Kisah Sukses: 3 Sikap Kepemimpinan Ala Manajer Reeracoen

Hampir semua orang memiliki keinginan untuk sukses di usia muda, regardless definisi sukses dari masing-masing individu.

Jadi manajer saat masih berusia 20-an, siapa yang tidak mau?

Meet Melania, wanita berusia 27 tahun ini telah menduduki jabatan sebagai manajer selama dua tahun di salah satu perusahaan multinasional yang bergerak di bidang jasa. Usut punya usut, cara kepemimpinannya yang membawa Melania hingga ke jenjang karirnya yang sekarang. Berkat gaya leadership-nya juga, ia berhasil menarik potensi pada anggota timnya.

Mari kita simak wawancara eksklusif di bawah untuk mengetahui lebih lanjut gaya kepemimpinan seperti apa yang dapat membawa seseorang ke karir yang tinggi dalam waktu singkat, dan tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga mampu menarik kesuksesan orang lain juga!

Visioner dan Committed sebagai Leadership Character

HR NOTE:

Halo Melania, semoga sehat selalu. Terima kasih sudah menyempatkan waktunya untuk interview dengan HR NOTE.

Kali ini, HR NOTE ingin membagikan sebuah pengalaman leadership yang sukses kepada pembaca agar bisa dijadikan motivasi untuk orang lain, dan Melania kami anggap sebagai sosok yang cocok untuk diwawancara.

Melania saat ini bekerja di PT Reeracoen Indonesia, sebuah perusahaan multinasional dengan posisi sebagai manajer divisi Recruitment Consultant. Melania termasuk karyawan senior yang terkenal memiliki achievement rate tinggi sehingga karirnya tercatat melesat cepat padahal usianya relatif masih muda.

Kalau begitu, kita langsung mulai dari perkenalan dulu ya, siapa sosok Melania Sianipar di PT Reeracoen Indonesia.

Melania:

Terima kasih juga tim HR NOTE atas kesempatannya. Saya senang bisa berbagi pengalaman yang sekiranya bisa bermanfaat bagi orang lain.

Hm… oke, mungkin saya bisa langsung share mulai dari background pendidikan dan background pekerjaan, ya.

Awalnya bekerja di Reeracoen, sebenarnya saya masih aktif di perguruan tinggi. Waktu itu saya baru saja menyelesaikan pendidikan jenjang Sarjana dan hanya menunggu Wisuda dari kampus. Namun di saat yang bersamaan, saya berada di tahun pertama jenjang Magister. Waktu itu saya mendapatkan kesempatan dari kampus untuk Program Akselerasi sehingga menjalani kedua jenjang tersebut di waktu yang relatif bersamaan.

Saya mengambil prodi Hubungan Internasional sebagai jenjang S1, dan Corporate Communication sebagai jenjang S2 saya.

Namun, waktu itu study load-nya tidak banyak dan saya sangat sangat ingin mencoba menjajaki dunia kerja. Meskipun sempat ditentang Ibu, namun Ayah saya mendukung saya, tapi dengan syarat: bisa maintain education yang sekarang. Saat itu saya merasa yakin bisa melakukannya, maka saya menyetujui syarat Ayah saya.

Akhirnya saya dipertemukan dengan perusahaan yang sekarang, waktu usia saya masih 22 tahun. 

Tentu saja saya harus menginformasikan ke atasan mengenai kondisi pendidikan saya, yang mana saya juga harus fokus untuk bisa lulus S2 dalam rentang waktu satu tahun. Saya sempat meminta beliau untuk mengerti bahwa saya tidak bisa lembur karena pulang kerja harus lanjut kuliah.

Saya memulai karir sebagai konsultan. Puji Tuhan, prestasi saya selalu tercatat dengan baik sehingga atasan saya menawarkan saya posisi sebagai leader pada saat evaluasi kerja. Hanya saja, karena saya masih belum merasa yakin, saya tolak penawaran beliau. Beliau memaklumi, dengan syarat jika saya berhasil mempertahankan achievement saya, di evaluasi berikutnya saya harus menerima posisi tersebut.

