Membangun Kepercayaan Dan Temuan Menarik Di Tempat Kerja | | HR NOTE Indonesia

Membangun Kepercayaan Dan Temuan Menarik Di Tempat Kerja

membangun kepercayaan

Perusahaan wajib membangun kepercayaan di tempat kerja. Baik kepercayaan antar karyawan, karyawan terhadap pemimpin, atau pemimpin kepada karyawan.

Tahun lalu, riset LifeWorks menemukan sebesar 20 persen atau satu dari lima orang karyawan di Kanada tidak percaya terhadap manajer. Padahal kepercayaan adalah aspek penting dalam setiap hubungan manusia.

Di lingkup perusahaan, membangun kepercayaan berguna untuk kolaborasi yang mengarah kepada kesuksesan. Hal ini pun berlaku sebaliknya. 

Apa Itu Kepercayaan?

Definisi kepercayaan

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kepercayaan adalah anggapan atau keyakinan bahwa sesuatu yang dipercayai itu benar atau nyata.

Kepercayaan juga bisa diartikan sebagai sesuatu yang dipercaya atau harapan dan keyakinan. 

Definisi lain, kepercayaan merupakan aspek penting dari setiap hubungan manusia. Karena kepercayaan dibutuhkan dalam setiap interaksi dan berperan penting dalam berkomunikasi dengan orang lain.

Dalam lingkup pekerjaan, kepercayaan merupakan salah satu poin utama untuk berkolaborasi guna meraih kesuksesan bersama

Namun, membangun kepercayaan tak hanya mendorong karyawan harus percaya dengan rekan kerja dan perusahaan. Sebaliknya, perusahaan pun harus melakukan hal saya kepada karyawan.

Employee experience lebih positif

Membangun kepercayaan di lingkungan kerja akan memberikan dampak signifikan terhadap perusahaan sekaligus karyawan, yaitu:

  • Memiliki tingkat kepercayaan tinggi kepada karyawan menciptakan employee experience lebih positif.
  • Membuat perusahaan lebih produktif, karena karyawan merasa aman dan berharga.

Alasan Perusahaan Harus Membangun Kepercayaan Di Tempat Kerja

Membangun kepercayaan tidak bisa dilakukan dalam sehari semalam. Ini adalah proses belajar bagaimana seseorang memercayai orang lain.

Dalam prosesnya, seseorang akan menjumpai kendala saat menghadapi orang lain. Meskipun ada orang yang secara natural unggul dalam membangun kepercayaan.

Dalam kehidupan bermasyarakat–termasuk di kantor–, kita perlu membangun kepercayaan

Hal itu berguna untuk membuat tim solid. Tak peduli tim Anda bekerja dari kantor, work from home (WFH), atau hybrid working

Sebuah studi memperlihatkan bahwa karyawan yang bekerja di perusahaan dengan kepercayaan tinggi mengalami stres lebih rendah (74 persen) dibandingkan yang tidak.

Kepercayaan yang rendah di tempat kerja dapat membuat karyawan stress. Hal itu bisa disebabkan oleh perilaku seseorang atau tak ada budaya kepercayaan di perusahaan.

Misalnya, manajer yang tidak memercayai anggota timnya cenderung tidak memberikan kebebasan dan fleksibilitas kerja kepada yang bersangkutan. Ia akan melakukan micromanagement kepada anggotanya.

Contoh lain, ketika kredibilitas Si A dipertanyakan, maka rekan kerja enggan berkolaborasi dengannya. Bahkan rekan kerja tidak akan melibatkan atau mengundang Si A ke acara selepas office hour.

Adapun pilar kepercayaan adalah:

  • Jujur.
  • Menghargai hubungan jangka panjang.
  • Menghargai komitmen.
  • Mengakui ketika salah.
  • Efektif berkomunikasi .
  • Be vulnerable.
  • Bermanfaat.
  • Menunjukkan kepedulian.
  • Mempertahankan yang benar.
  • Bersikap transparan.

Tiga Dimensi Kepercayaan

Drs. Michelle dan Dennis Reina telah meneliti kepercayaan di tempat kerja selama beberapa dekade. Dari penelitian itu, mereka menemukan tiga dimensi kepercayaan.

1) Karakter 

Kepercayaan karakter menentukan gaya dan arah kerja tim

Ini adalah dimensi dasar membangun kepercayaan tim yang efektif. Dengan dimensi ini, mereka dapat saling membantu dalam bekerja.

Ketika setiap anggota memiliki kepercayaan karakter, mereka memiliki kepedulian satu sama lain, saling memikirkan kepentingan terbaik tim, menghasilkan pandangan bersama, hingga saling membangun kepercayaan.

2) Komunikasi

Dimensi komunikasi mendorong anggota tim berkolaborasi dan berbicara satu sama lain

Hal itu membuat mereka berbagi informasi, mengatasi masalah dan kekhawatiran, mempraktikkan transparansi, serta menawarkan umpan balik, sehingga mereka belajar satu sama lain.

Melalui komunikasi, anggota tim merasa aman untuk mengatakan sesuatu secara terbuka dan jujur. Bahkan mereka berani mengakui kesalahan dan mengetahui apa yang harus diperbuat selanjutnya.

