Rekrut Kandidat Terbaik dengan Teknologi AI | | HR NOTE Indonesia

Rekrut Kandidat Terbaik dengan Teknologi AI

Tantangan terbesar yang dihadapi HR di era modern adalah mencari kandidat terbaik dalam waktu sesingkat-singkatnya. Namun sayangnya, variabel tingkat kesulitannya masih sama seperti di era-era sebelumnya. Walhasil, HR biasanya harus dipaksa bekerja ekstra keras untuk menjawab tantangan ini.

Untungnya, seiring dengan perkembangan zaman, teknologi automasi telah sedikit banyak meringankan beban pekerjaan HR. Kini telah ada cukup banyak aplikasi, software, dan portal talent sourcing yang dapat membantu HR dalam mengeliminasi beberapa potensi masalah selama proses recruitment dan hiring.

Berikut adalah beberapa realita dan fakta serta solusi terampuh untuk tim HR dalam menemukan talent terbaik.

3 Masalah yang Kerap Ditemui Perekrut Di Lapangan

Photo by Anna Shvets from Pexels

Ghosting

Ada banyak recruiter yang mengatakan bahwa tantangan utama dalam proses rekrutmen adalah di-ghosting kandidat, dimana kandidat kerap tidak datang saat wawancara atau tidak menanggapi komunikasi mereka. Hal ini tentunya tidak terlalu mengejutkan, karena dunia kerja saat ini memberikan lebih banyak kebebasan bagi pencari kerja untuk memilih peluang mana yang akan dikejar dan kapan.

Pelamar mungkin merasa bahwa keengganan mereka untuk ikut wawancara akan memiliki dampak yang minimal. Namun, bagi si pemberi kerja – atau HR, ghosting adalah salah satu momen penuh frustrasi yang tidak hanya akan membuang sumber daya yang berharga, tapi secara signifikan akan berdampak pada timing rekrutmen yang tepat.

Terlalu Banyak Pelamar

Mengingat kompetisi kerja yang tinggi, tim rekruter juga kadang harus berhadapan dengan kondisi di mana mereka harus menyeleksi banyak kandidat dalam periode waktu yang sangat singkat. Nah, masalahnya adalah tidak semua pelamar memiliki kualifikasi yang tepat untuk posisi yang tersedia. Skenario ini bahkan diperparah dengan keadaan di mana kandidat yang punya kualifikasi yang ideal biasanya akan atau sudah memiliki banyak tawaran. Proses skrining secara manual akan memakan banyak waktu, tenaga, dan sumber daya.

Perangkat Tidak Dapat Terintegrasi dengan Banyak Platform

Terakhir, ada banyak perusahaan yang mengklaim bahwa perangkat yang telah mereka gunakan kurang bisa terintegrasi dengan platform lainnya yang juga penting. Seperti misalnya perangkat tidak bisa terintegrasi ke platform Email, platform seperti Slack, WhatsApp, LinkedIn, dan lain-lain.

Kenapa Teknologi Menjadi Jawaban Dari Masalah Rekrutmen

Photo by Kindel Media from Pexels

Rasanya naif kalau di era yang sudah sangat terkomputerisasi ini, HRD dan perekrut masih memilih jalur analog dalam prosesnya. Memilih jalur teknologi adalah jawaban yang paling tepat untuk saat ini. Selain dapat memudahkan, teknologi di dunia rekrutmen kerja juga sudah diaplikasikan di banyak negara di belahan barat sana. Apa saja teknologinya? Berikut diantaranya.

Applicant Tracking System (ATS)

Teknologi perangkat lunak ini adalah salah satu yang paling sering digunakan perusahaan-perusahaan besar. ATS adalah software yang mengatur dan mengelola semua proses rekrutmen dari posting iklan, pengecekan kualifikasi pekerja hingga monitoring proses kontrak kerja.

Chatbot

Software ini tergolong masih baru dan biasanya diaplikasikan selama proses interview. Chatbot dapat menggantikan perekrut selama proses wawancara dengan menanyakan pertanyaan-pertanyaan dan kemudian mengkalkulasikan jawaban pelamar untuk menciptakan matrik kemampuan yang selanjutnya akan diolah oleh para perekrut.

