Employee Engagement: 12 Cara Mengukur di Tempat Kerja | | HR NOTE Indonesia

Employee Engagement: 12 Cara Mengukur di Tempat Kerja

employee engagement

Pekerjaan tim HR tak lepas dari employee engagement. Tim HR harus memastikan karyawan engage dan menghasilkan kinerja terbaik.

Bagaimana jika karyawan tidak engage? Bagaimana mengukur employee engagement?

Jika karyawan berjumlah puluhan, tim HR dapat meluangkan waktu untuk one-on-one meeting. Bila ratusan karyawan, Anda dan tim harus memiliki alat ukur untuk menghitung atau menilai tingkat employee engagement.

Mengapa Perusahaan Perlu Mengukur Employee Engagement?

Employee engagement merupakan kondisi karyawan memiliki hubungan emosional terhadap organisasi atau tempatnya bekerja, termasuk pandangannya terhadap pekerjaan, tanggung jawab, serta hubungan dengan atasan dan rekan kerja.

Untuk meningkatkan hubungan tersebut, tak sedikit perusahaan yang memberikan program employee engagement. Sering kali jenis programnya berubah-ubah mengikuti kebutuhan perusahaan atau tren.

Oleh sebab itu, perusahaan perlu mengukur employee engagement untuk mengetahui bagaimana keterlibatan karyawan, yang diketahui dari skor yang naik, stabil, atau turun, serta sejauh mana keterlibatan bisa mendukung tujuan perusahaan. 

Meski demikian mengukur employee engagement cukup rumit. Karena pengukuran melibatkan motivasi, kebahagiaan, komitmen, emosi, dan kondisi pikiran yang bersifat subjektif. 

Bahkan pengukuran setahun sekali pun tidak cukup. Terlebih jika perusahaan memiliki beragam program employee engagement. Beragam pula alat ukur atau cara mengukurnya.

Employee Engagement: Cara Mengukur di Tempat Kerja

Employee Engagement

Tak ada satu alat ukur yang bisa mengatakan semua hal yang ingin Anda ketahui tentang employee engagement

Kondisi akan semakin rumit, jika perusahaan Anda menerapkan sistem kerja jarak jauh atau hibrida. Karena Anda tidak melihat ketidakpuasan karyawan melalui bahasa tubuh dan ekspresi wajah secara langsung.

Untuk membantu tim HR mengukur employee engagement, cara di bawah ini dapat Anda jadikan referensi:

#1 Survei

Dalam mengukur employee engagement, survei sangat bagus untuk mendapatkan insight yang cepat, konsisten, dan dapat ditindaklanjuti. 

Dengan survei, Anda mendapatkan lebih banyak tanggapan. Hal itu juga mendorong keterlibatan karyawan.

Biasanya, survei berisi pertanyaan sederhana, singkat, terfokus pada hal tertentu, dan berbentuk survei daring. Misal survei employee engagement tentang kepuasan kerja dengan pertanyaan:

  • Apakah tim Anda menginspirasi Anda untuk memberikan usaha yang terbaik?
  • Apakah ada punya peluang untuk berkembang dalam tim Anda saat ini?
  • Apakah Anda merasa pemimpin tim mempertimbangkan pendapat Anda tentang pengambilan keputusan? 

Cara pengukuran ini, tim HR memberikan umpan balik atau memperbaiki program employee engagement.

#2 eNPS

Selain survei, Employee Net Promoter Score (eNPS) juga menjadi cara mengukur keterlibatan karyawan paling banyak digunakan. 

Mekanisme eNPS hampir sama dengan survei, yaitu berbentuk pertanyaan tetapi menggunakan skala. Misalnya:

  • Anda memiliki skala 1-10.
  • Penetapan skala ada tiga, yaitu promotor (skala 9-10), pasif (skala 7-8), dan detractor (skala di bawah 6).
  • Pertanyaan tentang, “Seberapa besar kemungkinan Anda merekomendasikan organisasi ini sebagai tempat bekerja?” atau “Berdasarkan pengalaman Anda, seberapa besar kemungkinan Anda merekomendasikan organisasi kami kepada teman atau saudara?”.

employee engagement

Sumber: AIHR

#3 Tingkat retensi karyawan

Mengukur tingkat retensi karyawan dapat mengetahui employee engagement. Tingkat retensi karyawan yang baik membuat perusahaan:

  • Mengurangi biaya rekrutmen.
  • Menciptakan tim yang baik.
  • Membangun budaya organisasi yang solid. 
  • Meningkatkan produktivitas. Karena semakin lama karyawan bekerja, semakin baik pemahaman mereka tentang proses bisnis perusahaan. 

employee engagement

Sumber: AIHR

#4 Tingkat turnover

Karyawan yang hanya bekerja beberapa bulan, lalu resign dan kondisi itu terjadi berulang kali membuat tingkat turnover tinggi. Dampaknya, biaya rekrutmen membengkak, mengganggu kerja tim, serta menurunkan moral karyawan lain.

