Blended Workforce Di Lingkungan Kerja, Mengapa Tidak? | | HR NOTE Indonesia

Blended Workforce Di Lingkungan Kerja, Mengapa Tidak?

Pernahkah Anda menemui kesulitan saat harus mengisi posisi yang tiba-tiba akan kosong karena karyawan Anda mengajukan resign? Apalagi yang sifat pekerjaannya project base, merekrut karyawan baru mungkin akan memakan cost yang besar. Anda akan berpikir, apa mungkin menggunakan freelance untuk mengisi kekosongan tersebut?

Mungkin saja.

Mencampurkan karyawan tetap dengan karyawan tidak tetap seperti freelance disebut sebagai bentuk blended workforce. Blended workforce adalah salah satu strategi dalam lingkup rekrutmen.

Apa yang dimaksud dengan blended workforce, bagaimana cara kerjanya dan apa manfaatnya, langsung saja simak ulasan kali ini!

Pengertian Blended workforce Di Lingkungan Kerja

Kumpulan karyawan yang tergabung sebagai karyawan tetap, kontrak dan freelance (yaitu tenaga kerja internal dan eksternal) disebut sebagai blended workforce

Menggabungkan karyawan dengan perjanjian kerja yang berbeda dapat memberikan fleksibilitas pada bisnis secara keseluruhan, baik kepada anggota tim yang dimaksud maupun terhadap produktivitas dan pendapatan perusahaan.

Menurut Forbes pada artikel tahun 2017, dalam kurun 5 tahun ke belakang, gig economy telah menjadi mayoritas dan menciptakan diversity, dengan mencampurkan karyawan full time dengan freelancer.

Sebuah penelitian menemukan bahwa 93% perusahaan sudah mengidentifikasi cara kerja blended workforce karena adanya kerja sama baik antara freelancer dengan karyawan tetap. 

Kunci Pendorong Blended Workforce Di Lingkungan Kerja

Dari pengertian di atas, ditemukanlah tiga poin yang menjadi pendorong diterapkannya blended workforce di lingkungan kerja. Tiga hal tersebut adalah Permintaan (Demand), Aksesibilitas (Accesibility), Peningkatan Skala Bisnis (Scale up).

1. Permintaan

Karena semakin banyak orang mencari work-life balance, semakin banyak juga permintaan pengaturan kerja yang fleksibel. Ketika pekerja yang menginginkan fleksibilitas bertambah, bertambah pula peluang bisnis untuk membawa tenaga kerja jangka pendek/temporer dalam menyelesaikan pekerjaan musiman atau pekerjaan project-base.

2. Aksesibilitas

Dengan perkembangan teknologi yang meningkat, kesempatan pelaku bisnis dan karyawan untuk terhubung juga semakin meningkat. Mengapa?

Contohnya, dengan menggunakan platform daring atau lembaga yang mengelola temporary staffing/kontrak, maka pelaku bisnis dan karyawan dapat take a deal hanya dalam hitungan jam saja.

Artinya, masalah yang biasanya membutuhkan waktu berjam-jam atau berhari-hari untuk diselesaikan, kini memiliki solusi yang sederhana, cepat, dan terjangkau.

3. Meningkatkan Skala Bisnis

Lingkungan bisnis selalu kompetitif. Seiring hal tersebut, tuntutan terkait gaji dan benefit yang datang dari pekerja pun semakin kencang. Ketika bisnis mulai bertumbuh dan memasuki musim puncak produksi, perusahaan perlu menyesuaikan staffing berdasarkan kebutuhan yang ada, sehingga tidak memberatkan beban rekrutmen dengan mencari karyawan tetap.

Misalnya, perusahaan A memiliki pabrik baru di daerah selatan Indonesia. Demi mendukung pertumbuhan perusahaan, perusahaan A  menempatkan beberapa pegawai tetap dari kantor pusat, ditambah beberapa pekerja kontrak di pabrik baru tersebut. Pengaturan karyawan seperti ini memengaruhi pertumbuhan bisnis secara berskala dan lebih baik.

Manfaat Menerapkan Blended Workforce Di Lingkungan Kerja

Mungkin bagi beberapa pembaca, blended workforce adalah praktik yang biasa dijumpai di organisasi maupun di kantor dan sudah mengenal manfaatnya. Bagi yang belum, ini saatnya mengetahui keuntungan apa yang bisa didapat dari menerapkan blended workforce di lingkungan kerja.

1. Mendapat Set Keahlian Khusus

Salah satu pendorong terbesar dari kebutuhan Blended workforce adalah untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek terhadap rangkaian keahlian/ keterampilan khusus. Hal ini dapat mencakup mempekerjakan pekerja sementara, ketika proyek tertentu membutuhkan keterampilan di luar pengetahuan karyawan tetap perusahaan Anda.

