6 Cara Membentuk Budaya Belajar di Tempat Kerja | | HR NOTE Indonesia

6 Cara Membentuk Budaya Belajar di Tempat Kerja

Membentuk budaya belajar di tempat kerja memerlukan usaha dan waktu yang tak sebentar. Namun hal tersebut memberikan beragam manfaat.

Sebut saja perusahaan dapat menyelaraskan antara sumber daya manusia dan tujuan bisnis, mengenali gaya belajar, serta memberikan pelatihan efektif kepada para karyawan.

Budaya Belajar di Tempat Kerja

Investasi tak sekadar uang dan komoditas. Budaya belajar pun termasuk sebuah investasi, baik bagi perusahaan maupun karyawan.

Definisi 

Budaya belajar merupakan upaya mendorong para pekerja untuk belajar, baik tentang nilai-nilai, perjanjian, hingga prosedur pekerjaan. Budaya belajar di tempat kerja memungkinkan karyawan memperoleh pengetahuan dan kemampuan yang dibutuhkan untuk bekerja dengan baik.

Di sisi lain, budaya belajar adalah investasi. Karena hal tersebut memberikan manfaat luar biasa bagi perusahaan. Sebut saja perusahaan dapat memberikan pelatihan yang dibutuhkan oleh karyawan, memanfaatkan potensi karyawan, meningkatkan produktivitas kerja, memberikan produk maupun jasa terbaik kepada pelanggan, dan pada akhirnya dapat mengembangkan bisnis.

Mengubah budaya di tempat kerja menjadi budaya yang mendukung pembelajaran bukanlah hal mudah. Tim HR dan manajemen perusahaan memerlukan waktu dan langkah-langkah yang tepat.

Budaya belajar dan pelatihan

Salah satu bentuk budaya belajar di tempat kerja adalah memberikan pelatihan kepada karyawan

Penelitian IBM tentang The Value of Training pada 2014 menunjukkan bahwa 84% karyawan yang bekerja di organisasi yang baik akan menerima pelatihan yang mereka butuhkan, sedangkan 16% lainnya berada pada organisasi yang berkinerja buruk.

Berdasarkan Workplace Learning Report 2018 dari LinkedIn, 94% karyawan mengatakan investasi dalam pelatihan dan pengembangan adalah salah satu alasan utama mereka tetap bekerja di perusahaan tersebut.

Untuk memberikan pelatihan yang tepat untuk karyawan, tim HR harus mengetahui gaya belajar karyawan. Pasalnya, setiap orang memiliki gaya belajar berbeda. Hal itu dapat dilihat ketika mereka menjalankan dan menyelesaikan tugas-tugasnya.

6 Cara Membentuk Budaya Belajar di Tempat Kerja

Apakah perusahaan Anda berencana membentuk budaya belajar atau ingin memperbaruinya? Jika ya, kabar baik buat para karyawan.

Namun jika tim Anda belum memilikinya, berikut ini referensi cara membentuk budaya belajar di tempat kerja, berikut ini informasinya:

1. Memetakan keunggulan dan kelemahan pembelajaran

Sebelum menyusun formula budaya belajar, Anda dan tim harus memetakan keunggulan dan kelemahan pembelajaran saat ini.

Perhatikan bagaimana proses karyawan belajar sebelumnya dan saat ini, apa yang mereka pelajari, apa saja materi pelatihannya, apa yang kurang dari proses tersebut, dan lainnya. Lalu petakan menjadi dua kelompok, keunggulan dan kelemahan.

2. Merancang budaya belajar

Setelah itu, tim dapat merancang budaya belajar di tempat kerja. Baik yang bersifat formal maupun informal.

Contoh pembelajaran informal adalah manajer memberitahukan timnya bagaimana menyelesaikan kampanye marketing atau seorang senior mengenalkan cara menggunakan tools marketing. Sedangkan pembelajaran formal dapat dilakukan seperti memberikan pelatihan pengetahuan produk, workshop tentang data science, sosialisasi kode etik, dan lainnya.

Namun semua kegiatan tersebut harus direncanakan secara matang, termasuk pemilihan pemateri, pelatih, atau ahli. Pilih pelatih profesional dan mintalah ia untuk untuk merekomendasikan atau membuat konten bagi karyawan agar mereka mendapatkan pengetahuan serta keterampilan baru.

3. Kebutuhan karyawan

Tanyakan kepada para karyawan, pembelajaran apa yang mereka butuhkan dalam menunjang pekerjaan atau ilmu apa saja yang telah mereka peroleh selama ini. Anda bisa bertanya langsung maupun mengirimkan survei elektronik ke semua karyawan.

Dengan bertanya, Anda akan mendapatkan informasi tentang kesenjangan pengetahuan, keterampilan apa yang ingin mereka pelajari, keterampilan yang harus dikembangkan, serta menyesuaikan pembelajaran dan memenuhi kebutuhan mereka dengan lebih baik.

