Tantangan dan Praktik Mindfulness di Lingkungan Kerja | | HR NOTE Indonesia

Tantangan dan Praktik Mindfulness di Lingkungan Kerja

Mindfulness, Putra Wiramuda

Perusahaan komunikasi marketing JWT Worldwide –saat ini bernama Wunderman Thompson– pernah merilis 100 Things to Watch for in 2014. Dalam daftar tersebut, JWT menuliskan mindfulness adalah salah satu tren yang membentuk dunia pada 2014 dan seterusnya.

Ketika dunia memasuki pandemi COVID-19, banyak pihak yang mendengungkan work-life balance, mental health awareness, hingga mindfulness

Tak jarang, perusahaan maupun instansi mengundang praktisi mindfulness untuk memberikan insight karier, personal, finansial, serta kesejahteraan fisik dan mental dari sudut pandang mindfulness.

Salah satu praktisi yang kerap berbicara mengenai mindfulness adalah Putra Wiramuda, S. Psi., M.A. Alumni Universitas Gadjah Mada ini berbagi informasi dengan HRNote tentang tantangan dunia kerja saat ini hingga praktik mindfulness di lingkungan kerja.

Tantangan Dunia Kerja Saat Ini

mindfulness

Dari sudut pandang kesehatan mental, ada tiga tantangan dunia kerja saat ini.

Work-life balance

Pertama, tantangan yang berkembangan belakangan dan banyak dibahas adalah work-life balance. Artinya, kita enggak cuma memenuhi kehidupan di pekerjaan, tapi juga ada aspek-aspek kehidupan lain yang perlu kita penuhi.

Permasalahannya, yang perlu dipenuhi dalam hidup itu banyak. Ada aspek relasi, kesehatan fisik, kesehatan mental, dan lain sebagainya. Sering kali dunia kerja sendiri itu sudah menyita waktu dan energi. 

Kondisi itu semakin parah dengan adanya pandemi COVID-19. Mungkin dulu, kita bisa fokus bekerja di kantor dari pukul 08.00-17.00. Sampai rumah, kita fokus pada kesejahteraan diri, seperti olahraga atau menikmati waktu bersama keluarga.

Ketika pandemi datang, banyak karyawan yang work from home (WFH). Kegiatan WFH bercampur antara urusan kantor dan rumah. Waktu kita sedang family time, tiba-tiba dapat tugas dari kantor, sehingga kita mengerjakan tugas sambil momong anak.

Makanya, ada istilah work-life integration, yah. Jadi, kehidupan pribadi dan pekerjaan saling terintegrasi.

Gimana cara menyeimbangkannya? Ini adalah PR-nya. 

Kita berusaha mengharmonisasi satu sama lain supaya tidak saling mengganggu, tetapi justru hal itu saling berhubungan. Di situ lah, skill kita untuk tetap mindful dan managing time saling berhubungan.

Pemutusan hubungan kerja

Kedua, pemutusan hubungan kerja. Belakangan ada pemutusan hubungan kerja, baik karyawan yang mengajukan atau dari perusahaannya.

Kalau dari perusahaan, sepertinya saya tidak bisa banyak berpendapat. Karena itu adalah strategi bisnis perusahaan sendiri.

Kalau dari karyawan, beberapa cerita teman ada yang memutuskan undurkan diri atau resign. Kondisi itu menjadi tantangan bagi perusahaan.

Saya mendengar cerita salah satu karyawan di perusahaan besar di Jakarta. Perusahaan tersebut memiliki KPI ke HR untuk mengurangi atau membatasi karyawan resign. Terutama untuk karyawan dengan kompetensi yang baik dan tingkat tertentu.

Padahal kondisinya, sering kali, karyawan yang datang ke HR, berkonsultasi, dan sharing bahwa ia ingin rehat sejenak. Ia ingin jeda dan liburan dulu. Karena perusahaan ada konflik dan ia ada masalah personal.

Saat mengajukan resign, HR malah melarang yang bersangkutan. HR menahannya supaya turnover tidak tinggi, tetapi tidak ada strategi retensi karyawan.

Gen Z rentan stress

Ketiga, Gen Z. Generasi ini dipandang memiliki performa oke, tetapi rentan stress dan membuat turnover perusahaan tinggi.

