18 Tren HR 2021-2022: Hadapi Perubahan Teknologi dan Situasi | | HR NOTE Indonesia

18 Tren HR 2021-2022: Hadapi Perubahan Teknologi dan Situasi

Tren HR tak melulu tentang teknologi. Meskipun teknologi menjadi kunci untuk menavigasi tugas-tugas HR, tetapi tren HR juga dipengaruhi oleh situasi, contohnya pandemi Covid-19, sehingga melahirkan beragam program menarik bagi karyawan.

Pandemi seolah “menuntut” HR dan manajemen perusahaan untuk memiliki strategi dalam mempertahankan kinerja para karyawan sekaligus memastikan mereka dalam kondisi aman. Sehingga bisnis tetap tumbuh dan bertahan.

Alhasil baik kemajuan teknologi maupun perubahan situasi, keduanya ikut memengaruhi tren HR. Hal itu terlihat selama dua tahun terakhir dan kemungkinan masih dibutuhkan pada 2022. Apa saja tren HR tersebut?

1. Artificial Intelligence

Tak sedikit Tim HR yang telah mengaplikasikan artificial intelligence (AI) dalam pekerjaan mereka. Teknologi ini sangat bermanfaat bagi HR, karena membantu proses rekrutmen, onboarding, penilaian kinerja, menganalisis aktivitas komputer karyawan, bahkan pada level tertentu dapat mendeteksi perubahan nada komunikasi karyawan.

Berdasarkan survei Gartner, sebanyak 17% organisasi menggunakan AI dalam fungsi HR mereka. Jumlah tersebut akan bertambah pada 2022 menjadi 30%.

AI bermanfaat dalam otomatisasi tugas berulang dan membutuhkan waktu cukup lama. Dengan AI, HR bisa fokus pada fungsi strategis, seperti meningkatkan keterlibatan karyawan.

Namun otomatisasi menghadirkan menguji kecermatan HR karena menimbulkan bias. Misalnya, sistem hanya menampilkan keterampilan teknis tertentu atau kemungkinan data pribadi karyawan bocor. Hal tersebut dapat dicegah jika Tim HR bekerja sama dengan Tim IT.

2. Data-Driven

Selain AI, praktisi HR dengan keterampilan data-driven akan menjadi tren pada 2022. Hal ini mengingat HR selalu berurusan dengan data-data kandidat hingga karyawan.

Dengan data-driven, tim dapat memanfaatkan semua data tersebut untuk membuat keputusan, memonitor kinerja, dan memprediksi karyawan yang berpotensi. HR juga dapat menggunakan analisis data untuk menemukan korelasi metrik seperti tingkat pergantian karyawan, kenaikan gaji, dan waktu tunggu promosi, sehingga tim bisa membuat strategi retensi karyawan yang efektif.

3. RPA dan VR

Robotic process automation (RPA) dan virtual reality (VR) akan menjadi tren HR pada tahun ini dan tahun-tahun mendatang. Kedua alat tersebut mempermudah sebagai alat rekrutmen, onboarding, dan training karyawan.

RPA dapat secara otomatis memperbarui sistem pelacakan pelamar, membuat catatan karyawan baru untuk digunakan perusahaan, dan mengumpulkan dokumentasi yang diperlukan karyawan. Sementara VR, alat ini bisa digunakan HR kepada karyawan baru saat onboarding dan pelatihan agar lebih menyenangkan dan aman.

4. Chatbot

Chatbot merupakan teknologi yang diharapkan membantu Tim HR untuk meningkatkan pengalaman dan produktivitas karyawan. Biasanya, chatbot didukung oleh AI, yang bertugas mengotomatiskan pekerjaan berulang. Contohnya, menjawab pertanyaan karyawan tentang kebijakan perusahaan.

Ketika pandemi covid-19, perusahaan yang memiliki teknologi chatbot akan diuntungkan. Pasalnya, chatbot akan menyampaikan informasi sekaligus menjawab pertanyaan karyawan. Sehingga tim tetap menerapkan social distancing dan HR tak perlu mengulang-ulang jawaban.

