal sehat

Terakhir, Musk menuliskan, “Use common sense.”

Maksud Musk adalah karyawan harus menggunakan akal sehat dalam mengikuti peraturan perusahaan. 

Jika peraturan perusahaan tidak masuk akal, tidak berkontribusi terhadap kemajuan, tidak menerapkan situasi spesifik, sebaiknya Anda hindari. 

Google

Dalam upaya meningkatkan produktivitas karyawan, Google menemukan strategi yang sangat sederhana. 

Apa itu? Memberikan lebih banyak pekerjaan kepada karyawan. Terdengar aneh, tetapi efektif. Inilah strategi Google.

Memberikan sense of purpose

Ketika Anda memberikan pekerjaan lebih banyak kepada karyawan, mereka merasa merasa seperti terus-menerus menyelesaikan tugas. 

Jika Anda memberikan sense of purpose terhadap pekerjaan itu, mereka akan bangga dan puas dalam pekerjaan yang telah diselesaikan.

Penelitian Cornell University, manusia terprogram untuk membutuhkan sense of purpose. Seseorang perlu merasa bahwa ia sedang melakukan sesuatu yang bermakna dan berharga. 

Memiliki sense of purpose mendatangkan segudang manfaat karyawan.

Kesempatan terlibat di proyek lain

Salah satu cara membuat karyawan lebih produktif adalah melibatkan mereka dengan proyek di luar pekerjaannya. 

Langkah itu memberikan keterampilan, pengetahuan, dan perspektif unik kepada karyawan. Ia juga lebih fleksibel dan membangun pengalaman profesionalnya.

Dengan melibatkan karyawan di proyek lain, manajer dapat mengidentifikasi kekuatan masing-masing dari mereka.

Tetapkan tujuan lebih tinggi

Google menetapkan tujuan lebih tinggi kepada karyawannya. Hasilnya, mereka berhasil mencapainya dan tujuan mereka jauh di atas rata-rata dalam industri.

Saat mendorong karyawan melampaui batas tugas sehari-hari, Anda membantu mereka mencapai ketinggian baru. Mereka merasa lebih dihargai karena mampu menunjukkan nilai diri. 

Ia pun cenderung bertahan bekerja di perusahaan Anda.

Penutup

Mengelola bisnis tak lepas dari memperhatikan produktivitas karyawan. Untuk meningkatkan produktivitas mereka di masa sulit ini tidaklah mudah.

Pemimpin perlu bekerja sama dengan manajemen, tim HR, dan manajer untuk membangun kepercayaan dan komunikasi lebih aktif lagi kepada karyawan. Berikan mereka ruang berbicara, yang dapat mengurangi beban melewati masa sulit ini.

Comment