HR: 5 Kebijakan Untuk Romansa di Tempat Kerja | | HR NOTE Indonesia

HR: 5 Kebijakan Untuk Romansa di Tempat Kerja

Menghabiskan waktu berjam-jam bersama di tempat kerja dapat menumbuhkan perasaan di antara karyawan. Sebut saja kerap terlibat proyek, sering bekerja lembur, hingga akhir saling curhat bisa membawa dua karyawan saling jatuh cinta.

Namun yang jadi permasalahan adalah apakah hubungan romansa di tempat kerja memengaruhi kinerja karyawan? Apakah ada perlakuan pilih kasih jika seorang manajer berpacaran dengan bawahannya? Bagaimana jika mereka memutuskan untuk menikah? Apakah salah satu di antara mereka harus mengundurkan diri?

Di sisi lain, jalinan romansa adalah hal wajar. Sah-sah saja jika dua insan saling jatuh cinta. Karena urusan romansa adalah hak pribadi.

Jika mengkhawatirkan hubungan karyawan yang berpacaran, manajemen dan HR bisa membuat kebijakan melindungi bisnis sekaligus hak karyawan.

Romansa di Tempat Kerja adalah Hal Umum

Romansa di tempat kerja merupakan hal umum yang terjadi di sekitar kita. Berdasarkan Society for Human Resource Management (SHRM) dan AmeriSpeak Panel dari University of Chicago, sebanyak 696 karyawan mengikuti survei, terdapat 27% yang pernah terlibat romansa di tempat kerja dan 25% pernah memiliki romansa dengan atasan.

Selain itu, sekitar 41% karyawan pernah berkencan dengan rekan kerja. Bahkan dari seperempat karyawan mengatakan bahwa mereka memiliki work spouse (pasangan kerja) dan lebih dari separuhnya mengaku memiliki perasaan romantis satu sama lain.

“Pengusaha tidak bisa melarang realitas romansa di tempat kerja. Sebaliknya, mereka harus merefleksikan budaya mereka dan memastikan pendekatan terkini, realistis, dan seimbang dengan cara yang melindungi karyawan sambil membiarkan mereka bebas menjalin romansa secara bertanggung jawab,” ujar Johnny Taylor, Presiden dan CEO SHRM.

Jalinan romansa tak melanggar hukum

Ya, consensual relationship atau menjalin hubungan atas dasar suka-sama-suka tidak melanggar hukum. Karena kita adalah manusia yang memiliki pikiran, perasaan, dan terlebih sering berinteraksi dengan rekan kerja.

Forbes menjelaskan studi Robert B. Zajonc dari University of Michigan, semakin sering paparan seseorang dapat meningkatkan ketertarikan kita ke orang tersebut. Dengan kata lain, lebih banyak eksposur menyebabkan lebih banyak daya tarik.

Karena individu lebih menyukai seseorang yang lebih sering dilihatnya, daripada yang jarang dilihat. Hal itu terjadi di tempat kerja, ketika individu bertemu rekan kerja setiap hari akan memicu lebih banyak daya tarik.

Selain itu, karyawan memiliki kesamaan dengan rekan kerjanya, dalam hal ini kesamaan pekerjaan. Dia juga memiliki informasi personal tentang rekan kerja dan kondisi itu tidak dia dapatkan ketika kencan melalui aplikasi. Misal dia tahu si rekan adalah seseorang yang cukup bertanggung jawab terhadap pekerjaannya.

Risiko di balik romansa di tempat kerja

Banyak perusahaan yang memperbolehkan karyawan menjalin hubungan spesial dengan rekan kerja. Meski demikian terdapat risiko di balik romansa di tempat kerja.

