7 Langkah Memaksimalkan Program Reskilling | | HR NOTE Indonesia

7 Langkah Memaksimalkan Program Reskilling

Pandemi covid-19 tak hanya mengubah tempat kerja. Yang awalnya bekerja dari kantor menjadi bekerja dari rumah. 

Namun pandemi juga mengubah cara kerja dan fungsi pekerjaannya. Semua itu dilakukan perusahaan agar tetap bertahan dan tumbuh secara eksponensial. Ada yang bertahan dengan memutuskan hubungan kerja dengan para karyawan. Ada pula yang melakukan reskilling tenaga kerjanya. 

Untuk mengakomodir kebutuhan reskilling, biasanya hal itu menjadi tugas divisi HR. Reskilling tak hanya untuk karyawan, teman-teman HR pun membutuhkannya. Sehingga semua tenaga kerja mendukung kelangsungan bisnis perusahaan serta mampu mengembangkan profesionalitas dalam bekerja.

Apa Itu Reskilling?

Terkadang ada yang mendefinisikan reskilling sama seperti upskilling. Kedua program bisa berjalan beriringan, tetapi mereka adalah dua hal yang berbeda.

Reskilling merupakan proses mempelajari dan/atau mengajarkan keterampilan baru kepada karyawan. Hal tersebut dilakukan untuk melengkapi keterampilannya pada posisi berbeda di perusahaan.

Sedangkan upskilling adalah proses meningkatkan kemampuan karyawan untuk mempersiapkannya dalam perubahan posisi di perusahaan.

Survei McKinsey & Company pada 2020 menemukan bahwa industri keuangan, telekomunikasi, dan teknologi akan menghadapi disrupsi paling besar dari kesenjangan keterampilan. Sehingga keterampilan yang penting untuk tenaga kerja di industri tersebut bergantung pada kemampuan analisis data dan matematis tingkat lanjut.

Untuk menghadapi disrupsi, reskilling adalah cara efektif untuk mempersiapkan tenaga kerja menghadapi perubahan, mengatasi skill gap, serta memberikan kesempatan belajar dalam rangka retensi karyawan.

Mengapa Reskilling Penting?

Perkembangan teknologi dan perubahan situasi memengaruhi perusahaan dalam memberikan program reskilling kepada karyawannya. 

Perusahaan yang melakukan reskilling adalah Amazon. Pada 2019, e-commerce yang didirikan oleh Jeff bezos ini menginvestasikan dana sebanyak USD700 juta untuk mengembangkan keterampilan teknis kepada para pekerja gudangnya, yang posisinya dihapus oleh otomatisasi. Pengembangan keterampilan tersebut adalah reskilling yang bertujuan agar pekerja gudang dapat mengambil posisi baru di divisi IT support dan software engineering.

Contoh lainnya, ketika perusahaan menghentikan proses rekrutmen sementara, padahal ada beberapa pekerjaan atau posisi yang harus ditangani. Untuk mengatasinya, perusahaan reskilling karyawan agar mereka dapat menempati posisi baru atau melakukan beberapa pekerjaan.

Itulah pentingnya reskilling, yakni membantu perusahaan mengelola perubahan dan merencanakan pelatihan karyawan. Hal tersebut seperti yang dilaporkan oleh McKinsey Global Institute, pada 2030, sebanyak 375 juta pekerja atau sekitar 14% dari angkatan kerja global kemungkinan perlu beralih kategori pekerjaan.

Manfaat Reskilling

World Economic Forum memperkirakan lebih dari setengah dari total karyawan atau 54% akan membutuhkan reskilling yang signifikan pada tahun 2022.

Program reskilling membantu perusahaan mengatasi kesenjangan keterampilan antar karyawan sekaligus meningkatkan pertumbuhan perusahaan. Namun tak hanya perusahaan yang memperoleh manfaat reskilling, karyawan pun mendapatkannya. Untuk lebih jelasnya, berikut ini manfaat reskilling bagi kedua belah pihak.

Meningkatkan kepercayaan diri karyawan

Satu studi pada 2020 menunjukkan bahwa 80% karyawan percaya bahwa kepercayaan diri mereka meningkat dari pelatihan reskilling. Mengapa demikian?

