Langkah Perusahaan Mendukung Kepemimpinan Perempuan | | HR NOTE Indonesia

Langkah Perusahaan Mendukung Kepemimpinan Perempuan

kepemimpinan perempuan

Kepemimpinan perempuan dapat mendorong kinerja perusahaan lebih baik di masa mendatang. 

World Economic Forum mencatat bahwa perusahaan Prancis dan Norwegia memiliki nilai rata-rata 40 persen lebih untuk representasi perempuan sebagai dewan direksi. Sedangkan Japan, Indonesia, serta Korea mempunyai skor terendah.

Workplace menuliskan kepemimpinan perempuan membantu perusahaan menjalin hubungan yang lebih dalam dengan pelanggan. Hal itu mengarahkan pada pelanggan yang loyal terhadap perusahaan.

Bahkan politisi dari Inggris mengatakan bahwa pemimpin perempuan cenderung membantu profitabilitas perusahaan sebesar 25 persen di atas rata-rata. 

Untuk menanggapi hal itu, perusahaan perlu mendukung keberagaman gender yang menciptakan kepemimpinan perempuan. 

Tantangan Dalam Kepemimpinan Perempuan

Menurut Baroness Berridge, politisi Inggris, perusahaan yang memiliki 25 persen keragaman gender di level eksekutif memiliki kemungkinan memperoleh profit di atas 25 persen.

Pasalnya, pemimpin perempuan membantu perusahaan menjalin hubungan yang lebih dalam dengan pelanggan. Perusahaan juga memungkinkan untuk terus berinovasi dan meningkatkan kinerja keuangan.

Namun, kehadiran perempuan sebagai pemimpin kurang terwakili. Mereka menghadapi tantangan di lingkungan kerja, yaitu:

Stereotipe

Ada gagasan bahwa laki-laki dapat menjadi pemimpin lebih baik, terutama di sektor olahraga, kesehatan, dan teknologi. 

Di Amerika Serikat (AS), perempuan yang menduduki posisi CEO di rumah sakit hanya 19 persen. Hal ini dikarenakan stereotipe pemimpin layanan kesehatan.

Stereotipe lainnya adalah peran pekerjaan dan kemajuan karir. Terdapat 25 persen pemimpin perempuan senior menjabat sebagai chief financial officer (CFO). Namun, mereka memiliki peluang lebih kecil untuk dipromosikan menjadi CEO dibanding COO. 

Diskriminasi

Kepemimpinan perempuan menghadapi diskriminasi institusional. Contohnya, perusahaan memberikan asuransi kesehatan komprehensif kepada laki-laki dibanding perempuan.

Minim mentoring

Pandemi COVID-19 lebih berdampak pada perempuan dan minoritas daripada laki-laki. Salah satu cara mengatasinya adalah akses lebih besar terhadap mentoring

Mentoring menguntungkan karyawan maupun mentor. Keduanya dapat menghasilkan promosi dan kenaikan gaji.

Tantangan berikutnya adalah karyawan perempuan sulit menemukan mentor yang tepat atau perusahaan enggan memberikan program mentoring.

Kurang fleksibel

Di Inggris, satu dari empat perempuan dewasa merawat keluarganya sembari bekerja, dibandingkan dengan satu dari delapan laki-laki. 

Perusahaan yang kurang fleksibel terhadap kondisi perempuan menyebabkan mereka meninggalkan dunia kerja. Mereka memilih bekerja di perusahaan yang fleksibel. 

Budaya penolakan

Pengambil keputusan tak bisa menutup mata terhadap tantangan budaya penolakan. Di beberapa negara, budaya ini menolak perempuan menjadi pemimpin.

Hampton-Alexander Review  menemukan bahwa perubahan budaya penolakan justru membuka jalan kesetaraan gender di Inggris. Bahkan cakupan perwakilan perempuan dalam kepemimpinan senior meluas ke seluruh bisnis.

Tak ada posisi senior

Kepemimpinan perempuan yang minim karena tak ada perwakilan mereka yang menduduki posisi senior.

Lihat saja, bagaimana seseorang mempekerjakan dan mempromosikan kandidat. Mereka cenderung memilih kandidat berdasarkan citra. Ini akibat dari bias yang tidak disadari.

