Membangun Talent dengan Strategic Planning Skill | | HR NOTE Indonesia

Membangun Talent dengan Strategic Planning Skill

Keputusan akhir dalam penyusunan strategic planning umumnya memang berada pada jajaran manajemen. Namun bukan berarti keterampilan strategic planning tidak perlu atau tidak penting dimiliki oleh seorang karyawan.

Itu salah besar.

Sebab akan ada target, tantangan, risiko, dan kebutuhan pada tiap divisi yang mesti diatur secara mikro dalam internal tim.

Sehingga mau tidak mau, seorang associate atau junior staff pasti akan membutuhkan keterampilan strategic planning untuk menjalankan jobdesc dan mencapai target KPI-nya. Tak peduli di mana divisinya.

Setiap divisi umumnya bekerja secara tim, meskipun tugas tiap individu berbeda-beda. Namun demikian, Anda tetap harus bekerja dengan arahan dan pedoman yang jelas agar performa divisi Anda tidak mengecewakan.

Karakteristik Kemampuan Strategic Planning

Seorang strategic planner adalah profesional yang bertugas menyusun rencana strategis sebuah perusahaan atau organisasi.

Lengkap dari kelemahan dan keunggulan perusahaan, mengidentifikasi risiko dan potensi pengembangan usaha, peluang ekspansi, dan strategi untuk meraih target definitif.

Namun karyawan yang tak bersinggungan langsung dengan proses strategic planning pun boleh dan perlu mengembangkan keterampilan ini.

Lantas apa saja karakteristik skill strategic planning?

Kemampuan Analitis

Seorang yang terampil dalam strategic planning mutlak memiliki kemampuan analisis yang baik. Ia mampu menggali informasi penting dan menganalisanya dari segala sisi untuk menyusun strategi yang pas.

Jenis analisis yang mampu dilakukannya antara lain analisis pasar, analisis data, dan analisis studi kelayakan. Apa yang karaktertistik seseorang yang mempunyai skill analisis?

Mereka mampu berpikir logis, sistematis, dan mampu berpikir secara deduktif ataupun induktif.

Kemampuan Komunikasi

Strategic planner menghabiskan banyak waktu untuk berkomunikasi dengan berbagai pihak dalam perusahaan untuk menggali informasi akurat dan mengumpulkan data.

Setelahnya, mereka pun harus mampu menyampaikan ide dan rancangan rencananya dengan secara komunikatif. Strategic planner juga mesti mampu menerima masukan dan kritik.

Juga mampu melancarkan komunikasi yang bersifat persuasif untuk meyakinkan banyak orang.

Banyak jenis keahlian komunikasi yang mesti dimiliki strategic planner. Di antaranya adalah keahlian presentasi, komunikasi verbal dan non-verbal, komunikasi tertulis, negosiasi, persuasi, public speaking, dan mampu mendengarkan dengan baik.

Leadership

Strategic planner umumnya memang seorang yang berada di tingkat manajerial, atau setidaknya pernah memimpin tim. Seorang yang bertugas menyusun perencanaan strategis harus mampu mengawasi dan mengevaluasi kinerja tim.

Strategic planner mesti mampu mengidentifikasi permasalahan manajemen secara keseluruhan. Juga mampu menindaklanjuti penerapan tata laksana yang telah disusun.

Problem Solving

Seorang dengan karakteristik strategic planner mampu menyelesaikan masalah di lapangan dengan cerdas dan cekatan. Mereka mampu berpikir cepat mencari jalan keluar yang efektif dan efisien. Mereka juga mampu mengidentifikasi potensi risiko dan masalah dalam pekerjaannya.

Mindset Pengembangan Bisnis

Strategic planner bertugas menyusun strategis manajemen ataupun bisnis untuk memajukan perusahaannya. Maka mereka pun harus mampu mencari ide yang komprehensif untuk mengembangkan bisnis perusahaannya dalam jangka pendek ataupun jangka panjang.

Cara Identifikasi Karakter Strategic Planner Dalam Interview

Karakteristik strategic planner dapat Anda kenali dalam sesi interview. Sebagai recruiter, Anda dapat melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang memancing kandidat untuk menunjukkan keterampilannya.

Apa saja yang mesti dilakukan untuk mengenali seorang yang berpotensi menjadi strategic planner?

1. Pastikan mereka mampu berpikir strategis

Anda bisa menanyakan bagaimana kandidat menyusun strategi untuk menyelesaikan pekerjaannya di kantor lama.

Amati caranya menganalisa potensi dan risiko. Anda juga menanyakan kendala apa yang dihadapi kandidat di masa lampau dan bagaimana cara kandidat mengatasi persoalan itu.

Jangan salah mengartikan berpikir taktis dengan berpikir strategis. Kedua proses berpikir ini memang sekilas tampak serupa. Berpikir taktis umumnya fokus pada penyelesaian masalah jangka pendek. Sedangkan berpikir strategis fokus pada jangka panjang.