Puji Tuhan lagi, perjalanan saya memang dilancarkan hingga di evaluasi kedua saya resmi naik posisi sebagai team leader. Performa saya berjalan dengan baik, hingga perlahan karir saya terbentuk sampai saya tiba di posisi saya sekarang.

HR NOTE:

Wow, bisa dikatakan peningkatan karirnya cepat ya! Padahal di tahun pertama Melania juga masih sibuk kuliah, ya? Bagaimana kamu mengelola prestasi di kuliah dan di tempat kerja?

Melania:

Memang betul di tahun pertama saya sibuk beradaptasi dengan dunia kerja profesional, bukan magang lagi, dan menyelesaikan kuliah jenjang S2.

Kalau ditanya bagaimana, saya juga tidak yakin. Saya hanya merasa determined dan committed

Saya yang memutuskan untuk kerja sambil kuliah, dan ketika Ayah saya memastikan saya bisa berkomitmen terhadap keputusan saya, saya yakin bisa. Saya pikir secara tidak langsung sikap determinasi saya itu yang membuat saya mampu untuk berprestasi di kedua bidang tersebut.

Dan daripada metode manajemen, saya merasa mindset sayalah yang paling membantu dalam menjalankan tanggung jawab saya.

HR NOTE:

Oke, bisa dijelaskan mindset seperti apa itu?

Melania:

Sebenarnya dibilang ‘mindset saya’ agak kurang tepat, ya. Kebanyakan mindset yang menguatkan dan memajukan saya berasal dari Ayah saya. Beliau selalu mengajarkan saya untuk fokus terhadap goal.

Jika saya merasa tertekan dengan kondisi pekerjaan atau lingkungan kantor, Ayah saya selalu mengingatkan saya apa tujuan saya, apa yang menjadi passion saya dalam memilih pekerjaan saya. Itu selalu menolong saya di banyak situasi.

Selain itu, saya juga menilai diri saya sebagai sosok yang visioner. Ini karena sejak kecil saya terbiasa membuat goal di dalam hidup. Seperti dulu saat memutuskan melanjutkan S2 dan bekerja. Semua sudah masuk di dalam daftar tujuan saya.

Saya juga tipe yang jika sudah memutuskan untuk melakukan A demi mencapai X, saya bisa fokus melakukannya.

HR NOTE:

Jadi kamu hanya berfokus pada goal? Bagaimana dengan prosesnya?

Melania:

Oh, meski saya bicara tentang fokus pada goal, saya jauh lebih mementingkan proses. Bagi saya, proses adalah segalanya dan benar-benar penentu hasil.

Goal adalah sesuatu yang membuat saya bisa fokus saja, hanya visi. Tapi gaya bekerja saya lebih menitikberatkan pada proses. Saya selalu memiliki semangat untuk mengeluarkan performa terbaik saya di proses. Hasil tidak ada yang tahu, maka itu saya lebih suka memaksimalkan proses agar tidak ada penyesalan jika saya mengalami kegagalan.

Berfokus kepada proses, artinya menikmati setiap improvement yang sudah kita lakukan dan menghargai setiap peningkatan di diri kita sendiri. Dan saya percaya setiap peningkatan tersebut yang membawa kita pelan-pelan menuju goal yang kita tetapkan. 

Challenge, Challenge, Challenge!

HR NOTE:

Baik, menurut saya itu adalah inner power yang bagus. Tapi saya masih penasaran, dalam kurun waktu kurang dari lima tahun, kamu berhasil merajut karir sampai level manajemen. Apa yang terjadi?

Melania:

Jika ditanya demikian, sepertinya karena saya diberi kepercayaan oleh orang lain, khususnya pimpinan saya.

Tadinya, waktu pertama kali saya ditawari untuk jadi leader adalah setelah sembilan bulan saya bergabung dengan perusahaan. Itu adalah evaluasi pertama saya, dan pimpinan saya menawarkan posisi tersebut berdasarkan performa saya.

Saat itu saya menolak karena saya masih ragu dengan kemampuan saya.

