9 Strategi Memelihara Ownership Karyawan di Tempat Kerja | | HR NOTE Indonesia

9 Strategi Memelihara Ownership Karyawan di Tempat Kerja

Menciptakan sense of ownership pada diri karyawan tak hanya dilakukan sekali ketika onboarding. HR dan manajemen perlu memelihara rasa memiliki secara berkelanjutan, termasuk ketika dunia sedang tak menentu akibat pandemi COVID-19.

Saat pandemi, banyak perusahaan yang mengubah sistem kerja perusahaan. Ada yang menerapkan bekerja jarak jauh (remote working), hybrid (WFH dan WFO), dan fleksibel.

Sistem tersebut menciptakan kenyamanan bagi karyawan, mereka tak perlu datang ke kantor untuk menyelesaikan tugasnya. Namun jika tak ada strategi sense of ownership dari manajemen, hal itu berpotensi memudarkan ownership pada diri karyawan sehingga berdampak pada penurunan kinerja.

Untuk mengantisipasi kinerja karyawan menurun, HR dan manajemen memertimbangkan untuk memiliki strategi memelihara ownership karyawan di tempat kerja. Dengan demikian mereka mendukung tujuan organisasi serta meningkatkan produktivitas.

Apa Itu Sense of Ownership di Tempat Kerja?

Di tempat kerja, sense of ownership diartikan sebagai rasa memiliki terhadap tugas dan bertanggung jawab penuh atas pekerjaan.

Dengan sense of ownership, karyawan memiliki kepemilikan terhadap peran pekerjaan, melihat tempat kerja sebagai perpanjangan dari kehidupan pribadi, dan mengerjakan tugas sebaik-baiknya. Karyawan juga akan merasa kehidupan pribadi dan profesional adalah hal penting untuk masa depan yang lebih cerah.

Di sisi perusahaan, sense of ownership karyawan menghasilkan dedikasi dan loyalitas. Alhasil perusahaan menciptakan lingkungan kerja lebih positif dan menyenangkan bagi karyawan.

Keuntungan Memelihara Sense of Ownership di Tempat Kerja

Walau memerlukan waktu dan upaya untuk memelihara sense of ownership pada karyawan, tetapi keuntungan yang akan diperoleh perusahaan pun sepadan.

Motivasi kerja

Perusahaan yang memiliki strategi ownership akan menciptakan motivasi kerja kepada karyawannya. Sebagai contoh, motivasi mengembangkan ide dan mendorong keaktifan karyawan. Dengan kata lain, karyawan memiliki inisiatif ketika bekerja. Ia tak melulu menunggu perintah atasannya.

Menyelaraskan tugas dan tujuan

Saat karyawan memiliki ownership, mereka akan menyelaraskan tugas kerja agar memenuhi target. Salah satu caranya adalah komunikasi antara tim leader dan anggotanya serta divisi lain untuk mencapai tujuan perusahaan.

Menciptakan hubungan kerja positif

Memelihara rasa memiliki dapat menciptakan hubungan kerja positif antara karyawan. Karena bekerja dengan ownership mendorong tanggung jawab dan komunikasi, sehingga hal itu membantu karyawan dalam bertindak dan berpikir positif kepada rekan kerja serta belajar tentang ekspektasi.

Mendorong pertumbuhan karier

Perusahaan yang menumbuhkan sense of ownership akan mendorong pertumbuhan karier karyawan. Dengan memiliki ownership, karyawan tak ragu untuk mengembangkan keterampilan, mengambil tanggung jawab tambahan, dan saat karyawan mengejar peran baru, perusahaan telah memiliki rencana suksesi guna mendukung karier mereka.

Budaya Perusahaan Menumbuhkan Sense of Ownership

Di tengah ketidakpastian karena pandemi dan kondisi ekonomi, budaya perusahaan dapat membantu karyawan meningkatkan kinerja sekaligus kesejahteraan mereka. Pasalnya tujuan budaya perusahaan adalah menciptakan motif untuk bertindak, menginspirasi orang, dan menetapkan nilai-nilai.

Jika perusahaan memiliki budaya perusahaan kuat, manajemen dan HR akan mudah untuk menanamkan sense of ownership kepada karyawan. Sehingga mereka menjadi individu yang lebih produktif dan terlibat dengan perusahaan, baik yang berhubungan dengan pekerjaan maupun kegiatan lain.

Satu karyawan dengan kinerja baik, lebih terlibat, dan termotivasi (motivasi diri dan teman kantor) akan menularkan semangat positif tersebut ke rekan kerja lainnya. Alhasil produktivitas perusahaan pun ikut positif.

Strategi Memelihara Sense of Ownership Karyawan di Tempat Kerja

Memelihara sense of ownership di tempat kerja tak hanya memerlukan waktu berkesinambungan saja. Melainkan juga upaya membuat strategi agar karyawan memahami tugas kerja sekaligus tujuan perusahaan.