Karena setelah mengikuti program, keterampilan dan kemampuan mereka bertambah, sehingga produktivitas mereka pun meningkat. Mereka cenderung proaktif, percaya diri dalam menyuarakan ide-ide baru, serta mampu merancang solusi kreatif atau inovasi untuk menyelesaikan masalah. 

Mendukung keterlibatan karyawan

Reskilling juga bermanfaat dalam mendukung keterlibatan para karyawan. Ketika perusahaan menawarkan program reskilling, mereka dapat mengembangkan keterampilan dan/atau memperluas keahlian terhadap hal-hal baru. Mereka juga lebih terhubung dengan tim atau divisi lain, sehingga antar karyawan berbagi keahlian yang dibutuhkan, mendorong empati, serta hubungan pertemanan yang sehat.

Meningkatkan karier karyawan

Ini bukan tentang manfaat karier karyawan sebagai individu saja, juga karier di perusahaan. Dengan kata lain, perusahaan dapat menawarkan reskilling disertai strategi jenjang karier.

Strategi tersebut dapat Anda gunakan untuk memetakan skill yang telah dimiliki dan skill yang perlu dikembangkan pada diri karyawan. Sehingga perusahaan bisa mengevaluasi dan menilai keterampilan karyawan untuk mengemban posisi baru melalui promosi. Sedangkan untuk karyawan, ia memiliki kesempatan untuk tumbuh dan mengembangkan kariernya.

Menjaring kandidat baru

Gallup pernah melaporkan bahwa 59% Generasi Milenial menilai peluang belajar dan tumbuh adalah hal yang sangat penting bagi mereka saat mencari pekerjaan. Hal tersebut mengindikasikan bahwa perusahaan dapat menjaring kandidat baru melalui reskilling.

Di sisi karyawan lama, mereka akan memperkuat employee branding. Misal mereka berbagi pengalaman reskilling di LinkedIn, di mana banyak pengguna bisa membacanya, dan bukan tak mungkin ada job seeker potensial yang tertarik bekerja di perusahaan Anda.

Meningkatkan retensi karyawan

Apakah Anda rela kehilangan karyawan terbaik? Apakah Anda akan membiarkan karyawan terbaik pindah ke kompetitor?

Jika tidak ingin hal itu terjadi, berikan kesempatan kepada karyawan untuk berkembang di perusahaan. Salah satunya adalah mengikutsertakan ke dalam program reskilling. Hal itu menunjukkan bahwa mereka bernilai dan menjadi bagian masa depan perusahaan. Tentunya, perusahaan dapat meningkatkan retensi karyawan.

Mengurangi biaya rekrutmen

Jika perusahaan mampu mempertahankan karyawan terbaiknya, mereka bisa mengurangi biaya rekrutmen. Padahal proses perekrutan dan posisi kosong memengaruhi produktivitas perusahaan, termasuk capaian profit.

Dengan reskilling, perusahaan memenuhi posisi kosong dengan karyawan yang telah memenuhi keterampilan baru dan mempersiapkannya untuk memiliki peran alternatif. Di tengah pandemi, upaya ini cukup penting untuk menekan biaya rekrutmen sekaligus menjaga operasional perusahaan berjalan lancar.

7 Langkah Memaksimalkan Program Reskilling

Reskilling tak sekadar memberikan pelatihan keterampilan baru kepada karyawan. Namun melalui reskilling, Anda dan tim dapat memaksimalkan program tersebut untuk meningkatkan produktivitas perusahaan.

Adapun langkah memaksimalkannya adalah:

1. Memetakan skill gap

Langkah pertama adalah memetakan skill gap atau kesenjangan keterampilan antar karyawan, tujuan bisnis, serta hal-hal yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Dalam proses ini, Anda akan membutuhkan kemampuan yang tersedia dan hal-hal yang dibutuhkan setiap posisi.

2. Mengidentifikasi keterampilan yang dibutuhkan

Setelah itu, Anda dan tim mengidentifikasi keterampilan yang dibutuhkan oleh perusahaan. Anda dapat menawarkan reskilling kepada karyawan dengan kompetensi dan keterampilan terkait.