Chatbot yang lebih canggih mampu menangani penyaringan kandidat tahap awal dan menjadwalkan wawancara. Dengan cara ini, HR dapat memfokuskan waktu pada tugas-tugas bernilai lebih tinggi, seperti mencari kandidat untuk posisi yang sulit segera diisi.

5. Blockchain

Tren blockchain tak hanya ada di mata uang kripto. Dengan metode desentralisasi, blockchain menyediakan keamanan jangka panjang yang sangat dibutuhkan oleh HR dalam mengelola data-data karyawan. Sehingga HR memastikan data tersebut aman dengan teknologi ini.

Tak hanya itu, blockchain juga bisa memverifikasi identitas kandidat dan riwayat pekerjaan, merampingkan manajemen kontrak, serta mengotomatiskan data-heavy seperti administrasi pajak dan penggajian.

6. Gig Economy

Pada 2018, Gallup menuliskan bahwa beberapa tahun ini, pasar tenaga kerja memiliki karakteristik hubungan kerja jangka pendek yang tidak tradisional dan independen. Hal itu akan memperkuat gig economy ke depannya.

Gig economy merupakan pekerjaan yang fleksibel, sementara, atau lepas (freelance). Pekerjaan ini melibatkan pekerja dengan klien atau customer yang dipertemukan melalui platform daring.

Pekerja yang menyukai sistem gig economy ini menilai ia lebih fleksibel dan memiliki otonomi saat bekerja. Sehingga ia merasakan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.

Tercatat lebih dari sepertiga atau 36% orang Amerika Serikat adalah bagian dari gig economy. Selain itu, 52% gig worker mengatakan bahwa mereka kehilangan pekerjaan atau mengalami pengurangan jam kerja karena pandemi.

Untuk mengatasi pergeseran gaya kerja ini, praktisi HR dan manajemen harus mencari cara baru untuk menjaga tenaga kerja mereka tetap gesit dan efisien. Misalnya menggunakan perangkat lunak atau aplikasi untuk memantau kinerja karyawan, menjalankan onboarding, serta menggunakan platform freelance guna mencari kandidat baru.

7. Employee Wellbeing

Pandemi adalah pelatuk bagi pimpinan maupun HR untuk menerapkan employee wellbeing. Ini adalah program kesejahteraan karyawan yang akan menjadi fokus HR ke depannya.

Meski employee wellbeing sudah ada sebelum pandemi. Namun pandemi menjadi momentum bahwa program ini akan nge-tren di tahun-tahun mendatang. Program wellbeing menawarkan bantuan kepada karyawan untuk lebih dasar terhadap kondisi fisik, mental, sosial, dan finansial. Sehingga karyawan lebih produktif dan terlibat di tempat kerja.

Contoh perusahaan yang menerapkan employee wellbeing adalah Nutrifood. Perusahaan makanan dan minuman tersebut memberikan serangkaian kegiatan yang mendukung kesejahteraan karyawan, seperti olahraga, memperhatikan asupan gizi, talkshow tentang pengelolaan keuangan, hingga pembahasan psikologis yang semuanya dilakukan secara daring saat pandemi.

8. Reskilling Karyawan

Salah satu efek pandemi adalah pembekuan rekrutmen untuk sementara waktu. Alhasil banyak perusahaan menunda rekrutmen kandidat baru dan sebagai gantinya mereka melakukan reskilling karyawan yang ada.

Tahun depan, reskilling masih menjadi tren HR. Sebelum memberikan reskilling ke karyawan, mereka akan menganalisis keterampilan masing-masing individu dengan keterampilan yang dibutuhkan oleh perusahaan.

Dalam survei Global Human Capital Trends 2020, 53% responden mengatakan bahwa setengah dan seluruh tenaga kerja perlu mengubah keterampilan dan kemampuan mereka dalam tiga tahun ke depanKarena lanskap bisnis berubah secara drastis dan diiringi pula dengan perubahan kebutuhan keterampilan dan kemampuan. Contoh Tim HR adalah memberikan pembelajaran dan pengembangan tentang digital kepada Tim Marketing, sehingga mereka bisa mendapatkan ilmu baru yang berguna untuk mendukung pekerjaannya.

