Keterampilan Teknis dan Nonteknis: Definisi dan Perbedaannya | | HR NOTE Indonesia

Keterampilan Teknis dan Nonteknis: Definisi dan Perbedaannya

keterampilan teknis adalah

Keterampilan teknis adalah salah satu syarat yang terdapat dalam job ads. Tak jarang, keterampilan ini ditonjolkan oleh perekrut untuk mendapatkan kandidat terbaik.

Apakah perekrut hanya mengandalkan keterampilan teknis? Apakah keterampilan nonteknis yang juga menjadi pertimbangan dalam proses penerimaan karyawan? Bagaimana pula mengembangkan keterampilan teknis dan nonteknis pada karyawan? 

Untuk menjawab pertanyaan di atas, silakan cek perbedaan keterampilan teknis dan nonteknis.

Perbedaan Keterampilan Teknis dan Nonteknis

Sebagai perekrut, Anda akan mencocokkan antara peran dan tugas yang dibutuhkan dengan keterampilan kandidat. 

Begitu pula saat menilai karyawan yang akan dipromosikan. Salah satu penilaiannya adalah menyoroti keterampilan karyawan, mulai dari teknis dan nonteknis hingga mengukur keterampilan tersebut. 

Keterampilan Teknis Adalah….

Hard skills atau disebut juga keterampilan teknis adalah pengetahuan, kompetensi, dan kemampuan bersifat teknik yang dibutuhkan untuk mengerjakan tugas atau peran tertentu.

Biasanya, keterampilan teknis adalah sesuatu yang mudah diukur dan ditunjukkan melalui sertifikat pendidikan, tes tertulis, atau praktik. 

Misalnya, software developer memerlukan keterampilan teknik tentang beberapa bahasa pemrograman yang digunakan untuk berbagai tugas serta menulis program komputer. Tingkat kemahiran keterampilan ini dapat diukur.

Keterampilan Nonteknis Adalah….

Sedangkan soft skills alias keterampilan nonteknis adalah kemampuan untuk melakukan kegiatan interpersonal dan tugas tertentu. Terkadang keterampilan nonteknis juga dikatakan sebagai human skills.

Umumnya, keterampilan ini berkaitan dengan ciri-ciri kepribadian yang dimiliki oleh seseorang secara alami. Namun, keterampilan nonteknis dapat dikembangkan melalui latihan, meskipun tidak mudah untuk mengukurnya.

Keterampilan Teknis Keterampilan Nonteknis
Accounting  Adaptability
Copywriting Critical thinking
Coding  Communication skills
Data analysis Emotional Intelligence
Graphic design Honesty 
Sales funnel management Self-awareness
Social media marketing Supervisory skills
Video production Public speaking
User Interface Design Problem-solving
Web development Work ethic

 

Dalam proses rekrutmen, cara user dan perekrut mengetahui keterampilan teknis adalah memberikan satu atau dua tes berkaitan dengan keterampilan pekerjaan. Untuk keterampilan nonteknis, hal itu akan terlihat di sesi wawancara.

Bagaimana Mengembangkan Keterampilan Teknis dan Nonteknis?

Idealnya, seseorang memiliki keterampilan teknis dan nonteknis yang mumpuni. Karena keterampilan tersebut berkontribusi untuk mencapai tujuan organisasi.

Jika karyawan hanya kuat di salah satu keterampilan, perusahaan dapat membantu mereka mengembangkan kedua keterampilan. Biasanya, tim leader dan HR yang akan memberikan saran atau mengidentifikasi keterampilan karyawan.

Adapun keterampilan teknis dan nonteknis yang dapat dikembangkan adalah:

Pelatihan 

Training atau pelatihan merupakan metode mengembangkan keterampilan karyawan, baik teknis maupun nonteknis.

Pelatihan dapat diberikan secara tatap muka maupun jarak jauh, training dengan instruktur, belajar melalui platform daring, berlangganan video e-learning, belajar bersama rekan kerja di forum, dan lainnya.

Misalnya, pelatihan supervisor supermarket yang diadakan secara tatap muka dengan materi industri retail, proses logistik, mengelola stok dan inventori, time management, leadership, communication skill, dan lainnya.

Dalam proses ini, pastikan karyawan menjalani pelatihan dengan sungguh-sungguh. Karena pelatihan menambah keterampilan teknis dan nonteknis yang bisa digunakan dalam pekerjaan sehari-hari.

Rotasi kerja

Rotasi kerja dapat mengembangkan keterampilan karyawan, terutama jika Anda ingin memberikannya pengalaman praktis sekaligus keterampilan tambahan.

Rotasi bisa berupa memberikan tugas dan peran untuk menambah keterampilan baru atau memberikan kesempatan kepada karyawan untuk mempraktikkan keterampilannya. Ini adalah cara melatih fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi karyawan.

Misalnya, jika Anda meminta web developer untuk berkomunikasi dengan klien, mungkin keterampilannya tak sehebat manajer, tetapi setidaknya ia mendapatkan project management skill.

Coaching

Coaching adalah metode mengembangkan karyawan dengan melibatkan karyawan senior dengan karyawan yang kurang berpengalaman.

Coaching bisa mempercepat pemahaman karyawan mengenai beragam pekerjaan dan tugas spesifik. Yang perlu dipertimbangkan adalah cara ini memakan waktu, karena karyawan senior fokus dengan rekan kerjanya.

Biasanya, coaching menjadi program pengembangan keterampilan yang ideal untuk teknis dan nonteknis. Sebut saja keterampilan data analysis, business etiquette, resolusi konflik, leadership, dan lainnya.