Misalnya, manajer laki-laki akan mempromosikan karyawan laki-laki dan berlaku juga pada perempuan. 

5 Cara Perusahaan Mendukung Kepemimpinan Perempuan

Studi menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan meningkatkan kinerja dan produktivitas karyawan. Bahkan mereka lebih kolaboratif dan demokratis dibanding pemimpin laki-laki.

Sementara itu, di luar sana terjadi stereotipe dan budaya penolakan terhadap kepemimpinan perempuan. Apakah kondisi tersebut akan berubah sendirinya? Tentu, tidak.

Perusahaan–termasuk pemimpin, manajemen, HR, dan karyawan–berperan penting mendukung kehadiran perempuan sebagai pemimpin. Caranya:

#1 Tetapkan keragaman gender

Beberapa tahun terakhir, perusahaan besar di seluruh dunia menetapkan target keragaman gender. Mereka adalah:

  • Mercer Inggris

Mercer Inggris menetapkan target 35 persen pemimpin senior adalah perempuan pada 2022.

  • GSK

GSK berkomitmen perwakilan perempuan di tingkat senior–vice president ke atas–sebesar 45 persen pada 2025. Komitmen ini untuk GSK Inggris maupun AS.

Selain itu, pemimpin perusahaan harus memastikan bahwa perempuan merasa diterima dan memiliki kesempatan yang sama.

#2 Proses rekrutmen yang netral gender

Untuk menghindari bias gender, pemimpin HR perlu mendesain ulang proses rekrutmen yang netral gender.

Menurut World Economic Forum, teknologi dapat mengatasi proses rekrutmen. Namun, tantangan lainnya muncul, yakni ada peran perempuan dalam industri teknologi kurang terwakili.

#3 Pelatihan bias

Untuk mendukung kepemimpinan perempuan, tim HR dan user perlu belajar menghindari bias dalam proses rekrutmen. Jadi, Anda dan tim perlu mengikuti pelatihan bias rekrutmen serta bagaimana menciptakan keragaman gender di perusahaan.

#4 Berikan peran fleksibel

Tak sedikit perempuan yang harus merawat keluarga–orang tua atau anak–pada waktu kerja. Kondisi itu tidak membuat produktivitas kerja mereka menurun.

Oleh karena itu, perusahaan perlu melakukan pendekatan fleksibilitas kerja. Misalnya, jam kerja lebih sedikit, empat hari kerja, working from home (WFH), atau mengatur jam kerja sesuai kondisi karyawan. 

#5 Mentoring dan coaching

Perusahaan perlu memprioritaskan mentoring dan coaching bagi perempuan yang berpotensi menjadi pemimpin. Dalam peningkatan keragaman kepemimpinan, kedua program tersebut bisa lebih efektif daripada inisiatif lainnya.

Program mentoring internal bekerja dengan baik di tingkat manajemen junior dan menengah. Sedangkan eksekutif dan CEO perempuan akan memperoleh manfaat dari program coaching eksekutif atau mentoring eksternal.

7 Langkah Strategis Perempuan Dalam Kepemimpinannya

Kepemimpinan perempuan menginspirasi karyawan perempuan lain serta mendorong employee engagement

Di tengah pandemi, mereka tetap bekerja untuk memotivasi karyawan yang sedang merasa ketakutan. Tak hanya ketakutan tentang COVID-19, tetapi dampak virus yang berpengaruh pada kegiatan bisnis.

Keadaan itu telah disaksikan oleh Julia Boorstin, koresponden senior CNBC. dalam mempersiapkan penyusunan buku When Women Lead, ia melihat bagaimana pemimpin perempuan menerapkan langkah strategis untuk mempertahankan bisnis.

1. Menjadi autentik

Julia menemukan bahwa perempuan memiliki autentikasi dalam memimpin karyawannya

Ia melihat CEO LanzaTech Jennifer Holmgren. Dalam membangun bisnis, Jennifer menggunakan mikroba untuk mengubah polusi menjadi bahan bakar. 

Jennifer mengaku kepada Julia bahwa bahwa ia adalah seorang introver. Ia lebih suka mendengarkan daripada berbicara. 

Alih-alih ia terlihat kurang mampu meyakinkan calon pelanggan untuk menggunakan teknologinya. Ia justru mencari cara untuk bersandar pada keautentikannya.

