7 Tipe Listening Skill | | HR NOTE Indonesia

7 Tipe Listening Skill

listening skill

Bagaimana seseorang bisa menyampaikan pesan dengan baik jika ia tidak memiliki listening skill?

Tak bisa dipungkiri, ada kalanya, kita meremehkan listening skill. Karena setiap hari kita merasa mendengarkan banyak hal. Sebut saja mendengarkan orang tua di rumah, rapat, webinar, siniar, hingga teman curhat.

Namun, kita perlu menyadari bahwa listening skill bermanfaat dalam membangun hubungan kuat dengan rekan kerja dan orang-orang terdekat, seperti orang tua dan saudara. 

Tak sedikit perusahaan yang mencari kandidat dengan listening skill mumpuni. Apakah Anda adalah orang tersebut?

Apa Itu Listening Skill?

listening skill

Listening skill merupakan keterampilan untuk menerima, memahami, hingga menerangkan pesan yang disampaikan oleh lawan bicara atau suara yang didengarkan.

Dengan penguasaan keterampilan ini, ia dapat memecahkan masalah dan menyelesaikan konflik. Baik masalah pribadi, pekerjaan, hingga menjadi mediator untuk menyelesaikan masalah pihak lain.

Listening skill adalah bagian dari communication skill. Jadi, seseorang dengan listening skill mumpuni mampu merespons lawan bicara dengan tepat dan membangun komunikasi yang efektif. 

Tanpa listening skill yang baik, seseorang akan sering mengalami salah paham. Ia hanya memenuhi pikirannya dengan asumsi yang tak pasti. 

Kondisi tersebut akan membuat lawan bicara merasa frustrasi dan bukan tak mungkin komunikasi terputus.

Listening tidak sama seperti hearing

Hearing mengacu pada suara yang masuk ke telinga seseorang. Jadi, selama tidak memiliki masalah pendengaran, Anda bisa mendengarkan suara apa pun.

Listening merujuk pada kemampuan mendengarkan yang membutuhkan upaya fokus dan terkonsentrasi. Listening tidak hanya memperhatikan pesan, tetapi juga memahami proses penyampaian pesan serta penggunaan bahasa, suara, serta bahasa tubuh.

Mengingat listening bukan proses pasif, maka kondisi tersebut mendorong pendengar untuk terlibat dalam suatu pembicaraan. Proses ini juga kerap disebut active listening.

Komponen active listening

Karena listening skill berkaitan erat dengan active listening, maka tak ada salahnya untuk mengenal komponen active listening.

  • Memperhatikan

Paying attention (memperhatikan) melibatkan kontak mata, mengangguk, dan gerak tubuh. Seseorang yang memperhatikan itu semua akan tercermin dari bahasa tubuh. Secara tak sadar, hal itu menunjukkan minat tulus pada apa yang ia katakan kepada lawan bicara.

  • Refleksi dan Menanggapi

Komponen ini menunjukkan bahwa seseorang dapat merefleksikan dan memahami pesan lawan bicara. 

Mengapa Listening Skill Dibutuhkan di Lingkungan Kerja?

Di lingkungan kerja, listening skill membantu Anda memahami kebutuhan, tuntutan, dan preferensi stakeholder

Stakeholder tak hanya pemegang saham, tetapi juga pemimpin, manajemen, kolega bisnis, rekan kerja, hingga kandidat. Karena perusahaan adalah tempat pertemuan banyak orang, maka sebagai tim HR, Anda perlu meningkatkan listening skill.

Merespons hal bermakna

Mendengarkan adalah bagian terpenting dari komunikasi. 

Maka, dengan keterampilan mendengarkan yang baik, Anda dapat merespons hal bermakna dan substansial kepada rekan kerja atau pemimpin. 

Anda juga berkesempatan memahami seluk-beluk yang tidak akan dimiliki sebelumnya. Jika ada yang kurang jelas, ajukan pertanyaan ke lawan bicara. Dengan demikian, Anda membangun hubungan baik dengan orang lain.

Kolaborasi yang produktif

Listening skill berperan dalam mendorong kolaborasi yang produktif antar divisi atau departemen.

Bayangkan, bagaimana jika kolaborasi tanpa ada proses mendengarkan dengan terampil? Kemungkinan besar, ada informasi yang hilang dan terjadi kesalahpahaman. 

Akhirnya, kolaborasi yang diharapkan untuk kemajuan perusahaan justru membawa petaka. 

Belajar hal baru

Mempraktikkan listening skill bukan hanya mendengarkan saja. Anda juga belajar hal baru secara efektif. Karena menemukan detail kecil dan bertanya ke lawan bicara, Anda telah membuat perbedaan dalam pembelajaran.

7 Tipe Listening Skill

listening skill

Listening skill tidak cuma berlaku untuk pertemuan tatap muka. 

Namun, keterampilan mendengarkan bisa diterapkan dalam sistem kerja apa pun. Bahkan di tengah sistem kerja hibrida, jarak jauh, atau work from home (WFH), Anda dan tim membutuhkan keterampilan ini.

Di bawah ini, tujuh tipe listening skill yang bisa digunakan di lingkungan kerja:

#1 Informational listening

Ketika ingin mempelajari sesuatu, Anda bisa menggunakan informational listening untuk memahami dan menyimpan informasi.