Mentoring

Selain coaching, ada pula mentoring yang melibatkan antara pemimpin atau manajemen senior yang membantu pengembangan keterampilan karyawan juniornya.

Mentoring lebih efektif untuk peran eksekutif atau kepemimpinan senior. Metode ini kurang cocok untuk posisi asisten toko atau supervisor akuntansi.

Umumnya, mentoring digunakan untuk mengembangkan keterampilan tingkat lanjut, seperti leadership, strategic management, critical thinking, dan memahami visi jangka panjang.

Lokakarya 

Lokakarya (workshop), kelompok kerja, dan komite memberikan karyawan kesempatan berjejaring dengan pihak luar serta meningkatkan interaksi sesama rekan kerja, yang selama ini tidak saling mengenal karena beda divisi. 

Namun manfaat pemberian lokakarya maupun pembentukan komite lebih dari itu, yakni memperoleh wawasan baru, keterampilan memecahkan masalah, serta membuka komunikasi tentang praktik kerja terbaik.

Cara ini dapat diaplikasikan untuk mengembangkan keterampilan nonteknis, seperti komunikasi, berjejaring, teamwork, public speaking, dan leadership, serta keterampilan teknis, seperti riset dan analitis. 

Konferensi

Sama seperti lokakarya, konferensi adalah cara berjejaring dan mendapatkan pengetahuan yang luas dari berbagai industri.

Untuk mengasah keterampilan karyawan, pemimpin harus memilih topik yang relevan dan dibutuhkan oleh karyawan dalam menduduki sebuah peran. Karena banyak konferensi yang dikhususkan untuk mengembangkan keterampilan teknis dan nonteknis.

Simulasi

Simulasi dikatakan sebagai metode pengembangan karyawan yang efektif dan engaging. Cara ini sangat cocok diaplikasikan untuk mempertajam keterampilan sosial.

Simulasi dapat berupa role-playing antara penjual dan pelanggan. Proses ini, karyawan mengetahui bagaimana menghadapi kekecewaan hingga kemarahan pelanggan, cara menyelesaikan masalah, serta mempelajari studi kasus.

On-the-job training

Pada dasarnya, belajar sambil mempraktikkan pelajaran akan menghasil performa yang baik. Salah satunya adalah on-the-job training.

On-the-job training bertujuan memberikan karyawan untuk belajar bagaimana menggunakan sesuatu atau menerapkan metode tertentu dalam penyelesaian tugas.

Cara ini sangat populer untuk mengembangkan karyawan karena perusahaan tidak memiliki waktu untuk melatih beragam keterampilan setiap karyawan. Terutama, jika keterampilan itu tidak memerlukan pengetahuan khusus.

360-degree performance review

Karena keterampilan teknis adalah sesuatu yang bisa diukur dan nonteknis sulit, maka pemimpin  melakukan 360-degree performance review.

Dalam pengembangan keterampilan, reviu kinerja berasal dari rekan kerja, bawahan (jika ada), supervisor, hingga pihak eksternal (vendor atau klien). Dari hasil itu, tim leader mengidentifikasi pengembangan keterampilan yang cocok bagi karyawan.

Career planning

Biasanya, keputusan career planning berada di tangan pemimpin. Meskipun karyawan pun dapat menyarankan jalur kariernya masa depan kepada tim leader atau manajer.

Career planning dapat dipergunakan sebelum karyawan menapaki peran lebih tinggi. Manajer dan tim HR akan mengidentifikasi dan memberikan keterampilan untuk menduduki posisi yang dituju.

Rekrut Kandidat Dengan Keterampilan Teknis atau Cultural Fit?

keterampilan teknis adalah

Idealnya, perekrut dan user memilih kandidat dengan keterampilan teknis dan nonteknis yang mumpuni sekaligus cultural fit.

Karyawan yang cultural fit adalah kesesuaian yang menunjukkan preferensi dan nilai kerja kandidat cocok dengan perusahaan.

Memang, keterampilan teknis lebih mudah diukur, tetapi bukan berarti perekrut mengesampingkan “nilai” cultural fit.

Keterampilan Vs Culture

Perekrut pasti sering menjumpai dua pilihan kandidat. 

Pertama, keterampilan luar biasa, tetapi tidak cultural fit

Kandidat dengan keterampilan teknis yang luar biasa membutuhkan lebih sedikit atau tidak memerlukan pelatihan di tempat kerja

Namun, kandidat yang kurang atau tidak sesuai dengan budaya perusahaan sering kali tidak dapat dilatih. Yang perlu diingat adalah pelaksanaan nilai-nilai organisasi –tercantum di budaya perusahaan– sejalan dengan keterampilan karyawan untuk menyatu dengan tim.

Kedua, kandidat yang cultural fit, tetapi keterampilannya biasa-biasa saja. 

Claire Bajadek, Manajer Perekrutan di Staff Management SMX mengatakan jika perekrut tidak memiliki kandidat yang mencakup kedua kategori, maka memilih yang sesuai budaya perusahaan lebih penting.

Karena seseorang lebih mudah mempelajari tugas pekerjaan, daripada belajar bekerjasama dengan tim dan organisasi secara keseluruhan. Tim yang bekerja sama dengan baik terbukti lebih berhasil daripada yang tidak. 

Penutup

Keterampilan teknis adalah sesuatu yang dapat dilatih dan dipelajari oleh semua orang. 

Bahkan perusahaan dapat membantu karyawan mengembangkan keterampilannya. Jika keterampilan teknis dikombinasikan dengan nonteknis, hal itu akan lebih bagus untuk perkembangan karier karyawan.

Comment