14 Kriteria Evaluasi Kinerja Karyawan | | HR NOTE Indonesia

14 Kriteria Evaluasi Kinerja Karyawan

Pembaca HR NOTE, apakah pembaca kerap bingung saat melakukan evaluasi karyawan? Seperti, “Aspek apa yang harus saya prioritaskan dalam evaluasi karyawan?” “Bagaimana jika saya salah memilih prioritas?”

Mungkin pertanyaan itu sering muncul di benak rekan HRD di masa-masa menjelang evaluasi karyawan.

Memang betul, banyak sekali aspek, kompetensi yang harus diperhatikan dalam mengevaluasi kinerja karyawan. Maka dari itu, HR harus memahami apa saja yang bisa dinilai dalam kinerja karyawan, yang berhubungan dengan perkembangan kinerja organisasi.

Sebelum kita masuk ke kriteria tersebut, ada baiknya kita memahami dulu apa maksud dan tujuan penilaian kinerja karyawan.

Pengertian dan Tujuan Penilaian Kinerja Karyawan

Penilaian kinerja adalah proses evaluasi kinerja, penyusunan rencana pengembangan, dan mengkomunikasikan hasil proses tersebut kepada karyawan. Penilaian kinerja merupakan hasil dari suatu penilaian yang sistematik dan didasarkan pada kelompok indikator kinerja kegiatan.

Menurut Prawirosentono, performa atau kinerja ialah hasil kerja atau prestasi kerja yang dapat dicapai seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi yang bersangkutan tanpa melanggar hukum, legal, dan sesuai dengan moral maupun etika.

Fungsi penilaian kinerja tidak hanya untuk mengetahui tingkat keberhasilan kinerja setiap karyawan. Penilaian kinerja juga digunakan untuk menilai berhasil tidaknya pelaksanaan kegiatan atau kebijakan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan dalam rangka mewujudkan misi dan visi perusahaan.

Jenis-jenis Kriteria Evaluasi Karyawan

Evaluasi karyawan adalah cara terbaik untuk membantu anggota tim Anda memahami bagaimana kinerja mereka di tempat kerja. Anda dapat fokus pada area kesuksesan, tempat-tempat yang perlu mereka perbaiki, dan apakah mereka telah mencapai target mereka. Sangat penting untuk mengukur kinerja karyawan Anda berdasarkan kriteria tertentu sehingga Anda memiliki dasar yang dapat mereka tingkatkan.

Dan seperti yang kita tahu, kinerja karyawan yang baik akan berpengaruh pada kinerja perusahaan juga. Jadi, penting untuk kita memahami aspek apa saja yang penting untuk dievaluasi.

Meskipun evaluasi karyawan setiap bisnis mengandung elemen yang spesifik untuk industri dan deskripsi pekerjaan, ada beberapa kriteria menyeluruh yang harus Anda gunakan dalam penilaian kinerja karyawan.

1. Inisiatif

– Apakah karyawan menunjukkan ambisinya dalam posisi tersebut dan mengambil inisiatif untuk meningkatkan proses, produk, atau lingkungan kerja secara keseluruhan? –

Inisiatif, artinya karyawan melakukan sesuatu yang membantu tanpa menunggu perintah dari atasan terlebih dahulu. Karyawan yang punya inisiatif biasanya merupakan pekerja mandiri yang dapat menjalankan perannya tanpa perlu banyak supervisi dari atasan.

Banyak perusahaan yang menganggap inisiatif karyawan sebagai hal positif dalam penilaian kinerja. Inisiatif ini bentuknya dapat bermacam-macam misalnya inisiatif membantu pemecahan masalah, inisiatif mengurangi konflik dalam tim, dan inisiatif untuk melakukan hal-hal baru yang memberikan hasil nyata.

2. Kehadiran

– Apakah kehadiran karyawan berdampak negatif pada produktivitas atau moral departemen? Apakah kehadiran karyawan tersebut patut dicontoh? –

Kehadiran yang dimaksud adalah kedatangan karyawan ke tempat kerja. Tingkat kehadiran dapat menggambarkan kedisiplinan dan komitmen karyawan dalam bekerja. Contoh paling sederhana adalah ketepatan waktu masuk dan selesai kerja.