Dari sudut pandang mindfulness, itu bukan salah mereka. Karena setiap generasi punya tantangan masing-masing, sehingga cara mendekatinya pun harus berbeda. Kita enggak bisa pakai cara lama.

Perusahaan Adopsi Praktik Mindfulness

mindfulness

Di luar negeri dan di Indonesia sudah mulai banyak yang mengadopsi mindfulness. Seminggu atau sebulan sekali, perusahaan punya pertemuan rutin untuk ngumpul sambil berlatih mindfulness.

Diharapkan setelah sesi latihan, karyawan punya keterampilan mindfulness. Mereka bisa berlatih sendiri, baik di rumah atau di sela-sela jam kantor.

Menurut Jon Kabat-Zinn, mindfulness adalah kesadaran yang muncul dengan mengarahkan perhatian pada satu tujuan di momen saat ini.

Siapa yang menginisiasi mindfulness di tempat kerja?

Beragam, ada yang dari divisi HR. Karena mostly orang HR lulusan psikologi atau manajemen sumber daya manusia yang sudah pernah bersentuhan sebelumnya. 

Mereka juga familiar dengan mindfulness dan caranya relaksasi. Maka merasa penting untuk menyebarkan ini ke rekan kerja lainnya.

Ada karyawan tingkat tertentu, misalnya, dia pernah ikut kelas mindfulness dan merasakan manfaatnya. Akhirnya, dia ingin membawa ini ke kantornya. 

Bahkan staf pun ada yang ikut kelas mindfulness atau baca buku saya, Di Sini dan Saat Ini. Kemudian dia mengajukan proposal mindfulness workshop ke atasannya karena karyawan merasa perlu mempraktikkan di lingkungan kerja. Dan, atasannya menerima proposal itu.

Praktik mindfulness di tempat kerja

Perusahaan zaman sekarang kalau membuat KPI sudah disesuaikan dengan batas normal manusia atau masuk akal. 

Bahkan sekarang semakin banyak perusahaan yang enggak harus kerja dari pukul 08.00 sampai 17.00. Karyawan juga enggak harus masuk kantor as long as pekerjaan selesai

Ada orang yang berpikir kalau mindfulness itu hanya duduk diam, padahal tidak demikian. Banyak karyawan yang tidak dibekali latihan mindfulness atau tidak dikasih tahu untuk mindful.

Anda bisa memberitahu karyawan ketika mereka sedang sibuk, overthinking, atau overwhelmed, minta mereka untuk mengambil jeda dengan cara menyadari napas. 

Anda bisa mengatakan, “Ayo, sadar napas, tenang dulu. Tidak usah terburu-buru”. Karena dengan menyadari napas, seseorang lebih bijak mengambil keputusan.

Memang, berlatih mindfulness tidak semudah yang saya jelaskan. Kita harus rutin melatihnya.

Dimulai dari diri sendiri

Tubuh selalu memberikan sinyal bahwa kita perlu jeda dan sadar napas. Maka kita perlu mempraktikkan mindfulness.

Walaupun, namanya, bekerja pasti naik turun. Terkadang kita sangat menikmati, tetapi ada kalanya tidak.

Cara paling mudah untuk mengidentifikasi apakah saya butuh mindfulness atau tidak adalah dengan mengecek diri sendiri dulu, seperti:

  • Apakah kita nyaman dalam bekerja sehari-hari?
  • Apakah kita bisa menikmati kegiatan bekerja?
  • Apakah pekerjaan membuat kita menjadi sensitif?
  • Apakah kita membawa masalah pekerjaan ke rumah?
  • Apakah tekanan kerja membuat kita marah ke anak-anak?
  • Apakah tuntutan pekerjaan semakin tidak masuk akal?
  • Apakah kita sering sekali susah tidur dan tengkuk belakang sering sakit?

Itu sinyal sederhana dari diri kita untuk ngasih tahu kalau kita paksakan bekerja dengan ritme hidup seperti itu bisa membuat burnout.

Ini bisa menjadi bom yang meledak sewaktu-waktu. Dan, ujung-ujungnya produktivitas menurun.

Mindful STOP

mindfulness

Jika merasa perlu berlatih mindfulness di tempat kerja, kita bisa mempraktikkan Mindful STOP.

