Rasio Retensi Karyawan Tinggi: Sebuah Tantangan?

Sebagai HR, tentunya Anda familiar sekali dengan karyawan yang datang dan karyawan yang pergi. Memang, resign atau tetap bekerjanya seseorang di dalam sebuah perusahaan menjadi pilihan bagi orang tersebut. Namun, sayang rasanya jika Anda sampai kehilangan orang-orang terbaik Anda sebagai partner bekerja. Tidak hanya itu, tidak dapat dipungkiri juga dengan adanya karyawan yang keluar, maka sebagai HR Anda harus mencari penggantinya. Cari kandidat lagi, interview lagi, onboarding lagi….

Minimnya tingkat turnover karyawan di perusahaan adalah salah satu goal divisi HR. Lebih tepatnya, HR harus memastikan kestabilan jumlah pekerja yang dapat bekerja efektif dan membantu perusahaan dalam mencapai tujuan. Tugas HR tersebut akan terhambat kalau rasio pekerja resign tinggi, karena HR jadi harus memikirkan cara mengisi posisi yang ditinggalkan dan tidak bisa fokus untuk mengerjakan tugas lainnya yang juga esensial.

Dalam pembahasan kali ini, mari kita ungkap bagaimana cara menurunkan tingkat turnover dan memertahankan jumlah karyawan terbaik Anda seefektif mungkin. 

Analisis Alasan Karyawan Resign dari Perusahaan Anda

Ketahuilah bahwa masalah organisasi di setiap perusahaan yang memicu pengunduran diri itu beragam. Menurut riset yang dilakukan Payscale sebagaimana dikutip dari media Kompas (2019/05/23), terdapat delapan alasan utama karyawan memilih resign. Nomor satu adalah karena ingin gaji dan benefit yang lebih baik.

Tidak menutup mata dan telinga, gaji dan benefit masih menjadi motivasi utama seseorang dalam bekerja.

Masih dilansir dari riset yang sama, Payscale juga mengumpulkan data alasan seseorang terpikat dengan pekerjaan baru. Alasan terbanyak adalah ingin mendapat kesempatan untuk melakukan pekerjaan yang lebih bermakna. Alasan kedua terbanyak adalah keinginan untuk peningkatan tanggung jawab.

Melihat hasil riset tersebut, ketidakpuasan karyawan terhadap nilai gaji yang didapat dapat memicu keinginan untuk resign; sedangkan hal yang membuat mereka tertarik untuk melakukan pekerjaan baru adalah untuk mengerjakan hal yang lebih bermakna dan dapat meningkatkan tanggung jawab.

Dalam artikel kali ini, mari kita bahas alasan resign selain karena gaji atau pun benefit, yang mana alasan tersebut berkaitan dengan hasrat seseorang untuk bekerja di tempat yang lebih baik. 

Kurangnya Bentuk Apresiasi Kerja

Poin ini terkait dengan perkembangan aspek psikologis karyawan. Setiap manusia pasti memiliki rasa ingin dihargai, sebagaimana diterangkan pada hierarki kebutuhan Maslow. Sama halnya pada karyawan Anda, mereka butuh apresiasi atas pekerjaan yang sudah mereka lakukan. Jika hal tersebut terabaikan, kebutuhan psikologis karyawan tentu jadi tidak terpenuhi dan bisa mengakibatkan menurunnya motivasi bekerja.

Apabila terdapat karyawan Anda yang merasa kurang dihargai selama bekerja, Anda harus membuat kajian ulang terhadap sistem human relation di perusahaan Anda.

Kurangnya bentuk apresiasi terhadap karyawan juga bisa menciptakan citra buruk bagi perusahaan.

Hubungan dengan Rekan Kerja atau Atasan Kurang Akur

Sebuah organisasi adalah tempat di mana banyak orang dari latar belakang yang berbeda-beda berkumpul dan bekerja sama demi mencapai tujuan organisasi. Sama halnya di dalam sebuah perusahaan, beragamnya latar belakang dan karakter masing-masing karyawan terkadang mengganggu komunikasi antara rekan kerja. Terlebih, Indonesia adalah negara yang dikenal akan keberagaman suku, ras, dan agamanya. Meskipun perusahaan adalah tempat profesional, terkadang perbedaan latar belakang masih menjadi sandungan dalam berkomunikasi. Belum lagi perbedaan usia atau generasi yang membuat cara pandang dan cara berpikir berbeda.

