Apa Itu Learning & Development Dan Langkah Penerapannya | | HR NOTE Indonesia

Apa Itu Learning & Development Dan Langkah Penerapannya

Dalam dua tahun terakhir ini, kita kembali sering mendengar kata learning and development, upskilling, reskilling, training.

Kenapa? Karena sejak diguncang pandemi, banyak bisnis mengeluhkan betapa mereka kewalahan harus mempertahankan bisnis namun kemampuan karyawan tidak dapat menjawab tantangan yang ada.

Akhirnya, dulu orang-orang sempat menutup mata terhadap hal-hal yang berkaitan dengan training, pembelajaran, pengembangan, kini mulai ingin mencobanya kembali.

Maka itu, mari kita bahas learning and development pada artikel kali ini.

Apa Itu Learning and Development Dalam Ranah Human Resources?

Learning and development (L&D) adalah bagian dari program pengembangan SDM di sebuah organisasi. Beberapa sumber bahkan mengatakan learning and development sebagai salah satu inti dari pekerjaan divisi HR.

Apa itu sebenarnya learning and development?

Learning and development adalah proses sistematik untuk meningkatkan kemampuan, pengetahuan, dan kompetensi karyawan, agar lebih menghasilkan kinerja lebih baik. Learning and development tidak terbatas pada proses belajar saja, melainkan harus didukung juga dengan proses pengembangan.

Artinya, setelah karyawan mempelajari keterampilan atau pengetahuan baru, harus ada upaya juga untuk mengembangkannya.

Learning and development sedikit berbeda dengan training.

Di dalam proses training, fokusnya adalah perusahaan. Sedangkan learning and development fokusnya ke individu. Training atau pelatihan juga berfokus pada proses melatih sekumpulan orang untuk memperoleh keterampilan baru, juga ada proses transfer pengetahuan dan skill di sana.

Keduanya saling berkaitan dan menjadi pilihan untuk mengembangkan karyawan, tapi praktiknya berbeda.

Menariknya, dalam praktik learning and development ini tidak hanya terbatas pada melatih keterampilan kerja saja, melainkan aspek soft skills yang akan menunjang pertumbuhan karyawan.

Di dalam organisasi besar, learning and development dimasukkan ke dalam subdivisi sendiri. Divisi tersebut akan fokus pada program training, mengisi learning dan skill gaps, mengevaluasi karyawan, dan menciptakan solusi pembelajaran yang membantu karyawan meraih keberhasilan di pekerjaannya.

Peran Learning and Development Di dalam Organisasi

Lalu, apa untungnya bagi perusahaan dalam menjalankan program learning and development? Apalagi jika mendengar L&D, masih banyak yang berasumsi bahwa program tersebut sama dengan training yang biasanya memakan biaya besar.

Padahal tidak juga.

L&D tetap bisa dilakukan dengan sederhana, bahkan kadang tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun. Kita bahas itu nanti.

Sekarang, mari pahami bahwa L&D sangat memberikan keuntungan jangka panjang bagi organisasi.

1. Jadi strategi retensi karyawan

Menurut laporan Gallup, 59% millennials mengatakan adanya kesempatan belajar dan bertumbuh jadi poin pertimbangan saat mereka melamar kerja. 

Hal ini didukung juga dengan hasil riset yang menyebutkan 93% karyawan akan bertahan lebih lama jika perusahaan berinvestasi pada perkembangan mereka.

2. Meningkatkan kinerja bottom liners

Beberapa perusahaan melaporkan bahwa mengisi kesenjangan pengetahuan dan skill dari karyawan bottom line memberikan mereka peningkatan profit sekitar 14-29%.

Membekali karyawan dengan kemampuan untuk melakukan pekerjaan mereka lebih baik adalah pilihan yang tepat. Sebaliknya, membiarkan karyawan tidak terlatih akan memberikan risiko pada bisnis.

3. Memperbaiki layanan konsumen

Ini masalahnya: keinginan konsumen kerap berubah-ubah, dan kebutuhan mereka selalu berlipat ganda tiap saat. Anda mungkin memiliki strategi bagus untuk menghadapinya. Tapi jika tidak diimbangi dengan keterampilan karyawan yang sesuai?

Meningkatkan kemampuan karyawan dalam menjawab kebutuhan konsumen tentunya tidak hanya akan meningkatkan profit, tetapi juga memberikan lifetime value bagi produk Anda.