4. Pelatihan adalah prioritas

Untuk membentuk budaya belajar di tempat kerja, pelatihan harus dijadikan prioritas utama. Oleh karena itu, komunikasikan kepada para karyawan bahwa mereka harus mengikuti pelatihan sehingga mereka bisa terus belajar sepanjang karier mereka di perusahaan.

Agar mereka terikat dengan budaya belajar perusahaan, Anda perlu memperhitung beberapa hal, yaitu:

  • Jadwal pelatihan fleksibel

Terkadang tugas kantor memaksa karyawan kerja lembur. Untuk mengantisipasinya, berikan akses pelatihan dengan jadwal fleksibel, secara daring, dan berkesempatan untuk konsultasi langsung dengan pelatih, sehingga mereka dapat mengikuti semua materi ketika memiliki waktu luang.

  • Waktu untuk pelatihan

Memang, pekerjaan harus diselesaikan, tetapi karyawan juga wajib mengikuti pelatihan. Maka Anda bisa memberikannya kelonggaran waktu ketika ia memiliki jadwal pelatihan. Misal ia mempunyai waktu dua jam setiap kali mengikuti pelatihan dan pelatihan diadakan seminggu dua kali serta berikan kesempatan untuk mengerjakan tugas pelatihan. Dengan cara ini, ia akan fokus di kelas pelatihan dan menumbuhkan budaya belajar.

  • Metode menyenangkan

Belajar yang menyenangkan akan menarik minat seseorang untuk terlibat lebih lanjut. Maka berikanlah karyawan metode pelatihan menyenangkan, seperti gamification dan pemberian poin atau peringkat.

5. Memberikan umpan balik

Untuk membuat karyawan tetap terlibat dengan pembelajaran, berikan mereka umpan balik secara rutin. Misal ketika mereka menyelesaikan sesi pembelajaran, beri tahu bahwa mereka telah melakukan dengan benar, apa saja yang harus ditingkatkan, dan mendorong mereka untuk mengulangi proses pembelajaran yang dapat membantu mereka mencapai tujuan.

Sebaliknya, mintalah umpan balik dari karyawan. Seperti apakah mereka merasa pelatihan membantu mereka, apakah informasi tersebut dapat diterapkan pada pekerjaan, dan adakah masukan untuk materi atau pelatihan selanjutnya.

6. Mengukur keberhasilan

Selanjutnya, Anda harus mengukur keberhasilan pelatihan melalui keterlibatan, riwayat pelatihan, penyelesaian tugas, hasil ujian, dan lainnya. Cara ini memastikan karyawan memperoleh pembelajaran yang dibutuhkan sekaligus membentuk budaya belajar di tempat kerja.

Download Konten Spesial dari HR NOTE, GRATIS!

Ada konten khusus untuk pembaca setia HR NOTE. Konten ini menyediakan pendapat kami tentang suatu topik tertentu. Kontennya GRATIS, jadi silakan langsung download! Konten PDF kali ini membahas topik:

  • Apa yang Membedakan On The Job Training Sebelum dan Saat Pandemi?

  • Apakah OJT dan Jenis Pelatihan Lain Tetap Penting untuk Dijalankan Di Masa Pandemi?
  • Bagaimana Perusahaan Memfasilitasi Kegiatan OJT Di Tengah Pandemi?

3 Gaya Belajar

Untuk melatih karyawan secara efektif, perusahaan wajib memahami gaya belajar para karyawannya. Karena setiap orang memiliki gaya belajar masing-masing.

Jika metode pelatihan sesuai dengan gaya belajar karyawan, ia dengan mudah mengikuti prosesnya dan mengaplikasikannya pada pekerjaan. Sebaliknya, ia akan kesulitan menerima materi, sehingga pelatihan karyawan tidak efektif.

Salah siapa?

Mungkin Anda bisa menyalahkan karyawan yang tidak serius dalam mengikuti pelatihan. Namun hal itu bisa terjadi karena ketidakcocokan gaya belajar mereka terhadap metode pelatihan atau Anda kurang memberikannya motivasi.

Walter Burke Barbe, ilmuwan dan pendidik asal Amerika Serikat, dan rekan-rekannya melaporkan bahwa kekuatan modalitas belajar dapat terjadi secara mandiri atau kombinasi, yaitu visual, auditory, dan kinesthetic (VAK).

Gaya belajar seseorang dapat berubah sewaktu-waktu dan usia ikut memengaruhinya. Gaya belajar yang dipopulerkan oleh Barbe dkk. adalah:

1. Visual

Seseorang dengan gaya belajar visual atau disebut juga pembelajar spasial akan memproses informasi ketika melihat gambar (bagan, grafik, diagram, peta, foto, dan lainnya), baik medianya papan tulis, buku, maupun tayangan salindia (slide show).