Blended workforce memungkinkan perusahaan Anda untuk beradaptasi dengan kebutuhan spesifiknya dan mempekerjakan pekerja hanya jika dan ketika mereka dibutuhkan, daripada mempekerjakan seseorang secara full time.

2. Staffing yang Lebih Terukur

Blended workforce memungkinkan perusahaan untuk meningkatkan atau menurunkan skala operasi sesuai kebutuhan.

Ini termasuk dalam mengurangi biaya ruang kantor. Bisa juga untuk mempekerjakan pekerja untuk jangka waktu yang mereka butuhkan daripada menawarkan kontrak jangka panjang.

Ini berarti perusahaan Anda memiliki kemampuan untuk mempekerjakan seseorang secara tepat, pada waktu yang tepat.

3. Tenaga Kerja yang Fleksibel dan Gesit

Dengan memanfaatkan blended workforce dimana karyawan dipekerjakan sesuai permintaan, perusahaan Anda akan memiliki fleksibilitas yang lebih tinggi dalam hal penempatan staf. Anda akan dapat mendatangkan pekerja sementara selama permintaan meningkat, seperti pada musim-musim tertentu seperti musim libur hari raya.

Hal ini dikarenakan pekerja sementara/musiman sudah terbiasa dan memiliki kualifikasi on-demand staffing seperti disebutkan di atas.

4. Mengatasi Kesenjangan Keterampilan

Penerapan blended workforce akan membuat perusahaan Anda tidak lagi bergantung pada satu proses rekrutmen. Tidak ada cara yang lebih baik untuk mengatasi kesenjangan keterampilan/skill gap selain memiliki pendekatan yang fleksibel untuk mempekerjakan seseorang.

Dengan menyesuaikan cara perusahaan, Anda akan mengetahui bahwa pekerja yang memenuhi kebutuhan Anda ada di luar sana.

5. Keragaman dan Inovasi

Blended workforce memberikan kesempatan bagi perusahaan untuk membedakan dirinya sendiri dan proyek yang mereka kerjakan dengan menambahkan inovasi dan kreativitas dalam rutinitas kantor sehari-hari.

Menggabungkan karyawan full time dan part time dapat memberikan kombinasi hasil kerja yang unik. Pada saat yang sama, jenis employement ini akan menambahkan stabilitas dengan membina hubungan yang lebih baik dengan para pemangku kepentingannya.

6. Staf yang Lebih Bahagia

Karena pekerja sementara/kontrak yang memenuhi syarat lah yang dipekerjakan, tenaga kerja internal Anda jadi tidak terlalu stres dalam menangani masalah di luar bidang keahlian mereka. Pekerja sementara tersebut yang akan menyelesaikannya sesuai dengan kapasitasnya.

Studi menunjukkan bahwa pekerja kontingen jauh lebih bahagia daripada karyawan full time karena faktor perasaan senang tentang mendapatkan keuntungan dari keahlian mereka dengan ketajaman bisnis yang baik. Ini mengarah pada work-life balance yang lebih baik bagi mereka.

Lalu, Bagaimana Cara Memulai Blended Workforce Di Perusahaan Saya?

Setelah mengenal konsep dan manfaatnya, mari kita bicara tentang bagaimana cara membentuk Blended workforce di lingkungan Anda.

1. Mulailah dengan Melakukan Blended Recruitment

Blended workforce dapat dibentuk dengan melakukan blended recruitment. Mempekerjakan karyawan full time tidak sama dengan mempekerjakan freelancerKetika berhubungan denga pekerja kontingen, keterampilan mereka harus lebih dipertimbangkan daripada seberapa cocok mereka dengan budaya perusahaan.

Untuk melakukan blended recruitment, HRD harus memanfaatkan berbagai sumber atau platform digital. Pikirkan platform yang dapat bertindak sebagai perantara antara freelancer yang sangat terampil dan perusahaan, seperti situs freelancer terpercaya. 

2. Siapkan Alat Komunikasi Digital 

Alat komunikasi digital sangat penting. Semakin banyak karyawan campuran Anda, semakin besar kemungkinan satu orang bekerja dari rumah, sementara beberapa orang lainnya berada di tempat yang berbeda-beda seperti luar negeri dan sebagainya.

Bagaimanapun, orang-orang yang perlu bekerja sama dalam proyek yang sama mungkin secara fisik berada di lokasi yang berbeda sehingga diperlukan alat komunikasi digital untuk memperlancar jalannya proyek tersebut.

Contohnya, Anda bisa mencoba Slack sebagai platform komunikasi kerjaan.

3. Siapkan Platform Cloud

Dalam hal ini, prinsip yang sama berlaku. Fakta bahwa anggota tim tidak sering secara fisik berada di tempat yang sama melekat pada blended workforce. Terlebih lagi, orang mungkin tidak bekerja pada waktu yang sama karena zona waktu yang berbeda.

