9 Strategi HR Mengatasi Karyawan Burnout | | HR NOTE Indonesia

9 Strategi HR Mengatasi Karyawan Burnout

Beban pekerjaan dan lingkungan kerja tak sehat bisa memicu karyawan burnout.

Ironisnya, terkadang seseorang tak sadar bahwa dirinya sedang mengalami burnout. Padahal tanda-tanda burnout sudah terlihat pada dirinya. 

Jika ada karyawan atau rekan kerja Anda merasa sangat lelah dan kinerjanya menurun, tak ada salahnya untuk membantu. Karena bukan tak mungkin ia mengalami burnout yang memengaruhi performa tim dan perusahaan.

Karyawan Burnout

Apakah Anda kerap tertekan saat bekerja? Apakah mengalami hal buruk setiap hari? Apakah rekan kerja merasa jenuh, tidak berdaya, bahkan sangat lelah selama beberapa bulan ini?

Jika ya, kemungkinan Anda mengalami burnout. Apa itu burnout? Dan bagaimana mengatasi karyawan burnout?

Definisi burnout

Burnout merupakan kondisi kelelahan fisik dan mental yang disebabkan oleh tekanan yang berlebihan dan berkepanjangan. Burnout terjadi ketika seseorang merasa sangat lelah, emosinya terkuras, dan tak mampu memenuhi tuntutan terus-menerus. 

Kondisi tersebut bisa berakhir, jika karyawan sadar dan mampu mengendalikan tekanan yang datang. Jika tidak, tekanan akan berlanjut dan ia akan kehilangan minat serta motivasi untuk melakukan pekerjaan, bahkan mengerjakan hobi sekalipun. Pada akhirnya, Anda merasa tidak punya apa-apa lagi.

Dampak burnout pada pekerjaan jangka panjang bisa meluas ke kehidupan personal, interaksi dengan pasangan, dan kehidupan sosial. Bahkan burnout dapat menyebabkan penyakit, misal flu, asam lambung, dan sakit kepala.

Penyebab burnout

Penelitian Areas of Worklife karya Christina Maslach dari University of California, Berkeley dan Michael P. Leiter dan Acadia University, Pennsylvania, mengidentifikasi enam area yang dapat menyebabkan burnout. Berikut ini penyebabnya:

Beban kerja

Ketika workload atau beban kerja sesuai dengan kapasitas karyawan, ia dapat menyelesaikan pekerjaan secara efektif. Ia memiliki kesempatan untuk istirahat dan menemukan waktu untuk tumbuh serta berkembang.

Jika beban kerja terlalu banyak, ia tak memiliki kehidupan yang seimbang dan tak ada ruang untuk berkembang.

Kurang memiliki kontrol

Kurang memiliki kontrol terhadap diri sendiri juga dapat memicu burnout. Misal Anda tidak bisa menyuarakan ide, peran manajer sangat dominan, atau supervisor meminta Anda menyelesaikan tugas tanpa melihat jam kerja. Jika hal itu tidak diatas, Anda bisa kewalahan dengan pekerjaan.

Reward

Reward, baik intrinsik maupun ekstrinsik, yang tidak sesuai dengan usaha dan waktu yang telah diberikan terhadap pekerjaan bisa membuat karyawan burnout. Ia akan merasa bahwa apa yang telah ia investasikan selama ini tidak sepadan.

Komunitas 

Komunitas yang dimaksud adalah rekan kerja, pimpinan, bahkan klien. Jika komunitas kerja suportif dan percaya satu sama lain, kemungkinan tak memicu karyawan burnout. Jika tidak, burnout akan menghampiri karyawan.

Ketidakadilan

Ketidakadilan bisa memicu karyawan burnout. Seperti ia tak menerima perlakuan adil dan setara dari manajemen, ia tak mendapatkan hari libur, pimpinan tak memberikan reward atas usaha karyawan, dan lainnya.