4. Meningkatkan kualitas kinerja

Semua orang ingin kinerjanya memberikan kepuasan bagi diri sendiri dan sekitarnya. 83% pekerja Gen Z disebutkan sangat semangat untuk mempelajari skill yang bisa membantu kinerja mereka.

Tentu saja dengan keterampilan dan pengetahuan yang selalu up to date dengan perkembangan bisnis, kinerja karyawan akan semakin berkualitas. Karyawan pun semakin percaya diri dengan kemampuannya dan secara otomatis meningkatkan motivasi mereka.

5. Menguatkan employer branding

Ingatkah salah satu kunci employer branding yang baik? Betul, semua dimulai dari bagaimana karyawan Anda membawa perusahaan keluar. Ini tentang bagaimana karyawan Anda menunjukkan mereka bangga jadi bagian dari Anda dan mempromosikannya ke lingkungan luar kantor.

Jika karyawan dan manajemen menyambut positif inisiatif Anda mengenai program L&D, mereka tidak akan ragu untuk ikut mempromosikannya di Instagram atau LinkedIn mereka.

Akhirnya, perusahaan Anda memiliki branding sebagai tempat yang terbuka dengan program L&D dan itu menjadi senjata Anda dalam menggaet kandidat menjanjikan.

Peran Penting Analisis Learning and Development

Sayangnya, merancang dan menjalankan program L&D ini tidak mudah.

Meskipun di atas sempat disebutkan bahwa ada beberapa program yang mungkin tidak mengeluarkan biaya sepeser pun (seperti knowledge sharing atau on the job training), tapi investasi waktu dan tenaga sangatlah besar!

Tidak sedikit pemimpin yang meragukan inisiatif L&D karena mempertimbangkan ROI-nya. Jadi, sangatlah jelas bahwa program L&D harus dibuat berdasarkan data dan analisis yang jelas agar pimpinan Anda bisa melihat ROI untuk perusahaan.

Sebelum masuk ke analisis, Anda harus melakukan identifikasi dulu. Lebih jelasnya, identifikasi kebutuhan keterampilan, pengetahuan, hingga sikap yang dibutuhkan saat ini dan yang akan datang nanti.

Jika dalam terminologi training Anda mengenal Training Needs Analysis (TNA), maka di dalam L&D Anda akan mengenal Learning Needs Analysis (LNA).

Keduanya sedikit berbeda. LNA bisa digunakan sebagai metode untuk memastikan kemampuan dan kesiapan organisasi (dan anggotanya) dalam hal ketersediaan skills, pengetahuan, dan kompetensi.

TNA merujuk kepada analisis kebutuhan pelatihan spesifik untuk mengisi atau mendukung kekurangan keterampilan hanya pada saat itu.

LNA harus mengikuti strategi bisnis. Artinya, inisiator program L&D harus tahu dan paham kebutuhan skill apa yang bisa mendukung strategi bisnis di masa depan?

Tantangan Menjalankan Program Learning and Development

Di atas tadi kita sempat sebutkan bahwa pimpinan biasanya mempertimbangankan keberhasilan program L&D dengan ROI ke perusahaan. Biasanya, itu juga yang menghambat pimpinan HRD untuk melaksanakan L&D.

Sayangnya, tantangan menjalankan program L&D tidak sampai di situ saja.

Contoh lainnya adalah hybrid working membuat perusahaan menjalankan sistem kerja offline-online. Ini membuat proses belajar-mengajar jadi sangat menantang. Apakah program harus dilakukan tatap muka agar lebih efisien? Bagaimana jika program dilakukan secara virtual?

Selanjutnya, kita memiliki tantangan: siapa yang mampu memberikan pelatihan atau pengajaran tersebut? Ini hampir ironis, mengingat tidak semua pemimpin dan manajer dibekali kemampuan untuk coaching anggotanya, atau menggunakan teknologi.

Bagaimana jika instrumen program L&D sudah lengkap dan siap dijalankan, ternyata banyak karyawan Anda yang tidak tertarik dengan prospek pengembangan diri. Ya, walaupun banyak laporan yang menunjukkan hal sebaliknya.

Kalau disimpulkan, inilah beberapa tantangan L&D:

  • Pertimbangan ROI yang berpengaruh pada keputusan manajemen
  • Efisiensi program di tengah sistem hybrid working
  • Siapa yang memberikan pelatihan?
  • Bagaimana jika karyawan tidak termotivasi untuk berkembang?

Menanggapi tantangan dan pertanyaan tersebut, mari kita cek apa yang bisa dijadikan jalan keluar bagi Anda.