Perusahaan yang melakukan reskilling adalah bank-bank di Singapura yang memiliki produk digital. Mereka reskilling pegawai frontliner untuk transisi ke posisi baru sebagai layanan pelanggan. Hal itu dilakukan perusahaan karena frontliner memiliki skill komunikasi verbal yang kuat dan pengetahuan produk yang baik.

3. Menentukan metode reskilling

Bagaimana menentukan metode reskilling yang sesuai kebutuhan perusahaan? Pastikan jadwal reskilling fleksibel dan sesuai dengan gaya belajar karyawan. Jika banyak karyawan yang harus mengikuti program, pertimbangkan untuk memiliki berbagai metode reskilling.

Misal metode program reskilling dengan menggabungkan on the job training (OJT), online learning, dan  peer learning.

  • OJT: Karyawan memiliki paparan mengenai tugas pada posisi baru dengan tim kecil atau melalui mentoring.
  • Online learning: Karyawan dapat mengakses video pelatihan kapan saja dan di mana saja untuk mempercepat proses pembelajaran. Metode ini cocok untuk memberikan pelatihan jarak jauh.
  • Peer learning: Metode ini memberikan karyawan belajar dari karyawan lain ketika mereka berkolaborasi dalam menyelesaikan tugas baru.

4. Menyelenggarakan reskilling

Langkah berikutnya adalah menyelenggarakan reskilling karyawan. Namun sebelumnya, Anda perlu menjelaskan ke mereka tentang alasan mengikuti reskilling dan katakan metode pelatihannya. Dengan demikian, karyawan mempersiapkan diri mengikuti pelatihan dan mengatur waktu untuk menyelesaikan pekerjaan.

5. Mengadakan observasi

Jika memungkinkan, Tim HR memberikan waktu kepada karyawan yang mendapatkan reskilling untuk observasi posisi baru.

Jadi ia akan mengamati dan mengikuti karyawan berpengalaman sehari atau beberapa hari. Hal ini untuk memberikannya gambaran yang akurat tentang pekerjaan baru dan tugas-tugasnya serta mempersiapkan seseorang dengan lebih baik untuk menempati posisi baru.

6. Memberikan keterampilan digital

Ketika pandemi “menghantam” semua lini kehidupan, perusahaan terpaksa memberlakukan work from home (WFH). Untuk menunjang pekerjaan jarak jauh, perusahaan juga harus memfasilitasi teknologi yang memadai kepada pekerjanya.

Maka perusahaan wajib memberikan reskilling keterampilan digital. Misal melatih karyawan untuk menggunakan software baru atau aplikasi penunjang kerja. Dengan demikian mereka dapat beradaptasi dengan teknologi baru dan tech-savvy.

7. Mengevaluasi

Untuk melihat dampak reskilling, Anda dan tim perlu mengevaluasinya. Seperti apakah hal itu efektif atau tidak, apakah karyawan menerapkan keterampilan baru, atau bagaimana mereka bertransisi pada posisi baru.

Biasanya, evaluasi pelatihan dimulai dengan mengumpulkan data dari penilaian pasca pelatihan, diskusi, hingga survei. Anda juga bisa menggunakan formula Four-Level Training Evaluation Model milik Kirkpatrick. Setelah itu, Anda akan mengetahui apa saja kekuatan dan kelemahan karyawan pasca reskilling.

Reskilling Untuk HR

Reskilling untuk profesional HR sama seperti karyawan lainnya. Manajer HR dan anggota perlu memetakan skill gap dan memenuhi reskilling yang sesuai dengan kebutuhan tim. Misal reskilling untuk meningkatkan penguasaan terhadap software atau aplikasi HR terkini dan people analytics, yang memberikan nilai plus pada perusahaan di masa mendatang.

Penutup

Industri dan dunia kerja berubah cepat, sehingga perusahaan perlu reskilling para karyawannya. Demikian pula profesional HR yang membutuhkan reskilling plus pengembangan diri.

Namun perlu diingat bahwa reskilling merupakan proses yang berulang, sehingga perusahaan harus memiliki budaya belajar berkelanjutan. Oleh sebab itu, perusahaan dapat mendorong para karyawannya belajar hal baru dan mendukung mereka dengan metode pembelajaran yang cocok untuk masing-masing individu.

Comment