Nilai yang tidak sesuai

Biasanya, setiap perusahaan mempunyai nilai-nilai yang diterapkan dalam lingkungan kerja. Jika nilai tersebut tidak sesuai dengan karyawan, maka akan berpengaruh pada kinerja kerjanya. Dan bukan tak mungkin menyebabkan burnout.

Gejala karyawan burnout

Burnout tidak terjadi dalam semalam. Prosesnya berjalan perlahan dan terkadang kemunculannya tak disadari.

Dalam proses tersebut, biasanya seseorang merasa sangat lelah dan tak berdaya. Bahkan ia malas untuk bangun dan bersiap ke kantor. Jika Anda berpikir, “kenapa saya malas ke kantor?”, kemungkinan itu adalah gejala burnout.

Gejala karyawan burnout dapat dilihat dari tiga hal, yaitu fisik, mental (termasuk emosional), dan perilaku.

Gejala fisik

  • Merasa lelah dan energi terkuras sepanjang waktu.
  • Kesehatan menurun, sehingga sering sakit.
  • Sering sakit kepala, nyeri otot, dan lainnya.
  • Perubahan waktu tidur (susah tidur waktu malam hari atau kurang tidur meski telah tidur selama delapan jam).
  • Perubahan nafsu makan (nafsu makan hilang atau sering mengonsumsi makanan tinggi sodium dan minuman manis).

Gejala mental

  • Merasa gagal.
  • Meragukan kemampuan diri sendiri.
  • Kehilangan motivasi kerja.
  • Merasa sendirian di dunia.
  • Merasa tak berdaya, terjebak, dan kalah.
  • Selalu berpikir negatif dan sinis.
  • Tak memiliki kepuasan dan pencapaian.

Gejala perilaku

  • Datang terlambat dan pulang lebih awal.
  • Melampiaskan kekesalan pada orang lain.
  • Mengisolasi diri dari teman-teman kantor.
  • Mengonsumsi alkohol atau obat-obatan ketika bekerja.
  • Menghindari tanggung jawab kerja (membuat laporan, rapat, bertemu klien, dan lainnya).
  • Menunda-nunda dan/atau membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan pekerjaan.

9 Strategi HR Mengatasi Burnout

Burnout dapat dialami oleh siapapun, baik pimpinan, karyawan, maupun rekan kerja Anda di divisi HR. 

Bila Anda menjumpai karyawan dengan gejala burnout, saatnya HR memiliki strategi untuk mengatasinya. Strategi di bawah juga bisa menjadi langkah preventif karyawan burnout.

Mengidentifikasi masalah 

Jika rekan kerja maupun karyawan merasa kelelahan dalam beberapa bulan ini, Anda dapat mengajak mereka mengobrol.

Tanyakan tentang bagaimana pekerjaannya, apakah ia sedang burnout, hal-hal apa saja yang menyebabkan mereka burnout, kapan berlangsungnya, bagaimana prosesnya, dan lainnya. Dengan demikian, Anda dapat mengidentifikasi masalah dan membantunya mengatasi burnout.

Mengevaluasi beban kerja

Setelah itu, Anda dapat mengevaluasi beban kerja dengan karyawan dan manajer. Pastikan tugas-tugas pekerjaan tidak melebihi kemampuan dan jam kerja.

Jika selama ini beban kerja karyawan tinggi, komunikasikan dengan manajer untuk menguranginya dan pantau jadwal kerja karyawan. Sehingga ia memiliki waktu istirahat dan mengembangkan kemampuan lain.

Jam kerja fleksibel

Di tengah pandemi ini, karyawan harus membagi diri untuk bekerja dan mengatur rumah. Kondisi tersebut dapat memicu burnout.

Jadi tak ada salahnya untuk menawarkan jam kerja fleksibel kepada karyawan yang tengah burnout. Karyawan yang memiliki kontrol terhadap jam kerja dapat meningkat kinerja dan mengurangi kemungkinan burnout.