Listening tipe ini membutuhkan konsentrasi tinggi serta critical thinking. Karena Anda harus sangat terlibat dalam proses mendengarkan untuk memahami konsep baru serta konteks informasi.

Contohnya, mendengarkan ebook, training jarak jauh, coaching, dan lainnya. 

#2 Discriminative listening

Sejak lahir, Anda telah memiliki keterampilan tipe ini. Karena setiap orang–secara bawaan–memiliki listening skill yang diskriminatif.

Jadi, sebelum Anda memahami kata-kata, discriminative listening mengandalkan nada suara, isyarat verbal, dan perubahan suara lainnya. 

Proses ini membutuhkan pemahaman maksud suatu frasa, lalu memahami kata-kata. Tipe ini bisa terjadi pada bayi hingga dewasa. 

Misalnya, saat mendengarkan percakapan dalam bahasa asing, kemungkinan besar Anda secara otomatis akan menggunakan keterampilan mendengarkan diskriminatif dan menganalisis nada, sehingga mendapatkan gambaran tentang apa yang sedang terjadi.

#3 Biased listening

Tipe ini juga disebut sebagai selective listening. Seseorang yang menggunakan biased listening hanya akan mendengarkan mendengarkan informasi yang ingin mereka dengar.

Proses biased listening berpotensi menyebabkan distorsi fakta. Karena orang yang mendengarkan tidak sepenuhnya selaras dengan apa yang ingin disampaikan oleh pembicara.

Contohnya, pemimpin tim menyampaikan proyek marketing baru dan Anda ingin sekali mendengarkan detail penugasan proyek karena Anda sudah menantikannya cukup lama. 

Namun, Anda hanya fokus pada detail penugasan, bukan mendengarkan seluruh pernyataan pemimpin tim. Hasilnya, Anda tidak memberikan performa kerja dengan maksimal. 

#4 Sympathetic listening

Kemunculan sympathetic listening terdorong oleh emosi. Alih-alih fokus pada pesan yang diucapkan, Anda malah fokus pada perasaan dan emosi lawan bicara.

Tipe ini penting untuk mengelola emosi sekaligus memberikan dukungan kepada orang lain. Jadi, ia merasa didengarkan dan perasaannya divalidasi oleh Anda.

Sympathetic listening sering terjadi di sekitar kita. Ketika di kantin, Anda bertemu teman yang sedang jengkel karena karyawan baru tiba-tiba mengundurkan diri di hari pertama onboarding. Jadi, Anda mendengarkan cerita dan bersimpati kepada sang teman.

#5 Comprehensive listening

Comprehensive listening memerlukan keterampilan berbahasa untuk memahami apa yang dikatakan oleh orang lain. Tipe ini berkembang sejak masa kanak-kanak. 

Beberapa tipe listening skill memiliki fondasi comprehensive listening. Karena tipe ini bertujuan belajar hal baru.

Di dunia kerja, tipe mendengarkan ini untuk menganalisis dan memahami pesan dari rekan kerja, lalu menggunakannya untuk menerima umpan balik.

#6 Empathetic listening

Empathetic listening berguna untuk membantu Anda melihat dari perspektif lawan bicara

Anda akan memahami pandangan dan membayangkan diri sendiri di pihak orang lain. Dengan kata lain, alih-alih fokus pada pesan, Anda justru berempati dan terhubung dengan pengalaman orang tersebut. 

Namun, empathetic listening tidak sama seperti sympathetic listening. Dengan sympathetic listening, Anda memahami perasaan lalu mendukung lawan bicara, tetapi tidak perlu membayangkan bagaimana rasanya berada di posisinya.

Misalnya, pemimpin baru saja mengumumkan bahwa ada pemotongan benefit. Dengan empathetic listening, Anda akan:

  • Mengetahui seberapa besar tekanan yang dirasakan oleh pemimpin.
  • Mencoba untuk memahami alasan keputusan tersebut.
  • Membayangkan diri sendiri harus menyampaikan kabar itu.
  • Di sisi lain, Anda menyadari bahwa pemimpin juga mengalami tekanan dari karyawan.

#7 Critical listening 

Analisis kompleks membutuhkan critical listening. Hal itu, termasuk analisis penyelesaian masalah di tempat kerja.

Dengan keterampilan critical listening, karyawan mampu mengevaluasi apa yang dikatakan oleh rekan kerjanya, melihat gambaran besar masalah, serta membandingkan satu masalah dengan masalah lain.

Contohnya, Anda menggunakan critical listening ketika menangani permintaan klien yang kompleks atau tidak biasa. Dengan begitu, Anda dapat menganalisis solusi yang ditawarkan dan membantu klien memutuskan solusi tersebut.

Penutup 

Satu tipe listening skill tidak lebih baik dari yang lain. Sebaiknya, semua tipe saling berkaitan yang bertujuan memahami pesan yang diterima.

Dengan menjadi pendengar yang baik, Anda dapat menjadi komunikator yang lebih baik. Dampaknya, Anda lebih mudah mempelajari informasi baru serta meminimalisir kesalahpahaman.

Di lingkungan kerja, karyawan dengan listening skill baik akan menghasilkan kepuasan pelanggan lebih baik dan produktivitas pun lebih tinggi. Saatnya, perusahaan memberikan pelatihan satu ini.

Comment