Ini adalah salah satu praktik mindfulness yang saya ajarkan dan sangat bisa dilakukan di jeda waktu

Praktik ini bisa kita lakukan saat kewalahan dalam persoalan kehidupan, termasuk ketika ada tekanan pekerjaan. Kalau ada tempat duduk untuk diam bermeditasi itu jauh lebih baik. 

Kalau tidak ada, tidak perlu cari ruang hening. Kita bisa duduk di kursi kerja atau di toilet yang biasanya sepi, karena di awal latihan, kadang seseorang sulit fokus, awkward, atau takut terdistraksi.

Penjelasan lebih lanjut tentang Mindful STOP adalah: 

S: Stop

S adalah stop atau berhenti. 

Ketika kita mulai overwhelmed, panik, emosional, yang pertama kita lakukan berhenti dulu.

Kita jeda dulu. Kita enggak perlu buru-buru mengambil keputusan. Kenapa?

Karena saat kita lagi di kondisi itu, sering kali keputusan yang kita ambil, tanpa disadari, akan merugikan di kemudian hari atau kita tidak bisa berpikir jernih menemukan solusi yang baik.

T: Take a deep breath

Kedua, kita sadari napas masuk dan keluar selama beberapa saat. Sekilas, menyadari napas adalah hal remeh karena sepanjang waktu kita melakukannya. 

Namun, kondisi itu justru melatih otot-otot mental paling sederhana. Untuk durasi napas, kalau pemula sekitar 15 atau 20 menit. Kalau sudah terlatih, sekitar lima sampai 10 menit.

Pastikan diri kita sudah lebih tenang dan pelan-pelan akan lebih rileks. Enggak perlu ditenang-tenangin, sadari napas saja. Nanti, napas akan lebih stabil.

O: Observe

Ketiga, observasi atau amati apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Kalau Anda panik, observasi apa yang membuat panik, emosi apa yang hadir, atau overthinking apa yang muncul dan mengganggu.

Yakinkan diri, ketika observasi, kita sudah tenang dulu. Kalau kita belum tenang, observasinya masih pakai kacamata emosi. Kondisi emosi ini sering bikin bias dalam mengambil sikap atau keputusan.

Harapannya, ketika kita observasi, pikiran jadi lebih jernih dan sudut pandang lebih luas. Ibarat teh tubruk, kalau air diaduk malah jadi keruh. Jika ingin meminumnya, kita perlu menunggu daun teh mengendap ke bawah dan tidak keruh. 

P: Proceed 

Proceed atau perlakukan diri kita dengan penuh kasih. Di tahap observasi, saat kita melihat segala sesuatu lebih jernih dan lebih bijak, solusi akan muncul.

Misalnya, kita kerja sampai malam dan merasa ide enggak keluar, tetapi begitu kita jeda, latihan sadar napas, observe, ternyata masalahnya ngantuk. 

Solusinya, tidur dulu, dan lanjutkan pekerjaan esok hari. Toh, kalau kita paksakan hasilnya enggak optimal dan menyiksa diri karena bisa bikin sakit.

Meski penjelasan saya tentang Mindful STOP terdengar mudah, tetapi ini bukan skill yang hanya dijelaskan sekali, lalu mengerti selamanya. Ini skill yang harus dilatih.

Melatih Otot Mental

Selain Mindful STOP, kita juga perlu berlatih meditasi atau mindul breath

Ini adalah cara untuk menuntun kesadaran kita di momen saat ini. Bagaimana caranya? Mengamati napas masuk dan keluar. Lakukan setiap hari sekitar lima hingga 10 menit.

Mindful breath menunjang Mindful STOP dan melatih otot-otot mental.

Kondisi itu berkaitan dengan pikiran manusia yang sering ke mana-mana. Pikiran bisa pergi ke masa depan, mencemaskan hal-hal yang belum terjadi –seperti galau, stress, bingung, sedih–, dan mengkhawatirkan sesuatu yang sudah terjadi di masa lampau. 

Padahal hal di masa depan atau di masa lalu, dua-duanya enggak nyata. Masa depan belum tentu terjadi dan masa lalu sudah terjadi dan enggak bisa diubah. Ironisnya, energi dan perhatian kita habis untuk hal itu. 

Mindfulness dapat melatih dan mengarahkan kesadaran kita kembali ke momen di sini dan saat ini. Upaya ini dapat tercapai dengan menyadari napas.