Kehadiran juga menunjukkan kepatuhan karyawan pada peraturan perusahaan mengenai waktu kerja dan kesadaran terhadap kewajibannya sebagai pekerja. Keterlambatan yang berulang akan mengurangi durasi jam kerja, yang berarti juga mengurangi produktivitas.

3. Sikap

– Bagaimana sikap karyawan terhadap Anda terhadap rekan kerja, terhadap pekerjaan secara umum? Apakah dia menyenangkan untuk diajak bekerja sama? Apakah karyawan tersebut cukup fleksibel ketika diminta untuk melakukan fungsi pekerjaan di luar tugas normalnya, atau bekerja di luar jam normalnya untuk proyek khusus? –

Sikap juga menjadi kriteria penilaian kinerja karyawan yang tak bisa diabaikan. Bagi beberapa perusahaan, sikap yang sesuai dengan budaya perusahaan menjadi syarat nomor satu dalam mempertahankan karyawan.

Karyawan yang memiliki sikap positif tentunya akan membentuk lingkungan kerja yang juga positif. Hal itu penting bagi menjaga produktivitas karyawan dan organisasi.

4. KETERAMPILAN KOMUNIKASI

– Apakah karyawan tersebut memiliki kemampuan untuk berkomunikasi secara memadai dengan rekan kerja, manajer, dan pelanggan? Apakah ada masalah yang dibuat, atau diselesaikan, karena keterampilan komunikasi karyawan? –

Keterampilan komunikasi adalah keterampilan karyawan dalam menyampaikan pesan secara jelas maupun ide yang dimiliki kepada rekan kerjanya. Kemampuan menyampaikan gagasan kepada orang lain cukup penting karena akan mempunyai nilai plus sendiri bagi seorang karyawan. Bisa saja berangkat dari ide yang dimiliki karyawan tersebut dapat diciptakan inovasi atau produk baru demi membawa kemajuan perusahaan.

Keterampilan komunikasi juga penting dalam menjaga hubungan baik dengan rekan satu tim dan lainnya. Keterampilan ini sangat berharga khususnya jika posisi karyawan tersebut memerlukan keterampilan komunikasi yang tinggi, seperti bagian penjualan dan pemasaran.

5. Berorientasi pada Divisi dan Perusahaan

– Apakah karyawan tersebut memiliki pandangan yang lebih luas dan pemahaman yang lebih dalam daripada sekadar tugasnya sendiri? Apakah dia berbicara tentang departemen atau perusahaan dengan bangga? –

Seorang karyawan sebaiknya juga berorientasi pada divisi dan perusahaan secara umum. Artinya, kita dapat menilai dari kinerjanya bahwa hasil tersebut dilakukan untuk kemajuan divisi dan perusahaan. Karyawan mengetahui dan mengerti tujuan perusahaan dengan baik, sehingga usaha dan kinerjanya selalu diupayakan untuk mencapai tujuan tersebut.

6. Fokus

– Apakah karyawan mampu mempertahankan fokus pada tugasnya? Apakah dia kesulitan memprioritaskan tugas pekerjaan di atas bisnis pribadi atau bersosialisasi dengan karyawan lain?

Fokus pada pekerjaan adalah persyaratan mendasar dari sebuah kinerja yang baik. Namun, takdapat dipungkiri juga, mempertahankan fokus kerja merupakan tantangan bagi pekerja mana pun. Apalagi di saat pandemi di mana banyak terjadi perubahan pola kerja.

Tantangan fokus seperti di atas seharusnya bisa dinilai secara fleksibel. Akan berbeda jika konteks fokus menggambarkan perilaku yang sengaja dilakukan seorang individu, misalnya terlalu lama menggunakan smartphone di jam kerja untuk kepentingan pribadi, atau mengganggu rekan kerja lain yang sedang fokus.

7. Peningkatan dari Evaluasi Sebelumnya

– Apakah karyawan menunjukkan peningkatan yang nyata dari evaluasi kinerja sebelumnya? –

Evaluasi kinerja biasanya dilakukan secara rutin, bisa enam bulan sekali atau satu tahun sekali. Oleh karena itu, Anda dapa menilai, apakah seorang karyawan menunjukkan peningkatan yang nyata dari evaluasi kinerja sebelumnya atau belum. Karena hal ini menunjukkan bagaimana semangat belajar dan memperbaiki diri dari karyawan.

