10 Alasan Karyawan Resign dan Cara Mencegahnya | | HR NOTE Indonesia

10 Alasan Karyawan Resign dan Cara Mencegahnya

Bagi HRD, mendengar ada karyawan yang hendak mengundurkan diri bukanlah hal yang asing lagi. Karyawan resign bisa dibilang memang sebuah proses alami yang terjadi di setiap perusahaan atau organisasi. Saat karyawan mengajukan permohonan resign, biasanya terdapat alasan yang menyertainya.

“Kenapa karyawan saya memutuskan resign?” atau, “Apa sebenarnya yang membuat ia mengundurkan diri?” adalah dua pertanyaan yang mungkin muncul di kepala HR Manajer, atau leader dari karyawan bersangkutan setiap kali menerima permohonan pengunduran diri karyawan.

Kali ini, HR NOTE akan membagikan sepuluh alasan yang biasanya dikeluarkan karyawan saat mengajukan resign. Diharapkan dengan hal tersebut dapat membantu HRD dan manajer untuk memahami kondisi perusahaan masing-masing dan melakukan upaya perbaikan untuk mengurangi turnover pekerja.

Pentingnya Mengetahui Alasan Karyawan Resign 

Di artikel sebelumnya, pembaca HR Note telah mengenal tentang resign sebagai proses alamiah yang terjadi dalam kehidupan organisasi. Karena dianggap sebagai proses alamiah, maka para HRD seringkali hanya memiliki strategi untuk melakukan perekrutan baru untuk mengganti karyawan yang mengajukan permohonan  pengunduran diri.

Padahal, penelitian yang dilakukan oleh Reyes, dkk (2019:15) menyebutkan bahwa pergantian karyawan seringkali berdampak buruk bagi jalannya organisasi karena memengaruhi efisiensi, produktivitas, profitabilitas, dan inovasi di tempat kerja. Ini didukung oleh sebuah penelitian yang mengungkapkan bahwa mengganti karyawan bertalenta tinggi akan merugikan perusahaan sebesar 200% dari gaji tahunan karyawan [Marvin Russel 2018 dikutip dalam Medium].

Itulah sebabnya, penting bagi HRD serta manajer untuk memahami apa yang biasanya menjadi faktor resign seorang karyawan dan melakukan upaya improvement berdasarkan alasan tersebut. Mari kita bahas satu persatu alasan karyawan mengundurkan diri di bawah ini.

10 Alasan yang Sering Digunakan Karyawan Saat Mengajukan Resign

Klotz dan  Bolino (2019) menyarankan agar para profesional HRD perlu menemukan terlebih dahulu penyebab karyawan mengajukan pengunduran diri, dan mempertimbangkan implikasinya kepada organisasi yang lebih luas, sebelum perusahaan  berencana untuk mengganti SDM yang hilang ini dengan perekrutan baru.  

Di bawah ini, HR Note menyajikan sepuluh alasan pengunduran diri (resign) yang seringkali diajukan oleh karyawan.

1. Tidak Ada Pengembangan Karir

Menurut Willis Towers Watson, lebih dari 70 % karyawan dikategorikan sebagai “high-retention-risk” atau karyawan dengan tingkat risiko retensi tinggi karena mereka tidak melihat adanya tangga karir yang jelas yang disediakan oleh perusahaan.

2. Waktu kerja yang berlebihan

Jumlah jam kerja yang melebihi waktu kerja normal sehingga mengakibatkan karyawan harus melakukan overtime setiap hari termasuk weekend dapat menyebabkan kelelahan dan stres dalam menyelesaikan pekerjaan.

Ini sejalan dengan survei yang menyatakan bahwa 42% generasi millennial, yang telah bekerja di 2 hingga 4 perusahaan yang berbeda, mengatakan bahwa pekerjaan mereka menimbulkan stres yang sangat besar, dan 36% merasa pekerjaan mereka berdampak negatif pada kesehatan mereka.

Akibat kelelahan dan faktor ancaman kesehatan maka waktu kerja yang berlebihan menjadi urutan kedua dari alasan orang untuk resign.

3. Hasil Kerja Tidak Mendapatkan Apresiasi dari Pemimpin Perusahaan

Survei yang dilakukan oleh Gallup Workplace menyatakan melihat bahwa 76% karyawan yang tidak merasa dihargai di tempat kerja sedang mencari peluang kerja lain. Para karyawan yang tidak merasa dikenali memiliki probabilitas  dua kali lebih mungkin untuk mengatakan mereka akan berhenti dalam satu tahun.

4. Suasana Kerja yang Tidak Menyenangkan

Jika mereka merasa perusahaan tempat bekerja sudah mulai terasa tidak nyaman, maka bisa jadi mereka akan tidak betah dan akan memutuskan untuk resign. 30% karyawan akan mempertimbangkan untuk berhenti jika mereka tidak bahagia di tempat kerja, dan 79% karyawan mengatakan atasan mereka tidak peduli dengan tingkat kebahagiaan mereka.

