Bahaya Hustle Culture dan Langkah HR Mengatasinya | | HR NOTE Indonesia

Bahaya Hustle Culture dan Langkah HR Mengatasinya

Beberapa tahun ini, hustle culture menjadi perbincangan di media sosial. Elon Musk adalah salah satu pengusaha yang dianggap menerapkan hustle culture.

Di Twitter, Musk mencuitkan bahwa 40 jam per minggu belum cukup untuk membuat perubahan:

“There are way easier places to work, but nobody ever changed the world on 40 hours a week.”

Kerja keras CEO SpaceX dan Tesla Inc. tak terbantahkan. Dari sisi kekayaan, Forbes mencatat kekayaan Musk sebesar USD306,5 miliar atau setara Rp4.386 triliun. Yang perlu diingat, setiap orang memiliki standar hidup berbeda, begitu pula dengan Musk.

Prinsip Musk mengilhami para pekerja untuk melakukan hustle culture. Mereka termotivasi untuk bekerja melebihi batas waktu atau bekerja ekstra jika ingin berhasil seperti miliarder dunia. Ya, tak ada yang salah jika seseorang termotivasi oleh Musk dan produktivitasnya meningkat.

Namun HR dan tim leader juga harus menyadari bahwa hustle culture menciptakan lingkungan kerja yang tidak sehat. Lebih lanjut, budaya ini bisa membuat karyawan burnout dan tentu saja, berpengaruh pada kinerja.

Hustle Culture

Kita harus mengakui bahwa ada orang-orang yang mengglorifikasi hustle culture. Seseorang yang berada di lingkungan hustle culture akan mengikuti budaya kerja berjam-jam (bekerja melebihi waktu kerja yang telah ditentukan) dan sering kali melelahkan.

Bila tidak, ia akan dianggap aneh, dibanding-bandingkan dengan rekan kerja lain, dan dipandang tidak loyal terhadap perusahaan. Bagi mereka, budaya kerja hiruk pikuk telah menjadi norma.

Apa itu hustle culture?

Shamani Joshi, penulis Vice, menuliskan hustle culture didasarkan pada keyakinan bahwa seseorang hanya bisa berhasil jika memaksakan diri sampai mengorbankan siklus tidur dan kewarasannya.

Budaya ini sering diplesetkan menjadi, ‘Kesibukan tak pernah berhenti’ atau ‘Kerja keras, rekening Anda terlihat seperti nomor telepon’. Oleh sebab itu, hustle culture diartikan sebagai bentuk workaholism ekstrem.

Di negara seperti India, di mana 1,3 miliar penduduk berbagi peluang dan sumber daya, para pekerja akan mengabaikan kecemasan dan mengubah hustle culture menjadi budaya yang sangat beracun.

Pandemi memengaruhi hustle culture

Sebelum pandemi COVID-19, ada tipe pekerja yang ingin menyibukkan diri dan terdorong untuk bekerja lebih keras.

Saat pandemi datang, hampir semua sisi kehidupan berjalan lambat. Hal itu membuat mereka mempunyai waktu untuk merenungkan gaya hidup yang mereka jalani.

Arushi Sethi, aktivis dan co-founder Trijog (jasa konseling kesehatan mental), mengatakan bahwa kita telah melewati lima fase pandemi.

Fase pertama, honeymoon phase. Fase ini mendorong kita untuk mengeksplorasi diri secara kreatif, seperti membuat kopi dalgona dan memanggang garlic bread.

Fase kedua, stres. Fase ini, seseorang belum merasakan ada masalah berarti.

Fase ketiga, stres kronis. Fase ini menyebabkan motivasi menurun dan sulit untuk merasa optimis.

Fase keempat, burnout (kelelahan). Fase ini membuat seseorang mulai meragukan diri sendiri ke kondisi normal dan merasa gagal memenuhi kebutuhan pribadi. Alhasil seseorang merasa kosong dan mengembangkan pandangan pesimistis terhadap kehidupan kerjanya.

Fase kelima, habitual burnout (kelelahan karena kebiasaan). Fase terakhir ini akan memicu kemarahan, kegelisahan, dan tekanan muncul pada diri seseorang. Ia bisa gagal mengenali emosi dan perlu berhenti sejenak untuk mengatasinya.

Bahaya Di Balik Hustle Culture

Banyak orang mengatakan hal-hal seperti, ‘Rekan kerja saya mengirim email pada pukul 03.00, jika mereka bekerja, mungkin saya harus bekerja’,” ujar Dr. Jeanne Hoffman, psikolog di Departemen Kedokteran Rehabilitasi di Fakultas Kedokteran University of Washington (UW).

Menurut Dr. Hoffman, hal itu adalah budaya orang Amerika. Mereka bekerja jauh lebih banyak dan memiliki lebih sedikit waktu istirahat daripada negara lain.

Padahal saat seseorang sibuk dengan hustle culture, selalu ada pekerjaan yang harus diselesaikan dan tenggat waktu yang wajib dipenuhi. Tak peduli berapa lama waktu telah dihabiskan atau pencapaian yang ia buat.

Catatan yang perlu Anda pertimbangkan adalah bekerja lebih dari 50 jam per minggu tidak mendorong kreativitas. Justru menyebabkan Anda kurang produktif dan lebih sering sakit. Sederhananya, hustle culture membahayakan diri Anda.

Burnout

Apakah saat ini Anda baik-baik saja atau merasa sangat lelah? Apakah Anda cukup tidur? Apakah masih bisa bekerja dengan baik dan mencapai target? Apakah hubungan Anda dengan orang terdekat harmonis?