Aspek ini juga mudah dilakukan karena berdasarkan pada data yang dicatat dan disimpan oleh tim HRD atau manajer.

8. Integritas

– Apakah karyawan tersebut menunjukkan perilaku etis di tempat kerja? Apakah dia menghormati privasi karyawan lain dan pelanggan? –

Menurut KBBI daring, integritas adalah mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan. Dapat juga diartikan sebagai kejujuran.

Kejujuran akan membawa individu mana pun lebih terhormat di mata orang lain, begitu juga dengan pekerjaannya. Beberapa perusahaan mengutamakan integritas sebagai hal yang harus dimiliki dan dibawa oleh setiap anggotanya. Hal ini tentu untuk menghindari hasil kerja yang buruk di mata pelanggan atau masyarakat.

Sebagai contoh, di perusahaan yang menjunjung integritas, kejujuran menjadi syarat mutlak yang harus dimiliki setiap pegawai. Misalnya, perusahaan media massa yang punya reputasi dan kredibilitas kuat di mata publik tidak segan memecat karyawan yang menerima uang/suap dari narasumber.

9. Tingkat Pengetahuan (Hal Teknis)

– Apakah karyawan tersebut memiliki dan menunjukkan tingkat pengetahuan teknis yang dapat diterima untuk melaksanakan tugas pekerjaannya? –

Pengetahun teknis seputar pekerjaan ini berkaitan juga dengan mutu pekerjaan dan kecepatan karyawan dalam mengemban tanggung jawab yang diberikan kepada mereka.

Dengan pengetahuan yang mereka miliki soal pekerjaannya, tentu diharapkan hasil pekerjaannya pun haruslah yang terbaik. Pengetahuan seputar pekerjaan yang diemban karyawan sangatlah krusial agar semua pekerjaan dapat diselesaikan secara berkala dengan kualitas terbaik.

10. Produktivitas / Menjaga Deadline

– Apakah karyawan mampu secara konsisten memenuhi persyaratan produktivitas dan tenggat waktu proyek? –

Produktivitas adalah hal yang sangat penting dalam konteks bekerja. Produktivitas juga berkaitan dengan waktu kerja, yang mengharuskan seseorang untuk dapat mengeluarkan usaha optimal dalam waktu yang telah ditentukan.

Produktivitas individu akan memengaruhi produktivitas perusahaan. Maka dari itu, seorang pekerja yang mampu membutktikan hasil kerja yang produktif akan dinilai baik oleh perusahaan.

Hal tersebut membuat kecepatan dalam menyelesaikan pekerjaan pun termasuk parameter yang diperhitungkan dalam penilaian kinerja karyawan. Walaupun ditempa deadline padat sekalipun karyawan harus bisa menyelesaikan pekerjaannya sebaik mungkin.

11. Kualitas Kerja

– Apakah ada tanggapan positif atau negatif dari pelanggan terkait kualitas pekerjaan karyawan? Apa yang Anda amati tentang kualitas kerja karyawan? –

Dalam ranah pekerjaan, tidak hanya jumlah tetapi juga kualitas hasil juga harus diperhitungkan.

Tidak kalah dengan yang lain, kualitas kerja juga termasuk sebagai indikator penting dan digunakan perusahaan dalam menilai hasil kerja karyawan. Indikator ini menentukan keterampilan, kecakapan, dan tingkat kompetensi karyawan dalam bekerja.

Sekilas, menilai kualitas kerja akan menimbulkan banyak issue seperti bagaimana menilai sesuatu yang bersifat abstrak? Tetapi, jangan khawatir karena terdapat beberapa metode untuk menilai kualitas kinerja karyawan, seperti 360 degree Feedback.

13. Keandalan

– Apakah karyawan tersebut dapat diandalkan? Apakah dia secara konsisten menunjukkan kompetensi dan ketergantungan? Apakah dia orang yang “cocok”? –

Seorang karyawan harus bisa diandalkan, artinya ia kompeten dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap pekerjaannya. Ini dapat dimulai dari apakah ia karyawan yang cocok untuk pekerjaan tersebut. Ketika seorang karyawan dapat diandalkan, ini merupakan hal yang baik yang dapat mendukung kemajuan perusahaan.

