MBO (Management by Objective): 6 Langkah Praktik Di Organisasi | | HR NOTE Indonesia

MBO (Management by Objective): 6 Langkah Praktik Di Organisasi

Tahun 2020 adalah tahun yang penuh tantangan bagi semua industri dan pelakunya. Beberapa mungkin harus mengkaji ulang pendekatan strategi mereka untuk bisa beradaptasi dan recovery di periode baru. Bagi beberapa, mungkin awal tahun adalah saat yang tepat untuk mencoba gaya manajemen baru.

MBO, atau kepanjangannya Management by Objectives adalah salah satu pendekatan berbasis hasil yang melibatkan baik manajemen maupun karyawan untuk melakukannya bersama. Lebih jelasnya, mari simak penjelasan serta kelebihan MBO pada ulasan berikut.

Definisi Manajemen Berdasarkan Tujuan (MBO)

Manajemen berdasarkan tujuan (MBO) adalah pendekatan sistematis dan terorganisir yang menekankan pada pencapaian sasaran organisasi. MBO ini merupakan model manajemen strategis yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja organisasi dengan menetapkan tujuan secara jelas yang disepakati oleh manajemen dan karyawan.

Menurut HRZone, management by objectives atau MBO adalah proses yang dilakukan untuk menentukan tujuan dalam organisasi sehingga perilaku karyawan bisa selaras dengan tujuan tersebut.

Proses penetapan tujuan ini dilakukan oleh manajer dan karyawan. Keduanya memiliki kesempatan untuk berdiskusi mengenai tujuan dan objektivitas yang perlu dilakukan. Berdasarkan teori, memiliki suara dalam penetapan tujuan dan rencana tindakan akan mendorong partisipasi dan komitmen di antara karyawan, serta menyelaraskan tujuan di seluruh organisasi. Sehingga pada akhirnya, strategi ini berorientasi pada sesuatu yang dihasilkan oleh karyawan, tim, dan perusahaan.

Dalam jangka panjang, penerapan MBO ini memungkinkan manajemen untuk mengubah pola pikir organisasi menjadi lebih berorientasi pada hasil.

Kelebihan dan Manfaat Praktik MBO Di Organisasi

Manajemen berdasarkan tujuan (MBO) membantu karyawan menghargai peran dan tanggung jawab mereka di tempat kerja. Karena semua objektivitas ditetapkan berdasarkan diskusi antara karyawan dengan manajemen, maka pendekatan MBO biasanya menghasilkan kerja tim dan komunikasi yang lebih baik.

Ini memberi karyawan pemahaman yang jelas tentang apa yang diharapkan dari mereka. Pengawas menetapkan tujuan untuk setiap anggota tim, dan setiap karyawan diberikan daftar tugas unik. Oleh karena itu, setiap karyawan merasa sangat diperlukan untuk organisasi.

Penetapan tujuan yang terukur akan memberikan rasa kepentingan bagi karyawan, sehingga pada akhirnya mengembangkan rasa loyalitas kepada perusahaan. Manfaatnya juga termasuk karyawan merasa bangga dengan pekerjaan mereka dengan tujuan yang mereka tahu dapat mereka capai. Hal ini juga menyelaraskan karyawan dengan kekuatan, keterampilan, dan pengalaman pendidikan mereka. Dan pada akhirnya motivasi karyawan pun akan meningkat tanpa dilakukan secara terpaksa.

Dan terakhir, manajemen dapat menciptakan tujuan yang mengarah pada kesuksesan perusahaan. Tugas manajer adalah membantu memastikan bahwa tujuan karyawan saling terkait dan selaras dengan tujuan organisasi.

Manfaat Praktik MBO Di Organisasi
  • Membantu karyawan menghargai peran dan tanggung jawab mereka di tempat kerja.
  • Memberi karyawan pemahaman yang jelas tentang apa yang diharapkan dari mereka.
  • Menjadi kesempatan untuk mengembangkan employee engagement.
  • Menyelaraskan tujuan karyawan dengan organisasi sehingga mampu mencapai tujuan lebih cepat.

