Perubahan Organisasi: Manfaat, Risiko, dan Cara Mengatasinya | | HR NOTE Indonesia

Perubahan Organisasi: Manfaat, Risiko, dan Cara Mengatasinya

perubahan organisasi

Perubahan organisasi memberikan dampak positif. Karena perubahan menciptakan organisasi yang lebih efektif. 

Jika perubahan organisasi dikelola dengan baik, kinerja bisnis perusahaan pun akan menanjak.

Di sisi lain, perubahan organisasi juga tak lepas dari risiko, seperti masalah karyawan maupun manajemen. Ironisnya, terkadang, kemunculan masalah tidak disadari oleh dan dianggap hal kecil oleh jajaran eksekutif.

Bila masalah itu tidak ditangani dengan baik, maka bisnis organisasi akan mengalami gangguan. Bukan tak mungkin, masalah lain akan semakin bermunculan.

Mengapa Harus Mengalami Perubahan Organisasi?

Apakah organisasi pasti berubah? Mengapa harus mengalami perubahan organisasi? Pentingkah?

Agak rumit menjawab pertanyaan tersebut. Yang pasti, perubahan organisasi pasti akan ada. 

Tak dipungkiri, beradaptasi dengan perubahan bukan hal mudah. Ada karyawan yang merasa ketakutan atau tidak nyaman saat menjalani prosesnya. 

Karen McCullough, pembicara di Generations in the Workplace, menyatakan:

Perubahan sangat penting untuk banyak aspek bisnis dan kehidupan kerja.

Dengan kata lain, organisasi harus berubah. Alasannya, dunia terus berkembang dalam hal teknologi dan cara kerja lebih inovatif.

Karen juga berpendapat perubahan organisasi akan menjaga ide karyawan tetap segar dan bisnis pun bergerak maju. Bahkan ide seperti kolaborasi meningkatkan bisnis perusahaan.

Blockbuster Video dan Netflix, misalnya. Dulu, Blockbuster memiliki ribuan lokasi ritel dan jutaan pelanggan setia.

Pada 2000 Reed Hastings, pendiri Netflix yang saat itu kesulitan menyediakan layanan DVD mail order, mengusulkan kemitraan dengan Blockbuster, tetapi CEO Blockbuster John Antioco menolaknya.

10 tahun berikutnya, bisnis Blockbuster menurun, dan mengajukan perlindungan kebangkrutan.

Contoh di atas memperlihatkan ke kita bahwa perusahaan yang terjebak dalam cara lama atau kaku akan mengarahkan bisnis ke hal-hal usang.

5 Manfaat Perubahan Organisasi

perubahan organisasi

Meski perubahan organisasi cukup sulit, tetapi hal itu sangat bermanfaat bagi semua orang. Mulai dari pemimpin, manajemen, maupun karyawan.

Adapun penjelasan tentang manfaat perubahan organisasi ada di bawah ini:

#1 Mendorong inovasi

Perubahan organisasi dapat mendorong inovasi, seperti inovasi di bidang cara kerja, kebijakan, produk, atau layanan yang relevan saat ini. 

Karena bagaimanapun juga, bisnis akan terus bergerak dan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Organisasi yang tidak berinovasi dapat mematikan kreativitas karyawan, yang bisa jadi memiliki ide-ide baru.

#2 Pertumbuhan keterampilan

Manfaat perubahan organisasi tak melulu untuk organisasi itu sendiri. Juga berfaedah bagi karyawannya untuk mendorong pertumbuhan keterampilan mereka.

Dalam perubahan, organisasi akan mengidentifikasi keterampilan yang ada serta keterampilan yang dibutuhkan mendatang. Setelah itu, organisasi memberikan pelatihan keterampilan untuk karyawan agar jauh lebih berpengetahuan dan berkinerja lebih baik.

#3 Pengembangan karier

Staf yang bisa melihat manfaat dalam perubahan organisasi adalah mereka yang paling berharga bagi perusahaan, seperti pengembangan karier. Meskipun, terkadang, sulit membujuk karyawan untuk menerima perubahan.

#4 Peluang bisnis baru

Ketika organisasi melakukan perubahan, mereka akan membuat strategi baru yang bertujuan mendongkrak pendapatan sekaligus menggerakan bisnis agar tetap maju. Dalam perjalanannya, mereka bisa menjajaki peluang bisnis baru.

#5 Moral karyawan lebih baik

Organisasi yang mudah beradaptasi dengan kondisi terkini dan bereaksi terhadap perubahan akan menghasilkan karyawan dengan moral lebih baik. Karena mereka memandang organisasi sebagai tempat kerja yang relevan dan selalu membuat perbedaan untuk maju.

9 Risiko Perubahan Organisasi

phk

Berbicara tentang manfaat, tentu ada risiko yang mengintai di balik perubahan organisasi. 

Survei eksekutif senior global menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan inisiatif perubahan dalam organisasi adalah rendah, yakni 54 persen. 

Hal itu juga diamini oleh McKinsey and Company. Penelitian mereka menunjukkan bahwa 70 persen dari semua perubahan mengalami kegagalan. 

Akibat kegagalan, sebagian besar perusahaan yang menjalankan perubahan harus menanggung biaya, terkait dengan keterampilan manajemen perubahan yang buruk. 

#1 Meremehkan proses perubahan

Ada kalanya, tim HR dan manajemen tidak dapat menghadapi masalah. Karena Anda tidak memiliki pengalaman sebelumnya atau tidak mempunyai panduan mengatasi masalah tersebut. Akibatnya, sikap Anda cenderung meremehkannya.

