Kesiapan HR Untuk Meningkatkan Kinerja Bisnis di 2022 | | HR NOTE Indonesia

Kesiapan HR Untuk Meningkatkan Kinerja Bisnis di 2022

Sejak kehadiran COVID-19, banyak perusahaan beradaptasi dari berbagai hal. Mulai dari mengubah operasional bisnis hingga mengelola karyawan.

Dua tahun menghadapi ketidakpastian pandemi, perusahaan berencana menumbuhkan kembali bisnisnya di 2022. Oleh sebab itu, mereka memerlukan dukungan HR untuk mencapai tujuan tersebut.

Dukungan ini bukan meningkatkan penjualan secara langsung, tetapi dukungan berupa kesiapan HR untuk membantu karyawan menghadapi berbagai tantangan serta peluang ke depannya. Untuk informasi tentang kesiapan HR untuk meningkatkan kinerja bisnis perusahaan di 2022, berikut ini laporan EngageRocket.

Pengaruh COVID-19 Terhadap Bisnis di Indonesia

EngageRocket bersama SWA dan Future HR (FTHR) mensurvei CHRO (Chief Human Resource Officer/Kepala HR) dan non-CHRO mengenai pengaruh COVID-19 terhadap perusahaan secara keseluruhan.

Hasil survei tersebut memperlihatkan pandemi berpengaruh terhadap metode kerja, bujet –dalam hal ini pengeluaran media–, dan budaya perusahaan.

Metode kerja

Bekerja jarak jauh telah menjadi standar bagi pekerjaan kantoran (desk job) saat pandemi. Perusahaan juga mendesain ulang jenis pekerjaan dan memperkenalkan metode kerja baru.

Perubahan metode itu memerlukan HR untuk mendukung kebebasan karyawan dalam menavigasikan lingkungan kerja yang kompleks, yang menyangkut tiga elemen, yakni kepemimpinan, teknologi, dan kejelasan.

Pengeluaran medis

Pandemi COVID-19 sangat berpengaruh terhadap bujet perusahaan. Hal itu ditunjukkan oleh pendapat 97% CHRO dan 90% karyawan non-CHRO setuju perusahaan menanggung semua pengeluaran medis dan perawatan karyawan yang terdampak COVID-19 saat bekerja.

Laporan menuliskan bahwa pandemi menjadi momen bagi organisasi untuk membuktikan komitmen mereka terhadap karyawan. Dengan kata lain, respon perusahaan terhadap pandemi sangat berpengaruh terhadap ketahanan dan keterlibatan karyawan.

Budaya perusahaan

Sejumlah perusahaan membuat kesalahan dengan lebih memprioritaskan produktivitas berbasis jam kerja dan target manual, daripada menyediakan inspirasi selama pandemi.

Hal itu menyebabkan sejumlah pekerja merasa kecewa dan tidak diberdayakan. Padahal perusahaan dapat memanfaatkan potensi karyawan. Caranya membangun budaya empati dengan melatih manajer untuk bertindak sebagai mentor.

Human Resource Director Blue Bird Group Pambudi Soenarsihanto mengatakan 2022 adalah tahun yang sangat menarik bagi HR. Meski dunia masih berada dalam ketidakpastian, tetapi bisnis akan tumbuh.

“Saat bisnis tumbuh, banyak perusahaan akan merekrut karyawan-karyawan yang bagus. Apa yang akan kita lakukan untuk mempertahankan karyawan terbaik? Bagaimana kita memotivasi mereka untuk meningkatkan produktivitas?” kata Pambudi dalam laporan survei.

Kesiapan HR di 2022

Ketika perusahaan membutuhkan tenaga kerja, mereka memerlukan HR untuk melakukan proses perekrutan sekaligus retensi karyawan. Meski demikian HR tidak bisa berjalan sendiri, peran pemimpin perusahaan juga diperlukan.

HR bersama dengan pemimpin perusahaan bertugas untuk akselerasi bisnis supaya semakin pesat dan berkelanjutan. Namun apa yang akan terjadi di 2022? Apa yang harus disiapkan oleh HR?

EngageRocket memiliki laporan tentang kesiapan HR pada 2022.

#1 Implementasi agile working dalam organisasi

Tim HR dan pemimpin harus siap mengimplementasikan agile working. Kenapa?

