Definisi Micromanagement dalam Organisasi dan Cara Mengatasinya | | HR NOTE Indonesia

Definisi Micromanagement dalam Organisasi dan Cara Mengatasinya

micromanagement

Saat ini, micromanagement adalah sistem manajemen yang berdampak negatif pada kinerja karyawan. Metode ini sama dengan pengawasan manajerial yang berlebihan dan dapat memengaruhi produktivitas dan moral karyawan.

Sebagai seorang karyawan, mengapa sistem ini tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya? Mari pahami tentang micromanagement berikut ini!

Definisi Micromanagement dalam Sebuah Organisasi

Micromanagement atau manajemen mikro adalah istilah negatif yang mengacu pada gaya kepemimpinan.

Menurut definisi Gartner, micromanagement adalah pola perilaku manajerial yang ditandai dengan pengawasan dan kontrol yang berlebihan terhadap pekerjaan karyawan dan prosesnya. Ini membuat karyawan merasa ruang geraknya dibatasi atasan.

Micromanagement umumnya menghindari pelimpahan wewenang dan pengambilan keputusan kepada karyawan dan cenderung terlalu terobsesi untuk mengumpulkan informasi terkini.

Banyak orang mengalami micromanagement di beberapa titik dalam karir mereka. Padahal hal ini dapat merusak kepercayaan diri karyawan, menghilangkan otonomi, dan sangat membatasi kreativitas.

Percaya atau tidak, risiko paling buruk micromanagement dapat menyebabkan karyawan mencari pekerjaan lain, bahkan menyebabkan kecemasan, stress, dan depresi.

Micromanagement bisa terjadi disebabkan oleh beberapa hal, seperti :

  • Kurangnya rasa percaya plus dukungan antara manajer dan karyawan
  • Sebagian besar manajer tidak memiliki kemampuan untuk memimpin
  • Kurangnya keterampilan kepemimpinan
  • Adanya rasa takut kehilangan posisi atau kekuasaan
  • Pemimpin menganggap karyawan tidak memiliki pengetahuan sebanyak dirinya
  • Pemimpin percaya mereka dapat melakukan pekerjaan lebih baik pada waktu yang sama
  • Pemimpin yakin mereka dapat melakukan lebih banyak pekerjaan sekaligus dan senang mengoreksi karyawan mereka.

10 Tanda Micromanagement Di dalam Tim

1. Tidak mendelegasi pekerjaan

Micromanagement seringkali merupakan gejala dari masalah kontrol. Alih-alih mendelegasikan, manajer mengambil alih pekerjaan karyawan mereka.

Pemimpin seperti ini tampaknya berpikir proses kerja mereka akan berantakan  jika mereka tidak memantau setiap langkah karyawannya. Mereka juga cenderung akan mengambil pekerjaan untuk “menunjukkan jalan yang benar”.

Pemimpin seperti ini biasanya tidak akan membiarkan karyawan bekerja sendiri. Bahkan karyawan perlu persetujuan sebelum melanjutkan proses ke tahap selanjutnya.

Hal ini akan menyebabkan kelambatan dan beban kerja yang tidak merata.

2. Selalu meeting

Tidak semua diskusi harus dibicarakan dalam rapat, tetapi pelaku micromanagement tampaknya tidak memahami hal ini.

Melakukan rapat terus-menerus adalah salah satu ciri micromanagement. Pertemuan ini tidak lebih dari sekadar kumpul-kumpul harian singkat saja. Setiap hari manajer tampak membahas topik yang mendesak, padahal sebenarnya tidak.

3. Mengawasi dalam jarak dekat

Melakukan pengecekan berkala memang sangat penting untuk kesejahteraan dan produktivitas karyawan, namun jika dilakukan dengan berlebihan bisa melelahkan.

Melelahkan pemimpin dan anggotanya sekaligus.

Pemimpin seperti ini bisa mengirim karyawannya chat setiap beberapa jam untuk memeriksa apa yang sedang mereka lakukan.

Demikian juga dengan supervisor yang meminta karyawannya untuk bertemu beberapa kali dalam seminggu. Mungkin ia sedang mengendalikan tanggung jawab karyawannya daripada memberdayakan mereka untuk mengambil tanggung jawab sendiri.

4. Semua tugas harus dapat persetujuan

Manajer akan memastikan pekerjaan semua karyawan telah ditinjau, diedit, dan akhirnya disetujui sebelum selesai. Hal ini tentu adalah sebuah ciri dari micromanagement dalam perusahaan.

Pemimpin semacam ini tidak tahan dengan gagasan memberikan kendali penuh dan tanggung jawab kepada tim atas pekerjaan mereka sendiri.

5. Harus di-CC di setiap email

Menurut micro-manager, hal terbaik yang harus dilakukan seorang karyawan adalah dengan melakukan CC di setiap email yang berhubungan dengan pekerjaan atau semua bagian saluran miliknya.

Hal ini biasanya dilakukan karena pemimpin tersebut takut dikucilkan dari email atau korespondensi yang berhubungan dengan pekerjaan.

6. Mempermasalahkan hal sepele

Salah satu ciri paling penting dari micromanagement adalah perhatian para pemimpin terhadap hal-hal sepele.

Mereka akan mempermasalahkan bagaimana nada bicara karyawan mereka di telepon atau cara perusahaan memperbaiki kesalahan. Namun, mereka tidak akan memahami gambaran besar dari pekerjaan seseorang.

ilustrasi micromanagement manajer mempermasalahkan hal sepele

7. Mengubah hasil kerja anggota tim

Ketika seorang karyawan telah menghabiskan waktu berminggu-minggu dalam merencanakan proyek dan berharap dapat mempresentasikannya di seluruh tim. Namun ternyata pemimpin mereka melihat hasilnya dan mengubah hasilnya dengan caranya sendiri.