Di evaluasi berikutnya, Beliau masih memberikan tawaran tersebut ke saya. Di situ lah saya bisa melihat bahwa Beliau percaya kepada saya.

Sekilas tentang beliau, pimpinan saya adalah orang yang dengan senang hati memberikan kesempatan untuk member-nya merencanakan dan mengambil aksi apa pun, selama hal itu memberikan hasil yang baik. Jadi orang bisa menggali sisi kreativitasnya. Beliau juga tidak segan untuk memberikan tantangan demi menaikkan level karyawannya.

Dan ternyata, saya justru menanggapi tantangan tersebut dengan semangat.

Terima tantangan, berhasil, ditantang lagi, berhasil lagi. Mungkin saya adalah tipe yang semakin ditantang, keinginan untuk jadi lebih baik dan daya juangnya pun ikut membesar.

HR NOTE:

Apakah Melania menerapkan hal yang sama ke tim Melania?

Melania:

Lebih kurangnya, iya. Meskipun performa beberapa anggota dari awal sudah menjanjikan, daripada memberikan tantangan begitu saja, saya lebih mengarahkan anggota saya untuk mereka mencoba menemukan apa yang menjadi goal mereka terlebih dahulu. 

Setelah mereka mengetahui apa yang ingin mereka kejar, dengan sendirinya mereka mampu mengeluarkan yang terbaik. Setelah berhasil grow up, baru biasanya saya challenge mereka untuk menduduki posisi yang lebih tinggi.

“Kualitas leader: Visioner, Determined, Be Challenged!”

Tantangan dan Kesulitan yang Dialami

HR NOTE:

So far, tantangan atau kesulitan apa yang pernah Melania alami, dan bagaimana kamu menghadapinya?

Melania:

Pertama-tama, tantangan sebagai manajer di usia yang masih terbilang sangat muda sendiri sudah cukup besar.

Sebagai manajer, saya harus bisa melihat dua sisi saat akan membuat keputusan. Berada di posisi ini, saya belajar untuk memiliki keberanian dalam speak out the important matters. Tidak bisa cuek terhadap situasi di sekitar saya, tidak bisa juga membuat semua orang bahagia. Saya harus memikirkan apa yang penting bagi semua orang, dan berfokus kepada tujuan.

Kedua, karena usia pengalaman saya juga masih baru, saya punya pengalaman dimana sulit rasanya untuk melimpahkan tugas dan kepercayaan ke member saya.

Beberapa rekan kerja cenderung untuk bergantung kepada penilaian atau pengetahuan saya saat perlu konfirmasi. Padahal itu bisa diselesaikan oleh level leader, tidak harus ke manager, namun ternyata mereka terlalu terbiasa problem solving semua dilakukan oleh saya.

Atas dasar itulah saya putuskan untuk menciptakan program training agar semua karyawan memiliki standar yang sama, mulai dari technical skills, soft skills, hingga value perusahaan.

Ketiga, belajar cara mengkomunikasikan setiap message yang sama ke orang yang berbeda. Ini merupakan tantangan, karena harus dilakukan dengan menyesuaikan dengan orang yang dituju, juga harus bisa diterima dengan baik. Secara tidak langsung, tantangan ini membuat saya mempelajari berbagai karakter manusia di lingkungan bekerja.

Tidak hanya tiga hal itu. Banyak tantangan yang bermunculan seiring berjalannya waktu. Cara saya menghadapinya, sekali lagi adalah dengan berfokus pada goal dan belajar banyak di proses.

Setiap Orang harus Memiliki Tujuan

HR NOTE:

Setelah Melania berhasil membawa diri sukses dalam meniti karir, bagaimana cara mengeluarkan potensi member Melania?

Melania:

Tentunya dengan melakukan training. Tapi training itu kan bermacam-macam dan sesuai kebutuhan juga ya. Nah, saya ingin menciptakan program agar semua level karyawan memiliki standar dan basic skill yang sama. Bukan hanya yang bersifat teknikal, tetapi juga program yang membuat karyawan memahami visi, misi serta value perusahaan.