Karena perubahan akan selalu ada, termasuk perkembangan teknologi digital, sehingga tim HR harus mampu memantau, mendeteksi, serta mengubah sistem, baik di level mikro maupun makro. Upaya yang bisa dilakukan seperti mengubah sistem kerja, menyajikan informasi kinerja, memberikan sentimen karyawan secara cepat dan tepat, dan menghadapi tantangan perusahaan lainnya.

“Di 2022, bisnis akan mengalami transformasi yang lebih pesat lagi. SDM akan dituntut untuk meningkatkan produktivitasnya dengan cara bekerja yang lebih agile,” ujar Audi Lumbantoruan, Indonesia Managing Director EngageRocket.

Fokus perusahaan untuk mengimplementasikan agile working:

  • Evaluasi kebijakan perusahaan 

Perusahaan wajib mengevaluasi kebijakan dan prosedur yang sudah berjalan secara rutin. Dampaknya, perusahaan dapat mencari tahu jika ada proses yang dapat disederhanakan secara digital. Misalnya proses reimbursement, wawancara kandidat, absensi, dan lainnya.

  • Memfasilitasi agile working

Untuk memfasilitasi agile working, perusahaan dapat memanfaatkan platform employee experience. Dengan platform itu, HR akan memperoleh data sentimen karyawan secara instan agar reviu kinerja, pulse survey, dan proses lainnya menjadi lebih cepat.

  • Pelatihan dan pengembangan karyawan

HR dapat memberikan sekaligus memantau pelatihan dan pengembangan karyawan. Tujuannya untuk mendukung akselerasi bisnis dan kemajuan karir karyawan.

#2 Ekspektasi lebih tinggi untuk meningkatkan performa perusahaan

Karyawan merupakan penggerak yang dapat meningkatkan performa perusahaan. Tak heran jika perusahaan menuntut mereka untuk meningkatkan kinerja serta menguasai ilmu dan kemampuan terkini –yang mungkin di luar lingkup pekerjaan–.

Dengan demikian mereka berkontribusi lebih besar bagi perusahaan. Di sisi lain, HR dituntut untuk memantau kontribusi setiap karyawan terhadap performa perusahaan.

Fokus perusahaan untuk meningkatkan performa:

  • Menetapkan target dengan jelas dan terstruktur

Manajemen harus menetapkan target perusahaan terlebih dahulu. Lalu target diturunkan ke level departemen, tim, dan individu. Cara ini memudahkan HR dan pemimpin memantau KPI serta mengevaluasi kinerja setiap level.

  • Memantau kesejahteraan karyawan untuk mencegah burnout 

Karyawan dengan tuntutan target tinggi cenderung mengalami stres dan burnout. Karyawan burnout akan menghasilkan kinerja menurun. Maka pemimpin perlu mengadakan one-on-one meeting secara rutin untuk memantau kesejahteraan karyawan.

#3 Akselerasi kesiapan karyawan untuk meningkatkan efektivitas kerja

Karena pandemi memengaruhi ritme dan metode kerja yang semakin cepat, maka HR juga harus mengakselerasi kesiapan karyawan untuk meningkatkan efektivitas kerja.

Seperti yang telah dibahas di tren sebelumnya, transformasi yang terjadi akibat pandemi berdampak hingga ke level individu. Sehingga HR juga dapat menilai kesiapan karyawan sejak hari pertama kerja.

Audi Lumbantoruan, Managing Director Indonesia EngageRocket, mengatakan tiga tahap kesiapan karyawan yang bisa dipantau oleh HR adalah

Pertama, kesiapan bekerja. HR memantau lingkungan kerja fisik, pola pikir, kesejahteraan, motivasi kerja, serta aspirasi karir setiap karyawan.

Kedua, kesiapan bersosialisasi. HR meninjau kesiapan karyawan dari segi kemampuan kepemimpinan, kerja sama dan kolaborasi tim, hingga pertemanan di lingkungan kerja.

Ketiga, kesiapan berakselerasi. HR memastikan karyawan mampu bekerja dengan kapasitas penuh. Seperti beradaptasi dengan cara kerja –baik remote, hybrid, bekerja dari kantor–, berinisiatif tinggi, dan menunjukkan kinerja optimal.

Fokus perusahaan untuk mengakselerasi karyawan:

  • Menggunakan platform untuk memantau kesiapan karyawan

Menggunakan platform employee experience untuk memahami karyawan, mulai dari onboarding, reviu kinerja, hingga pulse survey.