9. Investasi Dalam Kepemimpinan

Investasi dalam kepemimpinan adalah salah satu tren HR di tahun mendatang. Alasannya, demografi telah berubah dan Generasi Y telah berada pada level kepemimpinan dan Generasi Z sudah memasuki dunia kerja.

Maka Tim HR harus memiliki strategi pengembangan kepemimpinan, misal komplementer kepemimpinan. Kepemimpinan komplementer melibatkan pasangan pemimpin dengan keahlian yang saling melengkapi sehingga mereka bisa berbagi tanggung jawab. Gaya kepemimpinan ini membantu tim tetap gesit dan efisien, meskipun ada gangguan di masa depan.

10. Fleksibilitas

Sekitar 79% eksekutif mengatakan mereka akan mengizinkan tim untuk membagi waktu antara bekerja jarak jauh dan di kantor. Jam kerja fleksibel menjadi tren sejak pandemi berlangsung. Meskipun sebelumnya sudah ada perusahaan yang menerapkan jam kerja tersebut.

Namun kini, fleksibilitas tak hanya terpaku pada jam kerja, melainkan tempat kerja (work from home dan/atau work from everywhere) serta pola pikir termasuk cara kerja (rekrutmen, wawancara, pelatihan, dan lainnya).

Tim HR pun “dituntut” bekerja fleksibel atau menyesuaikan diri dengan sistem baru. Sehingga Anda dan tim dapat melakukan berbagai macam tugas secara efisien serta menyusun strategi dan mengidentifikasi sistem yang selaras dengan tujuan utama perusahaan.

11. HR Outsourcing

Ada banyak perusahaan yang membuat divisi HR lebih efisien. Dampaknya, pasar HR outsourcing semakin kuat. Sebuah penelitian menunjukkan pasar global untuk HR outsourcing diperkirakan akan mencapai USD43,8 miliar pada 2024.

Peningkatan HR outsourcing dipengaruhi oleh peran HR yang meningkat dalam strategi perusahaan dan penggunaan teknologi HR yang makin tinggi. Selain itu, kompleksitas tunjangan dan peraturan ketenagakerjaan mendorong perusahaan untuk mencari layanan profesional HR di luar tenaga kerja mereka.

Namun bukan bukan berarti perusahaan akan menghilangkan posisi HR internal. Tim HR akan tetap penting dalam proses internal, seperti mengelola masalah karyawan.

12. Natural Language Processing

Natural language processing (NLP) merupakan cabang dari AI yang memungkinkan algoritma untuk menafsirkan bahasa tertulis dan lisan.

Algoritma NLP yang lebih canggih dapat menganalisis data secara konsisten, tanpa bias, dan mampu menguraikan maksud. Misal NLP berbasis AI dapat menganalisis komentar karyawan, baik positif maupun negatif. Sehingga HR dapat menggunakan data-data NLP untuk menyempurnakan strategi keterlibatan karyawan.

13. Memahami Generasi Muda

Keahlian yang harus dimiliki oleh praktisi HR adalah memahami generasi muda saat ini. Keahlian ini telah menjadi tren selama beberapa tahun ini dan tahun depan masih berlanjut.

Seperti yang telah disinggung pada nomor sembilan, Generasi Milenial (Y) dan Generasi Z telah menjadi bagian angkatan kerja di berbagai perusahaan.

Tim HR harus memahami bagaimana karakteristik Generasi Y dan Z, misal mereka memprioritaskan work life balance dan memilih cara kerja yang fleksibel. Dengan memahami mereka, Tim HR dan manajer dapat menyusun kebijakan perusahaan yang akan membantu mereka tetap terlibat dan bahagia.

14. Cara Baru Meningkatkan Retensi Karyawan

Berdasarkan laporan SHRM tentang Employee Benefits 2018, alasan perusahaan menawarkan lebih banyak benefit adalah 72% karena retensi karyawan, 58% menarik kandidat baru, dan 54% feedback karyawan.