Tak masalah jika Anda dalam kondisi tidak baik. Terkadang seseorang mengalami burnout akibat sibuk mengerjakan proyek besar selama berbulan-bulan.

Dr. Anne Browning, Direktur Pendiri UW Resilience Lab, mengatakan seseorang yang sedang burnout susah untuk mengelola maupun mengerjakan tugas-tugas dasar di kantor.

Namun tanda-tanda kelelahan bisa muncul berbeda-beda. Misal memerlukan usaha untuk bangun dari tempat tidur, sulit konsentrasi, atau mudah marah dengan rekan kerja karena hal sepele.

Toxic productivity

Bahaya hustle culture yang sering tak disadari adalah toxic productivity. Produktivitas beracun ini bersembunyi atas nama kepositifan.

Toxic productivity terjadi ketika Anda tak mempedulikan seberapa produktif diri sendiri, tetapi Anda selalu merasa bersalah karena tidak melakukan lebih banyak pekerjaan. Kondisi tersebut membuat Anda mengabaikan asupan nutrisi dan waktu istirahat.

Masalah kesehatan mental dan fisik

Bekerja lembur hingga “terserang” burnout dikaitkan dengan risiko kesehatan, baik mental maupun fisik. Sebut saja tekanan darah tinggi, detak jantung tidak teratur, penyakit kardiovaskular, dan depresi. Jika hal tersebut diabaikan, kondisi kesehatan bisa memburuk dan memengaruhi produktivitas kerja.

Menciptakan lingkungan kerja tidak sehat

Hustle culture menciptakan lingkungan kerja tidak sehat. Tak masalah jika Anda berlomba-lomba meningkatkan kinerja dengan rekan kerja. Yang perlu diperhatikan ketika perlombaan itu berubah menjadi persaingan tidak sehat, seperti mencuri ide, memfitnah, bergosip, dan lainnya.

Peran HR Dalam Menghadapi Hustle Culture

Budaya kerja serba hiruk pikuk bukan persoalan karyawan saja. Jika perusahaan menginginkan lingkungan dan tenaga yang kerja sehat, maka hal ini adalah urusan semua pihak. Peran manajemen dan HR sangat penting dalam menghadapi hustle culture.

Menetapkan batasan

Ketika karyawan berada dalam kondisi burnout karena hustle culture, HR bersama manajemen dan tim leader dapat menetapkan batasan kerja. Misal semua kegiatan yang berurusan dengan pekerjaan harus dilakukan pada jam kerja, termasuk pengiriman email atau pesan singkat.

Duroflex, perusahaan manufaktur tempat tidur asal India, sangat ketat dalam menerapkan jam kerja. Salah satunya adalah tidak mengirimkan pesan kerja kepada karyawan sebelum pukul 09.00 dan setelah 21.00.

Waktu istirahat

HR dapat mendorong karyawan untuk menikmati waktu istirahat. Seperti menggunakan istirahat makan siang, mengambil cuti untuk berlibur, atau memiliki me time di akhir pekan.

Dr. Hoffman menjelaskan bahwa memiliki waktu pribadi dapat menjaga batasan antara waktu kerja dan waktu luang. Cara tersebut akan meminimalisir seorang karyawan untuk bekerja lembur.

Membangun ketahanan

Membangun ketahanan bukan membuat Anda bertahan dalam hustle culture. Dr. Browning mengatakan tiga kunci ketahanan adalah terkoneksi, bersyukur, dan memiliki tujuan.

HR bisa mendukung karyawan dengan mengajak mereka fokus pada alasan ia bekerja di perusahaan, mengingatkan makna di balik pekerjaan, merefleksikan hubungannya bersama rekan kerja, serta mempraktikkan rasa syukur karena berhasil melewati hari-hari sulit.

Work-life balance

HR dapat mempromosikan work-life balance di lingkungan kantor. Misal mempersilakan karyawan istirahat (di luar jam istirahat) setelah berkutat dengan pekerjaan intensitas tinggi, mendengarkan musik, mengobrol dengan tim HR, atau mengapresiasi usaha yang telah ia dilakukan selama ini.

Memberikan ruang aman

Bercerita atau mengeluarkan keluh kesah dengan rekan kerja dapat meringankan beban seseorang. Maka tak ada salahnya jika HR memberikan ruang aman untuk mendengarkan cerita atau keluh kesah para karyawan.

Jika mereka membutuhkan bantuan, bantu sesuai kapasitas Anda. Namun kalau masalah yang dialaminya cukup berat, Anda bisa merekomendasikannya untuk konsultasi ke profesional.

Penutup

Bekerja keras untuk meningkatkan produktivitas merupakan langkah positif yang layak dihargai. Namun pastikan diri Anda dalam kondisi sehat secara mental dan fisik serta memiliki kebahagian dalam kehidupan sehari-hari. Kalau bukan Anda yang merawat diri Anda sendiri, lalu siapa?

Di sisi perusahaan, sebaiknya manajemen mengikuti peraturan pemerintah mengenai ketentuan waktu kerja. Promosikan ketentuan tersebut kepada karyawan agar mereka tidak larut dalam hustle culture.

Dalam Undang-undang Cipta Kerja Bagian Ketenagakerjaan, Pasal 77 Ayat (2), pengaturan ketentuan waktu kerja adalah tujuh jam dalam satu hari, sehingga total ada 40 jam dalam satu minggu untuk enam hari kerja atau delapan jam dalam sehari, dengan total 40 jam dalam seminggu untuk lima hari kerja.

Comment