10 Strategi HR Menyelesaikan Konflik Karyawan | | HR NOTE Indonesia

10 Strategi HR Menyelesaikan Konflik Karyawan

Konflik karyawan di kantor tidak dapat dihindari. Baik konflik yang menyangkut pekerjaan maupun masalah personal.

Namun apapun konfliknya, hal tersebut meninggalkan kesan buruk dan menyakitkan bagi karyawan yang terlibat. Contohnya, sikap negatif seorang karyawan kepada rekan kerjanya, jika hal itu terjadi berulang kali dan tak ada penyelesaian bisa memicu kontak fisik atau penyerangan. 

Dampaknya, konflik dapat memengaruhi kinerja tim sekaligus membahayakan karyawan lain. Lalu bagaimana sikap HR?

Pada dasarnya, HR berperan sebagai penengah dalam situasi apapun, seperti konflik antar karyawan maupun perselisihan karyawan dengan manajemen perusahaan. Namun untuk menyelesaikan konflik, Anda perlu strategi agar karyawan yang terlibat perselisihan dapat memperbaiki diri dan bekerja dengan baik.

Konflik Karyawan

Konflik antar karyawan dapat terjadi di perusahaan mana pun. Ada konflik yang mudah diidentifikasi, ada pula yang tak terlihat tetapi lama-lama mengakibatkan kinerja tim memburuk.

Konflik karyawan merupakan perselisihan atau pertentangan kepentingan. Konflik terjadi karena ketidakcocokan maupun miskomunikasi antar individu.

Di tempat kerja, di mana orang-orang bekerja bersama, konflik adalah kejadian normal dan alami. Meski demikian konflik di tempat kerja menurunkan motivasi kerja, produktivitas berkurang, dan meningkatkan ketidakhadiran.

Konflik bisa berupa perbedaan pendapat “biasa” ketika anggota tim brainstorming, diskriminasi, pelecehan, dan lainnya. Namun secara umum, ada dua macam konflik di tempat kerja, yaitu:

  • Konflik sesama rekan kerja

Tempat kerja ialah sarang konflik antar karyawan. Ketika karyawan tidak akur dan ketegangan meningkat, maka produktivitas kerja akan terdampak.

Misal seorang karyawan menyerang rekan kerjanya yang terlihat tidak kompeten atau seseorang tidak disukai karena kepribadiannya. Hal itu berpengaruh pada kinerja karyawan dan menghambat tujuan perusahaan.

Jika Anda mengabaikan konflik karyawan, bukan tak mungkin hal tersebut akan meledak, menyebabkan stress berkepanjangan, bahkan mengarah ke tindakan disipliner atau pemutusan hubungan kerja (PHK).

  • Konflik karyawan dengan manajemen

Biasanya, konflik dengan manajemen terjadi akibat komunikasi yang tidak efektif. Para karyawan akan frustrasi dan kinerja bisa menurun, ketika mereka tidak dilibatkan tentang keputusan dan program baru.

Namun konflik ini bisa dihindari, caranya HR dan manajemen melibatkan karyawan dalam setiap perubahan yang akan terjadi di perusahaan. Sampaikan informasi dengan detail, jelaskan bagaimana mereka bisa melaluinya, dan tawarkan bantuan jika mereka membutuhkannya.

Penyebab Konflik Karyawan

Seperti yang telah disinggung di atas, konflik bisa terjadi di perusahaan manapun. Namun penyebab konflik dapat diklasifikasikan menjadi empat hal, berikut ini:

Komunikasi yang buruk

Komunikasi yang efektif sangat penting pada semua organisasi. Namun komunikasi yang buruk dapat membahayakan kinerja karyawan, bahkan mempertaruhkan pekerjaannya.

Perbedaan kepribadian

Perbedaan kepribadian antar karyawan dapat meningkatkan kinerja tim atau sebaliknya, memicu konflik. Makin cepat HR mengidentifikasi perbedaan kepribadian akan cepat pula menerapkan solusi untuk menghindari konflik.

Perbedaan nilai

Perbedaan nilai yang berkaitan dengan etos kerja dan gaya kerja dapat menimbulkan kesalahpahaman serta memperbesar konflik. Misal perbedaan nilai antara Generasi X dan Generasi Z. HR dapat mengetahui kepribadian dan nilai karyawan ketika proses rekrutmen.