Ia akan memproses gambar sebelum membaca teks yang tercetak dan memvisualisasikan konsep dengan cepat. Karyawan dengan gaya ini lebih suka instruksi atau pemberian tugas berupa gambar dan teks dibanding verbal (ucapan).

Ia lebih nyaman menggambarkan sesuatu untuk membuat konsep atau memahami topik baru. Ia juga cenderung mengorganisir atau mengelompokkan informasi secara visual saat belajar untuk membantu menghubungkan konsep dan ide.

Metode pelatihan untuk si visual antara lain video (daring atau luring), tayangan salindia dengan grafik, bagan, dan/atau foto, serta infografis.

2. Auditory

Orang dengan gaya belajar auditory (auditori atau pendengaran) akan memproses informasi suara dengan baik. Tipe pembelajar ini dapat dengan mudah mengingat apa yang orang lain katakan dan lebih suka membicarakan topik untuk lebih memahaminya.

Karyawan auditori lebih menyukai belajar dengan arahan verbal, menggunakan pengulangan, atau mendengarkan materi berulang-ulang untuk mengingat sekaligus memahami materi. Dalam kerja tim, mereka dapat mengatur kelompok dengan baik dan menghargai diskusi tim.

Metode pelatihan bagi pembelajar auditori yaitu workshop, rapat, mendengarkan rekaman audio, podcast, dan video voice over. 

3. Kinesthetic

Pembelajar kinestetik (kinestetik atau taktil) akan memproses informasi melalui pengalaman atau melakukan suatu dibanding diberikan arahan secara verbal. 

Tipe pembelajar ini lebih suka melakukan hal-hal yang bersifat langsung, seperti menyentuh benda (materi), membuat sesuatu menggunakan tangan, atau terlibat secara fisik (berdiri atau bergerak).

Dengan demikian, mereka lebih mudah mengingat atau memahami suatu materi. Ia juga lebih suka mempraktikkan sesuatu atau melihat pelatih memperlihatkan cara kerja.

Metode pelatihan buat si kinestetik adalah memberikan mentor untuk menyelesaikan tugas, memasangkan rekan kerja untuk menambah keterampilan baru, atau simulasi.

Cara Mengidentifikasi Gaya Belajar

Bagaimana cara mengidentifikasi gaya belajar karyawan? Sebenarnya cukup mudah, Anda bisa bertanya kepada karyawan. Tanyakan tentang bagaimana dia belajar dan mengerjakan tugas-tugasnya.

Cara lainnya dengan melakukan asesmen. Sebelum pelatihan, kirimkan lembar asesmen tentang learning style kepada karyawan Anda untuk diisi. Lihat hasilnya dan Anda dapat menentukan pelatihan untuk karyawan tersebut.

Cara berikutnya dengan observasi. Perhatikan perilaku karyawan saat mereka mengikuti pelatihan sebagai karyawan baru. Misal pembelajar visual mencatat pembicaraan dengan gambar, pembelajar auditori akan mengatakan beberapa diskusi kepada pelatih atau rekan, dan pembelajar kinestetik sering terlibat dalam kuis atau permainan.

Ada pula karyawan yang memiliki kombinasi dua atau tiga gaya belajar. Hanya saja, salah satu gaya belajar akan lebih menonjol dari yang lain.

Download Konten Spesial dari HR NOTE, GRATIS!

Ada konten khusus untuk pembaca setia HR NOTE. Konten ini menyediakan pendapat kami tentang suatu topik tertentu. Kontennya GRATIS, jadi silakan langsung download! Konten PDF kali ini membahas topik:

  • Apa yang Membedakan On The Job Training Sebelum dan Saat Pandemi?

  • Apakah OJT dan Jenis Pelatihan Lain Tetap Penting untuk Dijalankan Di Masa Pandemi?
  • Bagaimana Perusahaan Memfasilitasi Kegiatan OJT Di Tengah Pandemi?

Penutup

Memiliki budaya belajar di tempat kerja sangat penting. Karena karyawan tak hanya mengerjakan tugas-tugasnya dan perusahaan memberikan target kepada mereka.

Perusahaan dan karyawan perlu fokus membentuk budaya belajar. Perusahaan berperan besar dalam melibatkan karyawan dalam tim, sistem manajemen, dan pemberian pelatihan serta penghargaan. Karyawan pun berperan aktif dalam memberikan ide-ide, mengeksekusi rencana bisnis, hingga mengembangkan keterampilan diri. 

Jika kedua peran tersebut berjalan selaras, maka budaya belajar akan tercipta. Pada akhirnya budaya belajar membantu perusahaan meningkatkan laba secara signifikan.

Comment