Melawan Krisis, Persiapan Pemimpin Tangkas untuk Organisasi | | HR NOTE Indonesia

Melawan Krisis, Persiapan Pemimpin Tangkas untuk Organisasi

Seperti yang sudah kita lihat dan mungkin alami, pandemi Covid-19 membawa banyak sekali tantangan bagi pelaku usaha manapun. Seperti disiram air es, pemimpin perusahaan menyadari bahwa mereka membutuhkan sosok-sosok kompeten yang mampu memimpin tim mereka untuk dapat bertahan di tengah gelombang pandemi.

Para leader ataupun manajer saat ini sudah memiliki kompetensi dan kualitas yang baik, tapi akan lebih baik lagi jika mereka memiliki kompetensi tambahan yang mampu membantu mereka memimpin timnya dalam situasi pandemi.

Jadi, seperti apa kualitas leader yang dibutuhkan saat ini? Bagaimana cara perusahaan membentuk leader seperti itu?

HR NOTE berkesempatan untuk berdiskusi dengan Ibu Hyacintha Susanti Jahja, atau akrab disapa Ibu Susan, selaku Chief Learning Officer STUDiLMU, sebuah lembaga pelatihan yang merupakan sister company dari BusinessGrowth.

Ibu Hyacintha Susanti Jahja | STUDiLMU by Business Growth | Direktur

Saat ini beliau menjabat sebagai Direktur di BusinessGrowth yang merupakan sister company dari STUDiLMU. Sedangkan peran beliau di STUDiLMU sendiri adalah sebagai Chief Learning Officer.

Kompetensi Leadership yang Masih Menjadi GAP Di Organisasi

Tentu kita ingin tahu kompetensi leader, atau gaya kepemimpinan seperti apa yang dibutuhkan perusahaan, atau organisasi dalam menghadapi situasi pandemi. Namun sebelum itu, mari kita sama-sama melihat dari kacamata profesional seperti apa kondisi leadership di perusahaan sebelum pandemi.

Terdapat 3 kompetensi leadership yang menjadi gap dan selalu berusaha dipenuhi para pemimpin perusahaan, yaitu:

  • Business acumen  
  • Strategic planning & Driving action
  • Adaptability

Business Acumen  

Ini adalah kompetensi yang paling sering ditemukan lacking di perusahaan besar.

Business acumen adalah ketajaman sense of business, bagaimana mereka mengenali peluang baru yang berguna bagi business dan perusahaan, seperti melihat pasar dan opportunity baru,  atau dalam skala kecil bagaimana cara melakukan penghematan sehingga bisnis bisa lebih berkembang.

Dalam istilah lain, menjadi intrapreneurship di dalam  organisasi. Intrapreneurship adalah sebuah tindakan bersikap seperti wirausahawan saat bekerja dalam organisasi sendiri.

Strategic Planning & Driving Action

Kenapa strategic planning semakin dibutuhkan? Karena dipengaruhi kondisi dimana organisasi sulit menyusun tujuan dan strategi jangka panjang. Karena perubahan terjadi semakin cepat dari waktu ke waktu. Biasanya mungkin perusahaan membuat tujuan dan strategi untuk lima tahun ke depan, tapi dengan berbagai faktor yang memengaruhi perubahan, paling sekarang hanya dibuat jadi tiga tahun saja. Bahkan terkadang strategi untuk satu tahun jika berhasil saja itu sudah bagus.

Itulah mengapa kemampuan strategic planning menjadi sangat krusial. Ini terhubung pada kemampuan Driving Action juga. Karena percuma jika memiliki strategi bagus tapi tidak mampu dilaksanakan dengan baik pula.

Adaptability

Ini juga menyangkut pada kondisi rapid change. Satu-satunya yang konsisten adalah perubahan, jadi orang harus semakin menjadi agile learner; harus cepat beradaptasi dengan kondisi yang ada, dengan perubahan strategi yang harus berubah di tengah-tengah, dengan banyak hal yang mungkin berubah.

