Kiat Membicarakan Kesehatan Mental Dengan Karyawan | | HR NOTE Indonesia

Kiat Membicarakan Kesehatan Mental Dengan Karyawan

kesehatan mental

Satu dari enam karyawan berurusan dengan masalah kesehatan mental, seperti kecemasan, depresi, dan stress. 

Kondisi seperti ini akan berpengaruh terhadap produktivitas kerja. Bahkan bisa menghambat tujuan perusahaan.

Sedangkan, karyawan yang sehat secara fisik dan mental akan fokus dan termotivasi bekerja, sehingga ia berkinerja baik.

Menurut Deborah Grayson Riegel, konsultan dan ahli manajemen, mengatakan melatih manajer tentang bagaimana membicarakan kesehatan mental kepada anggota timnya merupakan hal penting.

Meski demikian, banyak manajer yang khawatir bahwa membicarakan masalah kesehatan mental di kantor bisa dianggap mengurusi persoalan pribadi orang lain. Ya, pembicaraan kesehatan mental cukup rumit.

Namun, bukan berarti menghentikan langkah manajer atau pemimpin tim untuk membantu anggota tim. Inilah saat yang tepat bagi Anda untuk membangun hubungan lebih sehat dengan mereka.

Masalah Karyawan Di Asia-Pacific

Berdasarkan Workplace Health Survey dari Intellect pada 2021, sebesar 84 persen karyawan Asia-Pacific (APAC) merasa burnout dan 88 persen tidak terlibat (disengaged). 

Dalam laporan EngagerRocket tentang Work-life Harmony, keselarasan work-life balance dan mental wellbeing sangat penting dalam peningkatan keterlibatan karyawan. Hal tersebut juga berdampak langsung terhadap pemasukan perusahaan.

Karyawan burnout 

Laporan lain dari EngageRocket menunjukkan bahwa karyawan burnout, kelelahan, dan disengaged menjadi masalah utama tenaga kerja di Asia.

Ketika karyawan burnout, avoidance atau disengagement menjadi mekanisme koping tertinggi, yakni 40 persen dan 23 persen tidak masuk kerja selama 12-36 hari per tahun, sehingga membebani perusahaan hingga 1,2 persen dari pendapatan per karyawan.

Dampaknya, karyawan kurang termotivasi untuk berkontribusi di tempat kerja dan tidak akan merekomendasikan tempat kerja kepada orang lain. Mereka hanya bertahan untuk bekerja.

Stigma kesehatan mental

Masalah burnout berkaitan erat dengan kesehatan mental. 

Tak sedikit perusahaan memiliki strategi menghadapi masalah kesehatan mental karyawan. Namun, masih ada stigma sehingga menyulitkan karyawan untuk menyelesaikan masalahnya.

Menurut Sha-En Yeo, pendiri Happiness Scientist, stigma tersebut datang dari:

  • Diri sendiri: sikap negatif terhadap diri sendiri, seperti rasa percaya diri rendah dan malu.
  • Masyarakat: diskriminasi dan dampak dalam pekerjaan. 

Kesehatan Mental dan Hubungan Perusahaan Dengan Karyawan

Dalam kondisi tersebut, sering kali manajer menjadi garis terdepan dalam penanganan kesehatan mental di tempat kerja. 

Masih dari penelitian EngageRocket, karyawan yang memiliki tingkat burnout yang rendah  atau ~91 persen mengatakan manajer mereka dapat didekati dan menawarkan dukungan dibandingkan ~60 persen di antara mereka dengan burnout tinggi.

Hasil lain penelitian adalah:

  • Karyawan yang berisiko lebih besar mengalami burnout mengatakan bahwa mereka tidak menerima umpan balik yang jelas atau teratur dari manajer.
  • Manajer berperan penting dalam menciptakan keamanan psikologis dan mengurangi stigma tentang kesehatan mental. 

Bagaimana Manajer Dapat Membicarakan Kesehatan Mental?

hr specialist

Tak mudah membicarakan topik kesehatan mental dengan karyawan. Terlebih topik itu bersinggungan kuat dengan masalah pribadi.

Alih-alih membantu anggota tim, manajer bisa dituduh mencampuri urusan orang lain jika ia tidak memiliki bekal ilmu memadai.

Menyiapkan manajer berhadapan dengan karyawan

Vice President of Product and People Science EngageRocket Sonali Sharma menyebutkan bahwa perusahaan perlu memberdayakan manajer untuk membantu anggota timnya menyelesaikan masalah. Bagaimana caranya:

  1. Perusahaan harus melengkapi manajer secara emosional dan psikologis untuk melakukan percakapan tentang kesehatan mental. Mereka membutuhkan pelatihan yang tepat melalui kursus kepemimpinan, mentoring, pembinaan eksekutif, dan lainnya. 
  2. Mendapatkan dukungan level eksekutif. Pastikan para pemimpin perusahaan memiliki pandangan sama seperti rencana Anda. karena persetujuan mereka akan mempercepat intervensi kebijakan. Misalnya, work from home dan jam kerja fleksibel.
  3. Manajer harus fokus pada keselamatan psikologis secara keseluruhan. Jadi,  karyawan harus merasa cukup nyaman untuk mendiskusikan segala hal yang mereka rasa relevan dengan pekerjaan dan membantu penyelesaian masalah.