Makanya ketika pikiran kita ruwet, pelan-pelan arahkan kembali kesadaran ke napas. Kembali ada saat ini dan di sini. Waktu sudah sadar napas, kita akan tenang.

Daripada energi kita habis untuk mencemaskan masa lalu, lebih baik energi dipakai untuk momen saat ini. Sesederhana itu sebenarnya, tetapi terkadang orang bingung bagaimana cara melakukannya.

Tentu saja, untuk memiliki kemampuan itu, kita butuh berlatih mindfulness. Kemampuan tersebut bisa menjadi otot mental di diri kita. 

Sama seperti seseorang yang berencana mengikuti maraton. Dia akan berlatih lari dan mempelajari tekniknya untuk mencapai finish dengan lancar.

Kalau maraton, kita melatih otot fisik. Kalau mindfulness, kita melatih otot kesadaran atau mental. Semakin sering berlatih, kita akan semakin luwes dan lancar.otot

Selain itu, mindfulness melatih kita agar fokus dan tenang. Bukan fokus lalu tegang atau tenang kemudian kebablasan terlalu santai. Namun fokus dan tenang di sini merujuk pada kondisi stabil. 

Mindfulness Bukan Obat Penyelesaian Masalah

wfo

Mindfulness itu bukan obat mujarab yang bisa menyelesaikan semua masalah.

Misalnya, untuk mengatasi konflik antar karyawan. Kita tidak bisa latihan meditasi, lalu masalah mereka hilang.

HR bisa meminta masing-masing karyawan untuk menenangkan diri dengan menyadari napas dulu. 

Bilang ke mereka, “Kalau sekarang mau diam-diaman enggak masalah, tenangkan diri dulu. Besok siang, kalau sudah tenang, pelan-pelan ngobrol buat cerita masalahnya”.

Ketika bercerita, nada salah satu karyawan mulai tinggi, minta dia untuk sadar napas pelan-pelan. 

Kalau perlu, tunda ngobrolnya dan buat rules, seperti hanya akan ngobrol jika sudah kalem. Karena percuma ngobrol dengan orang marah.

Nanti lama dong? Ya, memang. Karena di dunia ini enggak ada yang instan. 

Di dunia ini, adakah yang baik dari hal instan? Hampir enggak ada, kasus binomo, misalnya, yang menawarkan kekayaan dalam waktu cepat tetapi bermasalah.

Dengan praktik mindfulness, kita terlatih untuk tidak terburu-buru. Terlatih untuk menyelesaikan masalah satu per satu.

Mindfulness itu soal single-tasking bukan multitasking

Kadang saya bingung dengan lowongan kerja yang harus bisa multitasking. Karena penelitian menjelaskan multitasking meningkatkan eror hingga 50 persen dan menurunkan produktivitas hingga 40 persen.

Jika demikian, Berarti perusahaan mencari karyawan yang siap menurunkan produktivitas hingga 40 persen. Daripada multitasking, kenapa tidak membuat management system untuk karyawan?

Basically, sebenarnya, tidak ada yang namanya multitasking. Yang ada namanya switch-task. Kita berpindah-pindah konsentrasi. 

Dalam switch-task, kita memerlukan otak butuh beradaptasi. Di waktu otak mempersiapkan diri untuk mengerjakan tugas baru, it takes time. Kondisi itu sudah menurunkan produktivitas. 

Misalnya, kita sedang mempersiapkan proposal marketing campaign, lalu harus membalas email klien. Kalau karyawan mampu menyelesaikan dua tugas di saat bersamaan, kemungkinan hasilnya tidak optimal.

Karena melakukan kedua tugas tersebut membutuhkan waktu. Sebaiknya, kita membagi tugas, seperti dua jam untuk membuat proposal dan satu jam membalas email.

Kalaupun terpaksa harus multitasking, be mindful dengan hal itu. Sadari kalau Anda sedang multitasking, mungkin peluang kesalahan jadi lebih tinggi. Kadang orang enggak sadar kalau dirinya sedang multitasking

Saya sering bilang, “Jangan pernah berharap dengan ikut kelas mindfulness dan berlatih selama dua jam, tiba-tiba segala permasalahan di perusahaan Anda selesai dengan sendirinya”. Justru Anda harus rutin melatihnya.

Comment