#2 Meremehkan dampak perubahan

Ada kondisi di mana eksekutif dan pemimpin senior meremehkan karyawan yang terkena dampak perubahan organisasi. Namun, sering kali, mereka juga tidak memiliki strategi untuk mengatasinya atau tidak mengalokasikan waktu transisi budaya perusahaan.

#3 Kurang mengetahui manajemen perubahan 

Tim perubahan organisasi wajib memiliki pengetahuan tentang strategi manajemen perubahan, yang menekankan pentingnya perencanaan dan komunikasi. Tanpa itu, karyawan enggan terlibat dalam proses perubahan.

#4 Pemimpin kurang bertanggung jawab

Pemimpin level atas yang kurang bertanggung jawab adalah risiko dari perubahan organisasi. Kenapa? Karena mereka tidak mampu mengajak anggota tim atau karyawan untuk berpartisipasi lebih aktif.

#5 Manajer senior kurang mendukung

Kadang manajer senior merasa terancam oleh perubahan organisasi. Alhasil mereka ingin melindungi posisi mereka sendiri, enggan mendukung manajer tingkat menengah, atau tidak mendengarkan imbauan level C.

#6 Sumber daya yang tidak mencukupi

Organisasi yang kekurangan sumber daya manusia –khususnya manajer menengah– yang berbakat berisiko menggagalkan perubahan. Karena mereka berperan penting dalam berhubungan langsung dengan karyawan tingkat bawah dan karyawan garis depan

#7 Struktur organisasi tidak sesuai

Perubahan struktur atau hierarki, kadang, tidak sesuai keterampilan, kompetensi, maupun pengalaman. Hal itu membuat karyawan tidak merasa didengarkan oleh perusahaan dan berakibat mengganggu kinerja.

#8 Kerja sama antar tim buruk

Perubahan organisasi memerlukan kerja sama antar pemimpin tim atau divisi. Jika mereka tidak mampu menggandeng anggota timnya, tujuan organisasi sulit tercapai. Kondisi itu bisa mengarah ke kegagalan.

#9 Minim tindak lanjut

Meski telah menjalankan perubahan, ada pula pihak-pihak yang kurang menindaklanjuti dampak atau minim  mengukur prosesnya. Hal itu berisiko membuat organisasi merugi.

Cara Mengatasi Risiko Perubahan Organisasi

perubahan organisasi

Meski ada beragam risiko yang membuntuti perubahan organisasi, bukan berarti hal itu tidak bisa diatasi. 

Tim HR dapat turun tangan mengatasi rintangan atau risiko yang diakibatkan dari perubahan, seperti yang diutarakan oleh Dr. Cynthia Devers, profesor di Mays School of Business-Texas A&M University.

#1 Tempatkan agen perubahan yang tepat

Biasanya, sebelum perubahan organisasi, tim HR dan manajemen memberikan survei yang harus diisi oleh karyawan. Survei ini bertujuan untuk mengetahui sikap mereka tentang perubahan di lingkungan kerja.

Jika dari hasil survei, Anda melihat keengganan karyawan untuk berubah, sebaiknya segera menempatkan seorang karyawan untuk menjadi agen perubahan yang karakteristiknya mirip dengan mereka. 

Biasanya, para karyawan akan lebih menerima agen perubahan dari kalangan mereka, tetapi memiliki sikap untuk berubah, fleksibel, bersedia membantu rekan kerja yang mengalami kesulitan, hingga dapat bekerja sama antar tim atau divisi dalam proses perubahan organisasi.

#2 Berikan sumber daya yang dibutuhkan

Seperti yang sudah disebut di atas, kekurangan sumber daya manusia adalah risiko perubahan organisasi. 

Namun tim HR dapat mengatasinya dengan mengenali kebutuhan organisasi sebelum menjalankan perubahan. Misalnya, mencatat keterampilan dan pelatihan yang dibutuhkan oleh karyawan, anggaran organisasi secara keseluruhan, kebutuhan tenaga baru, dan lainnya.

Pastikan pula tenaga kerja saat ini dan yang akan direkrut mendukung perubahan organisasi.

#3 Komitmen untuk berubah

Sebenarnya, sangat mudah bagi pemimpin untuk memutuskan organisasi harus berubah. Ia juga dapat memerintahkan perubahan di segala lini perusahaan dan mengadakan selebrasi.

Ada baiknya, keputusan tersebut sejalan dengan komitmen pemimpin untuk berubah. Implementasi komitmen berupa transparansi manajemen kepada seluruh karyawan, seperti:

  • Mengomunikasikan tujuan, rencana, dan proses perubahan. 
  • Menjelaskan alasan yang melatarbelakangi perubahan.
  • Dukungan perusahaan kepada karyawan dalam perubahan.
  • Pastikan komunikasi dua arah yang berlangsung dengan baik.
  • Berikan karyawan waktu untuk menjalani perubahan dan menyatakan kritik serta saran mereka kepada organisasi.

#4 Libatkan karyawan dalam perubahan

Penyebab kemunculan masalah bisa dikarenakan karyawan tidak terlibat dalam perubahan. Maka tim HR dan manajemen wajib melibatkan mereka dari perencanaan hingga pelaksanaan perubahan.

Keterlibatan karyawan memberikan pengaruh baik sebagai agen perubahan sekaligus mendengarkan umpan balik mereka. Kedua hal tersebut berguna untuk proses perubahan di masa mendatang.

Penutup

Wajar, jika organisasi memutuskan untuk berubah. Baik secara struktur, transformasional, atau lainnya, pastikan perubahan selaras dengan nilai-nilai inti organisasi.

Idealnya, perubahan masih sejalan dengan misi, visi, dan nilai organisasi. Jika tidak, bisnis akan kehilangan karyawan terbaiknya dan kemungkinan kehilangan kepercayaan pelanggan atau klien.

Comment