14. Pengelolaan Stress

– Bagaimana cara karyawan menangani perubahan lingkungan kerja? Apakah dia mampu menyaring “kebisingan” dan fokus pada pemecahan tugas yang ada untuk menyelesaikannya tepat waktu? Bagaimana cara karyawan berinteraksi dengan anggota departemen lainnya saat ketegangan tinggi? –

Dalam setiap pekerjaan, pasti terdapat tekanan-tekanan yang harus diselesaikan oleh karyawan. Tak jarang juga tekanan tersebut membuat karyawan merasakan stress. Karyawan harus dapat mengelola stress tersebut dengan baik, sehingga tidak menghambat pekerjaan tim dan menyebabkan delay. Aspek itulah yang harus dinilai oleh HRD dan manajer.

15. Kerja Tim / Pitching

– Jika suatu departemen kekurangan tenaga, apakah karyawan tersebut bersedia untuk menyelesaikan tugas yang diberikan dari departemen tersebut? Apakah karyawan tersebut secara sukarela membantu?

Sering kali, pekerjaan seseorang tidak terbatas pada jobdesc yang telah ditetapkan. Suka tidak suka, ada waktu dimana seorang karyawan dilimpahi pekerjaan dari rekannya, divisi lain, bahkan tugas tambahan dari atasan.

Indikator ini mengukur seberapa baik karyawan menjalankan tugasnya dalam tim, bagaimana mereka berkomunikasi dengan atasan, menerima perintah dan menjalankannya, serta berkolaborasi dengan rekan kerja dari divisi lain. Bagaimana individu mampu memberikan kontribusinya terhadap keberhasilan tim.

 

Tips Memilih Kriteria untuk Evaluasi Karyawan

Dari banyaknya kriteria penilaian karyawan, tentunya bukan berarti seluruhnya harus digunakan. Berikut ini tips memilih kriteria untuk evaluasi karyawan:

Analisis Pekerjaan

Langkah analisis pekerjaan ini dimulai dari menganalisis jabatan karyawan. Proses analisis jabatan ini harus bisa menjelaskan seperti apa pekerjaannya, tanggung jawab apa saja yang dimiliki, serta seperti apa kondisinya saat bekerja. Dari analisis ini, Anda akan mengetahui dengan baik apa tujuan dari pekerjaan tersebut sehingga dapat menentukan kriteria apa saja yang sesuai untuk dijadikan bahan penilaian karyawan.

Pilihlah Kriteria yang Berkaitan dengan Kemajuan Perusahaan

Dari banyaknya kriteria yang dapat dijadikan bahan penilaian karyawan, pilihlah kriteria yang benar-benar berkaitan dengan kemajuan perusahaan. Sehingga Anda perlu mengetahui dengan baik apa tujuan perusahaan secara umum, sebelum menentukan kriteria untuk penilaian karyawan. Jangan sampai penilaian karyawan tidak berkaitan dengan proses mendukung kemajuan perusahaan.

Kelompokkan Kriteria

Dalam memilih kriteria yang sesuai, Anda juga dapat mengelompokkan kriteria-kriteria tersebut. Sebenarnya, mengelompokkan kriteria akan sangat membantu Anda dalam melaksanakan evaluasi. Berikut tiga contoh kriteria yang bisa Anda bentuk.

Pertama, Anda dapat mengelompokkan kriteria ke dalam behavioral appraisal system atau penilaian kinerja yang fokus pada penilaian tingkah laku.

Kedua, kriteria dapat dikelompokkan fokus pada sifat individu karyawannya.

Ketiga, dapat dikelompokkan berdasarkan result oriented appraisal system, yaitu penilaian kinerja yang hanya melihat hasil pekerjaannya.

Simpulan

Penilaian kinerja sebagai proses evaluasi kinerja, penyusunan rencana pengembangan, dan mengkomunikasikan hasil proses tersebut kepada karyawan. Penilaian kinerja ini memiliki jenis-jenis kriteria yang bermacam-macam, namun dalam memilih kriteria yang akan digunakan Anda harus berfokus kepada tujuan yang ingin dicapai perusahaan.

Melakukan analisis pekerjaan dan mengelompokkan kriteria ke dalam beberapa bagian akan membantu Anda dalam memprioritaskan mana kriteria yang penting dalam sesi evaluasi kinerja.

 

Comment