Jika perbedaan-perbedaan tersebut tidak bisa diatasi dengan baik, tentu saja akan banyak konflik yang bisa bermunculan sehingga mengakibatkan lingkungan kerja yang tidak nyaman. Tidak ada yang mau bekerja di tempat di mana orang-orangnya sering adu pendapat atau terlalu mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri.

Kurang Berkembang selama Bekerja di Perusahaan

Selain karena orientasi pada pendapatan, semua orang bekerja karena ingin mengembangkan dirinya, mulai dari mengembangkan hard skill hingga soft skill. Terlepas di bidang dan posisi apa ia bekerja, tentu seseorang memiliki hasrat untuk menjadi profesional yang lebih baik. 

Beberapa manajemen masih menerapkan metode yang hanya mendorong karyawan untuk menyelesaikan tugas dan tanggung jawab yang diberikan tanpa evaluasi berarti. Hal tersebut mengakibatkan karyawan hanya tahu cara menyelesaikan pekerjaan tetapi tidak mampu mengetahui kekurangan yang dimiliki dan bagaimana ia harus mengembangkan potensi lain dalam dirinya.

Sikap neglecting dari manajemen biasanya menimbulkan rasa tidak puas dalam diri karyawan sehingga membuat karyawan berpikir masih banyak tempat di luar sana untuk mengembangkan diri.

Kurangnya Pengarahan terhadap Jenjang Karir

Hal ini berkaitan dengan sikap neglecting atas perkembangan skill karyawan. Keinginan berkembang tentunya diikuti dengan jenjang karir yang tersedia di dalam perusahaan. Meskipun perusahaan memiliki jenjang karir yang jelas, jika leader atau manajemen tidak mengarahkan stafnya untuk mencapai karir tersebut karyawan tidak bisa berkembang. Jika kemampuan dari SDM yang dimiliki tidak dikembangkan, tentu saja perusahaan juga bisa mengalami kemunduran, sebagaimana SDM merupakan senjata terbesar perusahaan untuk berkembang besar.

Contoh Perbaikan untuk Mempertahankan Retensi Karyawan

Beberapa contoh di atas hanyalah sebagian masalah yang dapat ditemukan di dalam sebuah organisasi dan menyebabkan karyawan memilih resign, dimana jika tidak diselesaikan akan sangat memengaruhi tingkat turnover.

Berikut ini adalah beberapa ide yang dapat dilakukan untuk mencegah karyawan cepat resign dari perusahaan.

Perbanyak Kegiatan yang Memperkuat Kerjasama Tim

Dengan memperbanyak kegiatan yang melibatkan banyak pihak, diharapkan akan terjalin dasar hubungan kerja sama yang didasari toleransi. Ini bisa menjadi salah satu solusi efisien untuk memperbaiki masalah komunikasi dan rasa percaya yang timbul akibat keberagaman latar belakang di dalam organisasi.

Kerjasama tim tidak melulu harus berkaitan dengan pekerjaan utama di perusahaan.

Lakukan event rutin setiap bulan atau beberapa bulan sekali yang melibatkan sebagian besar karyawan. Libatkan mereka dalam memberikan ide dan pelaksanaan agar dapat memancing rasa nyaman dalam berkomunikasi dengan rekan kerja yang lain.

Take and Give dengan Karyawan Anda

Take and give paling sederhana memang berupa pemberian gaji dan kompensasi dari perusahaan kepada karyawan yang dapat menyelesaikan pekerjaan yang diberikan.

Terlepas dari hak dan kewajiban utama kedua belah pihak, penyampaian pendapat atau aspirasi sebaiknya juga dapat dioptimalkan sebagai bentuk take and give.