  • Memiliki visibilitas terhadap pendapat karyawan

Meminta HR untuk membantu karyawan meningkatkan kompetensi dan mengakselerasi output.

  • Memantau level keterlibatan karyawan

HR memantau jam kerja sesuai peraturan ketenagakerjaan. Hal itu mencegah karyawan stres, burnout, serta memonitor intensi mengundurkan diri.

#4 Transformasi lean management dalam organisasi

HR harus mampu menerapkan lean management, yakni fokus terhadap perubahan organisasi dalam menghadapi tantangan bisnis saat ini maupun di masa depan. Begitu juga dengan model organisasi yang terus berubah demi mengatasi kendala dan menghadapi tantangan yang terus berevolusi.

Maka HR harus memahami proses bisnis perusahaan secara end-to-end serta menciptakan kondisi pekerjaan yang sesuai dengan model organisasi terkini. HR dapat membantu pengambilan keputusan dengan mempertimbangkan aspek perusahaan dan karyawan.

Fokus perusahaan untuk mentransformasi lean management:

  • Transformasi menjadi HR Business Builder

Peran tim HR bukan hanya menjadi Business Partner, tetapi Business Builder dengan pembaruan tanggung jawab berupa mempercepat pertumbuhan bisnis agar semakin profitable dan mengembangkan bisnis agar menjadi lebih efektif. Misalnya pengambilan keputusan lebih cepat dan proses rekrutmen lebih efektif.

  • Transformasi menjadi fasilitator bisnis

Perusahaan dapat menggunakan platform employee engagement untuk memperkuat peran HR menjadi fasilitator antara organisasi dan karyawan. HR juga perlu diberikan pelatihan guna menguasai tool dan hard skills yang dibutuhkan.

#5 Pemberdayaan karyawan menjadi value creator bagi organisasi

Seiring meningkatnya level produktivitas, setiap karyawan dituntut untuk menambah kontribusinya kepada organisasi. Di sini, perusahaan berperan dalam proses pemberdayaan karyawan. Misalnya melalui pembelajaran dan pengembangan berupa reskilling, upskilling, serta peningkatan kapabilitas.

Proses pembelajaran dan pengembangan yang berkelanjutan akan menghasilkan karyawan dengan hard skill baru, sehingga mampu memberikan kontribusi yang lebih bernilai kepada perusahaan. Manajemen juga harus mempersiapkan jalur karir karyawan yang jelas dan potensial agar mereka berkembang sesuai kemampuan.

Meski pemberdayaan karyawan menjadi value creator bersifat jangka panjang, organisasi akan melihat peningkatan level produktivitas dan kinerja yang lebih tinggi ke depannya. Organisasi pun dapat meraih return on investment (ROI) yang positif dan terus mengakselerasi pertumbuhan bisnis mereka.

Fokus pemberdayaan karyawan menjadi value creator

  • Mengimplementasikan 360 feedback

Interaksi antar karyawan, divisi, dan atasan dalam sistem kerja remote atau hybrid lebih sulit dipantau. Solusinya, HR mengimplementasikan sistem 360°feedback (umpan balik 360 derajat) untuk mengukur kinerja, kolaborasi, dan perkembangan karyawan lebih efektif.

  • Retensi karyawan dengan data 

Perusahaan perlu memiliki insight karyawan berbasis data. Tujuannya mengidentifikasi kendala (pain point), tantangan, dan kesempatan, sehingga perusahaan dapat mempertahankan karyawan yang telah diberdayakan dan berkontribusi tinggi.

Penutup

Menurut survei Global HR Challenges, tiga tantangan yang paling banyak dihadapi HR saat ini adalah manajemen perubahan (48%), pengembangan kepemimpinan (35%), dan pengukuran efektivitas HR (27%).

Kesiapan HR tak hanya dibutuhkan pada 2022 saja. Karena HR sebagai penghubung perusahaan dan karyawan harus selalu siap dalam menghadapi perubahan situasi, peralihan bisnis, hingga mengelola karyawan.

Dan, mengenai pengelolaan karyawan, tantangan seperti rekrutmen, ketersediaan tenaga kerja yang mumpuni, serta retensi karyawan juga masih akan dijumpai oleh HR.

Comment