Bagaimana untuk menjadi agile dan mampu beradaptasi? Seseorang harus berani keluar dari zona nyaman, dan berani untuk melakukan perubahan sedikit demi sedikit. Tidak hanya perubahan cara pikir, tetapi juga memaksa fisik kita menuruti perubahan tersebut agar kesadaran beradaptasi bisa semakin kuat di diri kita. Itu berlaku juga untuk pemenuhan dua kompetensi di atas.

Contoh Membangun Kemampuan Adaptability
Seorang CEO menyarankan para leadersnya untuk berusaha melatih dirinya untuk terbiasa keluar dari zona nyamannya setiap hari. Menciptakan kebiasaan keluar dari zona nyaman dimulai dengan melakukan minimal 1 hal berbeda dari biasanya setiap hari. Satu hari, satu perbedaan. Contohnya:
– Memesan menu makan yang berbeda,
– Mengambil rute perjalanan yang berbeda,
– Melakukan hal berbeda di kantor,
– dan yang lainnya.
Tantangan kecil seperti itu akan membuat seseorang lebih mudah beradaptasi dengan berbagai keadaan tidak terduga.

“What can we do in this kind of situation to keep achieving the target?” 

Tantangan Pandemi, Kompetensi Leader Apa yang Dibutuhkan Organisasi?

Sangat beragam! Bahkan banyak topik-topik training dan development khusus yang menjadi trend, berubah. Secara topik/kompetensi, ada sekitar empat kebutuhan, yang semua terangkum dalam apa yang disebut dengan Leading During Crisis. Leading During Crisis ini mencakup:

  • Adaptability
  • Crisis Communication
  • Creative Thinking
  • Excellent Execution

Adaptability

Adaptability maksudnya menggambarkan situasi yang masih belum bisa menerima perubahan, masih suka menyalahkan kondisi akibat perubahan yang terjadi. Tidak bisa move on dari old normal membuat strategi dan aksi yang perlu dilakukan jadi tertahan. Itulah alasan mengapa banyak pemimpin perusahaan meminta pelatihan terhadap kompetensi ini.

Pemimpin perlu untuk memiliki cara pikir “How to adapt in the new normal”, karena perubahan yang mengindikasikan ‘new normal’ akan selalu ada.

Adaptability di sini tidak hanya berlaku pada pemimpin itu sendiri, tapi juga harus membuat anggotanya memiliki cara pikir yang sama (change leader).

Crisis Communication

Banyak orang berpikir bahwa ketika krisis terjadi maka mereka harus menutupi informasi mengenai keadaan yang sebenarnya, dalam hal ini keadaan yang tidak baik atau krisis. Hal tersebut bertujuan untuk membuat karyawan tidak panik. Padahal yang seharusnya dilakukan adalah kebalikannya, yaitu komunikasi yang transparan. Karyawan justru lebih panik bila berada dalam ketidaktahuan akan apa yang sedang dihadapi sesungguhnya.

Komunikasi krisis yang transparan perlu bersifat bijaksana. Komunikasikanlah informasi penting berdasarkan realita dan fakta. Meskipun kondisinya merugikan, tapi pemimpin tersebut harus menyelipkan sisi positif, optimis dan menyampaikan peluang-peluang yang bisa dilakukan agar karyawan tidak menyerah dalam situasi krisis.

Creative Thinking

Creative thinking adalah kompetensi yang paling banyak dicari oleh perusahaan, dari awal krisis pandemi hingga saat ini. Hal ini cukup jelas. Bayangkan kalau kita bertumbuh di saat ekonomi juga sedang tumbuh, mudah, bukan? Tapi kalau sebaliknya, tentu organisasi perlu memikirkan cara untuk survive dan tetap bertumbuh. Maka itu, creative thinking menjadi salah satu kompetensi yang paling dibutuhkan dalam masa pandemi ini. 