3) Kemampuan 

Dimensi kepercayaan kemampuan membuka pintu bagi anggota tim untuk berkontribusi kepada perusahaan

Karyawan dengan dimensi kemampuan ini akan menggunakan pengetahuan untuk berinovasi. Mereka juga terlibat dalam pengambilan keputusan dan mengajarkan keterampilan baru kepada rekan kerjanya. 

Ketiga dimensi di atas membantu karyawan memahami perilaku rekan kerja untuk membangun kepercayaan. 

Dua Tipe Kepercayaan Di Tempat Kerja

Ketika berbicara tentang membangun kepercayaan, Anda perlu mengetahui bahwa terdapat dua jenis kepercayaan, yakni kepercayaan praktis dan emosional.

Keduanya perlu dikembangkan secara sinergis guna membangun kepercayaan berkesinambungan.

Kepercayaan praktis

Kepercayaan praktis (practical trust) ialah jenis kepercayaan yang lebih tradisional dan pertama kali terlintas dalam pikiran seseorang tentang bagaimana memercayai orang lain.

Karyawan dengan kepercayaan praktis akan disebut sebagai orang yang dapat diandalkan dan kompeten. Biasanya, pemimpin dan rekan kerja telah melihat kinerjanya, seperti datang tepat waktu, bekerja keras, serta menyelesaikan pekerjaan sesuai tenggat waktu.

Tanpa kepercayaan ini, pemimpin akan menghadapi karyawannya dengan micromanagement. Akibatnya, komunikasi antara keduanya tidak berjalan baik dan menurunkan produktivitas kerja.

Kepercayaan emosional

Banyak orang tidak menyadari kepercayaan emosional (emotional trust). Padahal membangun kepercayaan emosional justru menciptakan ikatan berarti antara pemimpin tim dan anggotanya serta antar rekan kerja.

Pemimpin yang sukses cenderung memiliki tingkat kecerdasan emosional tinggi, jadi ini jelas merupakan keterampilan yang baik untuk mulai berkembang. 

Seseorang yang memiliki sahabat di tempat kerja, kemungkinan besar ia memiliki kepercayaan emosional dan menumbuhkan sikap saling menghargai. Karena keduanya merasa nyaman berbagi ide, pemikiran, dan perasaan plus saling mendukung.

Membangun kepercayaan emosional lebih kompleks dibanding kepercayaan praktis. Hal itu disebabkan tak ada formula khusus dan membutuhkan kecerdasan emosional.

Meski demikian, kepercayaan emosional dapat dimulai dari perusahaan. Netflix, contohnya. 

Perusahaan layanan tayangan pengaliran ini memberikan kepercayaan tinggi kepada karyawan, seperti kebebasan mengambil keputusan. Perusahaan juga mempertimbangkan inklusivitas dan integritas dalam mempekerjaan karyawan.

Dampak positifnya adalah 70 persen karyawan menuliskan Netflix sebagai tempat kerja menyenangkan di Glassdoor.

Membangun Kepercayaan Dengan Saling Menghormati 

Nicola Acutt dari VMWare menuliskan, harapan memberikan ruang nyaman kepada individu untuk melakukan percakapan sosial dengan cara yang tidak terpolarisasi. Hal itu mengacu kepada media perbincangan yang kasar dan argumentatif di media sosial.

Jika perusahaan menancapkan harapan kuat akan memunculkan rasa saling menghormati antara karyawan. Dan, rasa tersebut adalah sumber kepercayaan.

Berdasarkan pengalaman Acutt, untuk membangun kepercayaan bisa dilakukan melalui meningkatkan rasa saling menghormati. Apa yang bisa digunakan untuk mendukung hal itu?

Mendengarkan 

Listening skill adalah kecakapan yang wajib dimiliki oleh pemimpin dan ditularkan kepada karyawannya.

Praktik ini dapat Anda lakukan dengan cara mendengarkan karyawan untuk berbincang-bincang mengenai keresahan, tantangan, hingga pencapaian mereka. Anda pun memiliki berbagai sudut pandang dalam proses membangun kepercayaan di tempat kerja.

Berdialog 

Berdialog dengan rekan kerja, atasan, atau bawahan sangat penting dalam menciptakan rasa saling menghormati. Anda pun akan terlibat satu sama lain tanpa takut dinilai baik atau buruk.

Transparansi

Transparansi mengenai kebijakan maupun keputusan yang akan dihasilkan mendukung budaya saling menghormati. Pada akhirnya, hal itu membangun kepercayaan di tempat kerja.

Penutup

Pemimpin wajib membangun kepercayaan kepada karyawan dan sebaliknya. Pasalnya, upaya tersebut akan menghasilkan produktivitas kerja serta menciptakan ikatan kuat antara pemimpin dan karyawan.

Selain itu, buka pembicaraan mengenai masalah kepercayaan yang muncul. Termasuk ketika karyawan tidak percaya dengan pemimpin tim atau rekan kerjanya. 

Diskusi hal itu dan temukan solusi bersama agar mereka kembali berkolaborasi serta bekerja

Comment