Kesadaran terhadap kesehatan mental

Strategi mencegah maupun mengatasi karyawan burnout berikutnya adalah menumbuhkan kesadaran terhadap kesehatan mental. Beberapa cara ini bisa Anda terapkan:

  • Buat strategi kesehatan mental dan promosikan kepada karyawan.
  • Dorong para karyawan untuk mengambil cuti ketika mental mereka tak stabil.
  • Bekerjasama dengan biro psikologi untuk memberikan ruang kepada karyawan yang ingin mengekspresikan perasaan, pikiran, atau keluh kesahnya.
  • Mendorong manajer untuk lebih jeli dan berhati-hati ketika anggota timnya terlihat kewalahan dengan pekerjaannya. Menganjurkan karyawan untuk lebih berani berbicara tentang hak dan kewajibannya.
  • Mempertimbangkan masukan para karyawan mengenai strategi kesehatan mental.

Mempromosikan work-life balance

Mempromosikan work-life balance di lingkungan kerja untuk menyeimbangkan kehidupan personal dan profesional karyawan. Anda bisa menerapkan work-life balance dengan cara:

  • Rutin mengadakan program olahraga secara virtual maupun tatap muka.
  • Memberlakukan jam kerja setengah hari sebelum libur hari raya.
  • Workshop mengelola keuangan dan rencana investasi.
  • Virtual sharing pada akhir pekan.
  • Webinar membicarakan kesehatan.

Komunikasi terbuka

Menerapkan komunikasi terbuka adalah bagian dari strategi mencegah karyawan burnout.

Anda dapat mengajak manajer dan anggota tim untuk berkomunikasi mengenai pekerjaan dan hambatan kerja secara rutin, memberikan umpan balik agar karyawan memiliki performa lebih baik, berikan kesempatan karyawan untuk menilai kinerjanya dan tim, serta memberikan apresiasi atas pencapaian karyawan.

Memberikan contoh

HR dan para manajer dapat memberikan contoh dalam menerapkan work-life balance dan bagaimana mengatasi burnout pada anggota timnya. Misal memanfaatkan waktu kerja sebaiknya, menerapkan jam kerja fleksibel dan sesuai deadline, berbicara langsung ke rekan kerja jika ada masalah, mengikuti program wellbeing, dan lainnya.

Memberikan pelatihan yang merata

Memberikan pelatihan yang merata kepada anggota tim merupakan strategi untuk mencegah sekaligus mengatasi burnout.

Misal Si A di divisi HR yang mampu menangani training and development tengah burnout. Bila dalam kondisi burnout, ia tetap bekerja, hal itu memengaruhi kinerjanya. Jika ia cuti, harus ada rekan kerja lain yang mampu mengerjakan tugas Si A. Namun apakah rekan tersebut bisa mengerjakan tugas training and development?

Untuk menghindari kondisi itu, sebaiknya perusahaan memberikan pelatihan merata kepada divisi HR. Pelatihan ini membantu mengurangi stress kerja, karena antar karyawan dapat berbagi tugas-tugas yang dianggap rumit.

Meminta pertolongan

Jika Anda yang mengalami burnout, jangan ragu untuk meminta pertolongan. Seperti minta tolong kerja untuk berbagi tugas atau izin ke atasan untuk konseling ke psikolog atau life coach.

Meminta bantuan bukan berarti Anda lemah atau tidak mampu bekerja. Namun hal itu menunjukkan integritas serta memahami kekuatan dan kelemahan Anda. Ini manusiawi.

Penutup

Karyawan burnout bukan hanya tentang kelelahan bekerja. Untuk mengatasinya, Anda perlu mengetahui penyebab dan menawarkan solusi bagi karyawan.

HR juga perlu mendorong pengambil kebijakan agar perusahaan memiliki upaya pencegahan burnout pada karyawan. Sehingga karyawan bertumbuh dengan baik dan lebih bahagia saat bekerja.

Sedangkan karyawan yang terbebani banyak tugas dan waktu kerja tak menentu terus-menerus dapat merusak performa perusahaan. Anda pilih yang mana?

Comment