Sebelum membicarakan kesehatan mental

Sebelum one-on-one meeting dalam rangka membicarakan kesehatan mental, manajer perlu melakukan tiga poin.

Budaya check in

Bangun budaya check-in dan obrolan secara berkala dengan karyawan.

Topik obrolan kali ini bisa bermacam-macam. Tak hanya soal pekerjaan, tetapi kegiatan sehari-hari seperti cuaca yang tak menentu, kondisi jalanan semakin macet, atau menu sarapan. 

Dari pembicaraan itu, berikan waktu untuk yang bersangkutan mengemukakan pendapat. Ketika one-on-one, ia dapat mengatakan masalahnya tentang stres, kecemasan, atau tekanan di rumah.

Pahami komunikasi verbal dan nonverbal

Pahami komunikasi verbal dan nonverbal. Jika perlu, pelajari kedua teknik komunikasi tersebut untuk menghilangkan kecanggungan dan percakapan yang lebih berwawasan serta suportif.

Komunikasi verbal terkait tentang mengajukan pertanyaan yang tidak mengintimidasi, mendorong karyawan untuk berbagi hal, tidak memotong pembicaraan, hingga pemilihan kalimat saat meresponnya,

Sedangkan, komunikasi nonverbal seperti memperhatikan nada dan volume bicara, kontak mata, postur tubuh, ekspresi, dan gerak tubuh. Perhatikan pula komunikasi verbal dan nonverbal karyawan guna menangkap tanda-tanda masalah meski karyawan tidak mengatakan secara langsung.

Mengetahui topik sensitif

Sebaiknya, Anda mempelajari topik sensitif untuk dibicarakan secara blak-blakan. Karena kondisi itu bisa membuat karyawan tidak nyaman.

Jika harus membahas topik sensitif, ciptakan kenyamanan psikologis dari sisi obrolan maupun pemilihan tempatnya.

Panduan Membicarakan Kesehatan Mental Dengan Karyawan

Saat ada karyawan yang mendekati Anda untuk membicarakan kesehatan mentalnya, jangan mengabaikannya. 

Itu mengindikasikan hal penting. Karena ia sudah sadar terhadap kondisinya dan mencari pertolongan orang yang telah ia percayai.

Untuk membicarakan kesehatan mental secara proaktif, ada tiga hal yang perlu Anda terapkan, yakni:

Memahami masalah

Anda pasti sudah mendengar bahwa sebagian besar masalah kesehatan mental tidak dilaporkan, terutama di tempat kerja. Satu atau dua kali obrolan belum tentu bisa mengungkapkan masalah utamanya.

Jadi, saat ia bercerita dengarkan dan pahami masalahnya. Tunjukkan ketertarikan Anda terhadap pembicaraan tersebut dan pahami komunikasi verbal serta nonverbal.

Jika Anda kurang memahaminya, tanyakan seperti:

“Coba ceritakan lebih banyak tentang….”

“Apakah kamu pernah mengalami hal serupa di masa lalu?”

“Kalau kamu merasa nyaman, saya ingin mendengar lebih banyak soal….”

“Bagaimana hal itu memengaruhi kamu?”

“Saya ingin memahami ini dengan baik, jadi hal ini mengenai….”

Tunjukkan empati

Pernyataan yang menunjukkan empati dan emosi dapat membuat karyawan merasa lebih nyaman. Kondisi itu juga membantunya untuk membuka diri tentang masalah pribadi.

Menunjukkan empati berarti Anda berada pada pemahaman yang sama dengan yang bersangkutan, misalnya:

“Itu adalah sesuatu yang akan membuat saya khawatir juga.”

“Saya bisa paham kenapa kamu terganggu soal di itu.”

Namun, jangan menceritakan pengalaman Anda–meski hampir mirip pengalaman karyawan–karena dapat merusak mood si pencerita. Pernyataan empati juga harus singkat, sehingga percakapan tidak beralih ke perspektif Anda.

Anda harus berhati-hati untuk pada hal pertama dan kedua, sebelum melangkah ke poin terakhir.

Tawarkan bantuan, bukan nasihat

Memberikan nasihat seperti:

“Kamu harus melakukan ini.”

“Kamu harus mencoba itu.”

Biasanya, kalimat tersebut tidak membantu mereka. Karena yang bersangkutan merasa manajer tidak mengerti masalahnya. Ia masih merasa sendirian.

Anda bisa menawarkan bantuan sebagai upaya mendukungnya, seperti:

“Apa yang bisa saya bantu untuk menyelesaikan ini?”

“Apakah ada cara lain supaya saya bisa mendukung kamu?”

“Bagaimana kita bisa mengatasi ini bersama?”

Penutup 

Theodoric Chew, CEO Intellect, mengatakan seseorang yang sedang banyak masalah tetapi bisa berbicara dengan orang lain–seorang profesional atau tidak–akan menjadi pengalaman katarsis baginya.

Ya, membicarakan kesehatan mental dengan karyawan bukan basa-basi manajer. Upaya ini bertujuan untuk memastikan bahwa karyawan merasa lebih didukung, dipahami, dan tidak sendirian.

Alhasil, karyawan memiliki kondisi fisik dan mental stabil sehingga dapat bekerja dengan baik. 

Comment