Persaingan

Kantor adalah tempat orang-orang menantang diri mereka sendiri untuk tumbuh dan terkadang menganggap rekan kerja sebagai pesaing.

Jika persaingan dilakukan dengan cara sehat, maka bermanfaat bagi semua orang, termasuk bisnis. Tetapi ketika persaingan melibatkan dendam dan ego pribadi, disertai dengan sabotase dan penghinaan satu sama lain akan menghasilkan konflik.

5 Dampak Konflik Karyawan

Konflik karyawan sangat berdampak pada kelangsungan bisnis maupun kesejahteraan karyawan. Seperti studi tentang konflik di tempat kerja yang dilakukan oleh CPP Inc dan penerbit Myers-Briggs Assessment and the Thomas-Kilmann Conflict Mode Instrument pada 2008.

Hasilnya, karyawan di Amerika Serikat menghabiskan 2,8 jam per minggu untuk menangani konflik. Jam tersebut dihitung sebagai pemborosan 385 juta hari kerja dan sekitar USD359 miliar jam yang dibayar. Dampak lainnya adalah:

1. Menurunkan produktivitas kerja

Baik konflik antar karyawan maupun dengan manajemen, keduanya berpeluang menurunkan produktivitas kerja.

Ketika dua orang berkonflik, maka membuat mereka malas bekerja atau sering absen, memicu gosip pada karyawan lain, dan kurang fokus bekerja. Akibatnya produktivitas menurun, pendapatan berkurang, dan target perusahaan tak tercapai.

2. Mengganggu alur kerja

Selain produktivitas turun, konflik karyawan juga mengganggu alur kerja. Seperti gagal menangani proyek atau deadline kerja molor.

Jika perusahaan bekerja sama dengan pihak lain (klien) dan karyawan yang berkonflik tidak memenuhi deadline, bukan tak mungkin, klien memutuskan kerjasama dengan perusahaan. Hal itu membuat perusahaan kehilangan klien.

3. Masalah kesehatan

Konflik di tempat kerja dapat menyebabkan karyawan stress. Stress mengganggu kehidupan profesional maupun personal, termasuk lebih gampang sakit.

Masalah kesehatan yang muncul seperti susah tidur, pencernaan terganggu, pusing, menyendiri, tidak percaya diri, dan masih banyak lagi. Imbasnya karyawan kerap izin sakit dan perusahaan mengeluarkan dana kesehatan.

4. Memicu kekerasan

Ketika konflik karyawan meningkat dan tanpa mediasi, maka dapat memicu kekerasan. Misal adu fisik atau melempar benda ke arah lawan. Peristiwa ini bisa mengakibatkan masalah hukum bagi karyawan maupun perusahaan.

5. Turnover

Karyawan yang makin stress terhadap konflik dengan rekan kerjanya dapat berhenti bekerja saat itu juga. Padahal banyak tugas-tugas yang harus ia kerjakan. Bila tak ada mediator dalam konflik, maka perusahaan mendapatkan angka turnover yang tinggi.

10 Strategi HR Menyelesaikan Konflik Karyawan

Tak ada konflik yang tak bisa diselesaikan. Jika perusahaan ingin menyelesaikan konflik karyawan, PHK bukan satu-satunya jalan. Tim HR perlu memiliki strategi penyelesaian konflik.

1. Memahami masalah

Sebelum memahami masalah, Anda harus paham bahwa setiap manusia itu unik. Seseorang memiliki kepribadian dan nilai hidup berbeda dari orang lain. Oleh karena itu, jangan berasumsi macam-macam.

Untuk memahami konflik yang muncul, Anda bisa mencari tahu apa yang menjadi penyebabnya. Misal apakah ada perbedaan gaya kerja? Apakah beban kerja membuat stress? Apakah proyek yang sedang dikerjakan membuat karyawan bekerja dengan deadline ketat? Apakah karyawan lama menindas karyawan baru?

Memahami awal mula perselisihan sangat penting untuk menyelesaikan sekaligus menghindari konflik di masa depan.

2. Mendengarkan kedua belah pihak

Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan. Mengambil keputusan terlalu cepat akan lebih merugikan daripada menguntungkan, apalagi jika keputusan tersebut salah dan makin mengasingkan karyawan yang terlibat.

Anda perlu menggali informasi dari kedua belah pihak. Dengan demikian, Anda punya waktu sedikit lebih lama untuk mengevaluasi semua informasi. Dengarkan pula sumber yang memihak keduanya.

