VUCA: Strategi Pemimpin dan Peran HR dalam Menghadapinya | | HR NOTE Indonesia

VUCA: Strategi Pemimpin dan Peran HR dalam Menghadapinya

Di masa pandemi ini, seringkali perusahaan atau organisasi bisnis menghadapi lambatnya laju bisnis, target pendapatan yang jauh dari harapan, komunikasi yang buruk di antara sesama anggota organisasi, dan bahkan terkadang kehilangan pelanggan yang berharga, serta beberapa situasi yang serba sulit untuk diprediksi.

Tapi tahukah Anda, semua situasi ini ternyata telah diteliti oleh seorang ahli militer dari Amerika Serikat pada tahun 1990-an sehingga melahirkan konsep VUCA

Kali ini, HR NOTE akan memperkenalkan VUCA, sebuah konsep tentang ketidakpastian kondisi yang berpengaruh pada bisnis, dan bagaimana pemimpin dan HR leader dapat mengatasinya. Simak penjelasannya berikut!

Latar Belakang VUCA

Hampir tiga dekade lalu, ilmuwan sosial di U.S. Army War College menciptakan akronim “VUCA” dalam upaya untuk menggambarkan lingkungan dimana mahasiswa mereka bekerja di masa depan. 

VUCA — singkatan dari Votality atau Votalitas; Uncertainty-ketidakpastian; Complexity atau kompleksitas; dan Ambiguity -Ambiguitas. 

Istilah VUCA ini banyak ditemukan dalam konteks geopolitik dan bisnis yang kesemuanya bertujuan menggambarkan sebuah lingkungan yang penuh dengan turbulensi. (Benjamin E. Baran and Haley M. Woznyj 2019).

Konsep VUCA, pada kenyataannya, mengubah cara organisasi membuat keputusan, mengelola risiko, mendorong perubahan, dan memecahkan masalah. Kita akan membahasnya sebentar lagi, tapi mari kita bahas elemen VUCA terlebih dahulu.

4 Ancaman VUCA dan Apa Dampaknya Bagi Bisnis

VUCA menggambarkan situasi perubahan yang konstan dan tidak dapat diprediksi yang sekarang rasanya telah menjadi ‘biasa’ di dunia bisnis. Kejadian yang terjadi di luar lingkungan organisasi dapat berdampak positif maupun negatif, yang mana seringkali membuat para pemimpin organisasi kesulitan untuk membuat keputusan.

Akibatnya, VUCA menuntut Anda menghindari pendekatan manajemen dan kepemimpinan yang tradisional dan ketinggalan zaman.

Susan Giles dalam Forbes (2018), seorang pakar di bidang inovasi radikal, mengatakan bahwa ketidakpastian itu sendiri merupakan ciri khas dari kompleksitas, sehingga jika para pemimpin hanya mengandalkan keahlian teknis, kekuatan pribadi seperti karisma dan visi dan fokus organisasi pada efisiensi melalui inisiatif seperti Six Sigma,  tidak akan berhasil di era VUCA.

Ditambah, berdasarkan sumber lain, terdapat empat hal yang dapat membawa bisnis Anda ke dalam situasi VUCA, yaitu:

1. Disrupsi Teknologi
Kemajuan baru dalam teknologi, dari blockchain hingga kecerdasan buatan, membentuk kembali pasar dan preferensi pelanggan setiap hari. Mengikuti tren seperti itu diperlukan untuk kelangsungan hidup jangka panjang, tetapi sulit untuk memprediksi investasi apa yang benar-benar berharga.
2. Ketidakstabilan Pasar
Dunia kita menjadi semakin tidak stabil yang berdampak pada perilaku pasar global dan lokal. Misalnya, serangan teroris, pemerintahan yang tidak stabil, dan krisis keuangan global telah mengganggu ekonomi dan hubungan global kita secara substansial.
3. Persaingan Tinggi
Jumlah wirausahawan pemula (sekitar 100 juta bisnis baru dibuka setiap tahun di seluruh dunia) yang artinya kompetisi menjadi memanas, para pesaing muncul lebih cepat dibandingkan dengan masa sebelumnya. Lingkungan bisnis telah menjadi medan pertempuran di mana hanya yang terkuat yang bertahan.
4. Konsumen yang Berubah-ubah
Dengan pilihan yang belum pernah ada sebelumnya, loyalitas konsumen jauh dari jaminan. Mereka menginginkan nilai yang lebih baik dan pengalaman pembelian yang lebih dipersonalisasi, membuat pelanggan lebih sulit untuk dimenangkan, engaged, dan dipertahankan.