Pandemi telah menyebabkan perubahan dalam cara karyawan memandang benefit, seperti tunjangan dan kompensasi. Saat ini, perusahaan banyak menawarkan benefit berupa perawatan kesehatan, layanan kesehatan mental, dan program kesehatan keuangan.

Memahami tren ini berguna untuk menawarkan benefit komprehensif dan kompetitif, sehingga perusahaan dapat meningkatkan retensi karyawan.

15. Meningkatkan Keterlibatan Karyawan

Bagaimana meningkatkan keterlibatan karyawan dengan gaya kekinian?

Salah satunya caranya dengan memperkuat strategi corporate social responsibility (CSR). Cara tersebut terbukti efektif, karena lebih banyak karyawan sekarang merasa diberdayakan untuk angkat bicara.

SHRM melaporkan karyawan merasa ingin melakukan lebih banyak hal dan membuat perbedaan di luar pekerjaan mereka. Program CSR yang kuat dapat menjadi alat rekrutmen yang efektif, karena karyawan mencari organisasi yang memberi mereka kesempatan menjadi sukarelawan.

Tren HR yang berkaitan keterlibatan karyawan adalah lebih banyak insight mengenai bagaimana perusahaan dijalankan (strategi dan implementasi) dan menerapkan praktik compassion.

16. Peran Ganda

Saat pandemi, Tim HR harus memiliki peran ganda. Tim tak hanya mengelola karyawan, juga menjadi Tim Penanganan Covid-19.

Jadi, tugas HR bertambah dalam penanganan covid-19. Misal memastikan operasional perusahaan menerapkan protokol kesehatan sesuai pemerintah, karyawan bekerja dengan aman, dan jika ada yang positif, HR melapor ke Satgas Covid-19, melacak kontak dekat, mengawasi proses disinfektan di kantor, hingga memantau karyawan yang sedang menjalankan isolasi mandiri maupun perawatan medis.

17. Performance Management Berkelanjutan

Tren HR ini sangat menarik. Sekarang tak sedikit perusahaan yang menerapkan penilaian performance management berkelanjutan.

Alhasil Tim HR mengubah strategi performance management berkelanjutan dengan memastikan bahwa organisasi memiliki budaya komunikasi dan kolaborasi terbuka.

Hal tersebut dikarenakan karyawan ingin mendapatkan feedback dan pembinaan langsung pada kinerjanya. Sehingga ia bisa mengembangkan kinerja profesional yang baik untuk karier masa depan. Sedangkan HR juga mendorong manajer untuk membimbing anggota timnya untuk peningkatan kinerja sekaligus pembelajaran keterampilan baru.

18. Meningkatkan Soft Skill

Hard skill memang penting. Namun soft skill dapat menunjang pekerjaan pada masa mendatang.

Bagi Tim HR, tak ada salahnya Anda meningkatkan soft skill mengingat dinamika bisnis yang berubah begitu cepat. HR perlu meningkatkan keterampilan dalam komunikasi, persuasi, dan kemampuan beradaptasi.

Soft skill tersebut tak hanya berguna bagi diri sendiri maupun tim, melainkan juga bermanfaat ketika harus menyelesaikan masalah antar karyawan.

Penutup

Sejak 2020, dunia bisnis telah berubah atau menyesuaikan diri dengan pandemi. Perubahan tak hanya dari sisi produk dan jasa, melainkan pengelolaan sumber daya manusia.

Alhasil tak sedikit praktisi HR mengadopsi atau menjalankan cara baru untuk mempertahankan produktivitas dan efisiensi perusahaan. Hal tersebut berdampak cukup signifikan sepanjang 2021 dan akan berlanjut pada 2022.

Dengan mengikuti tren HR, para praktisi dapat mengantisipasi perkembangan teknologi serta perubahan industri dan situasi –termasuk pandemi dan demografi–, sehingga dapat menyesuaikan dengan bisnis perusahaan untuk menghadapi new normal saat pandemi covid-19.

Comment