3. Fokus pada penyelesaian masalah

Tak masalah jika Anda tidak merasa klop dengan salah satu pihak yang berkonflik. Namun bukan berarti Anda menyalahkannya. Fokus pada penyelesaian masalah, bukan hal lain. Jika setelah analisis menyeluruh, individu tersebut diketahui bermasalah, maka fokuslah padanya, masalah yang timbulkan, serta penyelesaiannya.

4. Tetap netral

Syed Irfan Ajmal, Growth Manager di Printex Graphics, memberikan tip dalam menangani konflik karyawan, yaitu:

  • Tidak ikut campur, jika tak perlu. Karena Ajmal ingin karyawannya mandiri dalam berkomunikasi dan memiliki resolusi konflik dengan rekan kerjanya.
  • Jika konflik berlarut-larut, maka ia akan membantu penyelesaian masalahnya.
  • Tetap bersikap netral. Caranya, dengan mendengarkan cerita kedua belah pihak untuk mencari solusi dengan melibatkan karyawan yang sedang bertikai.

5. Meninjau kebijakan

Tinjau kembali kebijakan perusahaan mengenai konflik karyawan. Berpegang teguh pada kebijakan perusahaan dapat menjadi cara praktis untuk tetap objektif dan pastikan semua karyawan mematuhi kebijakan tersebut.

Jika perusahaan belum memiliki kebijakan, ada baiknya Tim HR dan manajemen membuatnya sebagai buku saku karyawan. Salah satu isi buku adalah Jadi, buku pegangan Anda harus berisi kebijakan ini, serta kebijakan terhadap pelecehan atau diskriminasi, cara mengajukan keluhan, sanksi, dan resolusi konflik.

6. Menawarkan solusi

Setelah hal-hal di atas telah Anda lakukan, selanjutnya tawarkan solusi kepada pihak-pihak yang berkonflik. Misal mengatur ulang tim atau memberikan mereka waktu untuk saling mengungkapkan perasaan dan hal-hal yang mereka pikirkan.

7. Rekonsiliasi

Jika solusi telah disepakati, maka strategi berikutnya adalah rekonsiliasi. Pertemukan kedua pihak serta mintalah satu pihak berbicara hingga selesai dan tak ada yang memotong pembicaraannya. Setelah itu, pihak lain melakukan hal yang sama.

Biarkan kedua pihak mengekspresikan sudut pandang mereka dan Anda pun boleh berbagi perspektif. Hal ini membantu mereka menunjukkan masalah yang menyebabkan konflik.

8. Melibatkan dalam proyek

Tak ada salahnya melibatkan karyawan yang pernah berkonflik dalam satu proyek. Dorong mereka untuk bersikap profesional dan memberikan hasil maksimal pada pekerjaan, sehingga kinerja perusahaan meningkat.

9. Catat sebagai database

Catat konflik karyawan sebagai database Tim HR. Dokumentasikan semua insiden di tempat kerja, catat siapa yang terlibat konflik, apa masalah dan perilaku yang ditimbulkan, kapan dan di mana terjadinya, bagaimana sikap keduanya, serta solusi yang disepakati.

Catatan tersebut bertujuan untuk membantu HR memantau perilaku karyawan dari waktu ke waktu, melihat berdampak negatif pada perusahaan, dan melindungi bisnis jika karyawan membawa kasusnya ke pengadilan.

10. Memberikan contoh

Budaya perusahaan tak hanya untuk karyawan, melainkan semua orang yang bekerja di perusahaan tersebut, termasuk pimpinan. Budaya perusahaan terlihat dari sikap pemimpinnya, baik di dalam maupun di luar pekerjaan, sehingga ia menjadi contoh bagi para karyawan.

Memimpin dengan memberikan contoh dapat memperkuat dan menjunjung tinggi nilai, kebijakan, dan pedoman perusahaan secara objektif

Penutup

Berkonflik membuang banyak energi, yang seharusnya bisa digunakan untuk bekerja. Begitu juga dengan menyelesaikan konflik. Namun konflik tak dapat dihindari.

Meskipun tak semua strategi akan berhasil, tetapi HR harus terus mempelajari bagaimana menghadapi konflik karyawan atau kehilangan karyawan terbaik di perusahaan. Pastikan HR dan manajemen menangani konflik dengan tepat, sehingga semua karyawan merasa bahagia di tempat kerja serta mendorong mereka untuk saling menghargai perbedaan.

Comment