2. Berikan studi kasus yang sesuai

Selain mempelajari cara kerja kandidat dari pekerjaan lamanya. Anda bisa memberikan kandidat skenario-skenario hipotesis yang mungkin terjadi di masa mendatang.

Beri skenario yang berisikan potensi masalah, risiko, dan minta kandidat untuk mendeskripsikan caranya mengatasi tantangan tersebut. Evaluasi bagaimana kandidat memilih keputusan dan menyusun strategi untuk skenario itu.

Minta kandidat menjelaskan bagaimana ia memproses suatu masalah di hadapannya dengan jelas. Setiap kandidat akan menunjukan kecenderungan pola berpikir yang berbeda.

3. Buat checklist patokan penilaian

Dari semua jawaban yang diberikan kandidat, Anda dapat membuat daftar checklist untuk menilai apakah kandidat menunjukkan karakteristik yang memenuhi persyaratan, ataukah justru sebaliknya?

Misalnya, kandidat yang kelihatan bingung dan kurang percaya diri menyampaikan rencananya, mungkin memang tidak memiliki karakter strategic planner.

Atau kandidat yang kurang aktif terlibat dalam lingkungan kerja, otomatis tidak memiliki karakteristik strategic planner.

Atau jika kandidat terlalu cepat menjawab skenario yang Anda berikan, boleh jadi itu menandakan kandidat tidak berpikir secara matang sebelum mengambil keputusan.

4. Diskusi dengan user

Cara terakhir, diskusikan dengan user apa saja temuan dari hasil observasi Anda selama wawancara. Komunikasi informasi yang Anda dapatkan untuk disesuaikan dengan kebutuhan user.

4 Cara Menerapkan Strategic Planning di Organisasi

Ada cara-cara yang bisa Anda lakukan untuk mengembangkan keterampilan strategic planning dalam perusahaan.

Cara ini bisa Anda terapkan untuk diri sendiri, ataupun untuk karyawan lain yang masuk dalam bimbingan Anda.

1. Tanyakan pertanyaan strategis

Menurut Harvard Business School, pertanyaan strategis berhubungan dengan peluang, tantangan, dan ambiguitas dalam situasi terkini.

Latihkan diri Anda untuk membuat pertanyaan mengenai ketiga hal ini dan bagaimana posisi perusahaan Anda dalam ketiga aspek itu.

Misalnya, “Bagaimana perusahaan dapat memasuki pasar baru itu secara strategis?”, “Ke mana mestinya arah pertumbuhan setiap produk yang dijual?”, atau “Bagaimana perusahaan akan berkembang lima tahun ke depan? dan bagaimana perbedaannya dengan capaian lima tahun lalu?”

2. Observasi dan refleksi

Amati situasi sekitar dan kondisi terkini. Temukan informasi penting mengenai bisnis perusahaan Anda. Lalu refleksikan apa sebab situasi dan kondisi itu terjadi pada perusahaan?

Jangan sekali-kali berasumsi, apalagi menebak-nebak situasi. Kumpulkanlah data sebanyak mungkin untuk diamati. Dari situ, Anda dapat mencari solusi dan merencanakan strategi yang lebih efektif untuk masa mendatang.

3. Pertimbangkan ide yang berlawan

Proses berpikir strategis harus terlaksana dua arah. Artinya, Anda tak buru-buru meyakini bahwa cara A tepat untuk kasus B, bahwa rencana B cocok untuk situasi C. Belum tentu.

Anda harus bertanya dan berdiskusi dengan diri Anda sendiri. Jadilah lawan diskusi diri sendiri untuk menemukan ide yang paling tepat dan matang.

Keragu-raguan yang sesuai porsi dapat membantu Anda untuk terus mencari kelemahan pada rencana awal Anda. Juga mendorong Anda untuk terus mempertanyakan dan mencari strategi yang terbaik.

4. Ikuti pelatihan formal

Cara terakhir, mengikuti pelatihan formal yang disediakan lembaga-lembaga terpercaya. Melatih strategic thinking memang dapat dilakukan secara mandiri, langsung melalui pekerjaan sehari-hari.

Namun mempelajarinya secara formal, langsung dengan praktisi dan mentor yang memang telah berpengalaman dalam bidangnya, bukanlah hal yang buruk.

Anda akan tetap menerima ilmu dan informasi baru yang berguna.

Penutup

Strategic planning memang sebuah keterampilan yang umum ditemui pada jajaran manajemen. Namun bukan tidak mungkin skill itu dipelajari dan dikembangkan secara bertahap selama meniti karier.

Biarpun tak menduduki jabatan strategis, atau tak bekerja dalam divisi strategis, bukan berarti strategic planning tak dibutuhkan oleh karyawan lain. Anda akan tetap diuntungkan bila memiliki keterampilan ini.

Selain Anda mampu bekerja lebih maksimal dan profesional, banyak kemampuan non-teknis yang dapat Anda kembangkan dengan mempelajari keterampilan strategic planning.

Comment