Selama ini, hanya manajemen saja yang ‘bergerak’ dengan kondisi sudah memahami tiga unsur tersebut. Tapi perlu penggodokan lebih kepada karyawan lain, khususnya para leader

Yang terpenting adalah kita memiliki mindset dan value yang sama dulu, supaya kita semua bisa melihat visi yang sama dan bergerak secara sinkron. Ini perlu kolaborasi divisi HR juga.

Tapi saya punya key factor lain untuk menarik potensi member saya. Cara ini juga saya pakai dalam maintaining motivasi anggota saya.

Saya jadikan diri saya sebagai manajer yang mampu memimpin anggota saya untuk menemukan tujuannya, dan saya menjadi sosok storyteller di dalam prosesnya.

Seperti saya sebut di awal, tujuan merupakan hal yang sangat penting. Semua orang jika punya tujuan akan bisa mengarahkan studi atau karirnya ke arah yang benar. Yang saya lakukan adalah memastikan selalu member saya bergerak menuju tujuannya masing-masing.

Saya juga menjadi tipe manajer yang storyteller, untuk lebih meyakinkan member saya dalam mengikuti cara yang saya lakukan untuk meniti karir.

Kedua cara tersebut saya gunakan juga untuk maintain motivasi kerja mereka.

HR NOTE:

Bagaimana dengan orang-orang yang kesulitan menemukan goal yang Melania maksud?

Melania:

Untuk orang-orang yang belum menemukan apa yang menjadi goal mereka, saya selalu menyarankan untuk memulai dari hobby atau hal apa yang menjadi kekuatan mereka, karena saya percaya kekuatan itu adalah salah satu talenta yang bisa kita gunakan untuk menemukan goal kita.

Contoh sederhananya, teman saya bekerja di bagian PPIC dan merasa tidak passionate dengan pekerjaannya. Dia tipe people person, senang bicara dengan orang lain. Akhirnya setelah saya beri saran untuk ganti kerjaan jadi sales, ternyata dia jadi sukses sekarang dan lebih enjoy karena sesuai dengan salah satu hal yang menjadi “kekuatan” di dalam diri dia.

In my case, saya selalu konfirmasi tujuan, fokus, dan motivasi member saya di sesi evaluasi. Jadi kita bisa sama-sama diskusi, apa goal jangka panjang dan dekat, apa yang harus dilakukan untuk mencapainya, dsb.

“Tetapkan tujuan, lakukan yang terbaik pada proses, terima tantangan, adalah tiga advise yang selalu Melania terapkan kepada member-nya.”

HR NOTE:

Apakah pendekatan yang Melania gambarkan tadi terbukti berhasil?

Melania:

Beberapa membutuhkan trial and error, karena semua merupakan proses pengembangan diri dan organisasi.

Saya sebagai pribadi, dan sebagai salah seorang manajer juga masih mengalami trial and error.

Jika dari pendekatan yang saya lakukan ternyata masih ada eror, evaluasi ulang perlu dilakukan dalam cara yang dipakai dalam menggali potensi anggota. Saya harus selalu memiliki growth mindset, bukan fix mindset, dimana itu mendukung saya untuk setiap pembelajaran yang saya lakukan, terlebih di saat ‘eror’ terjadi di dalam proses pembelajaran tersebut.

Hal penting lainnya, anggota juga perlu melakukan evaluasi terhadap diri sendiri. Melakukan ini akan membuat anggota mengetahui apa strength point mereka, apa weakness mereka. Kita bisa sama-sama discover cara apa yang harus dilakukan agar strength point bisa get stronger, dan bagaimana menghadapi si kelemahan tersebut.

Dalam proses pengembangan diri maupun pengembangan SDM, evaluasi terhadap strength dan weakness adalah hal yang esensial. Seorang individu harus bisa mengetahui apa kekuatan dan kelemahannya, dan leader harus bisa membimbing individu tersebut untuk memaksimalkan potensinya.

HR NOTE:

Ada metode approachment yang beda dengan sebelum dan sesudah wabah Corona?