Mendorong creative thinking leader bisa dilakukan dengan bermacam cara, yang jelas tidak dengan lecture. Beberapa cara yang dipakai di antaranya dengan menggunakan semua panca indra dari orang tersebut, dengan memberikan tantangan, menggunakan Lego (penelitian mengatakan bahwa ujung jari kita berkorelasi erat dengan otak), dan lain-lain. Dan yang paling penting, yang cocok dengan generasi kekinian, yaitu digital learning.

Excellent Execution

Ini juga dibutuhkan pemimpin dalam masa krisis. Semua organisasi membutuhkan pemimpin yang mampu mengeluarkan keputusan dengan tepat dan cepat. Terlebih situasi pandemi sudah menyebabkan banyak hilangnya keuntungan bahkan layoff karyawan, jadi perusahaan manapun akan membutuhkan pemimpin yang gesit.

Kompetensi ini juga banyak dicari beberapa bulan belakang. Karena banyak perusahaan sudah cukup optimis dengan keadaan, jadi tinggal memikirkan bagaimana cari peluang dengan menggunakan excellent execution ini.

Apa yang Bisa Dilakukan oleh Divisi HR & Pemimpin untuk Menciptakan Pemimpin Kompeten Di Masa Pandemi?

Divisi human resource atau human capital dapat memberikan beberapa kontribusi yang terbagi ke dalam dua aspek berikut:

  • Aspek People/Kompetensi
  • Aspek Sistem

Aspek People/Kompetensi

HRD dapat bantu menyediakan topik pembelajaran yang dibutuhkan dalam masa krisis. Bagaimana caranya? Biasanya di awal tahun HRD memiliki metriks pengembangan karyawan, dengan list training dan pengembangan. Meski sudah disiapkan di awal, HRD tetap harus menyadari adanya kompetensi baru yang diperlukan untuk menghadapi suatu krisis. Mau tidak mau, jika diperlukan, metriks pengembangan karyawan yang sudah dibuat harus diubah dan lebih fleksibel lagi.

Jadi yang terpenting, HRD harus aware dulu adanya kompetensi yang dibutuhkan perusahaan.

Aspek Sistem

Aspek sistem berarti menciptakan sistem pengembangan leader yang dilakukan remotely but effectively. Memang situasi saat ini menyulitkan program pelatihan dan pengembangan jadi sulit dilakukan, tetapi bukan berarti tidak mungkin dilakukan.

Sekali lagi, HRD perlu mengetahui tren pembelajaran dan pelatihan apa yang cocok dengan karyawan-karyawannya.

Ada beberapa metode yang bisa dipilih HRD dan manajemen, yaitu:

Blended Learning

Blended learning adalah gabungan metode pembelajaran synchronous dan asynchronous learningSynchronous learning mengacu pada acara pembelajaran di mana sekelompok orang terlibat dalam pembelajaran pada saat yang bersamaan. Sedangkan asynchronous learning adalah kebalikannya, yaitu bentuk pendidikan, pengajaran, dan pembelajaran yang tidak terjadi di tempat atau waktu yang sama (Wikipedia).

Micro Learning

Komposisi demografi Indonesia sudah lebih banyak Gen Milenial dan Gen z. Generasi ini tidak sabar dengan pembelajaran yang panjang dan dengan metode manual. Ini memengaruhi cara belajarnya juga. Mereka tidak punya span of focus untuk belajar dalam waktu panjang.

Lebih baik diberikan topik micro learning yang cepat diserap, cepat dipraktikkan, bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja.

Social Learning

Social learning mengindikasikan proses pembelajaran dan pelatihan dengan berkolaborasi sosial. Tools-nya bisa menggunakan media sosial atau platform yang bisa diakses bersama. Bagaimana maksudnya?

Kolaborasi sosial bisa dijadikan pendorong motivasi bagi karyawan yang melakukan pelatihan. Bisa dalam bentuk gamification atau rewards dalam social learning. Perusahaan bisa kerja sama dengan penyedia layanan training online seperti STUDiLMU yang bisa mengintegrasikan program pelatihan dengan social learning.