1. Membangun komunikasi

Hal yang paling fundamental dalam memelihara sense of ownership adalah komunikasi. Membangun komunikasi yang jelas tentang nilai-nilai dan tujuan perusahaan kepada karyawan harus dilakukan onboarding.

Manajemen dan HR perlu berkomunikasi dengan para tim leader agar mereka membangun komunikasi dengan anggota timnya. Sedangkan tim leader dapat memberikan wawasan tentang mendefinisikan kesuksesan dan bertanya pendapat karyawan mengenai nilai hidup mereka serta menyelaraskan diri dengan tujuan perusahaan.

2. Memberikan kepercayaan

Memberikan kepercayaan adalah salah satu strategi yang perlu Anda terapkan dalam memelihara ownership karyawan.

Berikan kepercayaan untuk melakukan pekerjaan sesuai cara (selama tak menyimpang dari nilai perusahaan), mengatasi masalah, dan mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan perusahaan. Misal memutuskan strategi kampanye marketing atau penggunaan piranti lunak untuk tim desain.

3. Memberikan kesempatan

Memberikan kesempatan untuk melakukan sesuatu dapat memelihara sense of ownership pada diri karyawan. Hal ini bisa dimulai dari tim leader yang menanyakan ide atau minat anggota timnya untuk meningkatkan kinerja perusahaan ke depannya.

Misalnya, seorang backend engineer memiliki ide untuk divisi desain produk. Meskipun ide tersebut tidak wajib dieksekusi, tetapi ia bisa melontarkan isi kepalanya dan tim lain mendengar ide itu dengan terbuka. Pengabaian sara atau ide dapat mengikis sense of ownership.

4. Memberikan ruang bicara

Memberikan ruang bicara tak terbatas pada pekerjaan saja. Berikan ruang kepada karyawan untuk mengekspresikan pikiran, keingintahuan, dan kekhawatirannya. Misalnya, seorang karyawan mengkhawatirkan kondisi mental dirinya dan rekan kerjanya di tengah pandemi atau supervisor menginginkan sistem kerja hybrid.

Manajemen dan HR dapat memfasilitasi hal-hal tersebut dan mencari solusi bersama karyawan yang dapat membantu kebutuhan mereka, tetapi masih sejalan dengan tujuan perusahaan.

5. Menerima kesalahan

Manusia tidaklah sempurna. Ia pasti melakukan kesalahan, tetapi ia juga belajar dari kesalahan tersebut. Begitu pula perusahaan yang terkadang melalui trial and error dan terkadang karyawan pun membuat kesalahan. Namun tim leader perlu memberikan kesempatan mereka untuk memperbaiki kinerja melalui umpan balik.

Perusahaan yang terbuka terhadap kesalahan akan membuat karyawan percaya diri untuk bereksperimen dan berinovasi dengan ide maupun konsep baru di tempat kerja. Yang perlu dipertimbangkan adalah manajemen perlu mengklasifikasikan kesalahan yang memengaruhi reputasi perusahaan. Misal tak ada toleransi untuk korupsi, penyalahgunaan jabatan, dan pelecehan.

6. Menghargai setiap individu

Jika Anda menghendaki karyawan menghargai para pemimpin, maka tunjukkan hal yang sama kepada mereka. Hargailah setiap individu di tempat kerja terlepas dari jabatan dan status sosial.

Perusahaan akan sulit memelihara sense of ownership jika tidak punya rasa saling menghargai. Dalam budaya kerja multikultural, sikap saling menghargai meningkatkan keterlibatan, produktivitas, dan ownership karyawan.

7. Mendukung lingkungan inklusi

Perusahaan yang mendukung lingkungan kerja inklusi menumbuhkan ownership jangka panjang. Lingkungan inklusi akan menerima karyawan tanpa syarat atau tak memandang suku, ras, dan agama, pola pikir, pandangan politik, hingga kondisi fisik.

Untuk mendukung gerakan inklusi, perusahaan perlu mengadakan program yang memberdayakan karyawan. Selain bertujuan memelihara ownership, program ini memastikan mereka merasa sepenuhnya terintegrasi dan dihormati di dalam organisasi.

8. Menawarkan program pelatihan

Menawarkan program pelatihan adalah salah cara memelihara ownership karyawan. Karena perusahaan memberikan kesempatan karyawan untuk meningkatkan keterampilan, mendukung karier, serta bagian dari retensi tenaga kerja.

9. Umpan balik berkala

Tim leader maupun HR dapat memberikan umpan balik kepada karyawan secara berkala. Berikan pula kesempatan kepada mereka untuk meminta umpan balik dari Anda melalui telekonferensi (WFH) atau one-on-one (WFO). Umpan balik harus fokus pada kinerja yang bisa ditingkatkan dan berkontribusi pada perusahaan.

Penutup

Jika semua karyawan hingga eksekutif memiliki sense of ownership, perusahaan yang akan diuntungkan. Ketika produktivitas meningkat, bisnis akan berkembang. Dan, bila perusahaan sukses mencapai tujuan, rayakan keberhasilan bersama karyawan yang memiliki rasa memiliki terhadap perusahaan.

Comment