“Cinta itu anugerah dari Tuhan. Kita enggak mungkin melarang. Saya pernah menemukan beberapa teman yang pacaran dengan teman sekantor, secara performa malah lebih bagus. Kerjanya lebih meningkat, karena punya motivasi untuk mencapai achievement-nya. Nah, yang jadi masalah itu ketika mereka pacaran mengganggu kinerjanya,” kata Radjito, HR di perusahaan logistik, kepada HR Note, Sabtu (09/10/2021).

Hal senada juga diungkapkan oleh Mayasari, HR Manager di perusahaan keuangan nonbank, Senin (25/10/2021). Menurutnya, tak masalah jika ada karyawan yang menjalin romansa dengan teman sekantor.

Di beberapa perusahaan, lanjut Maya, karyawan yang berpacaran dengan teman sekantor harus melapor ke HR atau kepala divisinya. Selanjutnya, mereka akan mempertimbangkan risiko atas hubungan karyawan tersebut. Seperti melihat jabatan dan tugas kerja keduanya.

“Dulu kami buat kebijakan, karyawan harus jujur soal hubungan mereka. Kalau enggak jujur akan dikasih teguran. Kalau jabatan atau posisi mereka adalah posisi rawan, HR enggak cuma merekomendasikan untuk diawasi, tetapi merekomendasikan mutasi lokasi atau rotasi jabatan,” Maya menceritakan pengalamannya ketika bekerja sebagai HR di perusahaan retail.

Memang, romansa bisa datang secara alami, tetapi kondisi ini berpotensi menimbulkan risiko pada pekerjaan. Baik memengaruhi cara kerja, hubungan dengan rekan kerja lain, maupun pencapaian tujuan perusahaan.

Oleh sebab itu, HR dan manajemen harus memiliki kebijakan mengenai romansa di tempat kerja.

Studi Kasus McDonald’s

McDonald’s mengumumkan bahwa perusahaan memecat Steve Easterbrook sebagai CEO pada November 2019. Pemecatan terjadi karena Easterbrook melanggar kebijakan perusahaan dengan menjalin consensual relationship dengan seorang karyawan. Perilaku tersebut membuat Easterbrook melakukan penilaian buruk dalam organisasi.

Pada Agustus 2020, McDonald’s menuntut Easterbrook karena telah menyembunyikan bukti, berbohong, dan menipu berkaitan dengan hubungan pribadinya. Diketahui bahwa ia terlibat romansa dengan tiga karyawan perusahaan waralaba tersebut. Bahkan perusahaan menuduhnya telah menghibahkan saham senilai ratusan ribu dolar kepada salah satu karyawan yang dikencaninya. Ini adalah upaya Easterbrook agar sang karyawan merahasiakan hubungan mereka.

McDonald’s memiliki non-fraternization policy (no-dating policy) atau kebijakan larangan berkencan dengan bawahan langsung atau tidak langsung. Kebijakan ini berlaku juga untuk CEO.

Kim Elsesser menuliskan, kisah Easterbrook menggambarkan beberapa konsekuensi yang tidak diinginkan dari larangan romansa di tempat kerja.

Teori reaktansi mengatakan bahwa jika Anda mengambil kebebasan dasar orang lain (seperti romansa), ia akan termotivasi untuk membangunnya kembali. Misalnya, penelitian terhadap pasangan muda, semakin orang tua tidak menyetujui hubungan percintaan mereka, mereka akan semakin bertekad untuk mengejarnya.

Melarang romansa di tempat kerja pun bisa memiliki hasil yang sama, membuat hubungan tersebut semakin menarik.

Menyusun Kebijakan Romansa di Tempat Kerja

Dalam Undang-undang Cipta Kerja Pasal Bagian Ketenagakerjaan, Pasal 153 Ayat 1 butir (d) dan (f), menyebutkan:

  1. Pengusaha dilarang melakukan pemutusan hubungan kerja kepada pekerja/buruh dengan alasan:

(d) menikah;

(f) perkawinan dengan pekerja/buruh lainnya di dalam satu perusahaan;

Berdasarkan UU di atas, tak ada larangan jika ada karyawan berpacaran. Bahkan ketika karyawan menikahi rekan kerjanya, perusahaan tidak boleh memecat mereka.