6 Langkah Penting dalam Praktik Management By Objective (MBO)

1. Tentukan Tujuan Organisasi

Menetapkan tujuan tidak hanya penting untuk kesuksesan perusahaan mana pun, tetapi juga melayani berbagai tujuan. Ini perlu memasukkan beberapa manajer dalam menetapkan tujuan. Tujuan yang ditetapkan oleh supervisor bersifat sementara, berdasarkan interpretasi dan evaluasi tentang apa yang dapat dan harus dicapai perusahaan dalam waktu tertentu.

Tujuan organisasi harus dibuat dengan jelas dan terukur agar tidak terdapat kebingungan di kemudian hari dalam proses pencapaiannya.  Drucker menggunakan akronim SMART (specific, measurable, achievable, relevant, timely) untuk membuat tujuan menjadi jelas dan terukur.

2. Tentukan Tujuan Karyawan

Setelah karyawan diberi pengarahan tentang tujuan umum, rencana, dan strategi yang harus diikuti, manajer dapat mulai bekerja dengan bawahan mereka untuk menetapkan tujuan pribadi mereka.

Ini akan menjadi diskusi satu lawan satu di mana bawahan akan memberi tahu atasan tentang target mereka dan tujuan mana yang dapat mereka capai dalam waktu tertentu beserta upaya yang diperlukan.

Mereka kemudian dapat membagikan beberapa ide tentatif tentang tujuan mana kah yang berbanding lurus dengan tujuan organisasi.

3. Kinerja dan Pemantauan Berkelanjutan

Meskipun pendekatan manajemen dengan tujuan diperlukan untuk meningkatkan efektivitas manajer, itu sama pentingnya untuk memantau kinerja dan kemajuan setiap karyawan dalam organisasi. Menjadi tugas manajer untuk memantau secara terus-menerus atau secara berkelanjutan mengenai kinerja dan kemajuan dari hasil kerja karyawan.

Pemantauan berkelanjutan juga dianggap sebagai suatu cara dalam mempertahankan alur kinerja yang rapi dan terarah, agar pencapaian tujuan organisasi dapat berjalan baik.

4. Evaluasi Tujuan

Tentunya melakukan evaluasi merupakan hal yang sangat penting, untuk melihat sejauh mana hasil dari tujuan yang sudah ditetapkan. Dalam kerangka MBO, tinjauan kinerja dicapai dengan partisipasi dari para manajer terkait.

5. Memberikan Umpan Balik

Setelah melakukan evaluasi, maka selanjutnya perlu diberikan umpan balik kepada karyawan. Dalam pendekatan manajemen berdasarkan tujuan, langkah yang paling penting adalah umpan balik yang berkelanjutan atas hasil dan tujuan, karena memungkinkan karyawan untuk melacak dan melakukan koreksi atas tindakan mereka.

Umpan balik yang berkelanjutan dilengkapi dengan pertemuan evaluasi formal yang sering di mana atasan dan bawahan dapat mendiskusikan kemajuan menuju tujuan, yang mengarah pada lebih banyak perbaikan.

6. Penilaian Kinerja Karyawan

Penilaian kinerja karyawan adalah tinjauan rutin atas keberhasilan karyawan dalam organisasi dalam kerangka MBO ini. Penilaian kinerja juga berfungsi untuk melihat hal-hal apa saja yang harus dipertahankan ataupun yang perlu ditingkatkan dari masing-masing performa karyawan, semua merujuk kepada tujuan yang telah disepakati.

Contoh Praktik MBO Di Perusahaan

Untuk membantu Anda mengetahui seperti apa MBO itu, kami telah memberikan beberapa contoh MBO untuk berbagai industri di bawah ini. Di sini, kami memberi Anda gambaran tentang apa sebenarnya MBO untuk CEO, pemimpin tim, dan kontributor tunggal.