Hasilnya, ia menggunakan kemampuan mendengarnya untuk mencari tahu apa yang diinginkan oleh rekannya dalam bernegosiasi. Ia juga berempati untuk menciptakan kompromi yang mendukung kesuksesan semua orang.

2. Kerendahan hati

Julia banyak mendengarkan pemimpin perempuan tentang betapa sulit mengambil keputusan. 

Mereka sangat mudah terikat pada suatu rencana yang telah menguras waktu, uang, dan sumber daya. Jika kondisi tidak mendukung perusahaan, mereka harus memutuskan dengan kerendahan hati.

Mereka tidak terjebak dalam ego, berfokus pada data, hingga mengumpulkan dan menganalisisnya. Misalnya, ketika mereka harus menghentikan proyek unggulan atau meminta karyawan untuk cuti agar perusahaan bertahan.

3. Memiliki tujuan

Para pemimpin perempuan memberi tahu Julia bahwa kapan pun mereka merasa putus asa, mereka berfokus pada tujuan menemukan energi agar bertahan. 

Mereka adalah Pendiri Planet FWD, Julia Collins, bekerja untuk mendorong penerapan pertanian regeneratif; CEO Tala Shivani Siroya, yang menawarkan pinjaman mikro di pasar negara berkembang; dan Christine Moseley, CEO Full Harvest, yang bekerja untuk mengurangi limbah makanan.

Mereka juga berpendapat, pemimpin harus fokus pada potensi perusahaan yang lebih besar. Langkah strategis itu dapat membantu umat manusia, sehingga mereka menemukan sumber inspirasi dan tekad ketika kondisi tak menentu.

Selain itu, memiliki tujuan tambahan sangat berharga untuk menarik konsumen sekaligus mempertahankan karyawan. Saat ini, meretensi karyawan lebih penting daripada sebelumnya.

4. Terus bereksperimen

Bagi Shilla Kim-Parker, CEO Thrilling, perusahaan perlu memiliki budaya eksperimen yang cepat. Pasalnya, banyak percepatan pertumbuhan perusahaan berasal dari ide yang muncul dari anggota tim.

Tim akan bereksperimen dengan ide dan melihat efeknya, lalu menimbang apakah tim akan menggunakan hal itu selanjutnya atau harus menghentikan. Perusahaan juga harus mempertanyakan asumsi atau ide agar tim tidak menganggap sakral dan enggan bereksperimen.

5. Pernyataan unik

Miyoko’s Creamery memiliki julukan Tesla dari industri makanan alami. Karena mereka memiliki produk keju vegan premium yang mahal. 

Miyoko Schinner selaku CEO dan pendiri mengatakan pemimpin harus membuat pernyataan unik untuk menarik perhatian masyarakat. Dengan demikian, jenama mendapatkan banyak publisitas.

6. Membuat perubahan

CEO Stuf Katharine Lau menceritakan di masa awal memimpin perusahaan penyimpanan mandiri. Ia takut membuat perubahan, seperti mengubah penetapan harga jasa penyimpanan.

Sekarang, ia berani melakukannya dengan tim. Jika perubahan tersebut gagal, maka itu adalah proses belajar dan tetap harus melanjutkan bisnis. 

7. Bersikap asertif 

Langkah strategis Jerrica Kirkley, Chief Medical Office Plume, adalah bersikap asertif. Misalnya, berani mengatakan tidak terhadap ide dari anggota tim yang ingin melakukan segala hal.

Bukan berarti pemimpin tidak menerima ide baru. Namun, pemimpin perlu memiliki prioritas agar fokus terhadap tujuan perusahaan.

Penutup 

McKinsey melaporkan kepemimpinan perempuan lebih kuat pada masa pandemi COVID-19 dibandingkan dengan laki-laki di level yang sama. 

Pemimpin perempuan lebih banyak untuk mendukung tim serta memajukan keragaman, kesetaraan, dan inklusi.  

Jika upaya pemimpin perempuan tersebut tidak diakui, maka akan membahayakan kinerja perusahaan. Oleh sebab itu, perusahaan perlu memberi penghargaan serta kesempatan kepada pemimpin perempuan untuk mendorong kemajuan.

Comment