Dengan begitu, karyawan lebih menikmati belajar ramai-ramai, senang, dan bisa semakin mengoptimalkan self-branding di media sosialnya.

Cara Mempertahankan Kualitas Kepemimpinan yang Tangkas

Ada beberapa hal yang dapat membantu perusahaan mempertahankan kualitas pemimpin yang tangkas dan yang dibutuhkan perusahaan. Tentunya, semua membutuhkan effort. Effort yang dimaksud adalah pengertian dan waktu.

Secara garis besar, berikut adalah empat hal yang bisa menjadi cara untuk mempertahankan kualitas pemimpin yang tangkas di masa pandemi:

  1. 3C Management
  2. Kepercayaan
  3. Pengembangan Leader
  4. Engagement System

1. 3C: Calm, Communicative, Creative

Pertama, harus dimulai dulu dari c-level atau manajemen level. Mereka perlu mempertahankan 3C: Calm, Communicative, Creative. Bagaimana pun, pemimpin perusahaan adalah panutan dan tiga aspek C tersebut harus selalu dipertahankan. 

Optimis juga harus menjadi jubah yang dipakai oleh para pemimpin. Karena kalau pemimpinnya pesimis, akan sangat cepat menularkan semangat rendah tersebut ke bawahannya.

2. Kepercayaan

Lalu, bagaimana cara memberdayakan manajer serta team leader di bawahnya? Kepercayaan menjadi jawabannya.

Kepercayaan ini tidak bisa diciptakan begitu saja kalau leader-nya tidak dampingi dengan mengembangkan timnya. Justru di saat krisis, ini merupakan waktu yang tepat untuk mempertajam kemampuan leader-leader kita. Dan kesempatan bagi perusahaan untuk menanamkan kepercayaan, sehingga para leaers mampu berkembang lebih baik sambil menangani situasi di lapangan.

Sangat penting bagi pemimpin perusahaan untuk menaruh kepercayaan kepada leader yang berhadapan langsung dengan situasi di lapangan. Jika minim kepercayaan dari atasan, tentu akan semakin memberatkan kondisi mereka yang bekerja di lapangan.

3. Pengembangan Leadership Jangan Diputus

Situasi krisis memang membatasi ruang gerak perusahaan untuk memberikan pelatihan dan pengembangan. Namun, jangan sampai tidak dilakukan sama sekali. Hal ini bisa diakali dengan lebih aktif menjalani berbagai metode pengembangan secara asynchronous learning dan digabung dengan social learning.

Sehingga budget tetap terjaga namun bisa efektif karena dijalankan dengan fun.

4. Employee Engagement System

Sistem untuk memonitor dan mengoptimalkan rasio engagement karyawan sudah mulai banyak dan mudah didapatkan. Tools sederhana seperti Zoom, Skype, online games,  semua adalah alat-alat yang bisa mendukung perusahaan dalam mengawasi tingkat engagement karyawan.

Ada lagi alat lain yang memang dapat mengukur tingkat motivasi dan produktivitas karyawan, sehingga perusahaan dapat mengambil upaya pencegahan kondisi mental yang lebih buruk seperti Burnout Syndrome.

Menghadapi Tantangan Kepemimpinan Bersama STUDiLMU

Challenge sekarang didominasi dengan bagaimana caranya menyediakan pelatihan tidak tatap muka tapi efektif; pelaksanaan webinar tapi tidak membosankan; menyediakan kursus online online learning yang interaktif dengan budget minim.

Menjawab semua itu, STUDiLMU memiliki beberapa program dan keunggulan yang dapat menjadi solusi, yaitu:

  • Online Learning
  • Blended Learning
  • Customizable Learning
  • Bisa Diikuti Individu/Perusahaan
  • Partner Pelatihan Prakerja

Online Learning

Di online learning ini STUDiLMU memiliki 200-an lebih topik dengan ribuan video di dalamnya dan masing-masing memiliki perangkat alat bantu implementasi, jadi sangat praktikal. Testimoni dari user STUDiLMU (saat ini jumlah user mencapai ratusan ribu orang) dapat adalah secara konten mereka dapat manfaatnya karena berbobot namun praktikal dan secara konteks pembelajaran di dalamnya sangat engaged dengan audiens.

