Keterampilan Profesi HRD, Check!

Sebagai pelaku profesi HR, mungkin pertanyaan seperti “Apakah kemampuan dan pengetahuan saya sudah cukup?” atau “Apakah saya sudah bertindak sebagai HR yang baik?” pernah terlintas di kepala.

Lalu Anda akan bertanya-tanya kembali, “Seperti apa sosok HRD yang baik?”. Nah, dalam artikel kali ini, mari kita cari tahu apakah memang ada sosok pelaku profesi HRD yang ideal, juga bagaimana caranya para praktisi HR bisa menjadi HR yang ideal tersebut.

Apakah Ada Standar Kemampuan untuk Disebut sebagai Praktisi HR yang Baik?

Sama seperti profesi lainnya yang menuntut keahlian, praktisi HR pun harus memiliki beberapa keahlian yang dapat membuatnya menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik. Bagi seorang praktisi HR pun, terdapat standar dalam hard skill dan soft skill yang sebaiknya dimiliki, di antaranya:

Hard Skills

Hard skill yang paling tidak harus dimiliki oleh seorang pelaku HR adalah yang memerlukan pelatihan atau program akademi (baik formal atau non-formal lanjutan) untuk penguasaan kompetensi yang lebih baik. Biasanya, hard skill akan diikuti oleh penerbitan sertifikat yang akan semakin meyakinkan Anda dan orang sekitar atas kemampuan Anda. Berikut adalah beberapa hard skills tersebut

Pengetahuan Hukum Tenaga Kerja dan Hubungan Industri

Kemampuan satu ini bisa dibilang adalah bagian yang sulit untuk dikuasai. Tidak hanya berpegang kepada suatu ketentuan yang berlaku, terkadang kenyataan di lapangan bisa berbeda sehingga konflik mudah muncul. Di saat seperti itulah pengetahuan mengenai hukum tenaga kerja dan know-how dalam menangani hubungan industri akan sangat dibutuhkan.

Pengetahuan tentang Bisnis Perusahaan

Divisi human resource dewasa ini semakin dipandang sebagai business partner oleh perusahaan. Jika seorang HR manajer memiliki pengetahuan mengenai bisnis apa yang dijalankan oleh perusahaan, HR manajer tersebut bisa memberikan program pengembangan yang sesuai dengan arah pertumbuhan perusahaan. 

Lebih kerennya lagi, divisi HR dapat dianggap sebagai partner konsultan internal perusahaan jika HRD juga mampu memahami bisnis perusahaan.

Kemampuan dalam Merekrut, Merancang Pelatihan dan Pengembangan Karyawan

Mantan CEO AlliedSignal Lawrence Bossidy mengatakan, “Tidak ada hal yang lebih penting daripada merekrut dan melatih orang-orang. Pada akhirnya, kita bertaruh pada orang, bukan strategi.”

Quote tersebut mengatakan bahwa jangan hanya merekrut untuk mengisi posisi kosong di kantor. Rekrutlah orang-orang berpotensi untuk dilatih dan dikembangkan sampai mereka menjadi SDM berkualitas dan sukses.

Dan apa lagi keuntungan perusahaan yang memiliki karyawan sukses jika bukan untuk semakin memajukan perusahaannya? Maka dari itu, HR perlu mengasah kemampuan merekrut dan melatih SDM-nya.

Asesmen

Kemampuan untuk memberikan tes yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan untuk mendapatkan pengetahuan mengenai karakter maupun kemampuan calon pekerja maupun pekerjanya juga salah satu hal yang harus bisa dilakukan oleh seorang HRD. Karena cukup signifikan, diharapkan praktisi HRD yang akan melakukan tes atau asesmen kepada orang lain memiliki sertifikat yang memenuhi standar kompetensi yang ada.

Dual Focus & Multitasking

Karena posisi divisi human resource yang berada di antara karyawan dan perusahaan, diharapkan praktisi HR memiliki kemampuan untuk dapat menaruh fokus yang baik terhadap kebutuhan karyawan sekaligus perusahaan. Memang sejatinya divisi HR lebih berpihak kepada kebutuhan dan kesejahteraan karyawan, namun jangan sampai dalam prosesnya HRD melepaskan peraturan dan nilai-nilai perusahaan.

Sama juga seperti multitasking, dimana HR terkenal dengan pekerjaannya yang serabutan. Meski istilah tersebut cukup kasar, namun memang banyak sekali hal yang dikerjakan oleh divisi SDM satu ini. Memiliki kemampuan multitasking akan sangat membantu pelaku HR untuk dapat menyelesaikan semua pekerjaannya.

Pengetahuan tentang Penggajian, Kompensasi & Benefit

Tentu saja, pengetahuan mengenai pengupahan di Indonesia, juga kompensasi dan benefit standar yang telah ditetapkan oleh negara tidak boleh dilewatkan. Apalagi, kita tahu bahwa peraturan di Indonesia cukup fleksibel sehingga praktisi HR harus selalu up to date terhadap semua informasi yang berkaitan dengan ketiga komponen ini.

Cara lain yang paling memperlihatkan seberapa pedulinya kita terhadap pekerja kita adalah dengan memberikan upah dan comben yang sesuai dengan porsinya. Jika perusahaan memang mampu, jangan ragu untuk memberikan lebih kepada mereka yang lebih berjasa dalam memenuhi target perusahaan.

Soft Skills

Tidak hanya hard skills yang biasanya memerlukan training dan gelar tambahan untuk dapat menguasainya, soft skill yang baik juga akan mendukung Anda untuk menjadi pelaku HR yang ideal.