Sebaliknya, karyawan yang memiliki hubungan baik dengan rekan kerja dan didukung oleh atasan, cenderung engage. Mereka juga mempunyai masa kerja lebih lama dengan perusahaan.

Tingkat turnover tinggi atau rendah tergantung industri dan peran masing-masing.

employee engagement

Sumber: AIHR

#5 Produktivitas karyawan

Anda dapat mengukur produktivitas karyawan untuk melihat seberapa aktif karyawan terlibat dalam perusahaan.

Untuk mengukur produktivitas, Anda bisa membagi pendapatan perusahaan per kuartal atau per tahun dengan jumlah total karyawan. Bandingkan hasilnya dengan pendapatan periode sebelumnya, pola, dan tren.

Meski demikian, produktivitas tidak mencerminkan peningkatan keterlibatan karyawan.

#6 ROI

Tingkat return of investment (ROI) tinggi akan menghasilkan karyawan yang lebih produktif

Studi Gallup menunjukkan bahwa organisasi yang memprioritaskan employee engagement mengalami peningkatan 20 persen dalam penjualan.

#7 FGD

Untuk mengukur employee engagement melalui focus group discussion (FGD), tim HR harus menyiapkan perwakilan karyawan yang representatif dari berbagai divisi dan mempunyai beberapa pertanyaan sebagai bahan diskusi.

Dengan FGD, perusahaan akan memiliki:

  • Insight tentang kesukaan dan ketidaksukaan karyawan.
  • Memperbaiki operasional bisnis.

#8 One-on-one meeting

Melakukan one-on-one meeting dapat mengetahui keterlibatan karyawan lebih intens. Anda bisa melakukannya secara berkala, misal sebulan atau dua bulan sekali.

Keuntungan pertemuan ini, Anda bisa ngobrol secara langsung, berbagi umpan balik lebih detail, dan tetap menjaga kerahasiaan. Contohnya, Anda dan karyawan berdiskusi tentang rasa takutnya untuk menyuarakan sesuatu, termasuk ide atau kritik.

#9 Tingkat absensi

Tingkat absensi atau ketidakhadiran tinggi mengindikasikan masalah dengan keterlibatan karyawan plus berkorelasi dengan kepuasan mereka yang rendah.

Meski demikian, masalah absensi adalah indikator dari banyak hal, seperti kondisi kerja yang buruk, tata kelola tak tertata dengan baik, kepemimpinan yang buruk, peraturan cuti yang menyulitkan karyawan, atau tidak ada work-life balance.

employee engagement

#10 Reviu perusahaan di situs pencari kerja

Reviu perusahaan dari karyawan dan mantan karyawan di situs pencari kerja dapat menjadi alat ukur employee engagement. Misalnya, Jobstreet, LinkedIn, dan Glassdoor.

Di situs tersebut, tim HR meninjau kembali tentang operasional bisnis, sistem human resources, sikap para pemimpin, keterlibatan karyawan terhadap bisnis, hingga mengetahui apa yang menimpa dan dirasakan oleh karyawan. Dari reviu itu, tim bisa memperbaiki keterlibatan mereka.

Reviu juga menjadi bagian dari employer branding.

#11 Exit interview

Mengukur employee engagement bisa dilakukan melalui exit interview

Dari sana, HR mengetahui penyebab karyawan resign, apa alasan mereka tidak engage dengan pekerjaan, hal positif dan negatif di tempat kerja, apa yang menjadi pendorong mereka resign, dan lainnya. Kejujuran mereka dalam exit interview adalah insight penting bagi tim HR.

#12 Kepuasan pelanggan

Sering kali, kepuasan pelanggan yang rendah terhadap produk atau jasa perusahaan karena keterlibatan karyawan yang sama rendahnya.

Penelitian Aberdeen menyatakan bahwa pengalaman pelanggan tidak terjadi di ruang hampa. Mereka merupakan hasil dari aktivitas karyawan. Bisnis yang memahami pentingnya keterlibatan karyawan dan mengelola melalui program formal –untuk menyelaraskan pengalaman pelanggan– akan mencapai hasil yang jauh lebih unggul.

Penutup

Hasil pengukuran tak akan mengubah apa pun, jika Anda tidak memanfaatkannya untuk meningkatkan employee engagement.

Apa pun program peningkatan employee engagement, dorong pemimpin semua level untuk memberikan apresiasi dan pengakuan kepada anggota timnya. Karena hal tersebut mampu meningkatkan kinerja, produktivitas, dan keterlibatan karyawan di perusahaan.

Comment