5. Tidak Didukung oleh Infrastruktur yang Memadai untuk Bekerja

Bersumber dari Jive Communications ditemukan bahwa 70% dari 2000 karyawan millennial menyatakan alasan mereka berhenti dari perusahaan mereka bekerja disebabkan oleh minimnya infrastruktur khususnya yang mampu mengikuti perkembangan teknologi.

6. Budaya Organisasi yang Tidak Mendukung Fleksibilitas & Kreativitas

Dari survei yang dilakukan oleh hayes.com ditemukan bahwa 43 % karyawan dari total 2000 responden  akan meninggalkan perusahaan yang memiliki budaya hierarkis dan kaku serta tidak mendukung kreativitas maupun fleksibilitas karyawan dalam bekerja.  

7. Visi Perusahaan Tidak Jelas

Salah satu kemampuan karyawan terbaik adalah menganalisa, merasakan, dan menilai situasi perusahaan secara langsung dari dalam. Dari pandangan itulah, mereka menilai apakah sebuah perusahaan mampu mencapai visi dan misi yang ditentukan.

8. Job Description Tidak Sesuai dengan yang Disepakati

Setelah karyawan menandatangani kontrak kerja yang mencantumkan deskripsi tugas dan tanggung jawab pekerjaan beserta upah yang disepakati, perusahaan seringkali memberikan tambahan beban pekerjaan yang tidak sesuai dengan isi kontrak yang telah disepakati.

Alhasil, para karyawan merasa tidak antara beban kerja dan gaji yang diperoleh menjadi tidak seimbang sehingga mereka memilih untuk resign.

Artikel terkait: Job Description: Penjelasan dan Cara Membuatnya

9. Ingin Melanjutkan Studi

Seiring dengan adanya tuntutan SDM yang unggul di era industri 4.0 maka beberapa karyawan merasa bahwa keterampilan dan keahlian yang dimiliki membutuhkan studi lebih mendalam hingga lebih terspesialisasi. Akibat sulitnya membagi waktu antara pekerjaan dan studi maka beberapa karyawan  menjadikan alasan melanjutkan studi sebagai alasan resign.

10. Faktor Keluarga

Alasan ini seringkali diungkapkan oleh para karyawan wanita yang sedang memiliki anak usia balita namun mereka sulit mendapatkan orang kepercayaan untuk menjaga dan mengasuh selama mereka bekerja di luar rumah.

3 – 12 Bulan Bekerja Lalu Resign, Apa yang Salah?

Hicks (2019) mengungkapkan bahwa 90 hari pertama pekerjaan baru menandai banyak permulaan, tetapi tidak ada yang menginginkan atau mengharapkannya menjadi awal dari akhir. Namun penelitian menunjukkan bahwa 28% karyawan berhenti dalam tiga bulan pertama bekerja. Apakah kejadian ini salah? Memang tidak ada yang aneh dari fenomena ini, mengingat pada masa 3 bulan adalah masa percobaan.

Tetapi di satu sisi, HRD kembali harus melakukan proses rekrutmen, produktivitas terganggu karena posisi kembali kosong, delay pekerjaan, dan lain-lain.

Berikut adalah beberapa kemungkinan penyebab karyawan mengundurkan diri dalam kurun waktu yang pendek sebagaimana dirangkum oleh CIPHR.

1. Proses Onboarding atau Orientasi yang Buruk

Proses orientasi karyawan baru dapat membuat atau menghancurkan pengalaman mereka di perusahaan Anda, dan memainkan peran utama dalam keputusan mereka untuk tetap bertahan atau mencari peluang lain.

Faktanya, sebuah studi dari Society for Human Resources Management menemukan bahwa 69% karyawan yang berpartisipasi dalam program orientasi yang dirancang dengan baik lebih cenderung bertahan dalam pekerjaan mereka hingga tiga tahun.

Ini termasuk bagaimana Anda memberi perhatian seputar orientasi kerja, termasuk training, kepada karyawan baru.

2. Adanya Pergeseran atau Perubahan Peran secara Signifikan

Ini terjadi ketika karyawan baru mendapati dirinya melakukan tugas atau menjalankan peran yang berbeda dari apa yang ditawarkan di awal, dan bukan sesuatu yang mereka inginkan. Sangat dapat dimengerti jika karyawan memutuskan untuk meninggalkan perusahaan bahkan jika ia baru bekerja beberapa bulan.  

3. Ketidakcocokan dengan Atasan atau Manajer

Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa para karyawan baru tidak meninggalkan pekerjaan mereka tapi mereka meninggalkan atasannya. Ini artinya, kepribadian dan gaya kepemimpinan seorang manajer sangat berperan bagi karyawan baru untuk menyukai atau tidak menyukai pekerjaan mereka.

5 Tips Efektif untuk Mencegah Karyawan Resign

Jika kita telah mengetahui dan memahami alasan karyawan mengundurkan diri, maka diadaptasi dari penelitian yang dilakukan oleh Reyes dkk (2019) maka perusahaan dapat melakukan beberapa tips berikut untuk mencegah karyawan mereka resign. Diharapkan dengan tips berikut dapat membekali perusahaan untuk mempertahankan, bahkan menaikkan rasio retensi karyawan dan tentu saja  kesejahteraan karyawan.

