Ciptakan Sikap Empati Di Tempat Kerja, Ini Tipsnya | | HR NOTE Indonesia

Ciptakan Sikap Empati Di Tempat Kerja, Ini Tipsnya

mindfulness

Tak jarang, dalam proses penerimaan kerja, sikap dan sifat seorang kandidat menjadi faktor penentu yang tak kalah penting dengan capaian karier dan rentetan pengalaman kerjanya yang menjanjikan.

Mengapa user dan recruiter seringkali lebih menitikberatkan sifat dan sikap seorang kandidat dalam proses interview?

Alasannya, karena kondusif atau tidaknya sebuah lingkungan kerja bergantung pada sifat dan perilaku karyawan, terutama pada karyawan level mid-senior yang telah memiliki beberapa staf junior di bawah pengawasannya.

Empati adalah salah satu keterampilan non-teknis yang jarang dibicarakan. Padahal perannya sangat vital mempengaruhi kondisi suasana kerja, yang pada akhirnya juga mempengaruhi psikis dan performa kerja karyawan.

Atasan yang sulit berempati kepada staff di bawahnya, akan membuat karyawan tidak betah, enggan berinterakasi, apalagi berkomunikasi secara terbuka dan jujur. Karyawan akan mudah stress dan akhirnya bekerja setengah hati.

Sikap Empati di Tempat Kerja

Empati berbeda dengan simpati. Menurut Daniel Goleman dalam buku Working with Emotional Intelligence, empati adalah menyadari perasaan, kebutuhan, dan kekhawatiran orang lain.

Sedangkan Tim Michin berpendapat bahwa empati bersifat intuitif, namun demikian, empati tetap dapat dikembangkan secara intelektual.

Lantas apa bedanya dengan simpati?

Simpati adalah ketika Anda turut merasa sedih ketika rekan kerja sedih lantaran ditimpa musibah. Sedangkan empati adalah ketika ada turut merasakan perasaan yang dialami seseorang, hingga seolah-olah Anda berada di situasi yang sama.

Perbedaan antara simpati dan empati, boleh dibilang terletak pada level intensitas yang dialami dan dirasakan seseorang.

Bagaimana contoh empati dalam lingkungan kerja?

Ketika seorang junior staff harus datang terlambat karena orang tuanya mendadak mesti dilarikan ke rumah sakit, seorang atasan yang mampu berempati akan memaklumi keterlambatannya.

Sedangkan atasan yang tak mampu berempati, akan bersikap sebaliknya. Memarahi dan menuntut sang junior staff untuk bersikap profesional, tak peduli musibah apa yang menimpanya.

Empati juga diperlukan dalam hubungan sesama karyawan. Dua karyawan yang saling berempati satu sama lain, cenderung mampu bersikap positif satu sama lain. Saling mendukung dan membantu, alih-alih saling menjatuhkan.

Kenali Juga Tipe-tipe Empati

Lagi-lagi menurut Daniel Goleman, sebuah leadership pada akhirnya membutuhkan kemampuan pimpinan usaha untuk berempati kepada seluruh karyawan yang bekerja untuknya.

Kepimpinan tanpa empati akan membuat perusahaan mempekerjakan manusia layaknya mesin.

Berikut adalah tipe-tipe empati dalam lingkungan kerja menurut Goleman.

  • Empati kognitif

Empati kognitif berarti mampu mengerti orang lain, atau menyadari perasaan dan emosi orang lain. Empati kognitif tidak melibatkan keterlibatan emosi Anda kepada orang lain. Jangkauan empati kognitif hanya sebatas mengerti dan menyadari, tidak lebih.

  • Empati emosional

Empati emosional melibatkan perasaan dan emosi Anda secara personal ketika Anda menyaksikan orang lain tertimpa masalah.

Anda turut merasakan kegelisahan yang sama ketika orang lain menunjukkan tanda-tanda stress. Namun, empati itu akan berlanjut dengan Anda berupaya menenangkan dan membantu orang lain agar mereka merasa lebih baik.

  • Empati kasih sayang (compassionate)

Empati kasih sayang adalah tipe empati yang melibatkan emosi Anda, namun juga dibarengi dengan kepedulian yang diwujudkan lewat tindakan nyata untuk membantu orang yang bersangkutan.

Contoh Sikap Empati di Tempat Kerja

Ada banyak contoh bagaimana empati terlihat dalam sikap seseorang di lingkungan kerja. Empati dapat disaksikan di kalangan karyawan, atau antara pimpinan terhadap karyawan.

Misalnya, ketika seorang customer service sebuah bank yang menerima nasabah yang kurang sopan, berteriak-teriak menimbulkan kericuhan, dan bersikap kasar terhadap customer service tersebut.

Seorang manajer dan rekan kerja lantas berempati kepadanya, mereka tak segan-segan turun tangan ikut terlibat membantu customer service tersebut menangani nasabah, alih-alih membiarkannya menghadapi konflik seorang diri.

Contoh lain, ketika manajer bersedia mendengarkan keluh kesah karyawan yang menghadapi kesulitan mencapai target penjualan. Sang manajer turut merasakan stress dan berinisiatif mengajak sang karyawan makan siang bersama untuk memperbaiki mood-nya.