Contoh MBO Kinerja Perusahaan

– Menjadi yang terdepan di pasar

– Target cashflow $ 500.000 per bulan

– Tingkatkan CSAT hingga 90%

– Tingkatkan tingkat retensi pelanggan menjadi 92,5%

– Turunkan OPEX sebesar 5%

– Perluas penjualan di luar negeri sebesar 10%

– Tingkatkan Margin Kotor sebesar 10%

– Meningkatkan rasio aset terhadap utang sebesar 15%

– Kurangi jejak karbon hingga 5%

– Tingkatkan profil merek sebesar 25%

Berikut ini juga kami cantumkan contoh kasus penerapan MBO dalam perusahaan:

Contoh Kasus Penerapan MBO Di Perusahaan
Perusahaan A merupakan perusahaan distributor tekstil. Perusahaan ini telah menetapkan target bahwa untuk tahun ini akan meningkatkan laba sebesar 30% dari tahun sebelumnya,dan menambah jumlah pelanggan baru sebanyak 20% dari jumlah pelanggan tahun sebelumnya.
Berbagai divisi perusahaan membuat target sesuai dengan spesialisasinya masing-masing. Sebagai contoh: Divisi Pemasaran
Target Divisi Pemasaran ditentukan sebagai berikut:
“memperluas daerah pemasaran sampai ke luar pulau,akan diorientasikan ke Pulau Sumatera, ditargetkan dalam jangka waktu 6 bulan sudah mulai ada pelanggan tetap yang akan terus membeli produk Perusahaan A”
Target Sales & Marketing Staff di divisi tersebut menjadi:
”melalui bussines networking saya akan menambah relasi luar pulau, khususnya Sumatra sebanyak 10 relasi dalam jangka waktu 6 bulan”
Evaluasi setelah 6 bulan:
– Apa saja yang telah dicapai?
– Apa yang belum tercapai?
– Bagaimana cara memperbaikinya?
Setelah diketahui hasilnya, divisi tersebut bisa memperbaiki strategi agar mencapai target yang diharapkan.

Kekurangan Praktik Management by Objective Di Organisasi

Setiap hal pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Dibalik kelebihan dan manfaat dari MBO, praktik MBO ini juga memiliki beberapa kekurangan. Manajemen berdasarkan tujuan sering kali mengabaikan etos dan kondisi kerja organisasi yang ada.

MBO lebih banyak penekanan diberikan pada tujuan dan target. Manajer memberikan tekanan terus-menerus pada karyawan untuk mencapai tujuan mereka dan melupakan penggunaan MBO untuk keterlibatan, kesediaan untuk berkontribusi, dan pertumbuhan manajemen.

Manajer terkadang terlalu menekankan penetapan target, dibandingkan dengan masalah operasional, sebagai penghasil kesuksesan. Dengan kata lain, lebih menekankan pada hasil dibanding proses yang sudah dilakukan.

Pendekatan MBO tidak menekankan pentingnya konteks di mana tujuan ditetapkan. Konteksnya mencakup segala hal mulai dari ketersediaan dan efisiensi sumber daya hingga dukungan relatif dari para pemimpin dan pemangku kepentingan.

Kekurangan Praktik MBO Di Organisasi
  • Mengabaikan etos dan kondisi kerja organisasi karena terlalu fokus kepada tujuan
  • Melupakan keterlibatan, kesediaan untuk berkontribusi, dan pertumbuhan manajemen

Penutup

MBO merupakan proses penetapan tujuan perusahaan yang melibatkan semua pihak, baik manajemen maupun karyawan. Melalui MBO, pola pikir perusahaan akan berorientasi pada hasil. Dan tentunya bisa mengarahkan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik untuk perusahaan. Karena penetapan tujuan dilakukan dengan melibatkan semua pihak, maka ada banyak manfaat dari penerapan MBO ini seperti peningkatan komunikasi tim hingga loyalitas karyawan.

Namun jika tidak bijak dalam penerapannya bisa jadi praktik MBO ini justru mendatangkan kerugian seperti mengabaikan etos dan kondisi kerja.

 

Comment