Employee Experience: Tantangan HR Future Workplace di 2022 | | HR NOTE Indonesia

Employee Experience: Tantangan HR Future Workplace di 2022

Tak ada yang siap, bahkan tidak mudah, menghadapi pandemi COVID-19. Demikian pula iklim dunia usaha, yang memerlukan adaptasi karena menerapkan cara lain dalam menjalankan operasionalnya kepada pelanggan.

Adaptasi lain adalah mengelola aset alias karyawan. Pasalnya, perusahaan melakukan perubahan hampir di segala sisi. Hal itu berpengaruh dalam hubungan perusahaan dan karyawan. Mulai dari sistem kerja hybrid dan work from home (WFH), rapat daring, penggunaan piranti lunak yang mendukung pekerjaan, hingga pemakaian Human Resources Information System (HRIS).

Tak melulu soal pekerjaan. Perusahaan juga mempertimbangkan employee experience (EX).

Perusahaan –melalui HR– dapat memanfaatkan kondisi tak menentu ini untuk memperkuat EX, yakni memberikan pengalaman bekerja lebih baik kepada para karyawan. Dengan demikian mereka bekerja dengan gembira, membantu mencapai tujuan perusahaan, serta menginspirasi rekan kerjanya untuk berprestasi.

HRNote berkesempatan berbincang secara virtual dengan Audi Lumbantoruan, Country Managing Director EngageRocket Indonesia, Senin (22/11/2021), mengenai tantangan HR di 2022 yang berhubungan dengan employee experience.

Tantangan HR di 2022

Tahun 2020, agenda perusahaan adalah menghadapi pandemi COVID-19. Di tahun ini, agendanya pemberian vaksin. Organisasi mulai memberikan vaksin ke karyawan mulai April 2021. Kemudian ada pelonggaran PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat).

Kalau kita berbicara tahun 2022, mau tidak mau, organisasi harus mengakselerasi atau mempercepat pertumbuhan. Karena selama 16-18 bulan, yang terjadi adalah –khususnya di Indonesia– adaptasi, di mana organisasi harus ngerem melakukan kegiatan bisnis.

Bahkan organisasi harus mengeluarkan lebih banyak untuk menanggung impact dari pandemi. Baik dari sisi vaksinasi maupun dari sisi penanggulangan karyawan yang terkena COVID-19. Ini, kan, ada biayanya dan ada impact-nya terhadap manpower, hiring cost, maupun policy HR di luar organisasi.

Di 2022, kita bicara bagaimana HR itu harus mampu membantu organisasi maupun karyawan supaya mereka kembali ke kantor, kembali bekerja.

Even sudah ada beberapa perusahaan yang mengizinkan karyawannya kembali ke kantor, tapi dengan konteks bahwa, kita kembali ke kantor dengan harapan kembali ke situasi lebih baik. Bukan situasi yang sama, ya. Karena kalau kita bicara situasi yang sama itu sudah lewat, sebelum COVID-19.

Di 2022, HR harus lebih proaktif dan memfasilitasi proses bisnis. Memfasilitasi itu yang challenging buat HR. Challenge terbesar HR adalah mengembalikan kepercayaan bahwa organisasi masih bisa kembali beroperasi.

Hal ini perlu dilakukan oleh HR. Oleh karena itu, HR membutuhkan winning mindset dan mentality agar kita bisa melakukan sesuatu yang lebih besar, lebih baik, dan tercepat.

Tahun ini, HR juga burnout dengan segala kondisi, diperparah lagi biayanya kepotong. Sebenarnya di tahun 2020, banyak HR yang mau enggak mau harus stop segala kegiatan atau merumahkan beberapa karyawan.

Selain itu, ada pendekatan HR untuk menjadi HR business builder. Dengan kata lain, HR harus bisa menjadi business builder, meski mereka tidak membangun bisnis. Namun HR memfasilitasi perusahaan dan karyawan, membantu karyawan, dan we can do something different.

So, HR harus mengerti proses bisnis, harus paham kondisi karyawan bekerja, and at the same time, transforming the gap with the new mindset that they’re hiring for the organization to have value creation.

Peran Teknologi Bagi HR

Semua aspek HR sudah pasti dibantu dengan teknologi. Artinya teknologi sangat berperan besar terhadap semua tugas HR.

Namun yang lebih penting adalah sejauh mana HR memahami teknologi itu dan membantu mempercepat atau memperbaiki proses bisnis. Karena teknologi itu bukan hal yang murah atau mahal, tapi teknologi harus down to earth.

Misalnya EngageRocket, we have a platform untuk tahu bagaimana kondisi karyawan bekerja sekarang. Intinya bukan soal survei, tapi understanding what the given drivers are to help the organization understand.

Jadi perusahaan mengetahui apa yang dibutuhkan oleh karyawan. Makanya konteks value creation itu penting. Karena kenyataannya akan selalu ada teknologi baru.

Poinnya adalah, apakah teknologi itu akan bisa relevan dengan kondisi organisasi? Belum tentu, tergantung dari proses bisnis dan organisasinya.

Employee Experience yang Efektif

Untuk ke depan, employee experience fokus ke human experience atau human centric experience. Artinya kita adalah manusia yang mampu mendengarkan, merasakan, menangis, tertawan, dan semuanya.