Solusinya adalah platform penyimpanan file bersama (Cloud). Orang dapat mengerjakan proyek yang sama, bahkan revisi bisa disimpan secara otomatis. Keuntungan lainnya adalah mereka dapat diakses dengan mudah dari perangkat seluler.

4. Buat Lingkungan Kerja yang Ramah

Sebenarnya, cukup sering anggota eksternal tim merasa sedikit dilupakan. Tentunya Anda tidak ingin hal ini terjadi, karena hal tersebut akan memengaruhi semangat pekerja dan pada akhirnya berdampak pada kualitas pekerjaan.

Misalnya, ajak semua karyawan di kegiatan yang sama tanpa membeda-bedakan status kerja mereka. Termasuk memasukkan pekerja eksternal ke dalam grup WA kantor, tempat orang-orang biasa mengobrol hal-hal di luar kerjaan.

Anda juga perlu memberikan apresiasi yang sama antara karyawan eksternal dan internal jika mereka berhasil mengerjakan pekerjaan dengan baik.

5. Buatlah Guideline yang Jelas

Blended workforce membutuhkan perhatian khusus. Penting sekali untuk menetapkan pedoman yang jelas terkait proyek agar karyawan tetap dan pekerja eksternal mengetahui apa yang perlu mereka lakukan. Beberapa elemen untuk dipikirkan:

  • Kapan tim harus stand by dan melalui saluran apa (email, WhatsApp, dll.)
  • Kapan rapat tim diadakan untuk membahas jadwal/ kemajuan
  • Kapan tim eksternal diharapkan berada di kantor

Pertemuan tatap muka sebelum memulai proyek juga merupakan hal yang baik (jika memungkinkan). Ini adalah cara untuk mencairkan suasana di antara semua yang terlibat dan tentu saja senang mengetahui dengan siapa mereka akan bekerja sama untuk periode waktu berikutnya.

Tantangan Penerapan Blended Workforce Di Lingkungan Kerja

Jenis status kerja campuran ini memang menarik. Bagi perusahaan yang menginginkan fleksibilitas, dan mampu mengelola keragaman, blended workforce ini mungkin cocok untuk Anda. Tapi perlu diingat, sistem ini tidak biasa karena ada beberapa poin yang menjadi tantangan dalam penerapannya. Apa saja? Simak penjelasan berikut.

Remote Working

Membangun kolaborasi aktif dengan tenaga kerja internal dan pekerja eksternal yang mungkin berbeda lokasi dan zona waktu dapat menjadi tantangan. Apalagi ditambah kondisi pandemi membuat semakin banyak karyawan yang harus bekerja remotelyHal-hal tersebut akan menyulitkan komunikasi dan meningkatkan salah paham antar tim. Namun guideline yang jelas akan membantu Anda

Pengelolaan Kompensasi

Ketika perusahaan menerapkan blended workforce, memantau dan membayarkan kompensasi karyawan dengan status kerja yang beragam pasti akan membuat HR kebingungan. Pada kasus pekerja eksternal, perusahaan perlu melacak karyawan dan membayar mereka sesuai dengan jam kerjanya. Timbulnya human eror pada saat penghitungan sangatlah memungkinkan, jadi sebisa mungkin gunakan sistem yang otomatis.

Koordinasi Jadwal

Membuat freelancer bekerja sesuai jadwal perusahaan mungkin akan sulit. Mereka mungkin tidak tersedia untuk jam kerja biasa seperti karyawan lain. Ini menjadi tugas yang menantang ketika Anda ingin mengkomunikasikan tujuan organisasi dan hasil yang Anda harapkan dari mereka.

Culture Shock

Menciptakan budaya perusahaan yang positif dan berpengaruh di antara pekerja eksternal dan karyawan internal dapat menjadi tantangan karena mereka bekerja untuk waktu yang singkat di perusahaan. Terkadang hal ini dapat menimbulkan hal negatif diantara karyawan tetap dan pekerja sementara yang dapat mempengaruhi budaya perusahaan.

Simpulan

Sehingga dapat kita simpulkan bahwa Blended workforce adalah Kumpulan karyawan yang menggabungkan karyawan tetap, kontrak dan freelance (yaitu tenaga kerja internal dan eksternal).

Blended workforce menjadi semakin meningkat karena adanya tiga hal yaitu permintaan, aksesibilitas, dan pembangunan berskala.

Blended workforce memiliki banyak manfaat dari mulai mengisi kesenjangan keterampilan hingga dapat membuat karyawan lebih bahagia.Namun, Blended workforce ini memiliki tantangan dimana sangat mungkin anggota tim tidak sering secara fisik berada di tempat yang sama dan mungkin tidak bekerja pada waktu yang sama karena zona waktu yang berbeda. Sehingga sangat penting untuk melakukan persiapan sebelum menerapkan Blended workforce.

Comment