Komunikasi dan Interpersonal Skill

Kemampuan berkomunikasi (dalam hal mampu menyampaikan dan menanggapi suatu hal dengan baik, bukan hanya senang berbicara ya!) dan interpersonal skill sangatlah penting dalam menekuni profesi Anda. Sebagaimana tugas HRD yang juga penjembatan antara perusahaan dengan karyawan, jika Anda tidak mampu mengomunikasikan kebutuhan keduanya, tentu akan membuat pekerjaan lainnya menjadi tidak lancar.

Selain komunikasi, tentunya elemen lain yang termasuk ke dalam interpersonal skill juga diperlukan dalam menjalani profesi ini. Khususnya kemampuan empati, negosiasi, dan conflict resolution.

Integritas dan Loyalitas

Menjalani profesi sebagai praktisi human resource, secara khusus memerlukan integritas dan loyalitas yang tinggi terhadap apa yang dikerjakan. Integritas yang baik akan membantu Anda dalam menghadapi konflik yang pasti terjadi di antara beragamnya karakter karyawan Anda. sedangkan loyalitas yang tinggi tentu saja diperlukan seorang HR mengingat betapa dekatnya pekerjaan mereka dengan informasi pribadi para stakeholder-nya.

Kreatif, Berinisiatif

Kerap dianggap sebagai sosok yang mengayomi, secara tidak langsung HRD akan dituntut untuk selalu memberikan kreasi agar terus memotivasi pekerjanya. Tidak perlu melakukan semua ide kreasi Anda sendirian, justru Anda bisa membuat sebuah team work yang akan bermanfaat bagi employee engagement dengan melibatkan ide luar biasa Anda dengan karyawan Anda.

Berinisiatif tinggi juga merupakan sikap yang penting, karena menunjukkan bahwa Anda care terhadap karyawan Anda dan lingkungan kerja Anda.

Apakah Ada Parameter untuk Mengukur Kecakapan Seorang HRD?

Jika selama ini kita tahu bahwa HRD lah yang menilai kinerja karyawan, lalu siapa dan bagaimana kah kinerja HRD dinilai?

Untuk menilai kecakapan seorang HRD, kita bisa melihatnya dari penilaian KPI-nya. Di lain sisi, kemampuan yang dimiliki HRD untuk berinteraksi dengan seluruh lapisan karyawan juga dinilai penting dalam menjadikannya HRD yang baik. 

Retensi Karyawan

Ini memungkinkan HRD untuk belajar tentang retensi rata-rata karyawan di perusahaan dan itu terkait dengan faktor-faktor lain seperti upah atau iklim tenaga kerja. Selain biaya kehilangan karyawan, hilangnya bakat akan memaksa kamu untuk menghabiskan waktu dan uang untuk merekrut individu baru.

Durasi Posisi Karyawan dalam Satu Posisi

Jika karyawan merasa terlalu lama tidak dipromosikan, mereka akan mencari peluang baru di luar perusahaan. HRD harus bisa menghitung waktu rata-rata yang dibutuhkan seorang karyawan untuk naik jabatan.

Kehadiran/Absensi

Indikator ini mengukur kinerja HRD terhadap absensi karyawan karena keterlambatan, cuti sakit atau lupa absen. Berdasarkan nilai rata-rata jam kerja, dampak ketidakhadiran dalam biaya perusahaan dapat diukur.

Waktu Rata-rata Perekrutan

KPI ini mengukur performa HRD dalam memperhitungkan waktu antara pengumuman seorang karyawan yang meninggalkan perusahaan dan kandidat lain dipilih untuk menggantikannya. Harus sangat hati-hati, karena banyak faktor dapat dimasukkan dalam hal ini.

Pendidikan dan Pelatihan

KPI ini dimaksudkan untuk membantu meningkatkan tingkat produktivitas setiap karyawan dengan menciptakan strategi khusus untuk meningkatkan loyalitas dan tingkat kepuasan karyawan.

Waktu Rata-rata dalam Pencapaian Tujuan

KPI ini akan mengukur efisiensi tenaga kerja untuk melihat berapa lama bagi mereka untuk menyelesaikan tugas dan tujuan tertentu yang telah ditetapkan untuk posisi mereka di perusahaan.

Kecelakaan Di tempat Kerja

Mampu mengukur jumlah kecelakaan di tempat kerja akan menjadi sangat penting dan berguna untuk menghindari masalah di masa depan, khususnya bagi praktisi HR yang bergelut di bidang manufaktur.

“Apakah Saya Sudah Menjadi HRD yang Baik?”

Manusia bukanlah makhluk yang sempurna. Apa pun pekerjaan atau profesi Anda, tentu akan ada masa di mana Anda merasa kemampuan atau pengetahuan Anda perlu ditambah dan diperbaiki. Tidak pernah ada kata terlambat untuk itu. Melakukan evaluasi rutin akan membantu Anda dalam melakukan improvement.

Meskipun kemampuan teknis penting, namun jangan lupa bahwa sebagai HR Anda berinteraksi dengan banyak emosi manusia. Saya pribadi merasa, senjata pertama seorang praktisi HR adalah kemampuan mereka dalam menyelaraskan puluhan bahkan ratusan karakter manusia dan memadukannya dengan nilai dan tujuan organisasi. HR yang sukses adalah seseorang yang berhasil menciptakan hubungan harmonis seluruh karyawan perusahaan tanpa mengesampingkan nilai serta visi misi perusahaan.

It is our shared behaviors, passion for our mission, and treating each other like family that makes us more of a movement than a company. We believe that in order to create a world where you can belong anywhere, it starts here, with creating a place where all of our employees belong.

– Mark Levy, ex-Advisor of Airbnb

When people are financially invested, they want a return. When people are emotionally invested, they want to contribute.

– Simon Sinek, author, Start With Why