Blended Learning

Blended learning cocok bagi orang yang masih belum terbiasa online learning, karena blended learning menggabungkan metode online dan offline, atau yang lebih prefer belajar sendiri. Programnya bisa berupa menonton video dan digabung ke social learning, bisa digabungkan juga dengan webinar agar ada interaksi dengan lecturer-nya.

Customization Training

Ini adalah keunggulan program di STUDiLMU by BusinessGrowth. STUDiLMU memiliki dua tipe training, yaitu Public Training (peserta mengikuti program-program yang sudah ada) dan Customization Training (STUDiLMU bisa menyesuaikan dengan kompetensi dan kebutuhan perusahaan) karena tim fasilitator yang cukup banyak dan ahli sebagai instructional designer.

Instructional designer STUDiLMU bukan hanya menguasai bagaimana memberikan training yang menarik, tapi juga bagaimana meramu konten training yang sesuai dengan kebutuhan organisasi. Sehingga perusahaan mendapatkan materi pelatihan yang sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan.

Customization training STUDiLMU production bahkan dapat dibuat dalam bentuk kolaborasi dengan penyampai materi. Jadi, STUDiLMU bisa menyiapkan trainer tapi isi materi berasal dari perusahaan, agar kompetensi yang didapat jauh lebih sesuai kebutuhan perusahaan dan pembelajaran disampaikan dengan metodologi yang lebih mendalam.

Bisa Diikuti Individu maupun Perusahaan

STUDiLMU juga memiliki program yang bisa diikuti perseorangan seperti webinar atau workshop yang diadakan setiap bulannya dan bisa diikuti siapa saja.

selanjutnya, STUDiLMU juga memiliki sistem membership bulanan yang membuat pelanggan bisa mengakses 200-an video materi pelatihan pengembangan. 

STUDiLMU bisa diakses melalui smartphone (iOS dan Android) sehinigga memudahkan proses belajar pelanggan (sangat user friendly).

Partner Pelatihan Prakerja

STUDiLMU juga dipercaya sebagai salah satu mitra yang menyediakan pelatihan prakerja, sehingga semakin mampu menjangkau banyak orang yang membutuhkan pelatihan dan pengembangan.

Produknya bisa didapatkan di Bukalapak, Tokopedia, Pijar Mahir, dan platform e-commerce lainnya.

Kursus-kursus prakerja STUDiLMU termasuk yang paling banyak disetujui dan STUDiLMU berbangga karena standar online learning STUDiLMU banyak yang digunakan sebagai benchmark kualifikasi pelatihan online Prakerja.

Simpulan

Ternyata, banyak kompetensi penting yang perlu dimiliki seorang pemimpin dalam menghadapi krisis pandemi. Pemimpin harus memiliki kapasitas untuk berpikir kreatif, pintar beradaptasi dengan situasi tidak terduga, juga memiliki ketajaman bisnis.

STUDiLMU adalah salah satu lembaga pelatihan yang bisa menjadi rujukan bagi perusahaan yang ingin melatih pemimpinnya untuk memiliki kompetensi-kompetensi tersebut. STUDiLMU memiliki keunggulan serta kualitas yang sudah terbukti di bidangnya.

Silakan hubungi STUDiLMU untuk informasi program pelatihan lebih lanjut!

Bila dibutuhkan informasi selanjutnya dapat menghubungi :
082 111 99 7750 / 021-2957 8599 (Atau email : info@studilmu.com)

www.studilmu.com

Facebook Group

https://www.facebook.com/groups/BusinessGrowthCorp/

Facebook Fanpage

https://www.facebook.com/BusinessGrowthCorp

Comment