Cara Mengoptimalkan Learning and Development Ke Karyawan

Sejatinya, strategi L&D memang harus dipikirkan untuk tiga sampai lima tahun ke depan, karena strategi L&D sejajar dengan strategi bisnis.

Di sini, kami highlight bahwa pembaca tidak akan melihat program L&D apa yang bisa Anda coba di 2022.

Tapi, kami akan berikan beberapa insight tentang cara-cara yang bisa dipakai untuk mengoptimalkan apa pun program L&D yang akan Anda pilih nanti.

Sebelum itu, mari sama-sama pahami apa yang menjadi kunci pertanyaan untuk inisiatif L&D 2022 ini:

  1. Bagaimana HR dan perusahaan membangun skills yang diperlukan untuk mengembangkan bisnis dan mempertahankan organisasi?
  2. Apa kurikulum untuk beberapa tahun ke depan? Setelah dipelajari, bagaimana kita bisa menerapkannya secara efektif?
  3. Bagaimana perusahaan merancang proses learning yang relevan tahun ini, khususnya dalam kondisi pasca pandemi?
  4. Seberapa efektif dan efisien praktik digital learning?

Menjawabnya, inilah beberapa hal yang bisa Anda pertimbangkan:

Memprioritaskan reskilling dan upskilling di 2022

Beberapa ahli sangat menyebutkan reskilling dan/atau upskilling akan jadi penolong tim L&D di perusahaan mana pun. Keduanya adalah tentang memberikan skill baru dan meningkatkan skill yang sudah ada untuk menjawab kebutuhan saat ini maupun di waktu mendatang.

Banyak program reskilling/upskilling yang tidak memakan biaya besar, sehingga bisa langsung diterapkan oleh perusahaan.

Memperkuat tim L&D

Kembali ke inti. Sebaik apa pun strategi dan rencana L&D Anda, tapi jika tim HR atau tim khusus L&D tidak memiliki skill relevan, maka semua akan sia-sia.

L&D yang sukses berawal dari kesiapan tim HR dan L&D untuk menghadapi berbagai tantangan bisnis dan ketenagakerjaan. Memang, kita tidak bisa mengontrol skills gap yang sudah terjadi saat ini. 

Tapi untuk masa depan? Setidaknya, para praktisi HR atau L&D specialist (dan pemimpin organisasi) harus memiliki daya tahan dan ketangkasan terhadap berbagai kemungkinan di masa depan.

Mengkomunikasikan tujuan L&D

Persis seperti parenting, kadang perusahaan hanya memikirkan apa yang terbaik bagi mereka dan mengeluarkan keputusan berdasarkan itu. Dan keputusan tersebut tidak sejalan dengan ekspektasi karyawan.

Jika tidak sejalan, jangan kaget apalagi protes saat program L&D Anda mengalami kegagalan atau hasilnya tidak sesuai ekspektasi.

Karyawan yang diberikan program L&D harus paham tujuan perusahaan. Apa yang diharapkan dari perusahaan dari mereka? Apakah sejalan dengan prinsip atau target karyawan itu sendiri? Jika tidak sejalan, apa saja risikonya?

Komunikasikan pertanyaan-pertanyaan seperti itu sebelum memulai program Anda.

Mempertimbangkan program belajar interaktif

Ini juga harus dipertimbangkan matang-matang. Dengan adanya jarak waktu dan tempat, metode L&D apa yang tepat untuk diberikan ke karyawan?

2020-2021, banyak karyawan yang sadar bahwa fleksibilitas dalam bekerja sama sekali memungkinkan. Hal ini juga berlaku pada sesi pembelajaran dan pelatihan.

Banyak sekali media dan perangkat yang dapat menunjang program L&D secara remote. Yang harus Anda perhatikan adalah, metode tersebut harus interaktif untuk tetap bisa menstimulasi daya tangkap karyawan.

Contohnya seperti mobile learning, game-based learning, AR/VR, dsb.

Penutup

Learning and development adalah sebuah proses jangka panjang. Tidak seperti training yang biasanya mengisi gap di saat itu saja, L&D harus fokus pada kebutuhan di masa depan juga.

Apa pun program yang Anda pilih, pastikan Anda melakukan analisis terlebih dahulu terhadap kebutuhan dan kesiapan organisasi. Anda juga harus memastikan bahwa karyawan Anda memang termotivasi untuk mendapatkan pembelajaran dan pengembangan skill.

Jangan lupa, sebelum itu semua, pastikan divisi HR yang Anda kelola memiliki tim yang juga siap untuk menjalankan program L&D ini.

Comment