Sistem AI Rekrutmen

Seiring dengan semakin eratnya hubungan antara manusia dan kecerdasan buatan, variasi sistem rekrutmen tertata berbasis AI kini juga sudah mulai muncul. Sistem ini biasanya memiliki tingkat komputasi yang tinggi dengan skema pencarian yang luas. Terlibatnya AI dalam sistem ini juga membuat produk ini biasanya cenderung lebih mudah untuk diaplikasikan secara masif.

Jadi, Apa yang Harus Dilakukan HRD & Perekrut?

Kunci utama dalam mencari solusi terbaik untuk masalah yang ada saat ini adalah dengan mengaplikasikan teknologi di semua sendi proses rekrutmen. Hal pertama yang mungkin bisa langsung diaplikasikan adalah dengan mengeliminasi penggunaan kertas dan langsung membaca dokumen lamaran kandidat di perangkat portable dan elektronik yang tersedia.

Selanjutnya, tim perekrut bisa untuk mulai melihat-lihat contoh aplikasi via job board dan sederet fitur yang tersedia pada platform yang khusus disiapkan untuk dunia kerja seperti LinkedIn. Langkah-langkah ini mungkin tidak akan serta merta dapat mengeliminasi potensi masalah tapi setidaknya, upaya ini bisa menjadi langkah awal yang signifikan.

Setelah menemukan aplikasi dan tools yang tepat, maka langkah selanjutnya adalah untuk menyiapkan rencana rekrutmen. Namun bukan rencana biasa, kali ini, bisnis harus mulai mengadopsi penggunaan teknologi dalam rencana rekrutmen mereka. Salah satu variabel yang juga penting adalah menyiapkan sumber daya manusia yang mampu untuk menguasai teknologi tersebut.

Cara paling singkat untuk mengelola hal ini adalah dengan menggunakan jasa pihak ketiga dalam asimilasi pencarian bakat terbaik. Atau, perusahaan juga bisa memberikan training khusus untuk anggotanya agar dapat secara mahir mengelola penggunaan teknologi dan tools secara efektif dan efisien.

Langkah adopsi teknologi ini sangat krusial untuk segera diaplikasikan pemilik bisnis karena ada banyak talenta di luar sana yang mungkin tidak terjamah karena kurangnya eksposur tentang perusahaan tertentu.

Selain potensi melewatkan kesempatan merekrut talenta terbaik, company yang enggan menggunakan teknologi dalam proses rekrutmen mereka juga kemungkinan besar akan kehilangan citra positif dan progresif dalam hal branding. Tentu hal ini akan berdampak besar di era dimana informasi dapat dengan cepat diakses dan mengalir tak terbatas via media sosial. Kesan katrok aka ketinggalan zaman pasti bukan harapan semua bisnis kan?

Berkenalan dengan Sistem AI Rekrutmen

Melihat ke atas, tiga tantangan utama proses rekrutmen dapat dengan mudah diselesaikan dengan mengadopsi Shortlyst. Aplikasi berbasis AI ini mampu mengikis kemungkinan ghosting para kandidat dengan fitur multiple contact information yang dapat membantu membangun relationship yang baik antara perekrut dan pelamar.

Perihal berlebihnya jumlah pelamar juga tidak akan menjadi masalah karena Shortlyst memiliki kemampuan untuk mengkompilasi list kandidat terbaik dengan AI-based recommendation. Daftar ini disusun setelah melihat lebih dari 600 juta profil profesional yang dapat diakses oleh software ini.

Terakhir dan yang paling penting, integrasi perangkat ke banyak platform. Nah solusi dari Shortlyst untuk tantangan ini adalah dengan fitur automation across multiple platform yang bisa integrate ke LinkedIn, email, WhatsApp dan berbagai platform lainnya.

Penutup

Sistem AI rekrutmen memang masih sangat baru di dunia kerja terutama di Indonesia. Namun faktanya, adopsi teknologi ini bisa menjadi solusi yang paling ampuh untuk menciptakan proses rekrutmen yang efisien baik dari sisi sumber daya, waktu dan budget – psst.. biaya jasa Shortlyst cuma 5% dari harga LinkedIn lho!

Comment