Memahami Konsep Employee Engagement dan Manfaatnya | | HR NOTE Indonesia

Memahami Konsep Employee Engagement dan Manfaatnya

Employee engagement adalah konsep mendasar dalam upaya untuk memahami dan menggambarkan, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, sifat hubungan antara organisasi dan karyawannya. Employee engagement pertama kali dipopulerkan oleh Gallup Consultant pada 2004, meskipun sebelumnya banyak pakar yang mulai membahas mengenai konsep ini.

Berbagai media sudah menjelaskan apa keuntungan employee engagement di sebuah perusahaan. Banyak pula yang sudah mencoba mengikuti tren tersebut, namun belum juga merasakan hasilnya. 

Mari kita pahami kembali poin-poin penting di bawah ini untuk mengetahui apakah terdapat kekurangan dalam metode employee engagement yang sudah dipilih.

Sebelumnya, Mari Ketahui Definisi Employee Engagement Dari Berbagai Sumber

Seperti yang disinggung di atas, konsep Employee Engagement, atau dalam bahasa Indonesianya Keterlibatan Karyawan, adalah sebuah konsep di dalam ranah MSDM yang sudah cukup lama disinggung oleh pakar organisasi.

Perusahaan konsultan manajemen Amerika, Gallup, memang mempopulerkan konsep tersebut melalui penelitian dan insight-nya. Namun, selain dari Gallup, tidak ada salahnya kita menengok definisi dari employee engagement dari pakar lain. Dan… ya, banyak pakar yang mendefinisikan employee engagement versi mereka sendiri! Meskipun inti maknanya tidak berbeda jauh.

Simak di bawah ini!

Gibbons (dalam Hughes dan Rog, 2008)
Employee engagement adalah hubungan emosional dan intelektual yang tinggi yang dimiliki oleh karyawan terhadap pekerjaannya, organisasi, manajer, atau rekan kerja yang memberikan pengaruh untuk menambah discretionary effort dalam pekerjaannya.

Benthal (dalam Mujiasih, 2015)
Employee engagement adalah suatu keadaan dimana manusia merasa dirinya menemukan arti diri secara utuh, memiliki motivasi dalam bekerja, mampu menerima dukungan dari orang lain secara positif, dan mampu bekerja secara efektif dan efisien di lingkungan kerja.

Chartered Institute of Personnel Development (CIPD), Badan Profesional HR
Employee engagement umumnya dilihat sebagai keadaan internal–baik fisik, mental dan emosional–yang menyatukan konsep awal upaya kerja, komitmen organisasi, kepuasan kerja dan ‘aliran’ (atau pengalaman optimal).

Kevin Kruse, penulis buku Employee Engagement 2.0, dalam Forbes
Employee engagement adalah komitmen secara emosional yang dimiliki karyawan terhadap organisasi tempatnya bekerja dan tujuan dari organisasi tersebut.

Jika dirangkum, definisi Employee Engagement adalah…
Employee engagement adalah keadaan internal organisasi di mana karyawan memiliki hubungan emosional terhadap organisasi tempatnya bekerja, termasuk di dalamnya pandangannya terhadap pekerjaannya, tanggung jawabnya, hubungannya dengan atasan, bawahan, dan rekan koleganya.

Manfaat Memiliki Karyawan yang Engaged Di Dalam Organisasi

1. Kinerja tim yang lebih baik

Karyawan yang engaged dengan apa yang dilakukannya tidak hanya akan memberikan dampak positif kepada dirinya sendiri, tetapi juga ke seluruh tim. Ini disebabkan karyawan yang engaged mampu memberikan performa di level tertinggi. Bayangkan jika Anda memiliki lebih dari satu karyawan yang engaged di dalam tim?

2. Meningkatnya produktivitas

Karyawan dengan tingkat keterlibatan tinggi biasanya sudah memahami apa tujuan dari bisnis perusahaan, dan mampu mengatur cara kerja mereka agar aligned dengan strategi perusahaan. Hasilnya, mereka mampu bekerja secara efektif hingga produktivitas individu dan tim meningkat. Perusahaan pasti bisa melihat hasilnya dengan jelas.

3. Meningkatkan kesehatan dan keselamatan karyawan

Karyawan yang engaged biasanya lebih peka terhadap lingkungan sekitar pekerjaannya. Mereka memiliki tingkat konsentrasi yang tinggi. Ini membuat mereka jarang bertindak ceroboh dan menghindarkan mereka dari berbagai risiko dan masalah. 

4. Menurunnya tingkat turnover

Tentunya, tidak ada alasan bagi karyawan yang engaged untuk cepat-cepat resign dari perusahaan, bukan? Ini karena mereka memiliki komitmen emosional terhadap pekerjaan mereka, juga lingkungan di perusahaan. Tentunya, ini akan menyelamatkan perekrut dari beban rekrutmen setiap kali ada karyawan yang resign.

5. Relasi yang lebih baik

Karyawan yang mampu engaged dengan pekerjaan dan perusahaannya biasanya lebih pandai dalam mengatur emosi. Ini berdampak baik pada bagaimana cara mereka menjaga hubungan mereka dengan orang lain, baik itu rekan kerja, teman di luar kerja, bahkan keluarga.

6. Tingkat absensi rendah

Kita tahu tingginya tingkat absensi menandakan ada yang salah dengan organisasi kita. Namun, karyawan yang engaged memiliki semangat tinggi untuk selalu mengeluarkan performa terbaiknya setiap hari. Tidak ada alasan bagi mereka untuk menghindari tanggung jawab di kantor dan membolos. Jadi, memiliki karyawan yang engaged akan membantu perusahaan menilai kondisi produktivitasnya.

7. Pelayanan pelanggan lebih baik

Karyawan yang mampu berkomitmen terhadap pekerjaan tentu bisa melihat dan menentukan apa yang terbaik bagi pelanggan mereka. Bahkan, mereka bisa memunculkan ide-ide segar lebih cepat dari orang lain karena mereka aktif update kondisi market–semua karena mereka memikirkan pelanggan mereka.

8. Meningkatkan profit

Akhirnya, apa yang organisasi dapat dari memiliki karyawan yang engaged? Kinerja individu dan tim membaik, produktivitas meningkat, pelanggan Anda puas… yup, tentu akhirnya profit pun akan ikut membaik. Menurut Meta-analisis dari Gallup, bisnis atau unit kerja yang mendapat skor tertinggi pada employee engagement menunjukkan tingkat profitabilitas 21% daripada seperempat skor lebih rendah lainnya.

Pahami Apa yang Menjadi Driving Force Karyawan

Mungkin beberapa dari Anda sudah menerapkan employee engagement di perusahaan dengan tujuan meningkatkan mutu dan kinerja karyawan, tetapi hasilnya belum juga terlihat.

Hal tersebut bisa jadi berkaitan dengan kurangnya analisa pada titik motivasi tiap karyawan Anda. Berikut adalah piramida employee engagement yang diselaraskan dengan piramida kebutuhan Maslow. Piramida tersebut menandakan titik engagement akan berubah seiring meningkatnya kesadaran karyawan tentang motivasinya.

Mari kita lihat gambar di bawah.

Tidak Engaged Sama Sekali

Sama sekali tidak terhubung atau engaged dengan organisasi, tipe karyawan ini biasanya hanya bekerja untuk mendapatkan upah tanpa memiliki motivasi untuk berkembang. Mereka bahkan tidak memperluas hubungan sosial di lingkungan kerja hingga tidak merasa bahagia.

Yang harus dilakukan perusahaan: memenuhi kompensasi mendasar agar karyawan merasa kebutuhan mendasarnya terpenuhi.

Tidak Engage

Masih termasuk tidak memiliki motivasi, tipe karyawan ini dinilai belum engaged dengan perusahaan meskipun sudah mulai aktif dalam bersosialisasi dan melakukan pekerjaan yang disuruh (tanpa inisiatif lebih). Mereka masih belum mengerti apa arti dari menjadi bagian dari perusahaan.

Yang harus dilakukan perusahaan: memberikan rasa aman kepada karyawan dengan menjanjikan long term job (posisi permanen) dan comben yang memancing kebutuhan sekuritas karyawan.

Hampir Engaged

Tipe ini hampir engaged dengan perusahaan, dimana ia sudah mampu melakukan tugasnya dengan benar dan baik. Hanya saja, masih kurang dorongan-alasan-mengapa ia harus melakukan lebih dari sekarang. Karyawan tipe ini juga sudah nyaman bekerja di lingkungan perusahaan.

Yang harus dilakukan perusahaan: agar karyawan memiliki sense of belonging, libatkan karyawan dalam kegiatan perusahaan, kalau perlu tarik ke lingkungan manajemen dimana ia bisa melihat visi, misi dan nilai perusahaan lebih jelas lagi. Bisa juga dengan memberikan benefit lebih untuk yang memiliki kinerja atau potensi tinggi.

Engaged

Kelompok ini dianggap sudah engaged dengan perusahaan karena selain sudah tahu apa saja tanggung jawabnya, ia pun tahu bagaimana cara memaksimalkan kemampuannya untuk perusahaan. Setelah mengerti dan sejalan dengan tujuan perusahaan, ia memiliki dorongan untuk melakukan yang terbaik untuk diri sendiri dan kelompok karena ia tahu kehadirannya penting di dalam perusahaan (terlepas dari apa jabatannya).

Yang harus dilakukan perusahaan: terus mendorong dan memfasilitasi kelompok ini dengan pelatihan dan pengembangan yang tepat.

Sangat Engaged

Karyawan ini berada di tingkat teratas dalam teori “Hierarchy of Needs” menurut Maslow. Telah memenuhi segala kebutuhan mendasar serta menyadari peran pentingnya dalam organisasi, karyawan ini benar-benar mencintai pekerjaannya dan siap untuk menginspirasi orang-orang lain di sekitarnya.

Yang harus dilakukan perusahaan: janjikan posisi yang bisa semakin mendukung engagement-nya terhadap perusahaan.

Download Konten Spesial dari HR NOTE, GRATIS!

Ada konten khusus untuk pembaca setia HR NOTE. Konten ini menyediakan pendapat kami tentang suatu topik tertentu. Kontennya GRATIS, jadi silakan langsung download! Konten PDF kali ini membahas topik:

  • Turnover Tinggi Di Masa Pandemi, Double Challenge Bagi Perusahaan

  • Memahami Alasan Karyawan Memilih Resign Meski Berada Di Masa Sulit
  • 10 Strategi Perusahaan Dalam Mencegah Karyawan Resign dan Menjaga Tingkat Retensi

Pandangan Employee Engagement oleh Manajemen dan Karyawan Berbeda

Dari Sisi Manajemen

Employee engagement di sini adalah tentang bagaimana seorang karyawan bisa merasa bangga dan loyal dalam pekerjaannya bagi organisasi, menjadi bagian perusahaan yang siap menangani klien, user, serta konsumen, serta selalu memberi lebih dalam menyelesaikan setiap pekerjaannya.

Para pemberi kerja berharap employee engagement bisa memancing komitmen lebih dalam dari karyawan, sehingga semakin sedikit pula mereka yang selalu absen, malas, kecelakaan kerja, serta menimbulkan konflik dalam pekerjaan.

Tujuan akhirnya tentu untuk meningkatkan produktivitas perusahaan dengan selalu konsisten melakukan aksi demi mencapai nilai perusahaan.

Dari Sisi Karyawan

Dalam pandangan karyawan, karyawan lebih menginginkan kesempatan pengembangan diri dan merasakan apresiasi terhadap apa yang mereka kerjakan. Ditambah, membuat karyawan merasa terlibat dalam pergerakkan bisnis perusahaan juga akan mendorong rasa percaya dirinya.

Karyawan akan sadar apa perannya dalam perusahaan, dan akan selalu bersemangat dalam membantu tercapainya tujuan perusahaan. Tidak ada lagi cerita menunda pekerjaan karena malas, mengeluhkan beban pekerjaan, dan sebagainya.

Employee engagement juga membuat karyawan tahu jelas dan paham apa yang menjadi tujuan perusahaan, serta bagaimana hal tersebut mengubahnya untuk bisa bekerja dengan lebih baik dan bersedia memberikan kontribusi berupa ide atau pekerjaan yang akan mempengaruhi jalannya perusahaan.

Happy Employee ≠ Engaged Employee

Kevin Kruse (2012) dalam Forbes menyatakan bahwa employee engagement tidak sama dengan kebahagiaan dalam bekerja (employee happiness). Menurutnya, Banyak orang bekerja dengan bahagia, namun mereka tidak engaged pada visi dan misi perusahaan dan tugas-tugas yang diembannya.

Membuat senang karyawan dengan memberikan insentif atau benefit yang bagus belum berarti dapat memperkuat engagement mereka. Kebutuhan material tidak bisa mengalahkan kebutuhan psikologis dan kebutuhan psikologis lah yang akan mengantarkan karyawan kepada sikap engage.

Engagement = loyalitas, rasa bangga, dan sense of belonging

Apa yang Bisa Dilakukan untuk Membentuk Employee Engagement?

Banyak sekali yang bisa dilakukan untuk membentuk employee engagement. Semua kembali lagi kepada kondisi di perusahaan. Menurut kami, langkah pertama yang harus dilakukan adalah melakukan identifikasi terhadap isi perusahaan, khususnya karyawan Anda. kenali karyawan Anda sebaik mungkin agar bisa merancang employee engagement yang sesuai.

Jangan ragu untuk meminta pendapat rekan Anda yang lain karena mereka akan senang dilibatkan dalam proyek besar seperti ini.

Di bawah adalah beberapa poin yang kami anggap cukup penting untuk menjadi dasar dalam menciptakan employee engagement di perusahaan.

  1. Tanamkan kuat-kuat visi, misi, nilai budaya perusahaan ke dalam diri karyawan.
  2. Bentuk komunikasi dua arah, budayakan jujur, transparansi dan demokrasi dalam lingkungan perusahaan.
  3. Tanamkan konsep karyawan adalah bagian dari perusahaan, semua ide, pendapat, dan aksi karyawan do matter.
  4. Perbedaan generasi di dalam perusahaan Anda bisa menjadi tantangan lain yang harus diakali ketika merancang program ini.

Employee Engagement Saat Pandemi

Pandemi COVID-19 membuat perusahaan mengubah regulasi. Salah satunya mengenai sistem kerja, yakni dari bekerja di kantor menjadi work from home (WFH) dan/atau hybrid

Walau sistem tersebut bukan untuk semua posisi (jabatan) dan terdapat karyawan yang tersebar (di kantor dan di rumah), perusahaan tetap bisa membuat mereka engage, caranya:

Manajemen suportif

Meski tidak bertemu anggota tim karena perbedaan jadwal WFH, HR dan manajemen dapat melakukan pendekatan yang suportif. Misal meningkatkan komunikasi dengan anggota tim, bertanya apa yang mereka butuhkan, memberikan umpan balik yang mendukung kinerjanya secara rutin, serta memberikan mereka tentang makna pencapaian dari tujuan.

Menciptakan lingkungan kerja positif

Pandemi dan perubahan sistem kerja adalah tantangan terbesar yang dihadapi oleh karyawan. Bagi yang WFH, mereka harus membagi waktu antara bekerja dan mengelola urusan domestik. 

Oleh karena itu, HR perlu menciptakan lingkungan kerja positif. Misal menerapkan flexible working, cuti untuk keperluan anak, program employee wellbeing, dan lainnya. Jika perusahaan memperhatikan kebutuhan karyawan, mereka merasa terkoneksi dan dihargai. Hasilnya, mereka menunjukkan kinerja terbaiknya untuk perusahaan.

Menumbuhkan kepercayaan

Untuk menumbuhkan kepercayaan, manajemen perlu mengedepankan transparansi. Misal mendorong pimpinan dan manajer berbicara tentang apa yang terjadi di perusahaan kepada karyawan dan berinvestasi di program learning and development.

Kesimpulan

Employee engagement adalah sebuah bentuk loyalitas karyawan kepada profesinya, bukan kepada atasan maupun perusahaannya. Secara tidak langsung ya, kepada perusahaan. Tetapi, karyawan yang mampu merasa loyal, bangga dan tinggi sense of belonging nya akan secara tidak langsung memberikan dampak besar bagi sekitarnya. Hasilnya? Seperti yang Anda idamkan selama ini.

Tantangannya adalah bagaimana menyusun strategi employee engagement tanpa membuatnya meleset jadi sekadar upaya menyenangkan karyawan. Kenali karyawan-karyawan Anda dengan baik, dan berikanlah apa yang mereka butukan untuk dapat menjaga motivasi dan memaksimalkan potensi kerjanya.

Download Konten Spesial dari HR NOTE, GRATIS!

Ada konten khusus untuk pembaca setia HR NOTE. Konten ini menyediakan pendapat kami tentang suatu topik tertentu. Kontennya GRATIS, jadi silakan langsung download! Konten PDF kali ini membahas topik:

  • Turnover Tinggi Di Masa Pandemi, Double Challenge Bagi Perusahaan

  • Memahami Alasan Karyawan Memilih Resign Meski Berada Di Masa Sulit
  • 10 Strategi Perusahaan Dalam Mencegah Karyawan Resign dan Menjaga Tingkat Retensi

Comment