Kesadaran Kesehatan Mental Di Lingkungan Kerja | | HR NOTE Indonesia

Kesadaran Kesehatan Mental Di Lingkungan Kerja

kesehatan mental

The Hartford melaporkan sebesar 59 persen perusahaan mengatakan budaya mereka lebih menerima tantangan kesehatan mental selama 2021. 

Sementara itu, sebanyak 78 persen karyawan merasa bahwa perusahaan mereka benar-benar peduli dengan kesejahteraan mereka selama pandemi COVID-19. Meski demikian masalah kesehatan mental di tempat kerja tetap berlangsung dan berimbas pada produktivitas karyawan. 

Di lingkungan kerja, tak sedikit perusahaan telah meningkatkan kesadaran dan penerimaan terhadap kesehatan mental karyawan. Langkah ini bukan hanya untuk kebaikan mereka, tetapi juga masa depan tempat kerja yang lebih sehat.

Dalam World Mental Health Day pada 10 Oktober, Anda dan tim dapat menjadikan momentum ini untuk lebih peduli terhadap kondisi kesehatan mental karyawan.

Lingkungan Kerja & Kontribusi Kesehatan Mental

Berdasarkan World Health Organization (WHO), kesehatan mental merupakan kondisi kesejahteraan psikis yang memungkinkan seseorang untuk mengatasi tekanan hidup, memahami kemampuan, belajar dan bekerja dengan baik, serta berkontribusi terhadap komunitasnya.

Kesehatan mental adalah hak asasi manusia yang mendasar. Ia berperan sangat penting untuk pengembangan pribadi, masyarakat dan sosial-ekonomi.

Lingkungan kerja dan kesehatan mental 

Semua karyawan berhak atas lingkungan kerja yang aman dan sehat

Lingkungan kerja seperti itu dapat meningkatkan retensi karyawan, meminimalisir konflik antar karyawan atau karyawan dan perusahaan, hingga meningkatkan produktivitas kerja.

Di sisi lain, lingkungan kerja juga bisa berkontribusi terhadap masalah kesehatan mental. Terlebih bagi mereka yang hidup dengan masalah tersebut. 

Risiko terhadap kesehatan mental di lingkungan kerja disebut risiko psikososial. Hal itu bisa terkait dengan jenis tugas, jadwal kerja, karakteristik khusus di tempat kerja, atau peluang untuk pengembangan karier.

Misalnya, pekerjaan yang kurang terstruktur dan atasan yang tidak memberikan dukungan kepada karyawan dapat menimbulkan ketidaknyamanan dalam bekerja. Bahkan menurunkan produktivitas dan menghentikan karier karyawan.

Orang dengan kondisi kesehatan mental yang serius lebih memungkinan dikeluarkan dari pekerjaan. Ketika ia tetap bekerja pun, ada kemungkinan akan mengalami ketidaksetaraan. 

Tak ada perlindungan karyawan

International Labour Organization (ILO) melaporkan lebih dari separuh tenaga kerja global bekerja di sektor informal. Di mana tak ada perlindungan untuk kesehatan dan keselamatan kerja terhadap karyawan.

Mereka sering bekerja di lingkungan tidak aman, sedikit atau tidak memiliki akses ke perlindungan sosial atau keuangan, dan menghadapi diskriminasi. Itu semua dapat merusak kesehatan mental. 

Meski demikian, semua sektor atau industri dapat menyumbangkan masalah kesehatan mental. Hal itu berkaitan dengan apa yang dikerjakan, di mana lokasi kerja, dan bagaimana karyawan bekerja. 

Karyawan di bidang kesehatan, kemanusiaan, atau darurat sering kali memiliki pekerjaan yang berisiko tinggi terpapar kejadian buruk, yang dapat berdampak negatif pada kesehatan mental.

Selain itu, diskriminasi dan ketidaksetaraan berdasarkan faktor seperti, ras, jenis kelamin, identitas gender, orientasi seksual, disabilitas, asal sosial, status tenaga kerja, agama, serta usia dapat memperkuat dampak negatif terhadap kesehatan mental.

Hal lain terkait lingkungan kerja

Hal lain yang tak langsung terkait pekerjaan juga bisa menyumbangkan masalah kesehatan mental kepada karyawan.

Resesi atau kondisi darurat–seperti pandemi COVID-19 dan bencana alam–yang menimbulkan goncangan ekonomi sangat berisiko terhadap kelangsungan perusahaan sekaligus karyawan. 

Sebagai ilustrasi, pandemi membuat perusahaan gulung tikar, karyawan kehilangan pekerjaan, keuangan tidak stabil, kesempatan bekerja berkurang, dan pengangguran meningkat. 

Seseorang yang tidak bekerja berisiko mempunyai kesehatan mental, seperti cenderung memiliki emosi tidak stabil, cemas tidak memiliki pekerjaan, berduka karena kehilangan rekan kerja, dan lainnya.