Melania:

Ada, sedikit. Beberapa orang mengalami berbagai perubahan, cara menghadapinya pun kini perlu kehati-hatian ekstra, dan komunikasi menjadi kunci dalam berbagai hal.

Seperti yang terjadi di perusahaan lain, tempat kami pun melewati masa-masa berat, mengakibatkan semangat, produktivitas, bahkan rasa percaya berkurang di dalam tim.

Semua bisa dimengerti. Maka itu saya sebutkan bahwa ‘komunikasi’ adalah kuncinya.

Saya sebagai sosok yang mewakili manajemen memutuskan untuk mengadakan evaluasi kecil-kecilan, sebelum evaluasi semester yang biasa kami lakukan, dan melakukan satu dua klarifikasi terhadap kinerja karyawan.

Di situ kita sifatnya diskusi dan pengarahan sikap yang lebih baik, agar karyawan tetap bisa mengeluarkan kinerja semaksimal yang mereka bisa, dan mencoba mendengarkan beberapa hal yang menjadi concern buat karyawan tersebut.

HR NOTE:

Pengarahan sikap seperti apa jelasnya?

Melania:

Sekarang kondisi perusahaan kan sedang struggling, maksudnya saya minta kerja sama teman-teman untuk lebih berpartisipasi dengan kita. Kalau bisa, di saat seperti ini tidak ada member yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Tetap fokus kepada goal.

Saya berharap semua rekan-rekan yang bisa saya approach memiliki pemikiran demikian. Ada loyalitas dan sense of belonging yang membuat kita memiliki inner force untuk melakukan yang terbaik demi perusahaan. Saya lakukan komunikasi 1 on 1 untuk hal ini.

Next goal dan motivasi ke depan

HR NOTE:

Jadi saat ini Melania sudah berusia 27 tahun, sudah dua tahun di posisi manajer. Apa next goal dan motivasi kamu untuk terus berkembang dan mengembangkan tim?

Melania: 

Saya pribadi tidak ingin berhenti berkembang, dan memang merasa apa yang sudah saya kerjakan untuk organisasi masih jauh dari kata baik.

Saya akan terus memperkaya diri saya dengan new knowledge dan bermacam pengalaman, agar saya memiliki pengetahuan yang berguna sebagai value tambahan di diri saya, dan yang terpenting bisa saya salurkan kepada member saya. Saya grow up, dan team pun bisa grow up juga.

Saya melihat semua orang memiliki potensi yang bisa dikembangkan, dan saya more than happy jika bisa membantu mereka dalam mengetahui kemampuan mereka dan menyediakan kesempatan pengembangan diri.

Itu juga menjadi motivasi saya untuk selalu mengembangkan diri.

Visi saya ke depan adalah membentuk organisasi yang anggotanya memahami dan menjalankan visi, misi dan value perusahaan. Jadi demi mencapainya, saya akan semangat merancang program pelatihan yang sesuai dan mulai melakukan value add ke member kita. Tujuannya agar semua karyawan memiliki value dan mindset yang sama dengan perusahaan terlebih dahulu, lalu dapat mengembangkan potensinya untuk proses dalam menemukan goal-nya masing-masing.

Saya percaya, anggota yang bisa menemukan goal akan mampu mengerahkan dirinya melewati proses yang maksimal, hingga akhirnya mencapai result yang diharapkan.

Penutup

Demikianlah hasil wawancara tim HRNOTE dengan Melania mengenai sikap-sikap leadership. Mulai dari ajaran yang ditanamkan orang tua yang dibawa dengan baik oleh pribadi Melania, membawanya hingga sampai di posisi saat ini.

Tidak hanya berakhir di kesuksesan diri sendiri. Melania juga berhasil menarik kesuksesan timnya dengan cara yang sama dengan yang telah ia terapkan.

Tidak peduli darimana kita memulai, asal memiliki sikap visioner, teguh dan suka menerima tantangan, pasti dapat membawa kita ke tempat yang lebih tinggi dan lebih baik.

0 0 vote
Article Rating
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments