Fleksibilitas Kerja: Mengapa Perusahaan Enggan Menerapkannya? | | HR NOTE Indonesia

Fleksibilitas Kerja: Mengapa Perusahaan Enggan Menerapkannya?

fleksibilitas kerja

Dalam beberapa tahun terakhir, fleksibilitas kerja menjadi salah satu perubahan terbesar di dunia bisnis. Semakin tahun, semakin banyak karyawan yang menginginkannya.

Bahkan fleksibilitas kerja menjadi penguat, apakah mereka akan tetap bekerja di tempat yang sama atau mencari tempat lain. 

Studi Gallup pada Maret 2022 menemukan sebesar 54 persen karyawan jarak jauh dan 38 persen pekerja hybrid akan mencari pekerjaan lain jika perusahaan berhenti menawarkan opsi kerja jarak jauh.

Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan yang tak memberikan fleksibilitas kerja akan kehilangan karyawan. Meski demikian ada satu hal yang perlu disadari, yakni fleksibilitas ini tidak dapat diterapkan di semua perusahaan.

Mengapa Perusahaan Enggan Menerapkan Fleksibilitas Kerja?

Fleksibilitas kerja mengacu pada jenis pengaturan kegiatan yang memungkinkan karyawan melakukan penyesuaian diri dalam bekerja

Fleksibilitas dapat berbasis lokasi dan berbasis waktu. Fleksibilitas lokasi seperti work from home (WFH) dan sistem kerja hybrid. Sedangkan, fleksibilitas waktu seperti kelonggaran mengatur jam kerja atau durasi kerja berdasarkan penyelesaian tugas. 

Permintaan fleksibilitas kerja yang semakin tinggi tak lepas dari kontribusi pandemi COVID-19. 

Karena perusahaan memberlakukan kebijakan di mana karyawan dapat WFH. Hal tersebut sebagai upaya pencegahan penularan virus yang saat itu belum ada vaksinasi COVID-19.

Ketika kondisi berangsur normal dan vaksinasi dilakukan secara merata, para pemimpin menuntut karyawan untuk kembali ke tempat kerja. Ironisnya, tak sedikit karyawan yang menentangnya karena alasan keamanan, mengasuh “orang rumah”, dan ingin mempertahankan work-life balance.

Jika perusahaan tetap memberlakukan kembali bekerja di kantor, karyawan perlahan-lahan mencari perusahaan lain yang mengakomodir kebutuhan mereka.

Beberapa perusahaan ada yang merespon permintaan karyawan. Mereka mempertahankan fleksibilitas kerja dengan menawarkan sistem kerja jarak jauh sepenuhnya, hybrid, dan asynchronous work.

Tak sedikit pula yang enggan menerapkan fleksibilitas kerja. Alasannya antara lain:

Pengaruh terhadap budaya perusahaan dan tujuan bisnis

Budaya perusahaan berperan besar dalam mempertahankan fleksibilitas kerja. Ketika perusahaan dengan budaya tradisional dan konservatif, pemimpin akan mendorong karyawannya untuk kembali bekerja di kantor.

Tsedal Neeley, seorang profesor administrasi bisnis di Harvard Business School, menjelaskan eksekutif senior khawatir terhadap interaksi interpersonal. Karena fleksibilitas kerja memungkinkan pemimpin dan karyawan berinteraksi secara virtual.

Kondisi itu membuat mereka khawatir karena kehilangan hubungan antarpribadi yang bisa berpengaruh terhadap tujuan bisnis.

Mengubah struktur organisasi

Fleksibilitas kerja–baik bekerja jarak jauh dan hybrid–sering kali memerlukan perubahan struktur organisasi.

Menurut Neelya, mengubah cara kerja tim saling terhubung dan menerapkan teknologi sehari-hari, sambil menghadapi klien tidaklah mudah. Ada perusahaan yang mengubah struktur organisasi memastikan budaya dan tujuan perusahaan tetap berjalan.

Mengubah tempat kerja

Perusahaan rintisan cenderung dapat dengan mudah menerapkan fleksibilitas kerja. Bahkan perusahaan teknologi berani menjalankan sistem kerja jarak jauh.

Sedangkan perusahaan multinasional yang telah lama beroperasi enggan atau membutuhkan waktu lebih lama untuk menerapkannya.

Karena mereka perlu mengubah tata letak tempat kerja yang telah digunakan bertahun-tahun. Hal itu menjadi tugas berat dari segi waktu dan biaya.

Pemimpin kehilangan kendali

Keengganan perusahaan menerapkan fleksibilitas kerja karena si pemimpin tak ingin kehilangan kendali

Banyak eksekutif, masih menurut Neeley, merasa kehilangan kendali terhadap lingkungan terstruktur di mana orang-orang hadir secara fisik di kantor. Hal ini membuat mereka kesulitan mengukur produktivitas kerja karyawan.

Di sisi lain, pemimpin level eksekutif tidak mempercayai kinerja karyawan saat mereka jauh dari pandangan pemimpin. 

Fleksibilitas Kerja Tidak Untuk Semua Perusahaan

Tidak diragukan lagi, fleksibilitas kerja bermanfaat bagi perusahaan. Sebuah studi menunjukkan bahwa kebijakan tersebut dapat meningkatkan rekrutmen dan retensi karyawan.