Haruskah Membahas Kesehatan Mental?

kesehatan mental

Di tempat kerja, ada kalanya kita merasa sangat lelah atau sulit memotivasi diri sendiri.

Terkadang ada rekan kerja yang membuat kesalahan sehingga membuat satu tim dalam masalah dan ada rekan lain yang marah terhadap kondisi itu. Ada pula yang beberapa hari terkahir lebih sensitif atau teman setim sering menyendiri di kantor.

Di mana pun kita bekerja, pasti ada tekanan dan kondisi yang tidak menyenangkan. Hal itu wajar, selama kita mampu menjalankan kehidupan pekerjaan dan personal dengan baik.

Tak sedikit perusahaan memiliki program employee wellbeing. Program tersebut mendukung kesehatan serta kebahagiaan karyawan secara menyeluruh.

Namun, tak sedikit karyawan menyembunyikan perasaan atau kondisi psikis dari rekan kerjanya. Alasannya sederhana, mereka malu jika orang lain beranggapan sinis terhadap dirinya. 

Mereka takut mendapatkan diskriminasi dari rekan kerja. Jadi, mereka lebih baik memilih diam.

Diam bukan solusi. Anda sebagai tim HR dapat membahas kesehatan mental di kantor.

Anda dapat menjangkau rekan kerja atau karyawan yang terlihat sedang mengalami masa-masa sulit. Dengan demikian, Anda mengakomodir pembicaraan masalah kesehatan mental tanpa rasa takut.

Jadi, karyawan pun lebih mudah mencari bantuan saat mereka membutuhkannya dan perusahaan bisa memberikan bantuan dengan tepat.

Ciptakan Lingkungan Kerja Yang Mendukung Kesehatan Mental

Berdasarkan studi Mind, satu dari lima orang merasa tidak bisa memberi tahu atasan kalau ia terlalu stres di tempat kerja.

Sedangkan, kurang dari setengah responden-yang didiagnosis dengan masalah kesehatan mental-memberi tahu manajer mereka.

Studi tersebut memberikan wawasan bahwa perusahaan perlu menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kesehatan mental agar tercipta hubungan kerja yang sehat. Baik hubungan antar karyawan maupun karyawan dan atasan.

Jika perusahaan Anda telah terbuka terhadap masalah kesehatan mental, tetapi prosesnya belum maksimal, reviu kembali kebijakan dan prosedurnya. Jika belum memiliki, tiga poin di bawah ini bisa menjadi referensi.

Memiliki kebijakan

Buat atau cek kembali kebijakan kesehatan mental di perusahaan. Pastikan kebijakan itu mendukung karyawan dan memastikan mereka mendapatkan pendampingan memadai. 

Misalnya, menetapkan langkah-langkah sederhana dan praktis untuk meningkatkan kesejahteraan mental semua karyawan serta memiliki rujukan tenaga profesional, jika ada karyawan yang sedang mengatasi masalah mentalnya.

Supportive culture

Bangun supportive culture di lingkungan kerja. Ini adalah budaya yang memberdayakan karyawan untuk mengerjakan tugas sebaik-baiknya versi mereka.

Biasanya, pemimpin sangat menentukan keberhasilan supportive culture. Pemimpin akan mendukung karyawan dalam mencapai tujuan perusahaan. Misalnya, memberikan informasi, alat, dan akses agar kinerjanya meningkat.

Tim HR juga bisa mendorong manajer untuk mudah didekati dan mendorong dialog terbuka dengan anggota timnya. Komunikasi terbuka antara manajer dan karyawan dapat membangun kepercayaan, sehingga karyawan lebih mudah mengemukakan keresahannya kepada manajer.

Contohnya, manajer melakukan one-on-one meeting secara rutin guna mengetahui kemajuan dan dan masalah yang sedang dihadapi oleh anggota timnya serta membangun.

Tumbuhkan kesadaran

Dulu, membicarakan masalah mental dianggap tabu. Ketika seseorang atau satu pihak menumbuhkan kesadaran ini, maka memerlukan waktu untuk memahami dan merangkul kesehatan mental secara terbuka.

Ketika Anda menumbuhkan kesadaran terus-menerus, ada seseorang yang akan menerima dukungan dengan cepat. Upaya Anda bisa membantunya dalam menyelesaikan masalah mental serius.

Penutup 

Perusahaan harus menjadi lingkungan di mana karyawan merasa aman untuk bekerja.

WHO menuliskan pemerintah, pengusaha, organisasi, serta stakeholder ikut bertanggung jawab atas kesehatan dan keselamatan karyawan, termasuk meningkatkan kesehatan mental di lingkungan kerja.

Mari, menjadikan kesehatan mental untuk semua prioritas global.

Comment