1. Rancang prosedur onboarding yang baik

Proses Onboarding harus mencakup rencana terperinci untuk hari, minggu, dan bulan pertama karyawan. Proses wawancara harus memberikan gambaran tentang organisasi yang baru dipekerjakan, dan beberapa hari pertama akan memberitahu mereka apakah mereka membuat keputusan yang tepat dengan mengambil posisi tersebut atau tidak. 

2. Memberi karyawan roadmap untuk jenjang karir

Motif nomor satu yang dimiliki orang untuk berganti pekerjaan adalah peluang karir. Itu berarti sangat penting bagi HRD untuk menguraikan dan mengomunikasikan pencapaian jangka pendek dan tujuan jangka panjang.

Cari tahu apa yang mereka pikirkan: Ajukan pertanyaan, seperti, “Apakah Anda senang dengan tanggung jawab Anda saat ini?” “Apakah ada tugas atau area di luar deskripsi pekerjaan Anda saat ini yang ingin Anda jelajahi?”

Sebagai bagian dari roadmap tersebut, berikan karyawan rencana kerja 30, 60, dan 90 hari, serta wawasan tentang potensi pertumbuhan mereka, termasuk informasi tentang bagaimana dan kapan mereka dapat menerima tanggung jawab dan promosi baru.

Tetapkan ekspektasi yang jelas dan komunikasikan hal ini secara rutin.

3. Tinjau kembali dan tawarkan skema bonus yang benar-benar mereka inginkan.

Menurut sebuah survei, 79% karyawan lebih memilih tunjangan baru atau tambahan dan kenaikan gaji atau beberapa skema benefit seperti (1) Asuransi kesehatan; (2) Bonus kinerja; (3) Rencana pensiun; dan (4) Jadwal fleksibel, termasuk kemampuan untuk bekerja dari rumah.

Selama musim pandemi, anggarkan lebih banyak untuk tunjangan kuota internet dan asuransi kesehatan namun jika anggaran terbatas, coba berikan lebih banyak waktu istirahat.

4. Buatlah jadwal untuk memberikan kenaikan gaji, promosi dan pujian.

Meskipun uang mungkin bukan alasan utama mengapa orang berganti pekerjaan, tetapi kenaikan gaji rutin tidak hanya dihargai; tetapi diharapkan.

Separuh dari karyawan berharap menerima kenaikan gaji atau kenaikan biaya hidup dalam 12 bulan ke depan. Mereka juga mengharapkan apresiasi dalam bentuk pujian atau promosi dari pemimpin atau atasan mereka atas capaian kinerja mereka atau hal apa pun yang dilakukan dengan memuaskan.

Upayakan kegiatan ini rutin dijadwalkan baik pada  awal tahun atau pada hari ulang tahun karyawan. Ciptakan lingkungan yang membina hubungan baik antar sesama tim kerja karena 60%  orang mengatakan rekan kerja meningkatkan performa pekerjaan mereka.

5. Pahami tanda-tanda ketika karyawan Anda memiliki niat mengundurkan diri.

Dikutip dari laman INC.com ketika karyawan Anda mulai menolak untuk  berkomitmen pada proyek jangka panjang, karena akan mencegahnya untuk meninggalkan perusahaan, itulah salah satu alert bagi Anda dan para HRD.

Tindakan ini mungkin diikuti dengan tingginya tingkat absensi, menurunnya produktivitas kerja, dan keengganannya untuk berpartisipasi dalam rapat atau pertemuan rutin.

Lebih lanjut, seorang pakar konsultan karir, Jennifer Winter dalam postingannya di Muse, mengatakan bahwa ketika Anda melihat seorang karyawan terus-menerus di LinkedIn, memang terlihat tidak berbahaya. Namun intensitas yang tiba-tiba dalam koneksi baru, bergabung di grup baru, atau membagikan artikel-artikel dapat menjadi indikasi bahwa karyawan Anda mencoba meningkatkan jaringan atau  profil sosialnya.

Penutup

Dari beberapa uraian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa budaya organisasi, budaya, lingkungan kerja, dan proses orientasi karyawan baru yang buruk atau tidak sesuai dapat menyebabkan karyawan mengundurkan diri.

Pergantian karyawan juga menimbulkan dampak negatif bagi jalannya organisasi seperti inefisiensi, produktivitas, profitabilitas, inovasi dan citra perusahaan di mata stakeholders dan pemegang saham.

Untuk mencegahnya maka dibutuhkan beberapa strategi dan mitigasi sehingga menimbulkan kepuasan kerja dari karyawan. Kepuasan kerja adalah penentu utama dari pengunduran diri dan niat pindah kerja. Oleh karena itu, jika strategi retensi yang kuat dan tepat diterapkan, maka inefisiensi biaya akibat mahalnya biaya perekrutan, pelatihan dan penempatan karyawan baru dapat dihindari.

Comment