Atau ketika seorang manajer terpaksa harus pulang lebih lama karena para atasan membebaninya tugas tambahan. Karyawan yang memiliki empati, akan merasa iba dan putus asa, lantas sukarela menawarkan bantuan agar tugas itu rampung lebih cepat.

Contoh lainnya lagi, saat pimpinan perusahaan berinisiatif memasukkan layanan kesehatan mental dalam jaminan asuransi yang didapat karyawan, tak lama setelah pandemi COVID-19 menyebar dan mempengaruhi kondisi psikis banyak orang.

Pimpinan yang mampu menyadari kegelisahan dan kesulitan karyawan, akan terbuka menerima keluhan, dan memberikan solusi sesuai kapasitasnya untuk membantu karyawan kembali tenang.

Contoh terakhir, ketika seorang karyawan menilai ada kesalahan dan tata laksana yang kurang efektif dalam tim. Kemudian manajer dan rekan kerja lainnya bersedia mendengarkan tanpa menyela dan membela diri.

Lalu mereka berdiskusi secara sehat menemukan solusi yang tepat tanpa menghakimi sang karyawan.

Manfaat Menerapkan Empati di Tempat Kerja

Kurangnya empati antara sesama karyawan maupun antara tim manajemen dengan karyawan berpotensi menimbulkan konflik. Membuat suasana kerja yang tidak sehat dan toxic. Juga berpotensi membuat level turnover yang tinggi.

Apa manfaat memiliki kemampuan berempati di dunia kerja?

1. Meningkatkan potensi creative thinking

Pimpinan yang mampu berempati secara langsung menghadirkan suasana kerja yang menyenangkan, memotivasi karyawan untuk bebas menyuarakan pendapat dan ide tanpa merasa terancam, ataupun diabaikan.

2. Memperbaiki kualitas leadership

Leadership yang baik adalah cara memimpin yang turut memprioritaskan kesejahteraan karyawan. Tak hanya dari sisi remunerasi, namun juga dari sisi psikologis.

Leadership berbasis empati membuat karyawan nyaman dan betah bekerja. Hingga akhirnya memotivasi karyawan untuk berkontribusi secara maksimal.

3. Memperbaiki layanan pelanggan

Perusahaan yang mengerti cara berempati akan lebih mampu menampung aspirasi dan keluhan pelanggan. Mereka lebih mampu menunjukkan kepedulian dan pengertian terhadap pelanggan.

Alih-alih menganggap pelanggan hanya sebagai sumber pendapatan, perusahaan yang berempati justru menganggap pelanggan adalah raja yang mesti diperlakukan sebaik-baiknya.

4. Empati mendorong kesadaran budaya

Karyawan yang mampu berempati, akan mampu memahami perbedaan budaya di lingkungan kerjanya. Anda akan mampu menghargai budaya lain yang mungkin tak sejalan dengan prinsip Anda.

Alih-alih bersikap judgemental, dengan berempati, Anda mampu menerima perbedaan dan menghargai pilihan orang lain.  

5. Meningkatkan komunikasi yang sehat

Empati memungkinkan Anda menjadi seorang pendengar yang baik. Empati memungkinkan rekan kerja atau karyawan Anda untuk berkomunikasi secara terbuka dan jujur.

Komunikasi yang sehat merupakan salah satu faktor keberhasilan usaha dan manajemen. Tanpa empati, karyawan akan merasa enggan berbagi ide atau menyampaikan kritik yang barangkali sangat dibutuhkan untuk meningkatkan strategis bisnis Anda.

6.   Memperkuat hubungan

Tim yang berisikan karyawan-karyawan yang mampu berempati cenderung membentuk team work yang solid. Empati antar karyawan juga membangun hubungan dan suasana kerja yang menyenangkan.

Membuat semua orang senang dan dapat menjalankan tugasnya masing-masing dengan baik.

Cara Menumbuhkan Sikap Empati Di Tempat Kerja

Ada beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk melatih keterampilan berempati terhadap rekan kerja. Namun cara pertama dan paling penting untuk dilakukan adalah membangun kesadaran diri.

Bangun dulu kesadaran emosional pada diri Anda sendiri. Memahami diri sendiri sebelum memahami orang lain. Mengerti perasaan dan kebutuhan diri sendiri terlebih dahulu, sebelum berusaha mengerti orang lain.

Cara lain yang dapat Anda tempuh antara lain:

Penutup

Sampai saat ini, masih banyak karyawan mengeluhkan minimnya sikap empati di lingkungan kerja. Tak sedikit yang mengaku bahwa jika bukan karena terpaksa, sudah pasti mereka akan hengkang dari tempat kerjanya.

Sayangnya, banyak pimpinan yang tidak menyadari pentingnya empati untuk membangun suasana kerja yang sehat. Banyak pimpinan yang cenderung menganggap karyawan hanya sebagai tenaga kerja semata.

Padahal dengan mempraktikkan empati, sebuah perusahaan tak akan merugi, Justru berpotensi akan untung karena tingkat kepuasan kerja karyawan yang tinggi.

Comment