Jadi pendekatan terbarunya adalah bekerja bukan hanya untuk sekadar bekerja atau convensional work. Bekerja bukan sekadar transaksional, tetapi it’s about human trust. It’s about value creation.

Employee experience yang efektif adalah employee experience yang membuat karyawan melakukan dua hal.

Pertama, merekomendasikan perusahaan menjadi tempat bekerja lebih baik. Enggak cuma untuk dirinya, tetapi bagi orang lain.

Kedua, karyawan merasa bahwa perusahaan bukan hanya tempatnya untuk bekerja, tetapi untuk tumbuh dan berkembang. Itu indikasi simpelnya, yah.

Ke depan, organisasi itu akan semakin critical. Makanya banyak organisasi itu berpindah dari culture driven menjadi purpose driven organization.

Setiap organisasi itu pasti punya talent leader dan masing-masing punya purpose. Jadi kuncinya adalah bagaimana kita membangun employee experience dan purpose bisa berjalan bersama. Pasti ada perbedaan, tapi pada saat yang sama, we have the same mutual goal.

Langkah HR Dalam Employee Experience

Employee experience sudah mulai menjadi pertimbangan organisasi untuk membangun cara bekerja lebih baik setelah masa transisi pandemi. Tapi employee experience is the whole journey.

Di mana pun HR bekerja, di situ karyawan merasakan bahwa ‘Saya bekerja untuk diri sendiri, saya membangun karier, saya membuat legacy di tempat saya bekerja, dan saya menciptakan sesuatu lebih dari yang diharapkan’.

Di sisi lain, pandemi adalah contoh nyata yang membuka mata kita semua dan membuka mata setiap organisasi. Organisasi berhadapan dengan berbagai pertanyaan dan dari hal itu semuanya terungkap, kelihatan, dan transparan.

Apakah organisasi sudah membangun budaya yang sesuai? Apakah semuanya masih relevan? Pada level tertentu, organisasi tahu persis bagaimana karyawan berinteraksi? Bagaimana mereka bekerja?

Organisasi yang akan memberikan employee experience harus mendorong HR untuk:

Berinteraksi dengan karyawan

Kalau kita bicara daily activity, kegiatan paling sederhana yang bisa dilakukan oleh HR dari sisi employee experience adalah waktu untuk berinteraksi dengan karyawan.

Sekarang sudah banyak perusahaan yang kembali ke kantor. Tahun depan akan lebih banyak lagi. Jadi berapa lama waktu HR untuk berinteraksi dengan karyawan, misalnya, makan siang bersama karyawan lain, mendengarkan masukan mereka, atau HR lebih banyak wait-and-see.

Mendengarkan karyawan

Karena ini yang penting dari employee experience, adanya continuous listening. Ketika HR berinteraksi, ia akan mendengarkan dan memfasilitasi tentang ekspektasi karyawan.

Sayangnya, kita baru bisa mendengarkan curhatan karyawan itu, ekstrimnya, kalau mereka keluar atau di exit interview. Itu momennya sudah ketinggalan. Kita sudah terlambat untuk memfasilitasinya.

Dulu ketika saya di dunia HR, saya seringkali bilang, ‘Nanti kita akan exit interview, ya, tapi enggak usah mikirin form dulu, deh. Coba cerita apa yang ingin diungkapkan’.

Mengisi form itu penting, tapi yang lebih penting adalah memahami alasannya ‘why’, bahkan why-nya sampai lima kali. Tujuannya supaya karyawan bisa bicara apa adanya, sehingga kita memahami kondisi yang terjadi.

Ya, kadang-kadang jawabannya simpel, ‘Saya sudah enggak connect lagi dengan perusahaan ini’. Baik tentang komunikasi, hubungan dengan atasan, atau cara kerja baru.

Memahami kondisi karyawan

Selain itu, kondisi sekarang banyak karyawan yang burnout. Ikut Zoom meeting seperti ganti channel tv, dari pagi sampai malam enggak ada bedanya.

Salah satu klien EngageRocket, ada yang kerja sampai jam 02.00-03.00 pagi. Ketika datang ke kami, stres mereka luar biasa.

Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 5 Tahun 2018, ada Survei Diagnosis Stres Kerja untuk menentukan ambang batas stres karyawan.

Nah, berbagai organisasi enggak memahami itu. Bayangkan, kalau kita kembali ke kantor, tetapi hal ini belum beres? Akhirnya kita masih harus recover dulu hal-hal sebelumnya.

Dalam diri karyawan, ada rekonsiliasi, ‘Apakah saya akan melanjutkan perjalanan karier ini? atau ‘Apakah ini waktu yang tepat untuk pindah ke tempat lain?’.

Saat akhir tahun, karyawan mulai grasuk-grusuk melihat website atau job market. Ekspektasinya, setelah performance appraisal selesai, mereka akan pindah ke perusahaan lain di Januari atau Februari.

This is a human being. Jadi employee experience juga harus down to earth. Bukan jargon yang tinggi, fancy, bahkan complicated. No. Ini adalah pendekatan perusahaan ke karyawan.

Perbincangan kami akan berlanjut ke bagian kedua. Bagian tersebut akan mengulas tentang area yang harus diperhatikan oleh HR.

Comment