Dari uraian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa meskipun VUCA berpotensi memberikan dampak negatif bagi pertumbuhan organisasi namun VUCA juga bermanfaat untuk meningkatkan kreativitas dan inovasi dari perusahaan

Ditambah pula, seorang Assistant Professor dari  Indian Institute of Management Rohtak, India yang bernama Ankur Jain mengatakan bahwa disrupsi teknologi dapat saja dipandang sebagai ancaman bagi perusahaan, namun teknologi yang dimanfaatkan dengan baik justru dapat meningkatkan keunggulan kompetitif perusahaan.

Definisi VUCA dan Bagaimana Cara Memimpin Efektif Di Lingkungan VUCA

Kolonel Eric G. Kail, seorang perwira Angkatan Darat, berbagi pendapatnya mengenai bagaimana menangani setiap situasi dengan sudut pandang VUCA. Mari kita cek keterampilan apa saja yang dibutuhkan untuk setiap situasi tersebut.

V – Volatility (Volatilitas)

Volatilitas merupakan sebuah kondisi ketidakstabilan yang diakibatkan oleh perubahan drastis atau cepat (Kail, 2010a dalam Jain 2019). Tantangannya tidak terduga dan mungkin durasinya tidak diketahui (Bennett & Lemoine, 2014). 

Contoh volatilitas adalah kondisi harga yang seringkali fluktuatif setelah bencana alam terjadi yang mengakibatkan perubahan pada permintaan pelanggan maupun pemasok. 

Saat terjadi kondisi Volatilitas terjadi, maka peran dari seorang pemimpin adalah memastikan bahwa visi dan tujuan perusahaan senantiasa dirumuskan dan dilaksanakan dengan kecepatan dan intensitas yang tinggi.  Guna mencapai hal ini, maka langkah-langkah berikut ini dapat dilakukan oleh para pemimpin.

Menerjemahkan Data Menjadi Informasi

Kita semua menginginkan sebanyak mungkin fakta yang relevan saat membuat keputusan. Jika Anda dapat menerjemahkan data (fakta) menjadi informasi yang berguna untuk tim Anda, keputusan Anda akan lebih baik untuk menghadapi situasi tersebut.

Komunikasi yang Jelas

Winston Churchill, mantan Perdana Menteri Inggris, adalah seorang panutan yang hebat. Ia seorang komunikator yang fantastis, dan pernah berkata “sedikit kata-kata adalah yang terbaik.” 

Kata-kata yang sedikit dan sederhana namun tepat, cocok untuk menggerakkan orang karena mudah untuk diceritakan dan dipahami. Trik ini bisa juga digunakan untuk membangun budaya perusahaan.

Pastikan Maksud Anda Dimengerti

Tantangan yang melekat pada lingkungan yang tidak stabil membutuhkan kepemimpinan yang gesit dan organisasi yang fleksibel. Jika bawahan Anda sepenuhnya memahami maksud Anda, mereka akan lebih siap untuk menangani perubahan lingkungan yang penuh kekerasan dan tidak terduga.

Referensi: https://hbr.org/2010/11/leading-in-a-vuca-environment

U – Uncertainty (Ketidakpastian)

Ketidakpastian adalah keadaan di mana suatu peristiwa sama sekali tidak dapat diprediksi, atau dapat dikatakan tidak diharapkan sama sekali.

Contoh, untuk perusahaan seperti Uber, Amazon, Airbnb merupakan organisasi yang lebih berfungsi sebagai perantara antara pelanggan dan penyedia platform layanan. Model bisnis baru ini telah mengganggu cara kerja bisnis tradisional dan berimplikasi pada ketidakpastian yang besar. Ini disebabkan oleh tidak dikenalnya lagi batas lokasi, wilayah, dan waktu ketika orang bekerja. 

Guna mengantisipasi ketidakpastian ini, maka seorang pemimpin membutuhkan perubahan sikap dan perilaku sebagai berikut:

Dapatkan Perspektif Baru

Temukan cara untuk menantang kesesuaian model mental Anda, secara individu dan kolektif. Konsep red-teaming akan sangat membantu. 

Red-teaming adalah penggunaan devil’s advocate dalam tim kepemimpinan untuk melawan pengaruh cara pikir kelompok. Dengan melakukan ini, anggota tim bisa mendapatkan gambaran yang lebih luas dan beragam.

Bersikap Fleksibel

Sebuah rencana dalam kondisi ketidakpastian haruslah memiliki ruang fleksibilitas dan satu dua pilihan di dalamnya. 

Dari sudut pandang HR, cara berpikir ini harus tertanam dalam etos organisasi sehingga rencana dapat direvisi untuk mengatasi ketidakpastian secara efektif. 

Manajemen proyek sekarang harus fokus tidak hanya pada membedah kegagalan tetapi juga dalam memastikan bahwa semua karyawan memahami bahwa dalam ketidakpastian lingkungan, tidak mungkin untuk memastikan bahwa hasil yang buruk tidak akan terjadi.

Be Visioner

Memang bijaksana untuk menilai hasil dari rencana dan keputusan kita. Namun, setiap peninjauan harus dilakukan pada tingkat detail yang tepat, dengan tujuan menjadikan organisasi lebih baik saat bergerak maju. 

Organisasi harus fokus pada apa yang secara realistis dapat dilakukan dengan lebih baik di masa depan, daripada apa yang dapat dilakukan di masa lalu.

Referensi: https://hbr.org/2010/11/leading-in-a-vuca-environment-1

C – Complexity (Kompleksitas)

Kompleksitas adalah kondisi ketika perusahaan mengalami  masalah yang berkepanjangan dan rumit serta saling terhubung. Untuk mengatasi kompleksitas ini maka setiap pemimpin wajib melakukan beberapa langkah antisipatif sebagai berikut:

Kembangkan Pemimpin Kolaboratif

Untuk menghadapi situasi yang kompleks, memimpin sendiri akan menjadi tantangan, sehingga Anda akan membutuhkan bantuan dari orang lain. Anda juga perlu belajar dari anggota Anda. Ini akan membantu Anda mengembangkan diri dan tim Anda juga. 

Seorang HR manajer perlu merancang organisasi sedemikian rupa sehingga menjadi jalan bagi  para pemimpin untuk berkumpul dan berbagi pembelajaran serta pengalaman. 

Berhenti Mencari Solusi Permanen

Saat mengejar solusi permanen, Anda mungkin juga kehilangan peluang lain.

Mengejar solusi permanen mungkin menghabiskan sumber daya penting yang dibutuhkan di tempat lain. Artinya, jika Anda menyelesaikannya 100%, Anda akan menggunakan banyak waktu dan tenaga.  Selain itu, lingkungan mudah berubah dan menjadi lebih kompleks. Artinya, solusi tersebut mungkin tidak sesuai lagi untuk situasi tersebut.

Latih Pemimpin Masa Depan Sekarang

Pemimpin muda mana di organisasi Anda yang menunggu untuk dilatih, dibimbing, dan ditantang? pilih dan posisikan sumber daya yang tepat untuk pengembangan mereka sekarang. 

HRD perlu mendorong berbagi pengalaman tanpa batas dengan memfasilitasi percakapan di seluruh geografi, unit bisnis, domain, dan level. 

Dalam menghadapi kompleksitas, HR Leaders juga perlu mendukung kolaborasi dan membangun komunitas dalam organisasi dengan memanfaatkan jaringan dan mendorong engagement antara manajemen dan karyawannya.

 A-Ambiguity (Ambiguitas)

Ambiguitas adalah situasi di mana tidak ada yang jelas. Suatu peristiwa ditafsirkan secara berbeda oleh orang yang berbeda. Ada banyak manifestasi pada bagian kejelasan suatu peristiwa. 

Contoh: Anda ingin mencoba untuk memindahkan pasar Anda ke wilayah baru atau ketika Anda ingin mengeluarkan produk baru di luar kompetensi inti perusahaan Anda. Di saat ini Anda mungkin telah melakukan inovasi. Namun, sebuah inovasi seringkali tidak dapat jelas sebab dan akibatnya. Bisa saja dari sisi ide, keputusan Anda untuk memperluas pasar adalah ide bagus namun pada waktu diimplementasikan ternyata memasuki pasar baru tidak semudah yang Anda bayangkan. 

Agar Anda tidak terjebak dan terlambat bertindak untuk menyelamatkan perusahaan Anda, berikut beberapa Langkah strategis yang dapat dilakukan oleh seorang pemimpin yang menghadapi lingkungan yang penuh dengan Ambiguitas. 

Mendengarkan Pendapat Orang Lain

Untuk mendapatkan kekuatan dari keberagaman, semua suara harus didengar. Jangan menciptakan perselisihan Anda sendiri dengan hanya mendengarkan apa yang ingin Anda dengar dari berbagai suara yang mewakili perspektif yang berharga.

Berpikir secara Berbeda

Keterbukaan terhadap ide-ide baru merupakan karakteristik kepemimpinan yang sangat berkorelasi dengan efektivitas. Keberagaman ras dan gender sangat penting untuk memberikan teladan bagi para pemimpin yang muncul. pemimpin yang baik dapat melihat peluang urutan kedua dan ketiga yang melekat dalam solusi yang sama menariknya.

Siapkan Dividen Tambahan

Merayakan kesuksesan itu penting, terutama di lingkungan yang ambigu. Menetapkan dan mencapai dividen tambahan adalah cara yang bagus untuk membangun dan mempertahankan momentum, kepercayaan, baik pada pemimpin maupun organisasi.

Referensi: https://hbr.org/2011/01/leading-effectively-in-a-vuca-1

Simpulan

VUCA bukanlah konsep baru dalam menghadapi perubahan dan dengan adanya pandemic saat ini. Konsep ini menjadi hidup dan sebuah singkatan yang wajib ditanamkan oleh setiap pemimpin organisasi ketika mereka ingin tetap bertahan dan berkembang. 

Vuca menjadi bagian perubahan organisasi yang tidak dapat dihindari namun perlu dihadapi dengan langkah-langkah strategis. 

Kesuksesan seorang pemimpin organisasi dalam menghadapi VUCA tidak terlepas dari peran seorang HR leader yang mampu menjadi mitra strategis organisasi yang berperan sebagai agen perubahan.

Disamping langkah-langkah diatas, para pemimpin perusahaan dapat memanfaatkan peran manajer HR sebagai mitra strategis perusahaan, yang memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi kebutuhan organisasi, dan bekerja untuk menyesuaikan potensi dan kapabilitas karyawan agar sesuai dengan strategi organisasi.
Manajer HR harus menemukan cara-cara inovatif untuk menarik dan mempertahankan talenta SDMnya dan mampu memengaruhi bisnis dengan mengantisipasi perubahan.
(Nazir, 2017 dalam Parween dan Deepak 2019).

Comment