“Kita enggak akan melarang mereka pacaran, tapi kinerjanya harus sesuai objective, mencapai KPI atau OKR. Ketika kita sudah memperingatkan dia seperti itu, tetapi performanya turun, kita bisa melakukan langkah selanjutnya. Misal memindahkan salah satu dari mereka ke departemen lain,” jelas Radjito.

Apakah perusahaan Anda telah memiliki kebijakan untuk romansa karyawan? Jika belum, saatnya HR dan manajemen membuat kebijakan tersebut. Anda dapat menyusun dengan panduan seperti ini:

1. Jelas dan spesifik

“Kebijakan harus jelas di awal,” tambah Maya.

Perusahaan dapat membuat kebijakan jelas dan spesifik mengenai romansa di tempat kerja. Hal ini tak hanya sebagai langkah preventif menghadapi penurunan produktivitas kerja, juga mencegah tindakan pilih kasih, penyalahgunaan jabatan, pelecehan seksual, dan lainnya.

Contoh kebijakannya:

  • Karyawan harus jujur jika mereka berpacaran dengan rekan kerja.
  • Larangan berpacaran dengan rekan satu tim.
  • Larangan menjalin romansa dengan bawahan.

Jelaskan kepada karyawan tentang tujuan kebijakan tersebut. Tujuannya adalah mengawasi kinerja perusahaan dan memastikan karyawan tidak dirugikan atas hubungan romansanya (mencegah hal-hal tak diinginkan).

2. Program edukasi karyawan

Masukkan program edukasi consensual relationship ke dalam kebijakan. Program berisi tentang informasi perilaku karyawan sesuai budaya perusahaan, menanggapi ketertarikan lawan jenis, hingga mengidentifikasi dan menanggapi kasus pelecehan.

3. Love contract

Jika ada kebijakan karyawan wajib mengungkapkan jalinan romansa mereka, HR perlu menyusun love contract. Ini adalah kontrak yang harus ditandatangani oleh dua karyawan yang terlibat romansa. Kontrak menjelaskan bahwa hubungan mereka berdasarkan suka-sama-suka atau hubungan konsensual, hubungan tak akan memengaruhi kinerja, dan mematuhi semua kebijakan perusahaan.

4. Aturan PDA

Dalam kebijakan, HR dan manajemen harus mengatur mengenai public displays of affection (PDA) atau bermesraan lingkungan di kantor, seperti berpegangan tangan, memeluk, dan mencium pasangan. Aturan ini untuk menciptakan rasa nyaman semua karyawan.

5. Rotasi pekerjaan

“Rotasi pekerjaan diperlukan kalau posisi mereka rawan. Misalnya posisi karyawan cewek divisi finance, posisi karyawan cowok divisi marketing. Itu pasti ada conflict of interest di masing-masing divisi. Jadi meskipun mereka pacaran, perusahaan punya hak untuk merotasi si finance ke divisi lain. Kenapa? Karena posisi finance cukup rawan,” Maya menjelaskan tentang kebutuhan rotasi pekerjaan.

Konflik kepentingan terjadi ketika kepentingan pribadi bercampur dengan tugas dan tanggung jawab resmi yang dimiliki oleh seseorang. Bentuknya berupa penyalahgunaan kekuasaan, kolusi, dan pengambilan keputusan yang tidak adil.

Penutup

Pengacara tenaga kerja Ruby Dinsmore dari Slater and Gordon mengatakan, perusahaan yang melarang hubungan romansa atau mengharuskan karyawan mengungkapkan status hubungan romansa mereka telah menjadi hal biasa. Beberapa orang melihat hal tersebut sebagai pelanggaran privasi. Namun perusahaan memiliki kepentingan untuk melindungi bisnis.

 

Comment