Hindari bentuk manajemen otoriter yang hanya ingin karyawannya mengikuti keinginan perusahaan. Lakukan hal sebaliknya, yaitu dengan memberdayakan budaya demokrasi untuk karyawan Anda. Kesempatan untuk bisa mengungkapkan pendapat dan aspirasi akan menjadi trigger karyawan untuk mengembangkan diri. Perusahaan juga bisa lebih melihat peluang yang timbul dari aspirasi karyawan.

Karyawan akan merasa dihargai dan merasa dirinya juga merupakan bagian dari organisasi.

Biasakan Budaya Apresiasi

Bentuk apresiasi tidak selalu harus berbentuk materi. Ucapan terima kasih atas hal-hal kecil yang mereka lakukan akan sangat berarti untuk karyawan Anda. Akan lebih baik juga jika apresiasi dapat diaplikasikan oleh seluruh lapisan karyawan.

Meski tidak selalu harus berbentuk materi, tentu saja pemberian apresiasi dalam bentuk insentif atau tittle akan sangat dihargai karyawan Anda.

Lakukan Evaluasi Rutin untuk Mengukur Perkembangan Karyawan

Setiap perusahaan memiliki jadwal evaluasi/asesmen untuk melihat perkembangan setiap karyawan dan menentukan perubahan gaji maupun jabatan. Sebaiknya pada saat evaluasi, tidak hanya penilaian terhadap performa pekerjaan, tapi juga evaluasi dari perkembangan soft skills karyawan.

Diskusikan dengan setiap lapisan karyawan apa hal yang membuatnya tidak puas, apa hal yang ingin dilakukannya, dsb. Jangan lupa untuk mengolah semua feedback dari karyawan dan membaginya ke leader ataupun manajer untuk dilakukan sebuah perbaikan dan kemajuan.

Perkembangan karyawan akan menjadi amunisi penting bagi perusahaan yang juga ingin mengembangkan diri.

Pertahankan Karyawan Terbaik Anda

Terkadang kita tidak bisa menahan keputusan karyawan yang ingin mencari karir lebih baik di luar perusahaan kita. Meski begitu, jika perusahaan Anda adalah salah satu yang mengalami tingkat turnover tinggi, pastikan manajemen mampu untuk menjaga karyawan terbaik yang Anda miliki untuk tetap bekerja dengan Anda.

Sebagaimana kita tahu bahwa mencari kandidat ideal adalah sebuah tantangan tersendiri, mempertahankannya pun merupakan tantangan yang jauh lebih sulit lagi. Jangan ragu untuk berkompetisi dengan perusahaan lain dalam memberikan fasilitas yang lebih untuk karyawan terbaik Anda.

Penutup

Sebelum memutuskan ingin mengambil aksi perbaikan yang mana, lakukan analisa terhadap kondisi di perusahaan Anda. Buatlah daftar alasan-alasan kenapa karyawan Anda resign, lalu analisis seteliti mungkin untuk mendapatkan solusinya.

Sebagaimana kita tahu bahwa SDM merupakan bagian penting dari perusahaan, akan sangat bijaksana jika perusahaan dapat memberikan perhatian lebih kepada sisi kemanusiaan karyawan. Apresiasi dalam bentuk ucapan maupun materi, pengarahan terhadap jenjang karir maupun perkembangan skill karyawan, dan membiasakan komunikasi yang transparan merupakan salah satu cara preventif dalam mengurangi jumlah karyawan resign.

Hal yang tak kalah penting lainnya, karena judulnya tindakan preventif, maka jangan tunggu sampai Anda melakukan exit interview untuk mengetahui alasan karyawan ingin resign!

Mulailah Ubah Cara Pandang Kita!
Bahwasanya garis kesimpulan yang dapat ditarik dari artikel kali ini adalah, pentingnya perusahaan untuk mulai mengambil aksi employee engagement demi meningkatkan loyalitas karyawan kepada perusahaan. Employee engagement akan menjadi tren di dalam organisasi. Berkompetisilah dalam memberikan layanan terbaik bagi karyawan. Jangan sampai karyawan terbaik kita memilih untuk bekerja di tempat yang sudah menyempurnakan konsep employee engagement-nya dibanding perusahaan kita.