Beberapa manajer menganggap perilaku ini sebagai sikap unggul dan perfeksionis, padahal sebenarnya ini adalah bentuk kontrol terhadap karyawan.

8. Komunikasi berlebih

Komunikasi memang jadi hal yang baik, tetapi micromanager (manajer yang micromanaging) melakukannya secara ekstrem.

Para manajer ini akan menjelaskan instruksi mereka secara berlebihan dan merinci setiap langkah, tidak peduli berapa kali karyawan akan mengklaim mereka telah mengerti.

Alih-alih memberikan poin yang penting, mereka akan memberikan semua informasinya. Hal ini membuat pemimpin banyak bertanya kepada karyawan setiap hari.

9.Tidak percaya pada cara kerja lain selain miliknya

Pemimpin dengan micromanagement cenderung memiliki standar “lakukan apa yang saya katakan, bukan lakukan sesuai yang kamu ketahui”.

Mereka tidak mau menunjukkan sikap yang diharapkan, tetapi beranggapan opini mereka selalu benar. Pemimpin seperti ini cenderung tidak mau mendengarkan ide orang lain atau mencoba sesuatu yang baru.

10. Pekerjaan menumpuk

Micromanagement membuat pemimpin tidak cukup mempercayai karyawan mereka dalam menyelesaikan pekerjaan.

Tidak hanya itu, pemimpin seperti ini akan menyimpan bagian proyek yang menyenangkan dan kreatif untuk diri sendiri. Namun, hal inilah yang membuat pekerjaan malah semakin menumpuk.

Dampak Praktik Micromanagement

Micromanagement menyebabkan produktivitas yang rendah. Karyawan harus memperlambat pekerjaan mereka dan menerapkan feedback yang konstan dan perubahan alur kerja.

Ini juga akan membuat mereka mempertanyakan kemampuan diri sendiri untuk menyelesaikan tugas secara mandiri.

Micromanagement juga membuat karyawan menjadi bergantung pada atasannya dalam menyelesaikan pekerjaan.

Pada dasarnya, gaya ini memegang semua kekuatan yang dibutuhkan karyawan untuk merasa bertanggung jawab atas pekerjaan mereka.

Dampak lainnya adalah masalah kesehatan yang muncul. Seiring waktu, manajemen mikro bisa menyebabkan meningkatnya stres dan gaya hidup tidak sehat, sampai bisa memengaruhi pekerjaan dan kehidupan pribadi karyawan.

Adapun dampak lain dari adanya micromanagement adalah sebagai berikut :

  • Meningkatnya turnover karyawan
  • Memengaruhi moral karyawan
  • Kehilangan kepercayaan dan kerja sama di dalam tim
  • Karyawan jadi kurang percaya diri
  • Inovasi dan ide inovatif berkurang
  • Meningkatkan stres
  • Munculnya masalah kesehatan

Apakah HR Harus Bertindak Jika Ada Pemimpin Micromanager?

Jarang ada karyawan yang menyukai micromanagement atau termotivasi karena pimpinan memeriksa semua detail proyek tim dan mengkritiknya.

Kebanyakkan, karyawan akan merasa bertanya-tanya apakah pemimpin mempercayai penilaian, keterampilan, dan keahlian karyawan mereka?

Survei yang dilakukan oleh Accountemps, 59% karyawannya mengatakan bahwa mereka pernah bekerja dengan micromanager. Dari jumlah tersebut, 68% melaporkan semangat yang lebih rendah dan 55% melaporkan produktivitas yang lebih rendah.

Inilah dua efek samping negatif yang dapat menyebabkan masalah yang lebih besar. Maka untuk mengurangi micromanagement, HR perlu memahami apa penyebabnya.

Meski micromanagement adalah gaya kepemimpinan dari seseorang, adakah hal yang bisa dilakukan HR?

Ada beberapa cara untuk mengurangi micromanagement yang bisa dilakukan HR dalam perusahaan, seperti:

  • Pastikan memperkerjakan orang yang tepat sehingga manajer tidak perlu merasa campur tangan karena kinerja yang buruk.
  • Latih manajemen dan kepemimpinan tentang bagaimana cara berkomunikasi dengan baik kepada karyawan dan bagaimana cara memberikan feedback agar dapat memotivasi karyawan.
  • Tetapkan target yang tepat. Didik manajer untuk membantu karyawan menetapkan tujuan yang tepat.
  • Perhatikan darimana datangnya keluhan berasal. Masalah mungkin berasal dari satu pemimpin yang sama.
  • Pastikan program untuk karyawan tepat tersedia.
  • Lakukan evaluasi insentif di tempat kerja Anda untuk memastikan bahwa tidak ada yang melakukan kesalahan saat proses kerja berlangsung.

Penutup

Micromanagement bukan tentang mengendalikan karyawan, tapi mengendalikan hasil. Sayangnya, hal ini jarang memberikan efek yang positif dan efektif.

Micromanagement secara negatif mempengaruhi produktivitas dan semangat kerja karyawan. Dengan meningkatkan kesadaran dan pelatihan, para pemimpin bisa belajar melepaskan kebutuhan akan manajemen mikro.

Hal ini juga akan memberikan karyawan dalam belajar bagaimana berkomunikasi secara terbuka dengan manajer mereka untuk mencegahnya.

Comment