Bahkan, fleksibilitas kerja dapat meningkatkan produktivitas karyawan, mengurangi stres dan kelelahan kerja, mempromosikan budaya perusahaan yang positif, memangkas tingkat ketidakhadiran, hingga mengurangi biaya pengeluaran tambahan.

Namun, di tengah lingkungan kerja yang berubah, ada beberapa perusahaan yang sulit menerapkan kebijakan ini. 

Perusahaan keuangan dan manufaktur

Perusahaan keuangan dan manufaktur sulit menjalankan fleksibilitas kerja. Misalnya, karyawan frontline di perusahaan perbankan dan karyawan bagian produksi di perusahaan manufaktur makanan minuman.

Perusahaan keuangan

Perusahaan keuangan wajib mengikuti peraturan pemerintah dan data terkait perusahaan yang bisa lebih rumit jika dikerjakan secara jarak jauh. Jadi, mereka harus bekerja dari kantor dengan peralatan dan teknologi memadai.

Untuk karyawan nonfrontline, perusahaan menawarkan sistem kerja hybrid. Bahkan firma akuntansi big four mulai berbagai skema dan kebijakan untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja yang baru ini.

Perusahaan manufaktur

Selain itu, perusahaan manufaktur makanan dan minuman tidak cocok dengan konsep fleksibilitas kerja. 

Karena perusahaan memiliki sistem kerja shift, di mana beberapa kelompok karyawan harus bekerja pada jam-jam tertentu. Pekerjaan mereka ada yang memproduksi, ada pula yang memastikan proses kerja berjalan efisien dan target produksi tercapai.

Sebagai kompensasinya, perusahaan akan memberikan karyawan berupa uang lembur dan tunjangan shift.

Kebijakan akomodatif

Sistem kerja frontliner tidak dapat diganggu gugat. Mereka harus berada di garis terdepan untuk membantu kebutuhan pelanggan.

Di sisi lain, perusahaan perlu menyadari bahwa fleksibilitas kerja juga perlu diterapkan bagi nonfrontliner. JPMorgan, misalnya. 

Perusahaan keuangan global yang mendorong karyawannya untuk return to office dengan struktur tidak lagi realistis, akhirnya memberikan kebijakan yang akomodatif dan fleksibel. 

Mereka menyadari dunia telah berubah. Dengan fleksibilitas kerja, mereka dapat mempertahankan karyawan ke tingkat yang mereka inginkan.

Di samping itu, perusahaan yang berfokus ke depan akan mendukung karyawan secara fisik, mental, sosial, serta kesejahteraan. Mereka menyiapkan supervisor atau manajer untuk membantu kebutuhan anggota timnya.

Fleksibilitas Kerja Yang Diinginkan Oleh karyawan

fleksibilitas kerja

Fleksibilitas kerja bisa datang dalam beragam cara, yaitu:

Lokasi kerja

Perusahaan bisa menawarkan fleksibilitas berdasarkan lokasi kerja. Misalnya:

  • Opsi WFH untuk karyawan yang baru saja memiliki anak atau mengasuh orang tua.
  • Work from anywhere (WFA) bagi karyawan muda yang mendambakan fleksibilitas sepenuhnya.
  • Sistem kerja hybrid ketika cuaca sedang tidak mendukung untuk bepergian.
  • Bekerja jarak jauh bagi karyawan yang kembali ke kota asalnya.

Jam kerja

Jika biasanya, perusahaan mematok jam kerja dari pukul 09.00 hingga 18.00. Dalam fleksibilitas kerja, berikan flextime yang memungkinkan karyawan untuk mengubah waktu kedatangan dan keberangkatan sesuai kebutuhan.

Durasi kerja

Pada umumnya, karyawan–yang bekerja selama lima hari dalam seminggu–harus berkutat selama sembilan jam di kantor. Dengan rincian delapan jam durasi kerja dan satu satu istirahat.

Saat perusahaan menerapkan kerja fleksibel, Anda dapat memberikan pengurangan jam kerja. Misalnya:

  • Empat jam untuk bekerja di kantor dan sisanya bisa dikerjakan di mana saja.
  • Jika karyawan bisa menyelesaikan semua pekerjaan kurang dari delapan jam kerja, mereka bisa pulang.

Beban kerja

Dalam fleksibilitas beban kerja, manajer sangat berperan besar ketika harus mengelola anggota timnya. 

Misalnya, manajer menilai kemampuan dan beban kerja anggotanya. Lalu mendelegasikan tugas dan memberikan mereka kebebasan bekerja agar dapat mendukung tujuan perusahaan secara optimal.

Penutup 

Penerapan fleksibilitas kerja tidak bisa untuk semua peran, tugas, dan operasional bisnis. Namun, perusahaan perlu mempertimbangkannya untuk beradaptasi dengan dunia kerja yang berubah.

Sebelum menerapkan fleksibilitas kerja, pastikan bahwa hal tersebut akan berjalan sesuai dengan budaya perusahaan, meningkatkan work-life balance, serta mendukung karyawan baru untuk belajar dari seniornya, begitu juga sebaliknya.

Comment